jump to navigation

Penghargaan untuk Guru dan Keluargaku July 5, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback

Oleh David Efendi, Mantan Aktivis Hismag, PR IRM, PP IRM

Mohon maaf atas segala sesuatu yang tidak menyenangkan yang diakibatkan oleh undangan yang saya kirimkan sebagai seorang murid, seorang anak yang sama sekali bukanlah anak istimewa dan jauh dari keistimewaan. Atas kabaikan ombaklah saya terdampar di belahan bumi ini dan sampai seperti saat ini. Bagi saya pribadi ini adalah malam yang istimewa dan sangat-sangat bermakna untuk mengucapkan rasa terima kasih dan terima kasih saya kepada bapak ibu guru serta keluarga yang malam ini menyempatkan waktu hadir di acara pamitan sekolah, acara yang sebenarnya bukan istimewa kecuali saya pribadi, Hafiz dan Uminya yang mengistimewakan. Kenapa istimewa, karena bagi kami, keyakinan kami doa adalah senjata sementara hidup adalah bergerak maka bergerakan dengan bersenjatakan doa adalah jalan yang terbaik menggapai mimpi-mimpi menjadi pribadi yang mulia dan berguna.

Pada kesempatan yang baik ini pula izinkan saya sebagai seorang murid dan seorang anak kampung (bukan kampungan) memberikan ungkapan terima kasih kepada beliau-beliau dan saudara-saudara yang saya sebut berikut (mohon maaf jika banyak yang belum disebut):

Terima kasih yang tiada terkira kepada
Bapak Abdullah Rozieq, yang meyakinkan saya agar siap menjadi ketua IRM di SMP dan mengajarkan filosofis hidup cincing-cincing podo telese, mesisan ambyure, yang sampai sekarang saya pegang sebagai prinsip agar bekerja keras. Pak Rozieqlah yang memotivasi saya untuk belajar berorganisasi. Pada saat kelas 1 smp saya sudah dikirim acara konpicab IRM di Pucuk selama tiga hari sebagai peserta yang paling kecil lagi bodoh.

Bapak Maksum, yang mengajari saya keberanian tampil dimuka, dan berani melawan dengan diajari jurus teratari yang sampai sekarang belum pernah saya pakai untuk berkelahi. (saya agak menyesal tidak memanfaatkanm jurus tersebut untuk menaklukkan copet di kereta api).

Bapak Mudzkkir, yang selalu menyapa saya kalau pulang dari Jogja, dan selalu tidak keberatan mendoakan saya.

Pak Sodiq Abdullah, yang mengajari kedispilinan sebab ini barang langkah dalam kehidupan saya pribadi, sebagau ketua OSIS/IRM di SMP 8 saja saya masih sering telat tentu saja saya terlambat bersama senior mantan ketua Umum OSIS/IRM SMP yang bernama Evis Khumaidi yang juga anak beliau (maaf).

Bapak Nur Sholeh, yang mengajari saya antibiotik bahwa matamatika itu tidak mematikan dan bisa dikerjakan sambil tertawa-tawa ringan. Terima kasih saya diizinkan belajar di rumahnya sama teman-teman saya yang lebih pintar: Kriwil alias Asif, Pendi, dan Very. Matur nuwun ke mbak Nur yang waktu bercengkerama dengan Aba-nya Brian berkurang sedikit (saja).

Pak Tihari Abbas, saya sangat berhutang jasa pada beliau, yang mewajibkan saya belajar dengan sungguh-sunggu menulis bahasa Indonesia dan menghafal peta bumi sebelum hari pelajaran diadakan. Jika tidak belajar malamnya, banyak keadaan yang membuat kita stress. Motivasi ini sangat penting, dosen saya yang paling hebat dalam disiplin menerapkan hal yang sama dilakukan pak Tihari. Katanya, ”disiplin adalah nafas, orang tidak bernafas pasti mati”

Pak Samsi, yang memberikan mantra-manra ampuh terutama tentang satu hal yang saya ingat adalah hadis tentang kejujuran yang akan membawa kita menuju jalan surga.

Bapak Abdul Aziz, yang sangat terkesan adalah waktu jabat tangan acara wisuda dan foto itu saya pajang sampai di Jogja, sebagai penyemangat belajar. Hanya foto itu yang saya punya, tidak ada yang lain kenangan saat di duduk di bangku MI.

Pak Saifullah, yang mengajari saya jadi kurier surat-surat keliling kemana-mana di desa ini saya seperti tukang pos, aktivitas keliling mengantar surat ini sampai sekarang belumpernah saya tinggalkan sama sekali bahkan semakin bertambah. Pak Guru yang awet muda ini juga mempercayai saya jadi guru ngaji anak-anak di Pondok setelah sekian tahun saya disalahi saat disimak beliau. Akhirnya saya bisa menyalahi anak-anak lain sebagai balas jasa plus balas dendam.

Pak Muslihin, saya paling senang mendengar pak Muslihin sambutan di IPM, pak muslihin juga yang mau dan sudi menerima saya sebagai murid paling bodoh di al Hidayah ba’da shubuh lantaran saya kecewa dengan seorang guru bahasa inggris yang tidak memperhatikan kebodohan saya. Terima kasih kepada pak Nasik yang memotivasi saya belajar bahasa arab sebab pak Nasih pintar bahasa inggris saya tidak bisa menyainginya maka lari ke bahasa akherat (arab).

Terima kasih kepada pak Akhsanuddin, yang mengajari saya pentingnya telinga tebal sebab beliau pasti mengkritik hasil kerja kita meski sudahj b erdarah-darah, sebagai pembina IRM guru kesiswaan tidak ada yang sempurna di mata beliau. Keahlian siap dikritik adalah keahlian yang kalau dihargai miliaran rupiah bahkan lebih. Sebab SBY yang konon siap dikritik tidak benar juga sebab banyak teror mendatangi sang tukang ritik kalau beliau dikritik.

terima kasih yang tiada terhitung kepada Bapak Muslihan, yang memberikan sentuhan hati cukup luar biasa di tengah-tengah waduk Jajong jam 4 pagi, waktu baitul arqom SMP yang sangat dramatis itu. Beliau mengajarkan bagaimana anak muda harus menjadi orang yang kuat dan bisa saling membantu sesama. Beliau yang kemudian hari menjadi pakdhe saya ini juga memberikan bimbingan kepada saya waktu masih kelas 3 MI, anak beliau: Cak Aam adalah teman dan rival dekat saya untuk berlomba-lomba menggapai prestasi, sampai sekarang.

Kepada Bapak Maslihan, kepala desa waktu itu banyak membantu membuatkan surat keterangan miskin hingga sampai selesai di UGM surat sakti itu masih berlaku sebab saya minta tanda tangan banyak sekali dengan tanggal dan tahun berbeda-beda bahkan tahun 2010 saja saya masih punya, bayangkan surat ditandatangani satu waktu untuk kurun lebih dari lima tahun….matur nawun pak Lek Khan.

Bapak Abraham Isnain, Cak Kasful, Muflihin dan pak Guru Tain yang banyak mengajari teknik-teknik komunikasi organisasi dan juga mengajari betah melean dalam nuansa sahur-sahur dan mantra telek dibuntel klaras.

Khusus untuk Bu Nik yang berhasil meyakinkan saya untuk maju tampil mengisi personal intoduction, sambil dijejeri saya dibujuk untuk berani tampil dimuka. Waktu itu baru kelas 6 MI. Matur nuwun bu Nik, hal itu sangat mengesankan saya pribadi.

Kepada teman-teman sekalas saya di SMP maupun di MI, saya thanks banget atas kepercayaannya sampai-sampai saya jadi ketua OSIS/IRM meski saya buruh kandang ayamnya pak Darsan yang lumayan waktu itu digaji 60 ribu selama ayam bayi sampai panen. Bauh telek itu sering ke bawah ke sekolah tapi anehnya makin banyak juga yang menaruh perhatian sama saya terutama teman sayang yang anda di Pondok Al Islah Sendang (Ngisor). Pershabatan yang menyenangkan, bukan?

Untuk kelurga, bagi saya doa-doa dan penerimaan itu adalah hal yang paling berharga bagi saya, selamanya. Untuk Ibunya Hafiz, alias Umminya Hafiz, sebagai penyemangat dalam keadaan perang dan damai, selalu tersenyum meski tidak punya uang dan selalu mau makan apa saja (pemakan segala), kecuali milik orang dan makanan basi. Untuk Hafiz, yang sudah jatuh cinta sama buku, insyallah lebih tertarik buku dari pada dibujuk naik motor. Semoga jadi anak yang sholeh meski belum ada berket terbang ke pintu bapak ibu semua, tapi semoga tidak menghalangi doa penjenengan semua untuk Derrida Hafiz Hanafi yang diammbil dari bahasa perancis ’Derrida’, Hafiz dari bahasa arab dan nama anak Buya Syafii Maarif, PP Muhammadiyah, dan Hanafi adalah dari nama salah satu anak Amien Rais (mentan ketua PP Muhammadiyah, dan pendiri PAN) yang menjadi dosen di UGM.

Selain itu saya juga mohon maaf kepada Hafiz dan Umminya, maafkan ayahmu dan suamimu ini jika tidak mampu membersamaimu untuk sekian waktu. Jika ada karang melintang di tengah kapal kita, usahakan sekat tenagamu sendiri, gunakan anugerah otak dan hati yang maha dahsyat itu untuk mengatasinya…jika tidak mampu maka berpasrahlah kepada Allah dengan segala kesungguhan usaha. Saya titipkan Hafiz dan Ibunya kepada malaikat penjaga dan kepada Allah Taala agar senantiasa berada dalam jalur yang benar. Mohon maaf kepada keluarga Ibu Kifayah, jika saya dianggap kurang amanah sehingga serasa ringan meninggalkan keluarga. Untuk Hafiz, maafkan ayah ini, karena meski usiamu sudah 9 bulan lebih 6 hari, saya baru bisa menemani bermaian terhitung 3 bulan saja itu pun penuh dengan kekosongan sebab saya harus pergi beraktifitas di Muhammadiyah sampai luar kota, dan bahkan luar jawa. Terima kasih atas kebaikanmu, sehingga kamu Hafiz menjadi bayi yang tidak cengeng.

Kepada pak Dhe abdur Rahman, saya menyesal baru kenal beberapa tahun terakhir, menjadi teman diskusi tesis saya di UGM tentang santri gresik. Dan juga motivasinya untuk melanjutkan kuliah, menjelang wawancara beasiswa tahap 4 saya menelepon beliau dan minta doa dan insyallah di doakan. Sukron katsiroon, Jazakumullah pak Dhe Dol akhirnnya mimpi itu akan terwujud meski belum benar-benar terwujud.

Terakhir dan paling utama, adalah:
Ribuan doa panjang dan hamparan terima kasih saya sebagai seorang anak kepada Ibu Musrifah (alm) yang tidak pernah patah semangat dan putus asa dalam duka dan derita bersama saya, belialah ibarat malaikat yang diturunkan dari langit, doanya yang tiada terputus dalam setiap tahajudnya yang sudah dijalankan semenjak saya masuk bangku SMP sampai beliau meninggalkan kami, dan di setiap doanya yang memancar dalam sholat dhuhanya yang mengisi rizki bagi anaknya sehingga bisa tumbuh dan berkembang sedemikian rupanya. Ibu sayalah yang mendoakan agar saya bisa sekolah yang tinggi dan memberikan manfaat bagi sesama. Di saat saya bekerja keras untuk mendapatkan beasiswa, sekeras apa pun usaha saya akan menghasilkan nol besar tanpa doa dan doa yang ibu panjatkan. Di sela-sela menahan rasa perih sakit akibat sayatan pisau yang berkali-kali menghunjam pada perut dan isi perut itulah beliau menyempatkan waktu untuk tetap sholat dan melaksanakan tahajud di samping saya dan serasa berdoa, mogo-mugo anakku iso dadi wong sing pinter dan bermanfaat, iso keturutan opo sing dadi karepe. Waktu itu saya bilang, “ saya ingin ceramah di masjid-masjid di belahan bumi benua Eropa dan Amerika”. Semoga niat ini segera terkabul. Amien, Subhanallah, maha suci Allah

Bapak ibu saudara, tentang pamitan saya ini bermaksud mendapatkan banyak doa semoga lancar dan cepat kelar. Kurang lebih 17 jam di atas pesawat hampir sama dengan orang haji terbangd dari Soekarno Hatta ke King Abdul Aziz air port. Saya akan terbang dari jogja tanggal 18 Juni 2010, singgah di Jakarta dan terbang pada tanggal 20 Juni 2010 jam 19.00 menuju Changi (sungapura) dan terbang menuju Narita airport di Tokyo singga semalam dan siangnya baru menuju USA, Honolulu airport di mana Obama dilahirkan saya akan menghabiskan 3 tahun untuk belajar di sana. Belajar apa? Belajar tentang kemajuan dan kebesaran. Alhamdulillah saya dapat kesempatan mengikuti training dan seminar di sepuluh Negara diantaranya saya akan ikut di China, India, UK, Jerman, Perancis, Belanda, Rusia, Vietnam, Australia, dan Malaysia. Saya ingin belajar di China dan India mengapa mereka sukses membangun ekonomi meski penduduknya meledak hingga miliaran jiwa.

Salam hormat kami kepada keluarga, teman, dan bapak ibu guru yang tercinta. Doakan agar Allah senantiasa memberikan kasih sayangnya, bimbingannya setiap waktu, setiap langkah perjuanganku.

Perguruan Muhammadiyah Godog, Pondok Al-Falah, 30 Mei 2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: