jump to navigation

Sarjana Miskin dan (Bukan) Sarjana Kaya July 25, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback

SARJANA MISKIN DAN TIDAK SARJANA KAYA

Oleh: David Efendi

Tulisan ini saya adopsi cukup banyak serta dari tulisan Jum’an yang saya tidak kenal dari sebuah milis dengan judul Sarjana miskin sarjana kaya. Waktu nulis ini saya sehabis prosesi makan malam bersama students Indonesia di Hale manoa, Hawaii USA. Saya bersukur meski sebagai sarjana miskin bisa makan bersama dan punya sahabat yang ramah dan baik serta helpful plus suka mengajak makan malam walau konon katanya di negeri Paman sam gak ada istilah “free lunch”.

Dalam  lubuk hati dan batok kepala banyak orang di kampung saya bahwa sarjana tidak lagi penting yang terpenting adalah seseorang itu punya kenadaraan bermotoro, mobil, rumah bagus plus tanah luas dan pekerjaan yang menjanjikan. Masalah jalan lurus dan menelikung bukanlah masalah serius disini. Sebagai ilustrasi saya punya teman kelas dari madrasah sampai SMP ada sekitar 60 siswa. Dari 60 itu 50% adalah laki-laki dan dari laki-laki itu 90% bekerja di Malasyia setamat dari SMA atau SMP. Dari 96% itu hanya sekitar 5% yang sukses membawa hasil dari merantau di Malaysia. Dari 60 teman saya itu hanya 3 yang sarjana dan 3 diploma. Semua sarjana itu belum punya pekerjaan yang menjanjikan alias dengan gaji yang pas-pasan. satu hal, ada temen yang hanya lulus aliyah (setingkat SMA) yang sukses luar biasa, mempunyai dua toko bangunan besar dan kendaraan bermotor plus mobil dua. Anak itu di sekolah bukanlah kategori 10 besar bahkan waktu di Madrasah ia suka berkelahi dan jarang mendapatkan prestasi. Anehnya lagi, yang sarjana dan yang sempat s2 dari 60 orang itu sama sekali bukan yang mereka terpandai di kelas meski masuk kategori the best teen.  Tapi salah satu IQ yang sekarang sempat masuk perguruan tinggi di Amerika itu hanya 64.

Pelajaran singkatnya adalah tidak ada hubungan antara sukses dan gagal dengan kepandaian di bangku sekolah. Kesimpulan ini seiring dan sejalan apa yang masyarakat di mana saya tinggal itu menyimpulkan mengenai ‘ketidakpentingan’ ketinggian sekolah dengan kesuksesan material. Secara pribadi ini saya kurang sepakat tapi apa boleh buat kenyataan kadang mengatakan demikian dan kadang yang sarjana seperti saya dan istri saya juga kurang usaha tapi bedanya mungkin banyak sarjana bisa menikmati hidupnya jauh lebih tenang dan bahagia dengan keadaan yang sederhana dan apa adanya tapi bukan berarti pasrah.

Sebagaimana kesimpulan banyak penulis, akhirnya saya juga mengamini kata Jum’an bahawa sukses memang bukan urusan kepandaian atau IQ semata-mata. Memang Bill Gates mempunyai IQ 160 sama geniusnya dengan Albert Einstein dan dia adalah
pria terkaya didunia. Tentu IQ-nya merupakan andil yang besar. Tapi tidak demikian halnya dengan Chris Langan (58 th). Chris adalah genius autodidact dengan IQ luar biasa antara 195 – 210 dan dijuluki the smartest man of America (Jum’an, 2010).

Ada kisah yang bagus, ketika kuliah di Universtas Montana ia mengalami kesulitan keuangan dan karena merasa bahwa sebenarnya ia lebih pantas mengajar dosen-dosennya dari pada menjadi mahasiswa, iapun drop-out. Ia kemudian membuat strategi kehidupan ganda yaitu siang hari bekerja fisik mencari nafkah dan dimalam hari mengurung diri untuk mengolah rumus-rumus dikepalanya. Diantaranya dia mengembangkan teoritentang hubungan antara pandangan dan kenyataan yang terkenal dengan Cognitive Theoritic Model of the Universe (CTMU). Biaya hidupnya ia peroleh dengan bekerja sebagai buruh bangunan, cowboy, mantri hutan, pemadam kebakaran, buruh tani dan selama lebih dari 20 tahun sebagai bouncer atau tukang pukul ditempat hiburan di Long Island. Berbeda pula kisah professor Irving Fisher yang banyak dikenal dikalangan mahasiswa dan para ekonom di Indonesia. Pakar ekonomi matematika ini sangking pandainya, yakin betul bahwa pasar saham saat itu (1929) akan
tetap tinggi sepanjang tahun. Iapun menanamkan modal besar-besaran,  tetapi berujung bangkrut karena tanpa disangka-sangka terjadi crash. Universitas tempat dia mengajar terpaksa membeli rumahnya dan menyewakan kepadanya agar dia tidak terlantar. Jera? Tidak. Ia tetap yakin bahwa dia benar dan meminjam uang dalam jumlah besar dari keluarga dan teman-temannya yang kaya dan menanamkannya sekali lagi dipasar saham. Dan sekali lagi bukannya memanen buah tapi malah menuai musibah yang berupa kebangkrutan totol.

Bill Gates sering mengakui bahwa disamping upaya dan kemampuan, adalah
kemujuran (luck) yang menempatkannya sebagai orang terkaya didunia. Sedangkan Chris Langan, super IQ-nya tidak didukung oleh lingkungan sehingga ia terpaksa berjuang sendirian. Dan belum pernah ada di dunia ini baik penyanyi, atlit, ilmuwan bahkan para jenius yang berhasil tanpa bantuan orang lain. Adapun professor Fisher adalah tamsil yang sempurna dari seorang yang karena kepandaiannya menjadi kelewat percaya diri (overconfident) . Dan bahwa kelewat percaya diri adalah mantera menuju bencana. Itu pelajaran dari negara lain. Bagaimana di negeriku sendiri?

Kadang memang menyedihkan, kalau ingat cerita Umar Bakri bagaimana pendidikan dan kepandaian tidak diapresiasi secara proporsional sehingga masyarakat terkesan memandang dengan sebelah mata termasuk di kampung saya sehingga sering membuat saya sedih dan kadang merenung untuk apa sekolah tinggi-tinggi? bukankah sekolah tinggi sama sekali tidak menjami kesuksesan material seseorang? menurut pengalaman para orang cerdas diatas hal ini memang akurat kesimpulan yang didukung jutaan orang termasuk di dalamnya adalah para sarjana termasuk saya. Tapi sejelek-jelek saya dan sarjana yang saya panggul tentu ada pikiran kecil bahwa keadaan ini tidak boleh dibiarkan karena jika dibiarkan begitu saja bagaimana generasi ke depan mengapresiasi ilmu pengetahuan? bagaimana mereka menjadi orang mulia tanpa pengetahuan, tanpa belajar, tanpa sekolah? otodidak juga salah satu metode sekolah menurut saya.

Meski ada sarjana miskin dan bukan sarjana kaya, itu kenyataan tapi bukankah juga ada sarjana kaya dan mulia dan bukan sarjana miskin papa? Apa basis legitimasi untuk mengatakan pendidikan tinggi tidak perlu? argumen apa yang bisa melawan ayat-ayat semesta bahwa ilmu adalah sumber kemuliaan hidup. Bahwa kita diwajibkan menuntut ilmu dari buaain ibu sampai liang lahat. Kita juga diamanatkan agar menuntut ilmu walau sampai ke China.

Sekali lagi banyak hal yang mesti direnungkan, Saya yang bukan anak siapa-siapa, bukan anak pejabat kaya atau mahasiswa luar biasa dengan IQ setinggi Cris Langan, Bill gate atau Einstein. Sekali lagi, manuaia harus berbuat semampunya adalah fatwa yang paling sederhana. Tapi semampunya artinya kita harus belajar dan meningkatkan kemampuan itu bukan lalu gagal terus tidak mau mencoba. Saya sendiri, insyallah sudah memahami kelemahan dan batas kepercayaan diri serta terus berkaca bahwa ikhtiar itu memang lebih mulia dari sekedar menengadahkan tangan di padang pasir sebagaimana kisah Ismail dan Hajar itu dan. Alhamdulillah usahanya berbuah berkah. Wallahu a’lam bishowab.

Hale Manoa, Honolulu, USA

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: