jump to navigation

Titip Rindu Buat Ayah July 5, 2010

Posted by lapsippipm in short story.
trackback


oleh David Efendi

“Ayah…..

Dalam hening sedih kurindu

Untuk….

Menuai padi milik kita

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan

Anakmu sekarang banyak menanggung beban”

Kemarau panjang sedang mengamuk kampungku, nyaris semua cadangan air mengering di dua waduk besar sementara sumur juga sudah kandas. Bagi kehidupan petani air adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa air petani bukanlah apa-apa karena menanam padi hanya bisa mengandalkan sawah tadah hujan. Kemarau panjang menyiutkan harapan petani dan kemarau tidak menjanjikan apa-apa selain rasa haus dan dahaga. Termasuk ibu Hasanah, ibu Didin yang malang melintang menantang kehidupan, hampir setiap hari berlomba dengan nasib yang menimpahnya.

Semenjak kepergian Ayahnya ke Malaysia, beban hidup yang semula iabarat satu gunung ditanggung berdua dengan suaminya kini Ibu itu harus meikulnya dengan segala keterbatasanya. Mungkin karena iman yang tertancap dalam hatinya, ibu itu serasa tegar mengahadapi kemelut jiwanya.

Aku sendiri adalah tetangga baru Didin. Aku lahir di Jakarta dan ayah ibuku masih disana tapi aku minta sekolah dikampung pamanku yang kebetulan sekampung dengan Didin. Aku mengenalnya sejak aku kelas dua madrasah. Sampai sekarang aku merasa dekat dengan Didin. Ia bisa menjadi tempat berbagi yang baik. Ketika saya ada masalah Didin tak pernah tinghgal diam berpangku tangan.

Dengan segala daya upaya Didin berhasil melewati bangku sekolah madrasah tentu ini berkah usaha keras ibunya yang walau sudah usianya sudah makin senja dan tubuhnya kian kurus kering beliau terus berusaha untuk membesarkan hati anak-anaknya agar dapat sejajar dengan anak-anak tetangga atau setidaknya anaknya tak pernah merasa tidak beruntung. Dan alasan yang paling penting adalah betapa ibunya sangat peduli akan masa depan sang anak tercinta, memberikan cahaya atas impian anak-anaknya dikelak kemudian hari. Kata ibunya, “hanya lewat sekolahlah yang akan memperbaiki masa depan hanya dengan ilmulah kita bisa menghhindar dari gilasan roda zaman.

Ibunya juga pernah berpesan : “Hidup di zaman edan kaya begini memang kita kadang serba sulit, tapi sak bejo-bejone wong edan isih bejo wong kang eleng lan waspodo”

Sepanjang hidup Didin belum sempat bertemu dengan ayahnya, belum lagi aku kenal. Ia meninggalkan rumah ketika ia masih bayi dua minggu, ketika belum mahir berkata atau mengeja huruf. “andai saja aku bisa ngomong seperti nabi Isa, tentu aku tidak setuju ayah berangkat”, kenang didin. Ya Didin sangat rindu sosok ayah. Ia melukisnya dalam palung hatinya tentang sebuah wajah seoarng ayah yang tak ia kenal.

Karena desakan ekonomi pada awalnya ayahnya nekat merantau ke negeri Jiran, sekitar tahun 80’an. Sejak saat itulah ibunya menjadi single parent dan Didin punya satu saudara laki-laki yang mengalami keguncangan jiwa.

Didin bercerita panjang tentang keluarganya. Seluk beluk dan tentang rindu pada ayahnya itu. Aku sedih mendengarnya, aku berusaha agar hatinya tetap hidup, tidak terjebak dengan persoalan ini.

“Sayang, aku tak bisa bercerita tentang kakakku yang satu ini”, sesalnya

“kenapa Din?”, tanyaku ingin tahu. “engkau tak percaya sama aku?”

“bukan..bukan maksudku So!”, balasnya. “tapi….”

“karena saya tak bisa menahan betapa luluh lantak hatiku. Punya ayah yang tak aku kenal dan punya kakak yang tak bisa jadi tempat sandaran. Setiap hari aku hanya bisa bersedih menyaksikan betapa berat dan pedih hidup yang dialami ibuku”, kata Didin dengan segenap perasaan yang ia punya.

Karena ibunyalah Didin menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah. Dari benturan ke benturan mampu mengubah karakternya yang semula pendiam menjadi sangat agresif dan pemberani. Aku sangat salut padanya. Bagiku ia adalah guru dikala senang dan sedih. Ibarat muara ia menjadi sumber inspirasi. Banyaknya ujian hidup membentuk jiwanya terus bergemuruh untuk berjuang melawan “takdir”. Seperti air dia adalah penyejuk bagi siapa saja dan mengalirlah ia…

Hari sudah sore. Adzan maghrib segera berkumandang tapi ibunya belum juga pulang. Sehabis shlat shubuh sudah merangkak ke sawah untuk bekerja di ladang orang. Ya ibunya memang tak pernah menolak pekerjaan apa pun. Menjadi buruh, tukang cuci, pembantu rumah tangga dan sebagainya. Bagi ibu Didin yang penting halal.

Pikiran Didin menerawang ke langit. Ia pandangi malam yang sedang menjalar.

“Aku teringat ibuku dan membayangkan sosok ayahku yang tak pernah aku menemuinya selain dari cerita tetangga yang kadang menyayat perasaanku sendiri”

“sudahlah Din, engkau tak bioleh tenggelam dalm kesedihan seperti itu. Tidak baik juga membicarakan aib tetangga. Apa pun yang terjadi tenatngga adalah lebih dekat dari saudara bahkan tenagga adalah orang yang paling pertama menolong bila kita ada musibah, ya Nggak?”, Dididn hanya diam. Didin kesal karena ada rumor tentang ayahnya yang sudah tak bisa pulang kampunglah, menikah lagilah. Semuanya menjadikan Didin kian kalut seprti langit yang berkabut.

“Yuk kita sholat dulu So!”, ajak Didin pada arso. Arso segera bergegas ambil air wudhu untuk sholat berjamaah. Biasa Arso datang ke rumah Didin untuk berbagi duka atau suka, ya semacam curhat, lagi pula di rumah Arso tak ada orang semua sibuk bekerja di kota.

lalu…

“ ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk menjalani hidup yang fana ini. Berikanlah kasih sayangmu pada ibuku yang kasih sayangnya lebih besar dari kasih ibu padaku. Berikanlah kemi keteguhan hati untuk menerima takdirmu ini”

Sehabis sholat aku sebentar belajar, membacai buku Didin yang banyak. Aku tahu ia sering mendapat bantuan buku dari sekolah. Malam itu juga akuminta bantuan sama Didin karena aku ada PR Fisika yang belum dapat aku kerjakan. Lagian Didin pandai berhitung. Asik.

****

Beberapa tahun kemudian Didin dan aku telah lulus dari sekolah dasar. Bagi kamia dunia anak telah berakhir. Terlebih bagi Didin pergolakan hiduonya mungkin lebih keras seiring usia ibunya yang terkikis oleh waktu.

Di suatu senja aku main ke rumah Didin yang tak sebebrapa jauh dari tempatku. Semenjak lulus dari Madrasah, dua bulanan aku ke Jakarta dan menghabiskan liburan sebelum masuk SMP.

“Assalamualaikum”

“Waalaikum salam”, aku masih hafal suara itu adalah suara Didin. Ia terkaget melihatku lalu kami pun berpeluk erat dan Didin seperti biasa orang yang sangat perasa, lembut jiwanya dan mudah mengalirkan air mata. Apalagi denganku….

“gimana kabarmu Din?, aku membuka percakapan. Aku adalah adalah teman setiaku sejak madrasahdan kini rencana mau melanjutkan sekolah di sltp negeri delapan.

“alhamdulillah baik-baik As”, jawabnya lirih

“Ibu kemana?”, tanyaku

“tadi pagi berangkat ke sawah. Membnatu paklek yang mau tanam jagung”

“sampai sore begini?”, tanyaku

“ya. Kadang-kadang.”

“Oh iya As saya ambilkan minum dulu ya, tadi ibu pesan kalau ada teman main ke rumah suruh membuatlkan the hangat. Kebetulan ibu kemarin dikasih sama Bu Kirno. Mumpung ada As, kalau tak ada tak mungkin aku buatkan. Tungguh sebentar Ok!”, bujuk Didin sambil melejit cepat dari tempat duduknya. Lalu aku buru-buru menghalau.

“Ah..nggak usah repotlah. Aku pingin ngobrol sama kamu aja”. Lalu kami melanjutkan omong-omong ngalor ngidul ngetan ngulon.

“Asik banget kalau reuni begini”, celetukku

“Iya. Aku seneng banget hari ini kamu main ke rumah. Beberapa bulan ini aku hanya menemani ibu sesekali saya ikut ke sawah dan ….”

“dan apa Din?”, tanyaku penasaran

“dan sering ingat ayah”, aku menyesal menanyakan hal ini.

“ngomong-ngomong Din, jadikan kita bareng daftar di SLTP Negeri 1?”, tanyaku semangat, sayang Didin merespon dengan dingin sekali.

“Ya saya masih mengumpulkan uang untuk membayar uang pendaftaran As”

“tapi kalau kamu mau duluan ya nggak apa-apa”, kataku

“memangnya kamu masih kurang berapa Din?”,

“Nggak-nggak as nggak ada yang kurang?”, aku beruasaha bohong aku selama ini sudah banayk di tolong sama keluarga Asrom, aku tak inginmerepotkanya. Lagi pula biaya sekolah tidak semakin murah.

“Din kamu harus terus terang kalau ada masalah apa-apa, kamu kan sudah seperti saudaraku sendiri”, kata Asrom. aku tak bisa lagi berkata-kata.

Memang aku ingin terus sekolah tapi terkadang ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku. Yaitu ibuku. Aku tak bisa membeiarkan ibuku bekerja banting tulang peras keringat sendiri untuk aku dan kakaku. Aku tak mau tinggal diam. Aku ingin berkeinginan berhenti sekolah untuk membantu ibuku. Aku tak berani menyampikan pada ibu. Karena yang aku dengar tiap hari adalah bagimana keinginan ibu agar aku tetap bisa sekolah seperti teman-teman.

****

“Kacung!, panggil Bu Hasanah pada Didin

“sudah sholat isyak belum?”

“sudah ibu!”jawabnya

Didin ingin sekali mengutarakan niatnya membantu ibu tapi tak kuasa kalau sudah menatap mata ibunya. Dia takut hal ini akan melukai perasaan ibu yang selama ini berusaha mati-matian membayar biaya sekolahnya. Aku tahu betul keperibadian ibu. Sosok seorang ibu adalah orang yang tak pernah mengeluh, pekerja keras dan tidak suka berhutang. Kalau pun Didin dapat belas kasih orang lain ia tak pernah berani menceritakan pada ibunya. Pernah beberapa kali dapat beasiswa karena juara kelas lalu aku cerita bu Hasanah. Apa yang ibunya bilang.

“kacung, ibu malu kalau dikasih orang. Karena ibu amsih bisa berusaha dengan tenaga sendiri, jangan suka menerima bantuan seperti itu”, aku emndengarnya sendiri waktu aku bermain ke rumah Didin.

“ini bukan bantuan belas kasih tapi hadiah karena juara kelas”, aku berusaha menjelaskan. Tapi ibu sebentar diam. Begitu juga Didin kata-kata membungkamnya. Matanya berkunang-kunang dan aku lihat ada air mata suci yang menetes di pipi ibunya. Didin segera memeluk, mendekap ibu dan menciumnya.

“Biarkan ibu nak yang pikir biaya sekolah, Kacung tinggal sekolah. Jangan mikir yang tidak-tidak”, kata ibu

ibu menasehati Didin hampir tiap malam sehabis ia belajar.

Memang sejak kecil ibu selalu setia menemaninya belajar sambil mengupas jagung ibu di dekat tempat duduk Didin, ia asik membaca buku dan sesekali menengok ibunya bila ingin.

“Ibu masih sanggup bekerja, Nak. Ya mudah-mudahan kacung bisa terus sekolah. Dengan sekolah nanti kacung bisa mempoerbaiki hidup yang carut marut. Penderitaan cukup untuk ibu nak, bukan maksud ibu tidak terima sama takdir. Ibu ikhlas jalani hidup ini. Dengan kehadiranmu seolah derita itu lenyap begitu saja. Semua mengalir….

Dalam malam yang larut, ada rasa kangen pada ayahnya. Didin emmbayangkan bila ibunya bersama lagi dengan ayahnya tentu ia sangat bahagia. Bagaimana derasnya rindu Didin pada sosok ayah dan aku tahu Didin pandai mengelola persaannya, ia segera memadamkan ingatan-ingatan yang menggangunya. Terkadang ia ingin melupakan semua ini.

Tapi rindu pada sosok seorang ayah semakin melekat di dasar hatinya seiring semakin dewasa perasaan Didin. Nyayian lagu titip rindu buat ayah, rindu yang tak pernah terungkapkan. Pada akhirnya ia hanya bisa merawat rindu dalam sedih dan air mata untuk ayah nan jauh yang belum lagi ada kabarnya sejak 15 tahun yang lewat.

****

Tiga tahun yang melelahkan duduk di bangku SMP. Diam-diam Didin ikut bekerja di peternakan ayam punya pak guru Tain. Aku tak pernah bilang pada ibunya Didin yang biasa aku panggil ibu, karena aku bisa dimarahi Didin. Ia ke kandang ayam pagi-pagi setelah ibunya ke sawah dan ke kandang lagi sepulang dari sekolah sebelum ibunya pulang.

“Kalau dapat uang aku masukkan tabungan.”, katanya

“sepakat. Untuk persiapan masuk sekolah nantikan?”. Tebakku dan Didin sama sekali tidak tersinggung justru tersenyum kecil.

“mantap Man,” kataku sambil minum air kendi. Kini senyum Didin kian lebar. Kayak senyum pepsodent gi thu loh!

Karena Didin adalah siswa lulusan terbaik, siswa teladan, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah mendadak datang keerumahnya. Mereka tak ingin prestasi dan bakat Didin terbuang percuma. Tentu ibu seperti disambar petir. Seumur-umur belum pernah dikunjungi orang seterhormat kepala sekolah. Ibu kaget bukan kepalang. Lalu ibu pun mempersilakan duduk di kursi butut dan memulai percakapan.

“begini, Buk”, pak Sholah memulainya. Ibu Hasanah masih meraba-raba apa amksud kedatanganya

“maksud kedatangan kami ingin menyampikan sekaligus meminta pada ibu untuk menyekolahkan Dik Didin karena dia punya prestasi bagus”, jelas pak Sholah

“kalau bisa dia akan sekolah ke kota Jogjakarta”, tambahnya.

“ kalau menyekolahkan Kacung di desa ini insya Allah saya masih sanggup, tapi kalau ke kota saya tidak mampu pak!”, kata Bu Hasanah lirih.

“ Baiklah ibuk. Masalah biaya sekolah dan pondokan ibuk tak perlu pikirkan”, jelas pak Dibyo, wakil kepala sekolah

“terus siapa yang membiayai?”, tanya ibu

“sudahlah ibuk, sekolah SMP yang akan membiayainya sampai lulus SMA nanti.

Sepontan ibu menangis tersedu-sedu dan mengucapkan berkali-kali terimah kasih pada bapak-bapak tamu itu.

Ibu sedih bercampur bahagia. Sedihnya karena akan jauh dari anak kesayangannya dan bahagia karena keinginan selama ini untuk menyekolahkan anak sampai SMA di depan mata. Tinggal ditangan ibunyalah keputusan itu.

Sekarang ibuk pikirkan dengan tenang dulu, jangan terburu-buru. Masih tersedia waktu satu atau dua mingguan. Ntar kalau sudah ada keputusan ibuk, tolong nak Didin suruh main kerumah bapak”

“baik pak. Tapi dengan apa kami bisa balas semua kebaikan bapak dan sekolahan ini?”, tanya ibu sambil terisak-isak

“ibuk jangan berfikir itu, ini demi kebaikan nak Didin. Kami terus terang buk bangga punya murid kayak Didin. Kadang kami tak rela kalau didin lulus dari sekolah SMP ini”, kenang pak Sholah. Dan air mata ibu mengalir makin deras.

“kami minta pamit dulu Buk”

“Maari, Pak, maari. Matur kasuwon”, suara ibu terdengar lirih sambil mengusap air yang membasahi kelopak matanya.

Dan benar. Ibunya merelakan anaknya menuntut ilmu kemana saja dan inilah kebahagiaan sang ibu membuncah. Berkorban untuk masa depan anak adalah cita-cita semua orang tua. Aku merasa senang sekali dengan keputusan itu.

Malam itu juga ibu sujud syukur pada Allah yang menganugerahkan limpahan kebaikan selama ini.

****

Ada suasana yang sangat mengharukan ketika Didin berangkat ke kota. Semua tetangga dan family berkumpul. Temenh-temannya juga bersuka ria dan ibunya bahagia luar biasa. Ada satu yang kurang. Apa itu? Ayahnya Didin teringat olehnya, ia sadar selama ini suka dan duka hanya dirasa oleh dia dan ibunya seorang. Orang lain seperti ayahnya itu tak pernah merasuk dalam sejarah perjalanan hidupnya. Saat yang sangat berarti baginya pun tak kunjung datang seoarang ayah. Ingin rasanya Didin menitip rindu buat ayahnya. Tapi kepada siapa? Mungkinkah pada rumput yang bergoyong? Atau pada ibunya yang kini kurus kering? Ahh…tidak ibunya mungkin terlalu banyak beban untuk dititipi lagi. Lalu? Ya Didin akan menitipkan rindunya pada Tuhan.

****

“Din, semoga sukses ya. Jangan lupa berkirim kabar ke rumah. Kami akan selalu berdoa untuk mu Din”, kata Ardi, temen bermain yang paling setia. Juga hadir Arso beserta keluarganya. Konon kepergian Didin sekolah mengingatkan pada ibunya, tetangganya saat berangkjatnya ayahnya ke negeri perantauan. Yang hadir itu banyak yang membawa jajan untuk dikasih pada Didin bahkan seorang nenek tua rentah, tetangga sebelah yang biasa Didin memanggilnya Mbah Na itu pun sempat datang berkumpul menyaksikan Didin meninggalkan kampung halamannya.

“Ok terimah kasih semuanya”, sambut Didin pada semua yang datang.

“ Didin berangkat dulu, minta doa semuanya moga kita bisa ketemu lagi dan mudah-mudahan tak ada halangan suatu apa”,

sambil berjabat tangan karenan sudah ada mobil yang akan mengantarkan dia menuju Jogjakarta dari sebuah desa di pelosok ujung pulau jawa Timur.[bersambung]deef

Subhanallah

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: