jump to navigation

Bank Konvensional, Bank Syariah, dan Pekerjaan Nganakno Duwek July 5, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback
Oleh Nadlim Ahmadi)*“…Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba….(Al-Baqarah:275)”

Islam adalah agama yang mengatur hubungan antara manusia dan Allah, manusia dan dirinya sendiri, serta hubungan sesama manusia. Hubungan manusia dengan Tuhan menyangkut masalah Aqidah dan ibadah ritual. Hubungan manusia dengan dirinya menyangkut masalah makanan, minuman, pakaian, thaharah dan akhlaq. Sedangkan hubungan manusia dengan sesamanya dapat dilihat pada pengaturan Islam dalam sistem ekonomi, hukum, politik, sosial, budaya, pendidikan, hubungan luar negeri, dan lain sebagainya. Jika kita menyakini Islam sebagai the way of life.

Bank Syari’ah merupakan sedikit gambaran bagaimana syari’at Islam mengatur pada masalah pendanaan, menjadi alternatif yang sangat berkembang saat ini. Bahkan bank-bank konvesional yang berbasis ribawi pun berlomba-lomba membuka divisi syari’ah untuk berebut pasar (nasabah) sebagai reaksi industri perbankan dalam pembacaan pasar yang mereka lakukanRasululullah SAW bersabda bahwa, “Akan datang kepada umat ini suatu masa nanti ketika orang-orang menghalalkan riba dengan alasan: aspek perdagangan” (HR Ibnu Bathah, dari Al ‘Auzai). Dan hadis tersebut kita jumpai realitasnya saat ini yang mana aktifitas perbankan konvensionallah yang menguasai perbankan dunia. Di masyarakat kita riba sering disebut sebagai pekerjaan Nganakno duwek. Seolah orang-orang ber-uang itu sebagai bank dan yang miskin yang butuh pinjaman sebagai nasabah.

Buya Hamka memberikan batasan bahwa arti riba adalah tambahan. Maka, apakah ia tambahan lipat-ganda, atau tambahan 10 menjadi 11, atau tambahan 6% atau tambahan 10%, dan sebagainya, tidak dapat tidak tentulah terhitung riba juga. Oleh karena itu, susahlah untuk tidak mengatakan bahwa meminjam uang dari bank dengan rente sekian adalah riba. Dengan demikian, menyimpan dengan bunga sekian (deposito) artinya sama dengan memakan riba juga.

Islam menyamakan orang yang memakan riba dengan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila. Bahkan dalam hadis riwayat Al Baihaqy, dari Anas bin Malik menyatakan satu dirham yang diperoleh oleh seseorang dari perbuatan riba lebih besar dosanya 36 kali daripada perbuatan zina di dalam Islam .

Bagi Hasil VS Riba

Perbedaan prinsip mendasar antara sistem bagi hasil pada sistem ekonomi syari’ah dan sistem bunga pada sistem ekonomi konvensional dan aktivitas ribawi adalah pada sistem return bagi nasabahnya. Perbedaan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, bank konvensional, nasabah akan menerima atau membayar return bersifat tetap yang disebut bunga. Bagi nasabah penabung akan mendapatan bunga yaitu persentase terhadap dana yang ditabung sedangkan bagi nasabah peminjam (debitur) akan membayar bunga yaitu persentase terhadap dana yang dipinjam oleh nasabah. Dalam keadaan yang bagaimanapun bunga harus dibayarkan tidak melihat apakah laba atau rugi. Bagi debitur juga harus membayar tingkat bunga yang telah disepakati baik dalam kondisi laba maupun rugi. Sistem bank konvensional ini sama persis dengan aktivitas ribawi yang sering dipraktekkan di desa-desa dengan berbagai istilah mislanya rentenir, bank plecit, bank kredit, lintah darat dan sebagainya yang biasanya meminjamkan uang dengan jumlah tertentu dan dengan bunga tertentu. Sering kita dengar misalnya orang yang mau pergi ke Malaysia lalu meminjam uang misalnya 4 juta lalu yang meminjam akan dikenakan bunga sebulannya empat ratus ribu. Ini bahkan lebih jahat dari bank konvensional yang ada. Ini lebih ganas dan tidak manusiawi kerena aktivitas meminjamkan uang sudah menjadi mata pencaharian yang menjadi mesin pengeruk uang. Kadang juga diikuti dengan penyitaan aset keluarga gara-gara terlambat membayar bunga utang. Praktek ribawi ini ternyata menjalar di desa-desa yang penduduknya Islam. Dalam pekerjaan nganakno duwek memang seolah saling menguntungkan dan ada kesan si orang beruang sebagai dewa penolong tapi sejatinya hubungannya andalah penindas dan yang ditindas.

Kedua, Bank syari’ah, nasabah akan menerima atau membayar return bersifat tidak tetap yang disebut bagi hasil. Penabung akan menerima bagi hasil yaitu persentase terhadap hasil yang diperoleh dari dana yang ditabung yang kemudian dikelola pihak bank. Peminjam akan membayar bagi hasil yaitu persentase terhadap hasil yang diperoleh dari dana yang dipinjam oleh nasabah yang kemudian dikelolanya. Sistem syari’ah pada kondisi laba akan membayar tingkat persentase bagi hasil yang disepakati, dalam kondisi impas tidak ada pembayaran dan pada kondisi mengalami kerugian maka kerugian tersebut  ditanggung bersama

Dalam perbankan syari’ah hubungan antara nasabah dengan bank bersifat kemitraan. Sistem syari’ah tidak ada yang dieksplotasi(terdzalimi) dan tidak ada yang mengeksploitasi (mendzalimi) karena ekonomi syari’ah melarang sesuatu (misalnya laba atau rugi) yang tidak pasti dimasa akan datang dibuat pasti dan ditentukan pada saat sekarang. Disisi lain juga melarang sesuatu yang sudah pasti dibuat menjadi tidak pasti agar dapat melakukan spekulasi atau mengambil keuntungan untuk kepentingannya sendiri dengan merugikan atau merusak perekonomian secara umum. Yang berakibat yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin dan diberlakukannya hukum rimba, yang kuat(punya uang) akan memakan yang lemah(miskin).

Dengan melihat keburukan kegiatan ribawi, maka patutlah kita getarkan jiwa kita seraya memikirkan firman Allah, “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (al Maidah:50). Maka sebaiknya kita bergegas meninggalkan pekerjaan riba atau nganakno duwek dan sejenisnya yang menyusahkan orang miskin untuk kemudian beribadah dan jangan banyak alasan. Mumpung sakaratul maut belum menjemput kita tapi cepat atau lambat pasti tiba saatnya.

*Kuliah di STAIN Surakarta Jurusan Ekonomi Islam

dan aktif di FRESH (Forum Ekonomi Syariah)

diedit oleh David Efendi

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: