jump to navigation

Komunitas Kreatif dan Ber-daya-ubah July 5, 2010

Posted by lapsippipm in Read n Learn.
trackback

By: David Efendi

Apa itu komunitas?

Tidak banyak buku yang saya baca mengenai komunitas tapi Ben Anderson mengatakan bahwa Negara adalah komunitas yang terbayang (imagine community). Dalam konsep agama juga sama bahwa manusia atau ummat adalah komunitas satu terutama bagi agama-agama misionaris yang terus merekrut ummat setiap waktu. Tapi tentunya ada komunitas yang nyata yang dapat dirasakan bentuk dan dampaknya dari keadaan sehingga kita tidak mengidap persoalan akut dalam berkomunitas yang tidak mempunyai kreatifitas dan daya ubah serta keberdayaan bagi kelompoknya sendiri. Ini bisa disebutkan dalam ungkapan Arab, “ wujuduhu nkaadamihi” artinya adanya sama dengan tidak adanya alias tidak mempunyai dampak yang signifikan. Ungkapan lainnya, adalah bagi kelompok yang membutuhkan biaya operasional besar, transport, uang makan dan sebagainya tapi kurang membawa dampak penting dengan ungkapan, “La yamutu walah yahya, atau tafsir bebasnya adalah tidak bermutu tapi menghabiskan biaya.


Komunitas Kreatif dan berdaya

Ada beberapa keywords penting dalam diskusi seputar komunitas yang cukup populer seperti ”minority creative”, ”continuitas”, ”produk”, dan juga base on hobby. Tapi saya ingin menambahkan satu hal yaitu kata ”berdaya”. Untuk yang terakhir akan kita diskusikan berikut. Pertama, the minority creative berarti kita memang kelompok terbatas yang mempunyai kreativitas, mampu berfikir alternatif, dan bisa menawarkan berbagai hal yang mungkin tidak dimiliki kelompok lainnya meski mereka jumlahnya lebih besar. Salah satu kepercayaan kita adalah bahwa revolusi besar di muka bumi ini selalu diawali dari pemikiran atau move dari kelompok kecil manusia seperti kaum terpelajar atau borjuasi. Kedua, kesinambungan. Kesinambungan ini menjadi hal yang sangat penting yang semestinya dikaitkan dengan produk yang dihasilkan oleh komunitas meskipun seringkali usia bukanlah ukuran untuk menentukan sebarapa banyak dan berharga produk komunitas yang dihasilkan misalnya komnitas pecinta buku sudah berapa buku yang diresensi dan berapa yang disudah dibukukan atau buku yang dihasilkan dari proses petualangan membaca tersebut. Banyak pula komunitas ’kumpul-kumpul’ tanpa idealisme yang kuat hanya berumur seusia jagung saja. Hal lainya seperti base on hobby merupakan pengikat sesama anggota kelompok meski ada kemungkinan bahwa setiap individu bisa mempunyai lebih dari satu jenis hoby sehingga dia akan bertahan dalam kelompok dimana dia paling sukai hobinya dan dimana dia mendapatkan aspirasi yang paling besar. Hasrat untuk diakui eksistensi, keunikan, dan karyanya itulah tali pengikat yang cukup handal untuk menjaga kontinuitas kelompok.

Komunitas berdaya-ubah

Saya mencoba menggunakan term ini untuk mencoba mengilustraiskan bahwa the power of communities itu tidak sebatas untuk dirinya sendiri, tidak hanya untuk kelompoknya saja tapi bagaimana berkomunitas itu juga memimpikan sebuah perubahan pada skala yang lebih luas. Memang starting poinntnya pada diri dan kelompok, dalam bahasa agama ibda bi nafsi atau bi jamaah tapi radius daya ubah akibat kretaifitas dan pemikiran individu/kelompok bisa menjangkau batas-batas georafis dan kulturan. Dalam bahasa Marwah Daud Ibrahim, bahwa kemampuan individu, kreatifitas, bakat akan berdampak pada organisasi, kelompok, dan masyarakat dimana dia berada.

Dari pemikiran tersebutlah muncul term komunitas yang berdaya-ubah, bukan semata-mata ajang nongkrong yang sehobi, yang sama-sama suka film, yang sama-sama suka pecel lele, atau ngeblog tapi bagaimana komunitas ini harus membangun mimpi tentang perubahan, sensitif dan responsif terhadap situasi sosial politik yang berkembang seperti kisah prita dan facebooker yang mencoba mewujdukan aksi nyata dari pertemuan yang cyber space alias tidak nyata tersebut. Sangat disayangkan jika kekuatan minority creative ini apolitis, tidak berfikir kemajuan dan tanpa daya ubah. Untuk apa hidup jika kita menolak perubahan dan membesarkan kemapanan yang penuh ketidakadilan?

Jangan dipandang sebelah mata bahwa kelompok pecinta buku, komunitas pecinta novel, komuunitas pecinta Ikan, komunita orang yang pernah kecopetan, komunitas 1%. Komunitas Sufi, komunitas orang yang pernah kehilangan sandal, dan sebagainya. Mereka suatu saat jika menemukan mementumnya, menghadapi musu bersama yang telah dibangun kesepahaman mereka mempunyai daya ubah yang tidak banyak orang yang membayangkannya. Dalam konteks melawan korupsi, pasti semua kmunitas setuju bahwa koruptor adalah musuh kemanusiaan maka apa susahnya kelmunitas-komunitas ini bersatu dalam aksi solidaritas. Itulah pentingnya, bahwa komunitas bisa menjadi bibit-bibit revolusi. Suatu saat nanti.

Menjaga Kreatifitas

Sekali lagi, komunitas yang dilahirkan anak-anak muda sekarang ini mengemban salah satu tugasnya adalah menjaga kreatifitas anak bangsa, menjaga optimisme sosial yang terajut di dalam komunitas-komunitas yang jumlahnya ribuan di bumi Indonesia ini. Di Amerika komunitas-komunitas inilah yang menjadikan demokrasi berkembang sebagai kekuatan sosial yang mengikat sistem demokrasi agar bisa berjalan. Kelahiran komunitas inilah yang juga merupakan awal mula kebangkitan Amerika juga Indonesia yang dipelopori komunitas terdidik dari kalangan terpelajar seperti Budi Utomo, Muhammadiyah, dan sebagainya. Inilah kekuatan komunitas yang menyejarah karena produk, idealisme memang diperjuangan sebagai minority creative yang berdaya ubah, berdaya guna, dan bahkan berdaya paksa sebagai kekuatan oposisi terhadap kolonialisme dan kapitalisme.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: