jump to navigation

Perjalanan Melewati Batas Waktu August 23, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback

Perjalanan Melewati Batas Waktu;

Journey to the Future di Negeri Barack Obama

David Efendi

Kekuatan mimpi dan doa itu memang sudah terasa betul kebenarannya sehingga tak seorang pun boleh meremehkan pentingnya mimpi dan cita-cita mesti kadang mimpi itu tidak masuk akal. Bagaimana orang bisa menerima mimpi seorang anak petani, seorang anak TKI, kuli bangunan bisa menginjak bumi America, negeri Paman Sam atau negeri dimana demokrasi dan kebebasan itu diagungkan dan dijunjung tinggi.

Mimpi adalah milik generasi masa depan dan tidak boleh ada orang di muka bumi ini menghalangi orang bermimpi untuk menjadi sosok atau menggapai cita-cita itu terwujud. Kepada anak-anak muda yang masih panjang perjalannya, just go ahead and make your dream come true. Saya bersukur sebagai aktifis muda di IPM memperoleh beasiswa international fellowship program dari Ford Foundation Amerika, beasiswa untuk orang-orang yang dianggap berbakat menjadi pemimpin di kelak kemudian hari untuk membangun bangsa.

Dalam kesempatan yang baik melalui tulisan ini dimana ribuan mile dan waktu yang tidak tergapai saya mencoba bersilaturhami sekaligus merenung betapa Allah itu maha menguasi waktu dan semesta raya tanpa batas. Tulisan singkat ini akan meliputi sekilas kisah perjalanan dari Lamongan ke Amerika (United State America), dan sedikit mengenai kehidupan di Amerika dan Universitas.

Bertolak dari Soekarno-Hatta

Baru saja kembali ke Jogja dari Godog, setelah memperoleh banyak pesan dari keluarga dan guru dalam pengajian di Pondok Al falah yang bertajuk tuntulah ilmu walau sampai ke negeri China, Negara yang tua yang menganut komunisme yang tidak percaya kepada Tuhan. Nabi Muhammad pun membolehkan orang belajar kesana lantaran Ilmu pengetahuan itu tidak disekat kedalam agama tapi pengetahuan adalah milik semua bangsa tanpa  terkecualidalam rangkah memuliahkan manusia itu sendiri. Pendidikan (pengetahuan) itu bukan hanya sekedar mengisi gelas kosong tapi menyalahkan api dalam kegalapan. Begitutalah kata Plato.

Tanggal 18 Juni 2010 jam 12.30 WIB saya mempertahankan tesis S2 Ilmu POlitik Universitas Gadjah Mada lalu malamnya bertolak ke Jakarta via kereta eksekutif Taksaka bersama anak dan Istri tercinta dengan diantar teman dan keluarga di Yogyakarta malam itu malam yang sangat terkesan karena belajar ke luar negeri diantar banyak teman seperti orang berangkat haji.

Setelah dua hari bermalam di hotel Istana Ratu di Jakarta yang disediakan oleh ford foundation, akhirnya hari keberangkatan itu pun tiba. Tanggal 20 Juni jam 17.00 Wib saya dan anak istri serta sahabat-sahabat dari Muhammadiyah dan teman-teman dari UGM menemani saya dalam keberangkatan saya ke Amerika.  Alhamdulillah tidak ada tangis dan tawa alias sedikit hening dan ada senyum-senyum yang tidak pernah terlupakan. Pesawat Singapura airline yang bersih dan besar itu akhirnya menerbangkan saya ke Singapura dengan sangat mulus dan tanpa ada masalah. Penerbangan Jakarta Singapura sekitar 2 jam-an.

Change-Singapura

Bandara Singapura terkenal dengan bersih dan indah serta dilengkapi fasilita syang luar biasa itu ternyata benar adanya. Bila dibandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta Jakarta rasa-rasanya bukan perbandingan yang setara alias sangat jauh tertinggal. Tiba di Singapura tengah malam dan kita diberikan fasilitas bermalam di Singapura tepatnya di Bandara sambil menunggu jam penerbangang berikutnya menuju Tokyo yang sedinya akan dijadwalkan jam 4 pagi waktu Singapura. Sebelum tidur masih bisa sms ke istri sebab telkomsel masih bisa bekerja dengan baik di Singapura.

Rasanya baru tidur lima menit sudah dibangunkan oleh petugas karena jadwal penerbangan menuju Tokyo harus segara boarding pass dan kami buru-buru ke toilet dan cuci muka serta gosok gigi, disediakan makanan yang banyak dan berbagai jenis minuman tapi karena petugas sudah memanggil maka hanya sempay makan sesuap nasi goring ala singapura yang dicampur sea food. Minum jus jamb uterus berlari menuju gate pesawat DEL airline maskapai milik Amerika.

Narita-Tokyo

Hal yang paling saya senang di Bandara narita adalah kebersihan dan fasilitas air minumk yang gratis dan segar di setiap sudut bandara. Kita bisa makan dan minum di Bandara dengan leluasa sesekali ngajak orang Jepang bicara bahasa Jepang campur Inggris menjadi pengalaman yang menyenangkan plus lucu untuk dikisahkan.

Dari Changi-Sangapura menuju Narita-Tokyo membutuhkan waktu 9 jam di dalam pesawat. Karena perjalanan yang begitu lama, di tiap tempat duduk disediakan video atau semacam program video yang bisa memilih berbagai kegiatan mulai game, mulai mendengarkan berita, dan ratusan film terbaru dan juga nasional geography channel yang sedikit banyak bisa mengusir kejenuhan. Selain itu juga disediakan banyak buku, majalah serta makanan yang bisa mengganjal perut. Untuk mekanan yang ditawarkan pramugari biasanya ada makanan untuk moeslem, kalau kita moeslim bilang saja dan akan dikasih makanan yang halal seperti ikan (fish, atau seafood) dan bukan dikasih pork (daging babi).

Kita bisa terbang  ribuan mil dari Barat ke timur seperti dari Indonesia ke Jepang tidak akan merasa sakit sebab tidak kena jet leg sedangkan perjalanan menuju barat  (Jepang-Amerika) itu akan melintasi lebih dari satu atau mungkin dua zona waktu, kita dapat mengalami jet lag karena waktu yang mundur selama 18 jam. Waktu diatas pesawat jam 9 Malam waktu Jepang maka sedetik diatas angkasa, subhanallah waktu mundur menjadi pagi hari 1 pagi dengan perhitungan waktu mundur sehari. Allah betul-betul berkuasa atas waktunya yang manusia tidak ada yang bisa mengubahnya dari malam ke siang dan siang ke malam. Hanya pujian dan doa yang bisa saya ucapkan atas peristiwa maha dahsyat itu.

Dari peristiwa melwati batas zona waktu itu sehari beraryi lamanya 24 jam plus 18 jam jadi sehari yang panjang yaitu selama 42 jam sehingga saya sholat duhur, ashar, sebanyak dua kali, dan magrib-isyak sebanyak tiga kali dalam sehari yang panjang dikarenakan waktu yang mundur selama 18 jam itu.  Sholat di pesawat itu punya makna tersendiri bagi saya sewaktu banyak keliling di Indonesia acara IPM dan Muhammadiyah waktu itu antara tahun 2005-2010 sudah terbang di Indonesia lebih dari 60 kali naik pesawat. Terima kasih IPM terima kasih Muhammadiyah yang sudah menjadikan waktu saya bermanfaat dan bisa berbagai ilmu ke daerah-daerah jauh.

Hidup di Amerika

_

Pertama, orang kadang salah mengerti soal Amerika yang dianggap liberal meski kadang orang-orang Amerika lebih toleran dan mengerti apa yang kita rasakan. Mereka kebanyakan menghargai kalau kita seorang muslim dan memberikan kesempatan untuk menjalankan perintah agamanya sebab di Amerika memberikan penghargaan dan apresiasi bagi para pemeluk agama. Wajar saja, kalau presiden  Obama menyampaikan selamat menjalanan ibdah puasa untuk ummat Islam Amerika. Di kota atau state dimana saya tinggal, ada asosiasi moeslem yang mempunyai pusat kegaitan di dekat Universitas Hawaii at Manoa. Kita bisa menjalankan ibadah sholat di sana dan juga pada bulan puasa ada buka bersama dan sahur bersama plus pengajian yang dihadiri tokoh Islam dari berbagai penjuruh dunia termasuk Mantan Ketua Umum PP Aisyiah dan Muhamamdiyah pernah berkunjung dan memberikan ceramah disini.

Kedua, metode belajar atau USA classroom culture disini adalah learning center atau student center yang mana siswa atau mahasiswa diharapkan pro aktif dalam pembelajaran dan lebih fleksibel dalam berhubungan dengan professor karena semua orang equal kita manggil professor dengan nama saja tanpa embel-embel tapi saya masih kurang enak kalau manggil namanya sehingga saya panggi semua dosen pakek gelarnya yaitu Prof (professor) tapi terkadang ada yang minta dipanggil namanya saja. Di Universitas yang mahasiswanya sekitar 40 ribuan ini, banyak memberikan tugas mahasiswanya menulis sehingga setiap satu mata kuliah tiap minggu masuk dua kali dan seminggu sekali menulis paper sebanyak 20-30 lembar itu baru satu mata kuliah padahal kita harus ambil minimal empat mata kuliah. Wajar saja kalau rambut mahasiswa bisa cepet rontok gara-gara stress. Semoga saya tidak stress dan tidak botak dalam usia muda.

Salah satu hal yang mengagumkan adalah bahan bacaan di Universitas yang jumlahnya jutaan judul itu, dan buka setiap hari tanpa pernah ditutup jadi suasana orang diperpustakaan itu serame di super market di Indonesia. Orang ssangat sibuk membaca mengetik di perpustakaan karena fasilitas ngeprint gratis, pakek computer gratis, fotokopi gratis dan nyaris tidak ada yang membayar kecuali kalau haus atau lapar harus memasukkan uang ke mesin yang jualan makanana dan minuman. Di dalam sejenis kulkas kaca sebesar ukuran unta itu kalau sudah ada harganya dna kalau kita masukkan uang dan ppencet kodenya makan akan keluar makanan atau minuman itu dan kalau ada uang kembalian mesin itu juga akan mengeluarkan uang sisanya. Jadi kita bertransaksi dengan mesin tidak ada kantin universitas, karena diganti dengan mesin begitu juga tukang kebuh 89 persen pakek mesin sehingga cumin ahli mesin saja yang ada.

Kita juga boleh mengikuti seminar atau conference ke Negara lain dan kita dibiayai sehingga mahasiswa terpacu untuk berprestasi. Kalau saya sendiri mencoba bisa keliling dunia dan memanfaatkan fasilitas beasiswa bisa mengunjungi mesir, india, china, perancis, dan tentu saja bisa ke Saudi Arabia sambil jadi Haji backpacker. Semoga anak-anak Godog tetap semangat emngukir masa depannya. Bravo Hismag, dan keep moving and moving.

_

Semoga bermanfaat. Mohon maaf lahir dan bathin.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: