jump to navigation

Pelarian Intelektual (part1) July 2, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

David Efendi, Aktifis Parwi

Dengan dalih sejenak melupakan dan menyembunyikan jutaan persoalan dalam negeri untuk ditulis karena semua itu sering ditumpahkan oleh para pengamat politik profesional atau pengamat politik musiman dan dadakan, baik yang ada dalam negeri maupun luar negeri, baik yang master, PhD kandidat sampai yang profesor doktor. Every day politics meminjam kata Mbak Amalinda Savirani. Media-media massa dalam negeri juga runyam dengan perang opini mana yang pro penguasa dan anti-penguasa kadang suilit ditarik garis tegas sebab pragmatisme politik yang menjalar kian cepat sampai ke batas-batas ruang spiritual dan menumbangkan idealisme para intelektual dan aktivis. Mereka lalu melebur dalam pusar-pusar kekuasaan yang sama sekali bukanlah barang suci tanpa noda.

Sebagian dari kita mungkin dengan dalih sekolah diluar negeri bisa melupakan semua intrik politik, perkawinan politik, geser sana sini, kanan kiri ideologi partai yang menjelma menjadi politik kemunafikan atau politik sapu jagad untuk berebut suara dalam pilkada dan pemilu. Every day politik di dalam negeri memang bisa jadi menjadikan rambut cepat beruban lalu rontok mendadak. Bagi yang bisa mengambil keuntungan dalam perbincangan politik setiap hari, bisa juga menulis masalah politik bisa menjadi media onani intelektual sekalian sambil menikmati bayaran sebuah artikel di majalah lokal dan koran nasional serta enaknya diundang jadi intelektual entertainment diberbagai stasiun televisi.

Tidak ingin menyatakan banyaknya pengkhianatan intelektual tapi persekongkolan politik itu tidak hanya dihuni oleh kaum sekeler, birokrat, pengusaha, politisi, tapi juga kelompok akademisi dan kelompok puritan agama sekalipun. Bisa jadi tulisan ini juga bagian dari penghianatan intelektual lantaran penulis tidak melakukan apa-apa terhadap keadaan yang semakin menistakan rakyat kebanyakan. Politisi yang tergabung dalam korporasi busuk sadar bahwa tidak perlu tiap hari datang ke konstituen cukup lima tahun sekali sebagai tamu kehormatan sekaligus pengemis legitimasi.

Everyday politik! disini adalah pelarian untuk melupakan persoalan negeri sendiri untuk tadarus kepada kesuksesan negera lain yang lebih leading dalam membahagiakan warganya. Jika kita tidak bisa belajar dari kegagalan, izinkan dalih pelarihan intelektual bekerja untuk mencoba belajar dari kesuksesan. learning from succes country juga dikritik habis karena pejabat-pejabat di negeri kami itu setiap tahun menghabiskan miliaran anggaran negara (uang rakyat) untuk study banding yang membawa protes sebab logikanya nggak nyambung. Study banding tapi hasilnya tidak diimplementasikan lantaran struktur, infrastruktur, dan suprastruktur tidak siap. Bahkan KKN jauh lebih penting dari 100 persen pembangunan yang dipamer-pamerkan.

Politik dalam media jauh lebih membosankan untuk mengatakan tidak mau lagi menonton atau membaca berita dalam negeri. Ketika otak kiri menolak berita dari negeri sendiri, otak kanan membisiiki bahwa engkau harus membaca sebab itulah realitas milikmu. engkau tidak bisa lari dari kenyataan. Otak kiri kembali menyangkal bahwa inilah saatnya pelarian intelektual dimulai. kacau!. Everyday politik yang membuat hati dan otak tidak bersatu lantaran idealisme itu hanya kemunafikan sebab yang nyata diakui didalam negeri hanyalah praktisisme, realisme, pragmatisme, dan duitisme.

Karena itu, dalam pelarian politik kaum intelektual senantiasa mencoba menghidupkan plato dalam otak bahwa yang nyata hanyalah dunia ide.

Pelarian intelektual, ada yang mengatakan pengembaraan intelektual untuk menyemai harapan di masa yang akan datang. Masa di mana penguasa-penguasa yang korup, dinastiisme, dan koncoisme larut ditelan zaman. Ini juga utopian. karena kalau tidak ada revolusi, tidak ada egent of change, lalu siapa dan kapan serta bagaimana melawan sekerumunan orang yang berdalihkan Laswell bahwa politik hari ini adalah who get what and how? Bagaimana ini bisa dilawan oleh kata-kata yang tidak terlalu sakti bahwa politik adalah pengabdian!

Larikan dirimu, diriku, dan diri kita dalam jarak samudra yang tak terengkuh oleh waktu-waktu biasa. Pelarian yang sedang disuntikkan makna-nya. Que sera sera!Have a nice flight!

A Burns Hall, June 27 2010 10.30 pm
DEF

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: