jump to navigation

Puasa dan Gerakan Anti Imperealisme Kerakusan October 16, 2011

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

David Efendi

”I have lost three kgs but I am getting energy from my supporters across the country.The countrymen should not lose this spirit, this is our fight against corruption.”– Anna Hazare

Dari banyak catatan sejarah kita bisa melihat bagaimana ‘puasa’ sebagai ritual keagamaan dijadikan media untuk mengeskpresikan perlawanan terhadap penjajahan. Tradisi puasa sebenarnya tidak hanya monopoli agama tertentu, namun penggalan sejarah membuktikan bahwa puasa dapat meningkatkan dan membangkitkan solidaritas rakyat untuk bangkit melawan berbagai bentuk imperealisme, kolonialisme, termasuk melawan rejim diktator dan juga penguasa korup. Titik sejarah itu paling kuat dapat kita saksikan dalam sejarah Islam, India, dan beberapa bagian ada di Indonesia. Untuk lebih detail mari kita tengok satu persatu.

Ada dua terminologi yang perlu dibuat jelas dalam tulisan ini. Pertama adalah pengertian puasa. Puasa, tidak identik dengan islam atau agama dominan saja karena praktik ritual puasa sejatinya adalah upaya menomorduakan kepentingan duniawi yang identik dengan kerakusan karena tidak akan ada puasnya selagi masih bisa diperbesar. Sehingga makna puasa adalah menghindarkan sikap kerakusan dengan memboykot nafsu lahiriah dan bathiniah–nafsu kebinatangan. Makna lain adalah, puasa sebagai keberpihakan atau rasa solidaritas terhadap kelompok sosial yang miskin atau mustadafin. Kedua, adalah perluasan arti imperalisme dalam era baru peradaban. Arti mperalisme abad sebelum ke 19 dengan stelah berakhirnya perang dunia ke2 (abad 20) sangatlah jauh berbeda. Imperealisme periode awal ditandai dengan penaklukan wilayah kekuasaan tertentu, mengeksploitasi fisik penduduk setempat untuk kepentingan perdagangan dunia (merkantilisme), sementara imperalisme zaman baru adalah akibat surplus of value atau exsploitasi (Marxism) yang ditandai dengan legalitas dalam negara modern. Perbuatan ini tidak dibenarkan dalam agama apa pun sebab menihilkan pentingnya keadilan. Dan ini adalah bagian praktik sehari-hari dari penindasan oleh kelas borjois baik lokal atau internasional, sementara imperalisme kerakusan juga bisa dilakukan oleh badan-badan atau pejabat ototitas negara dengan cara korupsi atau bentuk penyelewengan wewenang (power abuse) lainnya.

Dari Arab Jahiliyah sampai Arab Spring

Pada sejarah Islam tertulis kemenangan perang badar dilakukan pada bulan puasa. Kemenangan ini hampir tidak masuk akal para tentara islam akibat musuh dan perlengkapan yang tidak sebanding dengan yang dimiliki pasukan yang sedang berpuasa. Beberapa buku menuliskan tentara islam hanya sekitar 300 melawan ribuan tentara kafir quraish yang menolak islam, menolak kehidupan yang lebih beradab dan ingin menguasai tanah arab dengan kejahiliyahan dan tradisi nenek moyang yang anti monoteisme.

Puasa selain ritual hablum minaa Allah adalah media untuk meningkatkan militansi, kepercayaan pada sang khalik dan tentu saja secara spiritual masing-masing memberikan konstribusi akan perjuangan yang tidak sia-sia. Dengan puasa, manusia merasa punya tempat kembali, sebaliknya para kafirin semakin takut akan kemusnahan yang sia-sia. Inilah propaganda ideologi yang sangat melekat pada awal-awal sejarah kemenangan Islam. Kalau dalam teori gerakan sosial (social movement), ideologi menjadi subordinate dari kegiatan yang disebut “framing” karena ideologi dianggap tidak mampu melahirkan sikap rela mati tanpa adanya framing (David Snow dalam Ideologi framing and terrorism movement, 2002).

India dan puasa perlawanan

”I have full faith in my country. This government has looted the country, we will now only rest in peace when corruption gets removed from the country.” (Anna Hazare)

Beberapa bulan lalu, India mengejutkan dunia dengan kemunculan sosoak pengikut Mahatma Gandhi (1869-1948) yaitu Anna Zahare yang menjalni ritual puasa untuk menolak atau melawan korupsi di india. Zahare beberapa tahun mendekam di penjarah dan dengan demikian semakin matang secara spiritual. Ritual puasa selama 14 hari itu membangkitkan solidaritas rakyat india untuk bersimpati, mendukung, upaya perlawanan terhadap korupsi. Ini merupakan bentuk perlawanan non violance yang sudah dicontohkan oleh pendahulunya Mahatma Gandhi ketika melawan bangsa imperealist Ingris.

Setelah Gandhi, ada beberapa pengikutnya yang telah menggunakan puasa sebagai alat perlawanan seperti Potti Sriramulu yang meninggal tahun 1952 setelah 82 hari berpuasa untuk kelaiharan negara baru (India sekarang), Irom Sharmila Chanu yang berpuasa pada tahun 2000 demi memprotes kematian rakyat jelata,  ada Swami Nigamananda yang meninggal pada bulan Juni akibat puasa selama 115 hari untuk menolak penambangan illegal (kini banyak mata memperhatikan kerusakan alam akibat penambangan liar), dan terakhir yang juga munumental adalah Anna Zahare, yang dikenal puasa untuk melawan pemerintahan korup. Kini, mereka menyadarkan rakyat India untuk mengetahui kebenaran dan menolak kerakusan dalam segala bentuknya.

Karena itu para pejuang India tersebut layak mendapat gelar pejuang orang lapar. Majalah time pada edisi September 5, 2011 menuliskan “hungry for change” untuk menjuluki para pejuang India semenjak sebelum merdeka sampai India hari ini. Kalau tidak berlebihan saya ingin menambahkan, merekalah yang sudah sukses membuktikan kedahsyatan puasa (bukan sekedar mogok  makan), sebagai ritual yang sudah mengubah peradaban (Fast that changed the world).

Revolusi dan Reformasi di Indonesia

Perang kemerdekaan pada bulan agustus tahun 1945 yang berujung pada proklamasi kemerdekaan republik Indonesia secara kebetulan atau tidak adalah bertepatan dengan bulan ramadan dimana 89% jumlah penduduk sedang melakukan ibadah puasa. Dalam suasana bathin orang berpuasa adalah semangat pembebasan, semangat anti kemusrikan akibat keyakinan bahwa seluruh hidup dan mati, lapar adalah hanya untuk mengabdi kepada Allah. Jika ada penghalang melakukan keyakinan tersebut maka mereka akan rela untuk mati dan melawan semampu sekuat tenaganya. Ini adalah suasana kebathinan karena jihad anti penjajahan adalah kewajiban bagi setiao muslim jika ada penghalangan terhadap syariat yang diyakininya.

Dalam tradisi lokal, Jawa, hindu, pun di Indonesia mempunyai ritual puasa untuk tujuan dan hajat tertentu. Banyak masyarakat kejawen jika menghendaki sesuatu maka dijalani dengan perlawnaan non fisik non kekerasan dengan cara berpuasa. Di Yogyakarta, saya menemui banyak orang yang mengaku berpuasa untuk menurunkan penguasa orde baru Suharto termasuk Sultan (Raja Yogyakarta) melakukan hal yang sama demi terwujudnya suksesi kekuasaan Indonesia yang tanpa diikuti kekarasan dan korban. Jadi, sepengetahuan saya para pengikut “kejawen” atau apa yang disebut Clifford Geertz (1964) sebagai agama jawa berkeyakinan bahwa jika manusia tidak mampu mengubah keadaan maka yang leluhur atau yang berkuasa atas jagat akan membantu jika kita meminta maka ritual tertentu harus dilakukan untuk menggabungkan keinginan manusia, leluhur dan penguasa alam raya. Dalam tradisi islam-kejawen ini disebut “manunggaling kawula lan gusti” dengan ertama harus yakin mengenai ajaran “sangkan paraning dumadi.” Sudjiwo tedjo (2011) menerjemahkan ajaran luhur ini dengan kalimat sederhana bahwa “kita tidak akan mengerti kemana kita akan pergi, kalau kita tidak tahu dari mana kita datang/berasal”. Ini adalah bentuk tauhid kejawen yang tidak bertentangan dengan agama mainstream.

Menjelang tumbang Suharto, banyak mahasiswa sambil demonstrasi melakukan mogok makan (sedikit beda dengan puasa) namun maksudnya adalah mengundang perhatian bahwa perjuangan mereka adalah perjaungan menaruhkan nyawa demi kehidupan lebih baik yang juga mengundang simpati mahasiswa lainnya dan juga para tokoh untuk menyelamatkan nyawa mereka. Mereka menggabungkan ritual dengan bentuk-bentuk radikalisme kaum kiri, sambil mogok makan juga menduduki gedung rakyat. Upaya ini diyakini cukup memberikan dampak psikologis bagi demonstran atau bagi pihak penguasa (people in power).

Sayang, akhir-akhir ini tidak muncul solidaritas anti korupsi akibat pengausa yang terlalu kuat. Ritual puasa semakin melemah, sehabis bulan puasa korupsi merajalela artinya puasa bukan menjadi alat perlawanan tetapi menjadi formalitas saja tanpa makna perubahan keadaban. Di saat KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dihabisi, dirongrong, dan dilemahkan tidak muncul tokoh dengan kekuatan simbol spiritual yang mampu menyatukan kesadaran publik sebagaimana terjadi di India dari sosok Anna Hazare. Koruptor dan sindikatnya melawan kebenaran semakin menguat sebagaimana fenomena the corruptors fight back. Puasa mengalami keterpurukan makna dalam kilasan sejarah Indonesia baru. Jika manusia tidak berdaya melawan kerakusan imperealisme baru, dan relasi dengan leluhur atau pengausa jagat juga memudar, maka perubahan sulit untuk diwujudkan dalam bentuk pembangunan kesadaran secara radikal.

Kesimpulan

Puasa, adalah satu kekuatan spiritual yang dapat ditransformasikan dalam kekuatan fisik para pelakunya. Puasa sudah seharusnya menjadi bagian alat perjuangan atau perlawanan terhadap dominasi yang dimulai dari perlawnaan terhadap hegemoni nafsu kebinatangan. Puasa sudah seharusnya menjadi satu bagian dari startegi dalam teor gerakan sosial untuk disejajarkan dengan bentuk-bentuk perlawanan lainnya seperti boycot, sit-in, demontrasi, pendudukan (occupy), dan sebagainya. Singkatnya, bahwa anusia-manusia rakus dan haus kekuasaan, politisi busuk, pejabat rakus hanya bisa dilawan bahwa kita tidak makan apa yang mereka ingin kuasai, dengan tidak mendewakan keuangan dan harta benda. Dan itulah makna puasa sebagai alat perlawanan!

Beberapa Catatan Ringan October 5, 2011

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
add a comment

Dave Efendi, Pencari “Epistemologi”

1. Setahun lalu sempat terpikirkan apa yang ditulis oleh Bill Liddle dan Saiful Mujani terkait Indonesia sebagai Masyarakat islam tetapi demokrasinya sekuler. Hal ini merambah pada keyakinan lainnya bahwa Indonesia ini bukan negara agama tetapi masyarakatnya 100% bisa dikatakan memeluk agama dan kepercayaan tetapi ideologi pasarnya liberal dan kapitalis, masyarakatnya materialis, pejabatnya terjangkiri kleptokratis. Selain itu, kesaksian saya di banyak desa yang merupakan pusat-pusat atau basis agama juga mengalami disorientasi menjadi masyarakat yang haus hiburan. Teman saya menyeletuk, islam agamanya, dangdut tontonannya. Ada yang salah? tidak ada hukum positif yang dilanggar, bagaimana dengan hukum agama? bisa diperdebatkan panjang lebar.

2. Setahu saya, ketika dekat dengan profesor-profesor yang teorinya sudah dijadikan referensi di banyak university ternyata mereka tidak show of force dengan apa yang sudah dicapai, bahkan mereka memberikan rekomendasi untuk membaca karya-karya ilmuwan lainnya. Saya tahu saya membutuhkan teorinya tetapi mereka justru mengarahkan agar mencari perbandingan lainnya. Seorang professor ahli Jawa baik yang saya kenal disini Prof Elice Dewey, Prof Patricia Steinhoff, atau via Email seperti Nancy Hefner justru memberikan rekomendasi membaca bacaan lainnya. Seorang Profesor ternama Ben Kerkvliet, memberikan list 50 buku bacaan untuk memahami apa yang beliau temukan termasuk saya disuruh membaca buku yang berlawanan dengan ide teorinya sendiri.

3. Terkait gaya hidup profesor di sini memang inspiring. Ada profesor John Wilson yang mengajar filsafat politik tahun lalu sudah pensiun, ke kampus selalu naik motor atau naik bus umum, Prof Debbie jalan kaki dari kampus sekitar 20-25 menit hampir setiap hari. Banyak profesor dengan mobil yang kalah keren sama mahasiswanya. Tidak ada gengsi, tidak ada kehormatan yang dirusak gara-gara urusan diluar bidang keilmuawan ini. Jika dibandingkan di Indonesia tentu 180 derajat bedanya???. Malam ini barusaja pulang mengikuti seminar di Bishop Musium masalah Indegeneous Epistimology. Kita mahasiswa yang tidak punya mobil diantar dan dipulangkan oleh profesor sendiri. Ada kebaikan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Tidak ada yang mendebat soal ini, bahwa profesor memang setara dan menjadi sahabat belajar yang sangat helpful. Menarik untuk dicatat, di sini tidak ada tempat parkir yang ditulisin parkir rektor, wadek, atau directur ini itu…semua manusia sama hanya otaknya saja yang berbeda…

4. Bahwa memang ada kebenaran yang muncul dari sudut lain di antara kita, kelompok, dan bagian dari bumi namun ini sebenarnya utuh dalam spirit yang sama yaitu menciptakan better world. Ini cocok sekali dengan keyakinan Imam Syafii bahwa ”Pendapatku, menurutku, adalah benar, tetapi ada kemungkinan salah. Dan pendapat orang lain, menurutku, adalah salah, namun ada kemungkinan benar”. Inilah yang kita diskusikan bersama di Bishop Musium tadi sore-malam. Termasuk mengutip pendapat dan pemikiran dari  Budha, Yoga, Rumi, Aristoteles, Hawkins, sampai Native Hawaiian.

5. Tentara-tentara USA yang haus ilmu, ada yang tertarik dengan konsep keduniaan dan kesejatian hidup. Dia seorang Militer namanya Fabian Cook, angkatan Darat-Army. Dia punya pemikiran dunia yang lebih baik dan memikirkan seandainya masyarakat ini tidak meterialism tentu lebih damai kita hidup. Dia dari Florida kampungnya, konon terlalu banyak konflik di komunitasnya akibat berebut mencari “happiness” tetapi mereka salah mengira bahwa uang itu segalanya.

6. Sebagai seorang pedestrian di Honolulu, salah satu kota yang cukup ramai pengunjungnya. Kita merasa sangat nyaman karena mobil dan sopir bgitu menghargai pejalan kaki. Keselamatan kita benar-benar dihargai dan diutamakan. Kalau berjalan di jalan raya walau sebagai jaywalking kita tetap dihargai nyawa kita. Kecelakaan hampir tidak pernah kutemui, karena antara satu kendaraan dengan lainnya menjaga jarak lebih dari besar kendaraan itu,bahkan lebih sehingga kalau ada ambulan lewat pasti gampang, ada orang lari juga bisa, dan tentu saja kalau macet gampang diselesaikan karena jarak tadi.

7. Hak individu dalam ruang publik, hampir tidak ada yang menyentuh selama punya kartu penduduk. Orang ‘gelandangan’ atau homeless bisa tidur di ruang publik seperti taman kota, bus stop, pantai, dan perpustakaan atau kampus yang notabene milik negara. Tidak akan ada yang menyakiti. Milik negara artinya milik publik. Di negara republik harusnya begitu konsepnya. Sayang, di banyak negara konsep ini dilupakan bahkan milik negara itu artinya pamong praja bisa mengusir seenaknya dengan alasan ketertiban, kenyamanan, kebersihan, dan prosedur lainnya.

Ringan Syarat Makna dan Inspiratif October 5, 2011

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
add a comment

Dave Efendi

7. Seperti tahun lalu, tadi malam Islam day diselenggarakan dengan penuh ceria dan kedamaian. Islam Day sebagai kegiatan pengenalan komunitas Islam kepada khalayak ramai di Hawaii sudah ketiga kalinya diadakan. Semua orang bisa datang dan menikmati pertunjukan dan makanan. Temanya tahun ini adalah “Islam Day, Peace celebration.” Tepat diselenggarakan ketika terjadi bom di sebuah gereja di Solo, tepatnya di gereja Kepunton yang melukai banyak orang dan bahkan ada yang meninggal. Inilah tragedi local global yang tidak sinergis. Satu sisi, mempromosikan kedamaian di Hawaii kelompok Islam lain entah dnegan motis dan justifikasi apa justru menghabisi manusia lain. Ini luar biasa antagonis. Islam kita, kapan akan memberikan kedamaian bagi sesama?

8. Sepulang dari acara Islam Day di Japanese Cultral center, saya menyaksikan seorang Pelatih Kendo, namanya Henry Smalls yang merupakan Martial artist. Smalls ini manusia tanpa kedua kaki bahkan hanya badan dan tangan saja dengan lincah dan gesit melatih murid-muridnya. Bisa dilihat di Youtube silakan ketik namanya ‘Henry Smalls’ akan muncul sesuatu yang dahsyat. Buktinya, prestasinya pun luar biasa, tak kalah juga inspiratifnya tayangan Kick Andy semalam yang saya tonton di Mivo.Tv. Ada Aam (Anak muda dengan semangat melawan keterbatasan fisiknya menjadi sesuatu yang syarat makna, anak muda tanpa dua lengan ini dari Gresik), Sofyan Rosidah seorang perempuan fotografer tanpa kedua lengan, dan lain-lain menyampaikan betapa keterbatasan itu hanya persepsi ‘normalitas’ karena mereka bisa melakukan aktifitas yang selayaknya orang lain. Jadi, cacat, tidak normal, sakit itu murni hanyalah pekerjaan otak-otak yang menyimpan ketidakadilan.

9. Tadi siang, Rabu sep 28, seperti biasa saya punya agenda ‘ngaji’ bersama Prof Elice Duwey, seorang profesor jebolan harvard ahli Jawa terutama soal pasar di Jawa. Beliau profesor Antropologi di UH Manoa. Pernah membimbing disertasi Ann Dunham Soetoro (Ibu Obama yang juga jebolan UH Manoa dimana saya belajar). Minggu lalu, beliau menjajikan bacaan untuk mendukung thesis saya dan hari ini lima buku dipinjamkan untuk saya mulai dengan asal-usul sultan/kraton sampai keruntuhan Soeharto. Saya merasa terhormat, karena beliau bukan pembimbing saya tetapi intensitas ketemunya lebih sering. Kalau boleh klaim beliau pembimbing ke empat saya. Antusias dan responnya luar biasa, lebih dari yang aku bayangkan sebelum kenal dengan beliau. Ketika saya berikan souvenir, gelang, wayang, dan logo kraton beliau sangat senang dan gelangnya langsung dipakai dan merasa sangat cocok. Syukurlah, dan I really apreciate that.

10. GOSSIP. Waktu kecil sering aku mendengar kata-kata ‘rasan-rasan’. Yaitu kegiatan mengisi waktu luang untuk ibu-ibu yang biasanya selesai mengerjakan aktifitas rumah, tidak sedang ke sawah, atau suaminya kerja di luar negeri sehingga para ibu-ibu berkumpul sambil mencari kutu atau apa saja dan bicara ngalor ngidul tentang sesuatu yang belum jelas jluntrungnya. Di dunia barat apakah tidak ada ‘tradisi’ rerasan? saya kira ada karena itu tabiat manusia yang ingin bicara apalagi orang barat ‘talk active’ dan kadang over dosis sehingga sering juga mereka menggosip sana-sana. Tidak hanya di masyarakat luas, tetapi di kelas bersama profesor kadang juga menggosip tentang kebijakan pemerintah bahkan mengosip ilmuwan lain yang dianggap punya kelemahan. Ini terlepas baik buruk, sebab gosip kadang ada baiknya. Konon revolusi bisa dimulai dari gossip yang massif sebagai sarana everyday politics yang efektif. Gosip, jika menyangkut negara, tentu akan banyak konribusinya bila dibanding gosip menyangkut privasi tetangga atau individu. So, mari kita gossipkan negara kita, pemimpin kita yang tidak amnaah dengan gosip yang membangun. Gosip tak dibedakan dengan kritik, tak berbeda dengan politik media hanya cara dan jalan yang ditempuh berbeda.

11. Saya menyaksikan mahasiswa yang serius memang banyak, tetapi yang tidak suka ke perpustakaan juga ada. Setahu saya yang sering bekerja, membaca, atau menulis di library pada kenyataanya orang-orang barat (sebagain saya tanya, mereka berobsesi menjadi profesor). Mahasiswa dari Asia, bisa dibilang kurang suka ke perpustakaan termasuk mahasiswa Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Philipina. Saya lihat, teman-teman Jepang ada beberapa yang sangat rajin ke perpustakaan, terutama mereka yang punya teman ‘bule’ yang pekerja keras dalam belajar. Ini kesimpulan sederhana saja, saya hampir tiap malam mengunjungi perpustakaan sampai petugas mencari pengunjung dan bilang “…closed”. Saya sering kaget pas lagi mojok di lorong-lorong rak buku diruangan seluas masjid istiqlal itu. Saya tidak kuat lama membaca, tetapi saya suka membaca dengan menjelajah at least daftar isi sehingga tau petanya dan kapan-kapan bisa diburu lagi.

Kecil, Ringan, dan Reflektif October 5, 2011

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
add a comment

Dave Efendi

13. Ini akhir pekan yang melelahkan, syarat beban pikiran, fisik, dan ‘masa depan’. Siapa saja pasti akan jenuh dengan kehidupan yang stagnan, tidak dinamis, involutif, kalau ada revolusi pasti hanya revolusi yang sebenarnya imajinasi. Daya kekuatan kita tidak berbanding dengan keinginan dan hasrat kita berkembang dan melejit. Kungkungan rutinitas menjadi hambatan paling serius dalam hidup kita, terutama mahasiswa yang kehilangan mood untuk belajar. Hal-hal baru tidak begitu memuaskan dan mengobati kegersangan otak dan dinamika intelektual kita. Siapa pun jenuh, dengan keadaan dunia yang tunggang langgang. Tidak hanya kelas bawah, proletariat tetapi para pengambil kebijakan mulai frustasi. Dan frustasi yang membahayakan akal waras kita ini bisa menyebar dan memberikan racun kepada seluruh alam kosmos ini. Karena itu saya mencoba mencari pembelajaran dari hal-hal kecil saja. Beberapa itu diantaranya:

13. a. Ada dua hal menarik ketika saya, selama setahun ini, ketika menunggu di halte bus (bus stop). Pertama, para calon penumpang ini membaca buku sesekali mengajak orang disampingnya bicara apa saja terkait hal-hal yang unik di depan matanya. Misalnya ada sepeda yang dimodifikasi, atau sepatu roda unik, dan sebagainya termasuk berita-berita miring terkait pemerintahan. Kedua, ada saja selalu, orang-orang/calon penumpang itu memungut sampah disekitar halte dan membuangnya ke tempat sampah terdekat. Mereka mengambilnya dengan penuh antusias selayaknya kita sedang diawasi atasan atau sedang berbuat sesuatu yang mulia. Ya, memang mulia. Dan mereka malakukan tanpa pamrih, di saat pagi, siang, petang, dan malam yang sepi dan berangin yang menusuk jantung. Hikmah pertama, Orang Barat atau setengah Barat tidak terlalu menuhankan alat-alat tekhnologi seperti di negara-negara baru mengenal tekhnologi dimana kita di Jakarta ketika menunggu halte trans jakarta saja seolah semua orang sibuk dan sibuk dengan handphone dan blackbarry dan apa saja kalau tidak mereka akan menutup telingah dengan headset agar tidak diajak bicara. Di sini, orang menghargai tekhnologi, tetapi tidak menghilangkan arti ‘silaturhmi’ dan hubungan manusia. Hikmah kedua adalah Mereka malakukan pekerjaan ringan, tetapi siapa pun orangnya secara tidak sadar telah dibuat sejuk matanya akibat sampah-sampah yang diungutinya.

13.b. Terkait cellphone/handphone. Saya kira saya tidak menyaksikan dosen atau profesor yang paling sibuk dengan HP-nya lebih dari apa yang terjadi di Indonesia. Bahkan, pengalaman banyak teman, menguji thesis, skripsi pun dosen kita sempat-sempatnya membuka HP, sms, dan telphone bahkan mengganti status FB atau komentar di FB. Ini kan luar biasa. Tetapi anehnya, beberapa dosen juga melarang mahasiswa telpon, tetapi SMS Only (mau sms susah bahasanya?). Ada juga yang telpon Only (artinya mahasiswa harus banyak pulsa, mau telpon takut menganggu?). Nafas panjang sebentar. Lalu, saya melihat disini kita bisa mampir kapan-kapan ke kantor profesor, bisa janjian (appointment) via email karena tekhnologi website-internet sudah disediakan kampus jadi untuk apa harus juga pakai HP atau cellphone? ini kan pemborosan. Lalu kita reflektif, di negeri kita semua kampus punya internet operator, bahkan setiap jurusan punya speedy sendiri, dosen punya modem masing-masing, juga mahasiswanya. Artinya kehidupan kampus benar-benar high cost, bisa bayar spp tetapi gak bisa hidup dengan standar gaya kampus (sebut saja UGM).  Kalau mahal apa akibatnya? Dosen harus cari tambahan penghasilan, mahasiswa gak sempat baca buku karena harus kerja malam sebagai pekerja paruh waktu, siang ngantuk. Keterlibatan di pergerakan mahasiswa? NO way!. Waktu sudah habis diperas oleh gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat.

13.c. Jujur, saya termasuk yang punya stereotip mengenai gaya hidup orang barat: Gak mau direpotkan urusan keluarga dan mengurus anak. Awalnya, saya tidak mengira pada awalnya bahwa ada profesor mengajar kelas methodologi yang serius dengan mengajak dua anak kecil seumuran 3 tahun laki dan perempuan. Ramainya bukan main, tetapi profesor Hoku itu dengan sabar menenangkan anak-anaknya sambil menerangkan. Seminggu sebelumnya,ada mahasiswi dari Jepang mengaja anaknya di kelas. Anaknya setengah bule. Anak itu layaknya anak besar mengikuti kuliah ibunya. Refleksinya. Ada orang barat juga yang tidak kita perkirakan, mereka sangat menghargai anak, dan tentu saja ini investasi imajinasi anak akan masa depan pendidikan kelak. Mengajak anak adalah juga mendidik dan memberitahukan kesibukan orang tua. Anak senang, orang tua bangga. Waktu di kampung, masjid hanya untuk anak muda dan orang tua, ada yang hanya untuk orang tua karena anak kecil dilarang dibawah karena ramai. Ramai itu mengurangi kekhusukan sholat? Saya masih belum bisa menerima kalau masjid hanya untuk orang ‘gede’ atau dewasa. Lalu apa imajinasi masa depan kelak, kalau mereka MATI? Anak-anak tidak tahu masjid, tidak tahu tauladan?

13.d. Ini hari jumat, awal weekend. Seperti yang sudah saya tulis dan sempat cibaca guru bahasa Inggris disini. Bahwa orang Barat mengidap “penyakit” yaitu “Work Hard, Play Harder”, atau “Study hard, play harder”. Kerja keras menjadi etos penting, sementara menikmati waktu luang atau weekend adalah harga tebusan yang setimpal. Kalau pesta dan dugem ya sampai puas karena ini dianggap juga sebagai hak untuk menikmati kehidupan dan kemerdekaan. Kalau saya, sering merasa plain. Selama 5 hari dari senin-jumat, biasa-biasa saja, dan kalau weekend juga biasa saja. Nothing special. Tetapi, jika kita geser sedikit akan etos perayaan kemenangan kecil dengan hal yang kita anggap positif (tidak melanggar moral dan menyerempet haram) misalnya, kita nongkrong bersama teman seraya makan dan diskusi gosip kesana-kemari pasti juga akan menambah semangat hidup kita. Semangat berbagi, caring and sharing. Ini sudah saya lakukan, terutama dengan tujuan, agar bisa menjaga akal tetap waras. Selain, itu menyambung nyawa karena katanya kumpul-kumpul bisa memperpanjang usia. Dalam kehidupan keluarga, anggota keluarga kita punya hak untuk tersenyum, senang, menikmati kebersamaan, dan kehidupan indah. Inilah keseimbangan yang bisa kita ciptakan tanpa silau dengan tradisi orang lain yang bisa mengancam eksistensi ideologi, keyakinan, dan pranata sosial yang ada dan kita harga. Do You?

14. Kembali ke masa lalu, kira-kira 10 tahun silam. Seringkali pembangunan di kampung merupakan hasil kerja gotong royong masyarakat tanpa memandang status sosial, ekonomi, dan pemerintahan. Mereka nampak bekerja ikhlas walau dengan suasana bathin yang berbeda dimana sebenarnya kelas miskin paling berat menanggung beban gotong royong karena mereka kehilangan penghasilan atau kesempatan bekerja untuk dirinya sementara kelas menengah kampung dan pejabat sudah cukup dengan penghasilan dan tidak kehilangan apa pun dalam jangka pendek. Suatu saat, di RT saya diadakan rencana pembangunan jembatan dna jalan akibat kerusakan yang maha hebat. Lalu diputuskan setiap rumah membayar 150 ribu. Semua dipukul rata karena ini dianggap bentuk keadilan (keadilan purba). Suasana bathin saya meletup waktu itu, banyak sekali yang keluarga mendapatkan uang 10 ribu saja susah dan sementara orang kelas menengah atas yang punya mobil 3, motor 2, dan sebagainya yang melayani banyak pelanggan dan kulaan, yang mendatangkan bahan bangunan untuk membangun rumah, ini yang saya anggap berkontribusi merusak jalan dan jembatan. Tetapi atas nama keadilan semua harus berkonstribusi sama. Ini tidak masuk akal dan ornag kaya yang tidak sadar posisi. Lagi, lagi karena masyarakat ini beragama islam lalu toleran dan menghargai tidak ada protest yang manifest. Tapi gossip itu tidak dapat dibendung arena keadilan model ini menyaikiti dan betentangan dengan nurani semua anak manusia.

15. Contoh yang sama sebenarnya, ketika kita berorganisasi, menyelenggarakan kegiatan sukarela yang berkolaborasi dengan ornag banyak, berbeda kelas secara ekonomi. Mahasiswa miskin dengan pengusaha bekerjasama/bersama dan dua-dua tanpa insentif maka siapa paling sengsara? kelompok pebisnis atau yang pandai memanfaatkan peluang justru akan mendaatkan keuntungan yang tidak terduga di masa dekat atau jangka panjang. Contohnya, si mahasiswa miskin butuh rokok, butuh minum, dan kendaraan kalau sakit maka si pengusaha kaya itulah yang akan berjasa dan akan mendapatkan keuntungan yang lebih dari koloborasi masyarakat ini. Ini simbiosis mutualisme tetapi timpang. Ke depan keadilan progresif dimana proporsional dan appropriate itu perlu ditegakkan dengan nalar rasional yang lebih memperhitungan dampak, akibat, resiko jangka pendek dan panjang. Bekerja sama, minimal tidak ada yang dirugikan, minimal ada keuntungan yang setara sehingga masyarakat yang berkesenjangan dapat diatasi melalui hal-hal kecil seperti contoh tadi.

Everyday Dictionary of Resistance (Kamus Perlawanan Sehari-hari) October 5, 2011

Posted by lapsippipm in new words.
add a comment

Dave Efendi

1. A boycott is an act of voluntarily abstaining from using, buying, or dealing with a person, organization, or country as an expression of protest, usually for political reasons.

The word boycott entered the English language during the Irish “Land War” and is derived from the name of Captain Charles Boycott, the land agent of an absentee landlord, Lord Erne, who lived in Lough Mask House, in County Mayo, Ireland, who was subject to social ostracismorganized by the Irish Land League in 1880. As harvests had been poor that year, Lord Erne offered his tenants a ten percent reduction in their rents. In September of that year, protesting tenants demanded a twenty five percent reduction, which Lord Erne refused. Boycott then attempted to evict eleven tenants from the land. Charles Stewart Parnell, in a speech in Ennis prior to the events in Lough Mask, proposed that when dealing with tenants who take farms where another tenant was evicted, rather than resorting to violence, everyone in the locality should shun them. While Parnell’s speech did not refer to land agents or landlords, the tactic was first applied to Boycott when the alarm was raised about the evictions. Despite the short-term economic hardship to those undertaking this action, Boycott soon found himself isolated — his workers stopped work in the fields and stables, as well as in his house. Local businessmen stopped trading with him, and the local postman refused to deliver mail.

2. A sit-in or sit-down is a form of protest that involves occupying seats or sitting down on the floor of an establishment.

Sit-ins were first widely employed by Mohandas Gandhi in South African strikes. He may have been influenced by the Indian practice of Dharna, fasting outside the home of someone who owed one a debt. Sit-ins were later used in the Indian independence movement, and were later expanded on by Student Nonviolent Coordinating Committee and others during theAfrican-American Civil Rights Movement (1955-1968). Also the protests in Germany. The Young Lords in Chicago’s Lincoln Park neighborhood used it successfully for a whole week to win community demands for low income housing investment at the McCormick Theological Seminary.

In a sit-in, protesters remain until they are evicted, usually by force, or arrested, or until their requests have been met. Sit-ins have historically been a highly successful form of protest because they cause disruption that draws attention to the protesters’ cause. They are a non-violentway to effectively shut down an area or business. The forced removal of protesters, and sometimes the use of violence against them, often arouses sympathy from the public, increasing the chances of the demonstrators reaching their goal.

Martin Luther King was arrested in one sit-in, and was not released for 4 months. A sit-in is similar to a sit-down strike. However, whereas a sit-in involves protesters, a sit-down strike involves striking workers occupying the area in which they would be working and refusing to leave so they can not be replaced with scabs. The sit-down strike was the precursor to the sit-in.

3. A riot is a form of civil disorder characterized often by what is thought of as disorganized groups lashing out in a sudden and intense rash ofviolence against authority, property or people.

4. A protest is an expression of objection, by words or by actions, to particular events, policies or situations. Protests can take many different forms, from individual statements to mass demonstrations.

5. A demonstration or street protest is action by a mass group or collection of groups of people in favor of a political or other cause; it normally consists of walking in a mass march formation and either beginning with or meeting at a designated endpoint, or rally, to hear speakers.

6. A peace walk or peace march, sometimes referred to as a peace pilgrimage, is a form of nonviolent action where a person or groups of people march a set distance to raise awareness of particular issues important to the walkers.

7. A revolution (from the Latin revolutio, “a turn around”) is a fundamental change in power or organizational structures that takes place in a relatively short period of time.

8. Rebellionuprising or insurrection, is a refusal of obedience or order. It may, therefore, be seen as encompassing a range of behaviorsaimed at destroying or replacing an established authority such as a government or a head of state.

9. Samizdat (Russian: самиздат; Russian pronunciation: [səmᵻˈzdat]) was a key form of dissident activity across the Soviet bloc in which individuals reproduced censored publications by hand and passed the documents from reader to reader.

10. A dissident, broadly defined, is a person who actively challenges an established doctrine, policy, or institution. When dissidents unite for a common cause they often effect a dissidentmovement.

11. Political dissent refers to any expression designed to convey dissatisfaction with or opposition to the policies of a governing body. Such expression may take forms from vocal disagreement to civil disobedience to the use of violence.

12. A general strike is a strike action by a critical mass of the labour force in a city, region, or country. While a general strike can be for political goals, economic goals, or both, it tends to gain its momentum from the ideological or class sympathies of the participants.

13. Strike action, also called labour strikeon strikegreve (of French: grève), or simply strike, is a work stoppage caused by the mass refusal of employees to work. A strike usually takes place in response to employee grievances.

14. A grievance is a wrong or hardship suffered, which is the grounds of a complaint. A grievance may arise from injustice or tyranny, and be cause for rebellion or revolution.

15. A resistance movement is a group or collection of individual groups, dedicated to opposing an invader in an occupied country or the government of a sovereign state.

16. Nonviolent resistance (or nonviolent action) is the practice of achieving socio-political goals through symbolic protests, civil disobedience, economic or political noncooperation, and other methods, without using violence.

17. Civil disobedience is the active, professed refusal to obey certain laws, demands, and commands of a government, or of an occupying international power. Civil disobedience is commonly, though not always,defined as being nonviolent resistance.

18. The term civil resistance, alongside the term nonviolent resistance, is used to describe political action that relies on the use of non-violent methods by civil groups to challenge a particular power, force, policy or regime. (Examples of the use of the term include Howard Clark, Civil Resistance in Kosovo, Pluto Press, London, 2000; Sharon Erickson Nepstad, Nonviolent Revolution: Civil Resistance in the Late 20th Century, Oxford University Press, New York, 2011; Michael Randle, Civil Resistance, Fontana, London, 1994; Adam Roberts, Civil Resistance in the East European and Soviet Revolutions, Albert Einstein Institution, Massachusetts, 1991).