jump to navigation

“POLITIK ITU MEMECAH DAN MEMBELAH”? July 5, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

Oleh David Efendi

Beberapa waktu yang lalu – kira-kira dua hari sebelum tulisan ini dibuat, saya mendapatkan pesan singkat (sms) dari salah satu pengurus Hismag untuk menulis mengenai Masyarakat Godog menjelang pemilu 2009 nanti. Saya sangat apresiatif dengan sepak terjang Hismag kini yang adaptif terhadap perubahan zaman. Terutama perubahan yang kencang sekali menusuk sendi-sendi budaya dan peradaban desa Godog. Desa ini sebagai kampung ilmuwan, perkampungan Muhammadiyah yang sangat mayoritas secara sosiologis yaitu tidak tahlilan, meskipun saya pribadi melihat banyak perilaku penduduknya yang sama sekali anti terhadap Muhammadiyah. Misalnya kebiasaan nganakno duwek alias “riba bil haq”. Kenapa “riba bil haq”? Karena ini riba yang sebenar-benarnya riba bil yaqin. Sementara tokoh agama sibuk dengan aktivitas lainnya yang cenderung hanya mengajak kebaikan dan tidak beritikad untuk menghentikan segala praktik kejahatan lintah darat, menindas orang miskin yang sudah terlilit hutang. Inikah kampung Muhammadiyah yang layak dibanggakan?

Baiklah kembali ke jalan yang lurus. Saya hanya mendapatkan tugas menulis sebagai kewajiban saya, dalam hal ini saya akan sampaikan beberapa pandangan dan pemikiran politik saya mengenai politik itu sendiri dan mengenai sosiologi politik di desaku, termasuk pergolakan mencari kekuasaan, the ruling elite dan bagaimana sebaiknya masyarakat Godog menyiapkan diri agar pemilu menjadi bermakna, agar coblosan atau pencontrengan itu memberikan dampak bagi kehidupan yang lebih baik dan yang terpenting bagaimana pembangunan politik via pemilu ini mampu menyelamatkan masa depan anak-anak Godog yang kini berada dalam fase transisi dan krisis kepemimpinan dan ketauladanan. Saya yakin anak desa di Godog dari TK ABA sampai MAUM 3 Godog tidak ada satu pun yang mengatakan punya tauladan di desa ini. Silakan dibuktikan! Ini melanda seluruh negeri dan desa ini sedang di ujung tanduk jika kita tidak mampu mengantisipasi dan melakukan yang terbaik untuk desa kita. Pemilu, adalah pesta pora politisi, kita ada dalam dunia politik dan ini akan berdampak panjang bagi kehidupan kita semua, kapan kita mulai bertindak untuk menyelamatkan masa depan anak-anak kampung Godog atau Kota Kecil ini?

Peta Sosiologi Politik

Alhamdulillah desa kita ini diberikan anugerah berupa keimanan dan tauhid yang sangat kuat. Ini dibuktikan dengan banyaknya surau (langgar) di desa ini. Tidak ada desa satu pun yang bisa menandingi jumlah langgar, pondok, dan masjid yang seperti ini. Pengalaman saya membuktikan demikian. Betapa tidak, desa ini bukan dilahirkan sebagai kampung Nahdlotul Ulama, yang agak terbelakang dulunya. Sekarang NU sangat maju mengejar Muhammadiyah. Kita tentu bersukur di Kota Kecil ini tidak dikutuk oleh Allah sebagai desa komunis sebagai basis kelompok abangan yang berafiliasi PDI atau PDI-P. Dalam sejarah desa ini, Masyumi dan PPP pernah berkembang pada zaman Orde Baru, kemudian oleh tokoh agama diarahkan lagi orang kampung ini memilih Golkar, lalu reformasi memilih PAN sebagian besar warga Godog. Betapa kyai dan tokoh masyarakat dapat diandalkan dan dijadikan panutan? bagaimana pemilu 2009? Pembahasan ini menjadi penting di bagian belakang.

Ada beberapa penjelasan yang dapat kita sampaikan untuk menggambarkan peta sosiologis. Beberapa petanyaan membantu kita menjelaskan hal ini. Pertama, kenapa Godog lebih awal mengenal Islam dan Muhammadiyah bila dibandingkan dengan desa tetangga? Kenapa desa Godog tidak berkembang NU atau PKB, kenapa Godog tidak menjadi kelompok abangan sebagaimana karakteristik desa di pinggir sungai Bengawan Solo yang dikenal sebagai basis komunis dan konstituen PDI atau PDI Perjuangan? Dan yang mendasar bagaimana Muhammadiyah menjadi pengikat secara sosiologis masyarakat Godog sehingga loyal terhadap partai yang didirikan oleh Tokoh Muhammadiyah?
Di Godog, yang modern ini masih terdapat beberapa kelompok aliran yang dapat dijelaskan dengan bantuan Geertz yaitu mengenai santri-abangan. Di Godog kelompok terdidik menjadi pimpinan Muhammadiyah meskipun tidak lantas tidak melakukan hal-hal yang bersifat klenik, banyak pula orang desa ini yang masih percaya kepada dukun, makhlus halus, dan firasat setan. Kelompok abangan dianggap sebagai rakyat kebanyakan meski diidentifikasi sebagai warga Muhammadiyah lantaran anak-anaknya sekolah di Muhammadiyah, masjidnya Muhammadiyah. Ini sebagai kelompok abangan yang sekarang menjadi the ruling elite, yaitu yang menjadi pemerintahan/kepala desa adalah representasi kelompok “kurang” terdidik, bukan sarjana, dan mantan TKI. Bagaimana kepala desa ini bisa terpilih sebetulnya saya ada tulisan khusus mengenai hal ini. Tapi paling tidak hal ini menjelaskan bahwa tidak semua yang dianggap warga Muhammadiyah ini mengerti Muhammadiyah dan akan memilih pimpinan dari tokoh Muhammadiyah. Hal ini juga mengisahkan tentang kegagalan tokoh Muhammadiyah menginternalisasikan nilai-nilai ke-Muhammadiyahan sehingga masyarakat gagal memilih pimpinan yang baik dan mengayomi rakyat. Atau memang tidak ada yang baik?

Karakter dan jati diri orang Godog yang terus mengalami transformasi, perubahan yang cukup radikal. Buktinya antara lain semakin materialistisnya warga, semakin rendahnya kejujuran, hilangnya gotong royong sehingga hutang harus dibayar dengan uang yang lebih banyak (nilai awalnya hutang piutang adalah bukti persaudaraan dalam islam menjadi lahan bisnis). Dan kedzaliman begitu menghebat ketika orang miskin harus berhutang kepada rentener dan pelaku ribah laknatullah. Kehidupan berpolitik juga demikian.

Kehidupan ekonomi Godog seperti kota kecil: ada pasar, alun-alun perguruan Muhammadiyah, ada mini market, show room, gedung bertingkat, masjid yang megah, sungai, sawah, tambak yang luas dan juga anak-anak yang mempunyai mimpi masa depan. Aset yang tidak terlupakan adalah ratusan pemuda dan pemudi, keluarga tinggal di luar negeri ada yang di Malaysia, ada juga yang mulai hijrah ke tetangga Malaysia, entah Brunei atau Singapura dan seterusnya. Dan jangan sampai lupa! Desa kecil ini sedang menyekolahkan puluhan anak-anak (Hismag) sebagai anak panah Muhamamdiyah di berbagai Kota tersebar di Nusantara. Saya sering bilang anak Godog sudah tersebar baik di dalam negeri atau di luar negeri. Catatan: di dalam negeri berarti sekolah negeri, di luar negeri berarti sekolahnya swasta. Ini menunjukkan bahwa ini cukup membanggakan dan patut didukung sepnuh hati. Satu bulan yang lalu di kantor PP Muhammadiyah, saya bertemu dengan seorang tokoh Muhammadiyah asal Gampang (Laren, Lamongan), Pak Kaswari kalau tidak salah. Sedang mengurus NBM waktu itu. Saya pun bertanya setelah kenalan, “ada berapa orang Gampang yang sekolah di Yogyakarta sehingga bisa dititipkan maksud saya?”. Apa jawabannya? Tidak ada seorang pun yang sekolah di Yogyakarta, paling mentok Surabaya atau Malang. Inilah Godog, Hismag, anak panah yang akan melesat di zaman yang akan datang. Sekarang anak-anak, hari ini pelajar, lihat saja masa depan akan ada dalam genggamannya.

Sisi gelap lainnya adalah petani dan buruh tani miskin, keluarga broken home, moralitas yang tidak terkendali, masjid yang sepi, anak yatim yang terlupakan, lembaga pendidikan yang kehilangan ruh pendidikan dan menjadi sekolah pengajaran semata. Nilai-nilai nurani tidak menjadi hal yang dipertanyakan dan diagungkan, ada beberapa yang gagal bekerja di Malaysia dan kemudian agak frustasi dan sebagainya. Ini pengamatan saya pribadi semoga tidak benar, dan apabila benar itu haq Allah lah yang mengetahui.

Pilihlah Pemimpin, dan Bukan Penguasa

Karena Islam sebagai identitas, karena Muhammadiyah, warga Godog memilih Masyumi dan PPP di zaman Orde lama dan Orde Baru. Warga Godog memilih Golkar adalah bukti penyimpangan dan pengkhianatan tokoh agama kepada Islam yang dipegang oleh Muhammadiyah dan orang Godog. Tapi secara politik ini sama sekali bukanlah dosa, sama sekali dibenarkan jika kacamata yang kita pakai adalah politik praktis sebab dalam politik benar salah tidak dibahas. Dalam politik musuh terhebat adalah teman terdekat, betul apa yang disampaikan oleh Prof.Dr.Syafii Maarif (mantan Ketu Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah) bahwa Politik itu memecah dan membelah, sedangkan dakwah Muhammadiyah itu merangkul dan melindungi seperti halnya yang dilakukan Muhammadiyah selama ini. Oleh karena itu, Muhammadiyah sebaiknya menjadi penjaga moral dan akhlak bangsa. Di desa ini dan bukan menjadi pelaku politik yang membahayakan masa depan kampung sebab pasti akan ada perpecahan ukhuwah islamiyah sehingga dosa sosial merajalela.

Ada dua jenis pemimpin yang kita kenal di desa kita yaitu pemimpin Formal seperti kepala desa, DPD, RT. Sedangkan pemimpin non-formal seperti tokoh Muhammadiyah, Kyai, Ustadz dan imam masjid. Saya lebih senang menyebutnya yang pertama sebagai penguasa dan kedua sebagai Pemimpin Penjaga Moral. Penguasa itu karakteristiknya antara lain:

  1. Jabatan FORMAL terbatas
  2. Kekuatan menentukan kebenaran hukum formal
  3. Loyalitas di atas gaji atau upeti
  4. Salah adalah kalau tertangkap dan diputuskan pengadilan
  5. Tidak menjalankan apa yang seharusnya dalam kehidupan mereka sendiri
  6. Citra adalah segalanya

Sedangkan pemimpin pilihan kita adalah pemimpin yang bermoral, yaitu pemimpin yang kewibawaan moral, Kebenaran menentukan kekuatan, Integritas adalah loyalitas, Salah adalah melakukan hal yang dosa dan menyakitkan, Menjalankan dengan keteladanan, Kebenaran adalah segalanya (Stephen R Covey, 2006).

Desa kita tercinta membutuhkan pemimpin yang bukan penguasa. Adakanlah kiranya diantara kita yang mau berikhtiar zuhud dunia untuk memulaikan manusia, membangun masa depan generasi yang akan datang dengan segala daaya dan kekuatan kita. Tidak lama lagi hidup di dunia, jadikan politik, jadikan pendidikan, dan masjid sebagai tempat memuliakan manusia dan mewujdukan harapan dan bukan menjadi momok kehidupan anak-anak dan warga pada umumya. Dnia membutuhkan pemimpin bermoral. Demikian pentingnya nilai moral yang dapat melahirkan kepercayaan rakyat atau siapapun. Tak bisa kita bayangkan, bagaimana sebuah kepemimpinan yang digerakkan tanpa nilai moral dan kepercayaan rakyatnya. Tentu semuanya tak akan memberikan harapan, keyakinan dan kecintaan dari rakyat.

Seorang Barrack Obama menjadi sorotan dunia gara-gara menyebut pentingnya seorang ‘a real leader’ dan ‘a deal leader’ di tengah persaingan dunia yang tak pasti. Seorang ‘pemimpin nyata’ adalah mereka yang ada, hadir dan menapak di bumi, di tengah kenyataan hidup yang dialami oleh setiap rakyatnya. Sementara, pemimpin yang berkemampuan ‘deal’ adalah pihak yang mampu menggolkan tujuan dan target serta selalu meraih dan mengayomi kepada rakyatnya. Keduanya tentu pemimpin yang pada akhirnya akan menjadi seorang yang ‘an effective leader’ dan ‘a strong leader’. Menurut WS Rendra, Indonesia tak membutuhkan seorang Ratu Adil, tapi pemimpin yang melahirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Begitu juga di desa ini tidak membutuhkan caleg yang tahu segalanya dan maha hebat, hanya butuh caleg atau pemimpin yang mengutamakan kejujuran, keteladanan dan mendahulukan menyelamatkan rakyat miskin.

Pemilu 2009: Masih Ada Harapan?

Pemilu, politik, demokrasi bukan hanya milik orang dewasa, bukan pula hanya milik politisi, tapi pemilu adalah masa depan kita semua, masa depan anak cucu kita. Politisi, caleg, partai politik tidak berarti apa-apa tanpa rakyat jelata yang jumlahnya ratusan juta dan miskin papa. Doa para elit politik, doa ketua partai, doa tokoh masyarakat hanya nunut di marka doa orang-orang miskin yang selalu didengar dan disimak oleh Allah. Maka, kedzaliman yang besar adalah penindasan dan pembodohan orang miskin yang dilakukan penguasa atau pemimpin. Jika tidak ada orang miskin tentunya sudah qiamat beberapa tahun yang lalu Indonesia ini.

Tahun 2009, saatnya membangun harapan. Setelah anak-anak melukiskan mimpinya dan kitalah yang membantu mewujudkan mimpinya. Ada beberapa pandangan politik saya sebagai risalah dalam tulisan ini. Pertama, Pemilu di desa Godog harus tenang, jangan konflik yang tidak jelas sementara elit partai yang dibela sedang menikmati kekuasaan dan manisnya jabatan. Jangan sampai orang desa menjadi korban politik praktis rebutan jabatan toh desa kita tidak selalu dibela, toh petani-petani masih miskin, anak-anak tidak jelas masa depan pendidikannya dan orientasi islam di desa ini semakin memudar. Kedua, batasi pilihan warga hanya kepada partai yang jelas kontribusinya kepada desa dan yang hanya ada pimpinan rantingnya saja. Lupakan gambar puluhan partai yang tidak dikenal. Selamat mencontreng! Ketiga, kedepankan etika dan moralitas. Politik dengan etika berarti tidak mengorbankan nilai-nilai luhur ketuhanan dan kemanusiaan. Sehingga pemilu di desa menjadi bermakna untuk kehidupan yang lebih lama dan bukan untuk kepentingan sementara saja. Perlu kiranya juga pelajaran demokrasi dengan memberikan kontrak politik kepada caleg dan kepada partai yang hendak di dukung. Kontrak politik hitam diatas putih bermateri ini berupa janji-janji atau program yang hendak dilakukan untuk kemaslahatan masyarakat. Tahun 2009 ini kita ciptakan harapan ditengah krisis kepercayaan setidaknya siapa pun kita wajib kiranya menghindarkan dampak dan jumlah korban dari pemilu yang bisa jadi sangat-sangat politis dan menyerempet moral dan etika Islam yang mengakibatkan terbelahnya kerekatan sosial menjadi partisan yang penuh dendam kebencian. Selamatkan anak-anak Muhammadiyah, para laskar matahari untuk menyongsong.

David Efendi
Student of Postgraduate Program in Political Science UGM, UHM USA
semoga juga menjadi Kandidat Doktor Ilmu Politik

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: