jump to navigation

Catatan 1: Good Services July 2, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback
David Efendi, Aktifis Parwi

Tulisan ini menurut redaksi sangat terlambat. bagaimana tidak mengkisahkan beberapa mozaik kehidupan atau kisar-kisar kehidupan seminggu yang lalu baru dimuntahkan hari ini. Namun, sejatinya, tulisan ini sudah dicoret-coretkan dalam buku diary sepanjang perjalanan dari Yogyakarta, Jakarta Soekarno Hatta, Changi-Singapura, Narita-tokyo pada kisah petualangan yang dimulai dari tanggal 18-21 Juni 2010 yang lalu. Hari itu saya berniat menempuh perjalanan estafet dari Indonesia ke USA sepanjang 17 jam perjalanan kurang lebih dengan waktu yang penuh elastisitas kerena perbedaan zona waktu.

Mengapa judulnya tidak bombatis? penulis mencoba melihat kisah perjalanan dari perspektif ilmu pemerintahan yang penulis pelajari yaitu mengenai pentingya public service. Kisah itu dimulai dari stasiun Tugu Yogyakarta. Salah satu persoalannya adalah tidak ada alat bantu untuk mengangkut barang yang jumlahnya banyak, sementara istri sudah menggendong si kecil dan taksi hanya boleh berhenti 50 meter dari tempat naik kereta api, waktu itu taksaka. memang ada tukang angkut, tapi kalau ada alat dorong atau kereta dorong mungkin lebih nyaman sebab merupakan pilihan jika publik service itu mendatangkan kenyamanan, berapapun mahal peron akan dibeli juga. Hal yang sama pula terjadi di stasiun yang katanya terbesar di Indonesia namanya stasiun Gambir, yang tidak juga disediakan kereta dorong untuk barang sedangkan para penawar jasa angkut itu sudah berebut naik ke kereta untuk membawakan barang. saya yang bertiga sama anak istri tentu tidak ada pilihan lain. baru saja tarik nafas, barang-barang sudah diangkut…terpaksa harus berlari-lari mengejar sampai ke tempat taksi yang akhirnya juga kena cas alias denda 5 ribu. Tidak besar memang, tapi saya rasa tidak mendapatkan kenyamanan dan serasa terpontang-panting di shubuh hari yang tentu saja rasa capek masih bertengger di saraf dan persendian…

hasrat ingin ke toolet juga tergusur oleh gegap gempita pak Pembawa Barang itu.
Apa yang bisa dipelajari, what is the lesson learn dari kasus sederhana ini? Pertama, biaya membeli tiket yang seharga 220 ribu itu serasa sangat mahal dengan palayanan yang sangat buruk. apa biaya 220 itu tidak termasuk keamanan, kenyamanan, dan sebagainya. kedua, yang paling penting, pelayanan model ala kadarnya ini tidak memunculkan kebanggan, rasa memiliki akan kereta api sebagai aset bangsa, sebagai manifestasi pelayanan negara kepada rakyatnya, kepada konsumen yang notabene juga pembayar pajak, kalau tidak dikatakan sebagai warga negara yang baik. seolah-olah dinas perhubungan ini membenarkan bahwa Jakarta itu banyak orang jahat, dan setiap individu harus bertanggung jawab atas dirinya masing-masing, keamanan masing-masing. Dalam hati., terus untuk apa kita punya pemerintahan, punya polisi, punya pegawai kereta api, yang semua digaji negara, digaji dari pajak, digaji dari keringat-keringat rakyat yang harus dibebani pajak dan kehilangan sumber kehidupan lantaran negara mengambil alihnya misalnya pengelolaan sampah, sumber tambang, dan minyak, dan sebagainya

JIka bangsa, pemerintahan ini mau belajar, mau menjadi pelayan yang baik bagi rakyatnya, dan tidak memelihara mentalitas sebagai boss, sebagai raja diraja, tentu tidak ada kata terlambat untuk kemudian hari mendapatkan acungan jempol (two thumb up!) dari warganya masih ada waktu,,,,toh bangsa ini banyak pendidik, guru, dosen, dan juga nurani yang akan tetap mendorong bangsa ini belajar untuk mewujudkan good servics atau best service untuk warganya…apa pemerintah sbg penyelenggara pelayanan publik ini tidak mau warganya tersenyum senang? atau masih terperangah dengan sihir iklan “kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah” (logika birokrasi kolonial), atau malah” susah lihat orang senang, senang lihat orang susah..”.
OMG, tobatlah !bersambung

Honolulu, June 27, 2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: