jump to navigation

Martabat Pemilu dan Harga Diri Bangsa July 5, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

Oleh David Efendi, Parwi Yogyakarta

Dalam hitungan hari, empat hari lagi pemilu akan digelar. Dengan segala kekurangannya KPU dan pemerintah akan memastikan bahwa jadwal pemilu tidak mundur kecuali dibebeberapa kabupaten yang ’tidak terjangkau’ dan sumber daya yang kurang mendukung pemilu ditundah. Ini kondisi diluar skenario KPU. Tentu ini menjadi catatan buruk akan tetapi usaha memperbaiki mutu pemilu, martabat demokrasi masih bisa diusahakan oleh banyak pihak. Satu hal yang mendasar adalah bagaimana mempertemukan dua titik meanstream masyarakat yang ada.

Dua titik meanstream
Ada dua titik meanstream yang utama menjelang pemilu 2009, terutama seminggu terakhir ini 5 hari menjelang pemilihan umum legislatif ada 9 April 2009. Pertama, kelompok psimisme baik yang akut, psimisme rasional-kritis dan psimisme apatis. Jumlahnya cukup besar tapi fragmented. Terpecah-pecah. Ada yang berasal dari kalangan cendekiawan, akademisi dan mahasiswa. Sebagian tersebar di pedesaan yang merasa tidak banyak mendapatkan manfaat dari ’pesta demokrasi’ sebagaimana pengalaman masa lalu (ada evaluasi) meski tidak diungkapkan dengan manifestasi gerakan yang radikal misalnya golput massal atau menolak pemilu. Bahkan meski mereka kecewa dengan pemerintahan, dengan partai politik, mereka akan tetap datang ke TPS dan mencontreng tanpa bertendensi menghukum partai yang lama atau berharap pada partai baru yang memukai di media televisi. Meraka datang, terkadang bukan karena apa-apa tapi karena menghargai pak RT yang memang selama ini tidak melakukan dosa apa apa kepada warganya. Hitungan rasionalitas yang lain biarlah menjadi perdebatan partai atau kelompok intelektual di kampus-kampus menara gading.

Titik meanstream yang kedua, Golongan optimis. Tentu saja kelompok ini dihuni oleh pemerintahan sebagai panitia pemilu dari KPU Pusat, daerah sampai petugas di TPS harus optimis, selain itu adalah politisi di dalam partai politik yang merasa akan memenangkan target suara. Satu lagi, adalah kelompok pejuang demokrasi yang selama ini optimis misalnya Bank Dunia atau IMF yang sering memuji pemerintahan SBY-JK dan selalu bilang Indonesia mengarah ke demokrasi yang lebih baik. Dalam batas tertentu, misalnya wacana di media dua meantream ini bertemu dalam ketidakcocokan, misalnya kubu yang memperjuangkan verivikasi DPT siluman dengan pemerintah yang kecolongan DPT. Sempat, beberapa partai meminta pemilu diundur. Tapi ini wacana elitis, orang di desa yang paling banyak suara tidak penting hal ini diperdebatkan. Pemilu 2009 mengundang harapan, sekaligus akan mengancam ekspektasi yang berlebihan. Sehingga ada kalimat yang bagus ” Indonesia bisa mauk ICU pasca pemilu 9 April 2009ini. Kata pemerintah, kita optimis pemilu akan lancar-lancar saja dengan upaya optimal semua pihak.

Martabat kita semua
Semua mata sedang menyaksikan gegap gempita di negeri ini dengan kerumitan sistem pemilu yang tiada bandingnya di muka bumi ini. Tentu banyak orang berdebar-debar, ada yang cemas, ada yang berharap, bahkan beberapa lembaga pemantau asing sudah mapping dimana daerah yang layak dipantau, NGO mana yang memenuhi syarat diajak kerja sama dan seterusnya. Artinya apa? Kita seolah sedang berada dalam pertaruhan yang cukup besar kemana arah demokratisasi kemudian? Apakah hanya menjadi mekanisme formal demokrasi ataukah pemilu ini akan menjadikan demokrasi berpihak pada kemakmuran dan kesejahteraan untuk semua (substansial). Jangan sampai trilyunan rupiah menguap tanpa jejak yang jelas bagi kemajuan rakyat Indonesia.
Disinilah kita terpanggil, sebagai bangsa yang besar, sebagai anak bangsa yang bertanggung jawab atas masa depan negeri ini. Hal inilah yang menyatukan dua titik meantream di atas (mempertemukan psimisme dan optimisme) sebagai warga bangsa. Kita setuju partai mengalami disfungsi, negara gagal menyelenggarakan perbaikan nasib rakyat, dan seterusnya tapi kita tidak pernah sampai hati jika bangsa ini kehilangan martabat, kehilangan harga diri dan buruk muka di panggung dunia Internasional. Kita tidak akan sanggup dicap sebagai rakyat yang tidak punya nasionalisme, meski pejabat dan partai politik tidak ada yang sungguh-sungguh merawat sumber daya alam dan aset bangsa ini (lihat penguasaan freeport, blok cepu, dan masih banyak lagi). Tapi nurani kita berkata lain, bahwa bangsa ini masih layak umenyandang harga diri dan martabat serta nilai-nilai luhurnya.

Oleh karena itu, sangat wajar organisasi sosial keagamaan seperti Nahdlotul Ulama dan Muhammadiyah atau MUI (mejalis ulama Indonesia) menyerukan agar warganya menggunakan hak pilih dan tidak golput karena pentingnya penyelamatan harga diri bangsa, martabat demokrasi sebagai negara beragama dengan penduduk umat Islam terbesar. Sekaligus ingin membuktikan bahwa demokrasi dengan musywarah sebagai fondasi utama ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sebagai ukuran dan argumentasi nyata bahwa Islam compatible dengan demokrasi meski beberapa kalangan memperdebatkan dan akhirnya saya sepakat dengan Prof.Dr. Syafii Maarif bahwa demokrasi itu melelahkan dan demokrasi adalah sistem yang terbaik dari yang terburuk. Dengan kata lain, ada kepercayaan bahwa demokrasi yang paling memungkinkan untuk mendekati kesejahteraan bagi rakyat dengan UUD 1945 sebagai referensi utamanya.

Jika kita mensukseskan pemilu 2009, minimal akan mengurangi deretan prestasi buruk di negeri ini setelah bertahun-tahun dicap sebagai negara dengan angka korupsi yang besar, pengangguran, kemiskinan dan tingkat melek huruf yang rendah. Sisitem mencontreng akan membuktikan bahwa bangsa ini bergeser sedikit dari yang paling dianggap ’kuno’ yaitu dengan cara ’mencoblos’ yang mengindikasikan tingkat buta huruf yang tinggi. Pemilu jangan sampai gagal, kita akan perjuangkan jika kita merasa martabat bangsa ini penting diatas berbagai kekurangan dan penyimpangan kekuaasaan yang ada dalam pentas perpolitikan di negeri ini. Mari kita pilih pemimpin yang bukan penguasa!

Penulis,David Efendi, SIP
Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik UGM
masdavid_4all@yahoo.com

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: