jump to navigation

Catatan Dari Desa Godog:Pedagang dan kelas Menengah Kampung July 5, 2010

Posted by lapsippipm in short story.
trackback

Oleh David Efendi

Setelah sekian lama belajar di universitas sebenarnya ada rasa kangen untuk menuliskan banyak fakta di masyarakat, di daerah asal, dan di kampung halaman meski selama ini dalam keterbatasan sudah menuliskan berbagai kritik, keprihatinan kepada masyarakat melalui buletin, majalah, dan karya buku terbatas keluarga. Minat saya yang cukup besar dalam kajian antropologi ternyata baru saya sadari, baik antropologi politik, antropologi ekonomi, antropologi pendidikan, maupun budaya. Ini sangat menyenangkan dalam kepuasan batin sebagai orang yang lahir di desa, sekolah di Kota dan kembali menyapa dan including dalam sebuah realitas global yang mengikis habis batas desa dan kota sebab dunia sudah dilipat.

Salah satu hal yang belum saya tulis secara lebih serius adalah mengenai ethos dagang di desa saya yang sebenarnya cukup menarik. Para pedagang di desa memang bukanlah orang yang sangat kaya bila dibandingkan dengan pedagang dalam arti perkotaan. Pedagang ini meski mendapatkan tempat yang kurang mulia, dibanding sebagai guru atau bidan, atau pamong desa. Akan tetapi nyaris desa ini sangat ditentukan oleh dinamika pedagang ini untuk mensuplai kebutuhan masyarakat, mendsitribusikan barang dari desa ke kota, dari kota ke desa sehingga roda ekonomi berjalan, selama berpuluh tahun bahkan beratus tahun yang sudah berjalan sampai saya sendiri dibesarkan sebenarnya atas jasa pedagang-pedagang itu, terutama pedagang baju sehingga saya bisa memakai baju, pedagang ikan sehingga ada kelebihan kecerdasan sedikit dari yang tidak pernah makan ikan. Sangat penting pedagang itu dalam kehidupan.

Apa yang ditulis oleg Geertz menginspirasi banyak orang, termasuk saya untuk kemudian mencoba menjadi antropolog yang mencatat sisi sosial dalam masyarakat yang selalu berubah baik secara evolutif maupun revolutif. Misalnya di kampung saya, ketika kecil tahun 1980-an masih banyak sistem barter atau ekonomi subsisten atau ekonomi bazar kata Geertz yang mana masyarakat di pasar kampung hanya tukar menukar barang. Ada yang membawa cabe pulang dapat ikan, ada yang membawa beras pulang membawa jagung dan sebagainya dan sebagainya. Lalu ada kekkuatan eksternal yang menginfiltrasi pasar sehingga pasar itu lalu menyediakan kain, baju, sepatu dan sebagainya yang ini sama sekali hal baru yang masuk ke perkampungan. Konsumsi barang mewah ini diperkuat oleh TKI, orang kampung yang bekerja di Malaysia lalu mengimpor banyak tekhnologi mutakhir masuk kampung. Barang elektronik dianggap mewah sehingga siapa yang dirumahnya ada antena TV yang tinggi, dan ada TV maka itu masuk dalam penggolongan kelas menengah baru yang dihasilkan oleh jerih payah TKI.

Pedagang perempuan. Dunia wirausaha di desaku digerakkan oleh para perempuan tangguh yang mempunyai mentalitas ulet, tekun, dan tidak mengenak lelah. Salah satu keahlian perempuan-perempuan ini adalah kemampuan negosiasi, kemampuan menawarkan barang dagangan, dan juga dikenal agak pelit oleh banyak kalangan katanya seperti ”Chino lilit”, julukan yang lazim diberikan kepada para pedagang perempuan ini. Tidak hanya itu, pedagang di desa selalu dikonotasikan negatif, seperti memelihara tuyul, pesugihan dan selalu orang bilang kepada anak-anak kecil, jangan beli makanan disana, jangan mau dikasih uang, jangan mau diberikan jajan dan seterusnya. Apakah ini lazim didaerah lain? Tidak salah. Di beberapa daerah lain pedagang selalu dianggap negatif, ada konstruksi besar oleh para penguasa dan masyarakat bahwa informasi miring selalu dilekatkan kepada pedagang seperti pedagang laweyan di Solo yang sering dibilang punya pesugihan, punya blorong dikemaluannya, dan juga perempuan pedagang komunitas Kalang di Bantul atau Yogyakarta sekarang dikisahkan sebagai perempuan pedagang yang punya ekor.

Pedagang ini dalam struktur ekonomi sebenarnya cukup penting sebagai kelompok kelas menengah kampung, mengakses banyak tekhnologi lebih awal, hanya saja karena kultur masyarakat Islam lebih kental dalam perjalanan sejarhanya sehingga pedagang sebgai kelas menengah ini malah terpinggirkan sementara kelas elit diduduki kelompok kyai, guru yang mempunyai pengetahuan modern dalam ilmu Islam atau Ilmu pemerintahan. Ini yang menjadikan desa saya sangat unik. Ada lagi komunitas pedagang yang memang ditopang oleh Malaysia. Orang menjadi pedagang atau pengusaha sementara suaminya di Malaysia jadi perempuan yang mengurus usaha. Ada juga suami istri yang memang sudah tidak kembali ke Malaysia dengan menekuni dagangan dirumah baik material, kelontong maupun menyerupai swalayan dan minimarket.

Salah satu karakteristik pedagang di desa saya ini adalah jago kandang, sedikit sekali yang mau membuka usaha diluar desa. Kalau tidak salah hanya ada dua keluarga yang membuka bisnis di luar. Pertama, bisnis warung makan atau restoran di WBL dan yang kedua tokoh bangunan di Daerah Sidoarjo. Kalau kantin, restoran sebetulnya banyak dibuat di Malaysia yang berasal dari desa saya. Selain itu, model rumah makan atau warung sebenarnya ada cukup beragam di desa saya. Ada teman yang mengatakan bahwa desa itu dikatakan maju dan berpenghasilan tinggi adalah desa itu terdapat warung sate kambing seperti yang terjadi di daerah Kotagede dan Laweyan sebagai kota pedagang.

Di desaku, saya tidak tahu persis, nampaknya sudah sangat lama sekali ada warung sate yang disebut ”sate waris”. Waris itu nama orang, pendatang sebetulnya di desa saya yang dulu sangat abangan kemudian beberapa tahun terakhir menjadi santri seiring syiar Islam di dekat rumahnya yang didirikan masjid. Desa di sekitar belum mengenal warung sate berdiri di desaku, Godog sudah ada. Kenapa penting mendikusikan soal sate? Sate merupakan simbol, simbol kelas meyarakat tertentu yang menunjukan penghasilan yang cukup tinggi. Orang bisa bilang di desa ini terdapat banyak kelas menengah kampung, baik yang pedagang, kelompok terdidik, atau orang yang pulang dari Malaysia dengan membawa segebok ringgit, atau memang desa ini lebih asik untuk dijadikan tempat mampir para tengkulak yang keluar masuk desaku.

David Efendi

Ingin menjadi Ahli Antropologi Ekonomi-politik

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: