jump to navigation

Hismag: Dulu,Kini, dan Selanjutnya Bagaimana? July 5, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

Oleh David Efendi

Beberapa saat yang lalu saya mencoba mewacanakan Jati diri Hismag dalam majalah Hismag edisi khusus idul Fitri 1429 H dan pertama kali terbit dalam bentuk majalah yang ”sempurna”. Mengenai jati diri hismag memang tidak banyak yang berani membuat diskrispsi tapi karena itu bukan pekerjaan sulit dan tidak manyalahi al-Qur’an saya selalu berani menuliskan, dan tentu dengan referensi historis yang kuat. Saya selalu berdiskusi panjang lebar mengenai hismag baik sejarah maupun masa depannya. Sejarah berarti pertautan antara masa lalu, kekinian dan masa yang akan datang. Jika kita paham sejarah, maka kita juga menemukan jati diri dengan mudah meski harus melewati tahapan proses menuju jati diri yang sejati bukan kepura-puraan yang dibuat untuk kepentingan sesaat dan singkat.

Beberapa waktu yang lalu saya dihubungi redaksi Hismag agar saya menuliskan tentang jati diri Hismag sebagai sebuah gerakan intelektual(kaum terpelajar) yang berbasis asal –usul kampung atau saya sebut ”kaum intelektual kampungan”. Saya berusaha memenuhi undangan menulis, akan tetapi saya tidak menamai tulisan ini sebagai jati diri. Akan tetapi beberapa wacana untuk mencari dan menemukan jati diri. Kita mesti ingat, bahwa jati diri bukan hasil pemberian, akan tetapi sebuah proses yang panjang, meliuk, menikung, penuh badai, kadang lurus, belok, condong kanan, kiri, tengah, oleng ke samping dan seterusnya. Jati diri seperti Iman nabi Ibrahim, melalui proses yang panjang menuju kemantapan bahwa Allah adalah tuhan yang abadi.

Beberapa tawaran wacana atau discourse ini akan penulis bagi menjadi tiga bagian pokok. Yaitu Pertama, bagaimana hismag dalam catatan kritis di masa lalu. Fase ini disebut sebagai zaman perintisan. Kedua, Hismag sekarang yang sedang berjuang untuk memutuskan apakah mempunyia masa depan atau cukup sampai disini saja. Zaman ini patut dianggap sebagai periode mencari jati diri. Ketiga, adalah jika mempunyai mimpi masa depan, maka masa depan seperti apa yang terbayang dalam benak pelajar/mahasiswa asal Godog. Fase terakhir ini sebagai the keeper of hopes atau zaman penuh harapan akan masa depan.

Hismag  zaman perintisan

The Founding Father Hismag menyatakan bahwa Hismag adalah organisasi palajar yang dihimpun sebagai wadah untuk aktualisasi diri dan memberikan kemanfaatan yang sebesar-besarnya untuk masyarakat. Kira-kira begitu penulis tafsirkan. Beberapa pendiri dapat disebutkan seperti Zaenul Muttaqin, Kusnul Yaqin, dengan beberapa tokoh masyarakat sebagai penasehat. Kira-kira tahun 1980-an Organisasi dengan nama awal Bakapmas ini menyembul ke permukaan bumi tercinta Godog-Bulubrangsi. Organisasi ini didesain bukan sebagai organisasi tandingan karena waktu itu ada IPM, ada Pemuda Muhammadiyah, akan tetapi lebih sebagai strategi khusus untuk mewadahi kelompok pelajar yang ada di luar Godog agar tidak lepas dari sarang dan terjun bebas dengan orientasi belajar asal gue senang. Akan tetapi organisasi ini difikirkan matang-matang bahwa suatu saat orang Godog akan semakin banyak sekolah di luar desa. Zaman kebebasan bisa menghancurkan akar sejarahnya dan budaya kita. Begitu banyak pelajar Godog yang lupa akan dirinya. Bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban, dan menyampiakna ilmunya adalah kewajiban yang lebih penting maka tentu kita harus memberikan sumbangsih kepada desa. Apa hasilnya? Kita tengok saja sejarah akan terus berjalan. Masa peringtisan, perjuangan, telah dimulai dan proses sedang berjalan apakah menuju kematangan organisasi atau justru menuju kehancuran (collapse).

Yang biasa kita dengar, bahwa Hismag pada fase ini sering mempunyai program yang popular: babat kuburan, embong-embong, takbiran, penceramah tarawih, dan mengisi kegiatan pendidikan di lingkungan Perguruan Muhammadiyah Godog. Seiring berjalannya waktu dan zaman yang terus berubah, aktivitas ini sebagian menjadi tidak relevan, dan tentu kepala kader Hismag harus diperas untuk merevitalisasi Hismag sebagai gerakan intelektual, berpikiran terbuka, dan berparadigma berkemajuan.

Hismag zaman Pertengahan: Mencari Jati diri

Saya masih ingat beberapa periode sebelum saya. Ada beberapa nama ketua Hismag yang berikut juga pemikiranya. Setelah Bapak Kusnul Yaqin, ada Akhsanuddin, Nasikh Muhtaram, ini saya kategorikan sebagai generasi penerus fase perintisan. Persoalan pemikiran dan manuvernya kurang begitu penulis ingat. Berikutnya adalah Maslahul Falah (IAIN Sunan kalijaga) periode 1999-2002 yang menggugat maraknya riba di lingkungan desa Godog yang agamis dan Muhammadiyah. Riba ternyata ”dipertahankan” dengan sikap diamnya tokoh dan guru di Godog. Mungkin ingin masuk neraka secara berjamaah. Karena wacananya sangat sulit diikuti anak pelajar SMP/SMA sehingga muncul kelompok SMP/SMA yang kurang mendapatkan tempat yaitu lahirnya Cross School Frienship yang diketuai oleh Abdul Alam Amrullah dan sekretaris David Efendi, kira-kira berjalan 2 tahun bekerja sama dengan Pimpinan Ranting Ikatan Remaja Muhammadiyah yaitu periode saudara Muflihin Itzah. Catatan sejarah lainnya adalah demo bersama di depan Rumah PJS Kepala Desa, Syamsul Hadi yang dianggap tidak transparan. Kegiatan ini saat takbiran malam idul Fitri. Setelah itu periode Kholik Imron alumni UGM, periode 2002-2005, yang secara sadar mengakui bahwa fase yang ia pimpin adalah upaya menemukan jati diri Hismag. Terkenal dengan kontrovesi kepala desa sebagai keranjang sampah dan penggiringan wacana sayup-sayup keragaman dan bukan keseragaman dalam masyarakat Godog. Disusul periode David Efendi, (UGM), yang juga sebagai ketua Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah. Dalam periode ini beberapa gebrakan dimulai dengan terus mewacanakan pencarian jati diri, menegaskan hismag sebagai gerakan kritik dan perlunya penghargaan atas keragaman pilihan afiliasi partai Politik dengan iklan PMB (Partai Matahari Bangsa) yang kontroversial. Akan tetapi dengan beberapa forum yang digelar tokoh-tokoh masyarakat ”memahami” bahwa anak muda memang harus berani berbeda dengan argumentasi yang cukup.

The Keeper of Hopes

Tomorrow never die. Tahun 2009 menjadi the year of hopes, tahun penuh harapan. Setidaknya bagi kelompok pelajar juga mempunyai mimpi akan masa depan ilmunya, peranannya di masyarakat, baik dalam ranah desa, daerah, Nasional atau bahkan untuk kemanusiaan universal. Harapan ini perlu, sehingga Hismag adalah menjadi sekumpulan orang yang punya mimpi, punya masa depan yang cerah. Hismag ke depan perlu melukis sejarah, bukan sebagai kelompok hoby atau kelompok nongkrong-gaya-gayaan, akan tetapi dicatat dalam sejarah Indonesia, ada sekelmpok anak muda dari desa Godog Lamongan, yang selalu menjaga idealisme, menyapa realitas, bergabung membangun desa dan negara melalui sumbangsih pemikiran dan tenaga, berfikir kritis (mampu memikirkan hal-hal yang besar dan sulit), mahir bahasa Inggris-Arab (tidak mengeluh jika membaca tulisan), pandai berdiskusi, berilmu dan berwawasan luas, dan senantiasa mau belajar untuk memahami seluk beluk kehidupan. Itukah sepenggal impian, itukah jati diri hismag di masa yang akan datang? if you can dream it, you can do it! Wawallau a’lam bishowab.

Kaki Merapi, 31 Desember 2008/01 Januari 2009.
David Efendi, SIP
Mantan ketua Hismag 2006-2008
Siswa sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Opini Pribadi

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: