jump to navigation

“Pengalaman Multiculturalisme” August 28, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback

by David Efendi, The fellow of Tonggak Sang Pencerah

“Imagine there’s no countries. It isn’t hard to do Nothing to kill or die for. And no religion too Imagine all the people Living life in peace…” (John Lenon)

Pertanyaan-pertanyaan peradaban itu bermuara kepada: Kenapa orang atau komunitas menjadi sangat antipati kepada orang atau komunitas lain? Kenapa orang menjadi tidak toleran dan merasa terancam dengan kehadiran orang atau kelompok lain di sekitarnya? Kenapa Manusia merasa tidak berdosa ketika memusnahka manusia lain, menodai hak hidup damai orang lain? Apakah ideologi menggerakkan manusia menjadi brutal, sadis, dan anti-agama itu sendiri? Lalu muncul yang disebut konflik antar peradaban (aku gak percaya 100% adanya sebab di Negeriku sesama mahasiswa bisa tawur, antar etnis, antar partai, antar agama dan sesama agama). Mereka hanya membajak tuhan untuk melegitimasi kebiadaban dengan melakukan kekejian yang jauh dari nalar anti peradaban.

Dalam kisah singkat ini saya mencoba merefleksikan pengalaman pribadi dimana waktu kecil yang berada dilingkungan Islam yang puritan yang anti bidah, takhayul dan kurafat dan sangat tidak toleran terhadap perbedaan karena terbangun sikap dan sifat superior dan hebat dalam komunitas yang masih ada disana-sini penyimpangan terhadap praktik orisinalitas islam. Dan juga mencoba merefleksikan kesan-kesan setelah tinggal di kota multikulturalisme di Yogyakarta dan di negara yang berbeda sangat ekstrem dengan apa yang pernah saya temui sebelumnya.

Di kampong saya, orang tidak boleh membangun kuburan, orang berzina diseret ke muka publik dan di denda bahan material pembangunan untuk desa seperti semen, pasir, dan sebagainya. Anak-anak muda yang ketahuan mengkritik orang tua bisa dihakimi di depan pendekar yang merangkap kyai di desa saya. Kehidupan yang snagat keras termasuk yang tidak puasa diancam, yang ketahuan makan siang hari bulan ramadan akan didenda, atau dikucilkan dan disuarakan dalam corong-corong di pengajian bagwa si fulan dan fulanah tidak puasa dan tidak berhak ikut lebaran. Kalau ada anjing harus kita bunuh dan ada lokalisasi diperbatasan desa sering orang-orang desa saya menghancurkan bangunan rumah dan mengusirnya. Musik haram pada waktu saya kecil, apalagi tayup atau gong yang menjadikan perjudian meluas. Di tetangga desa saya praktik ini masih banyak waktu itu desa saya sudah terbebas kecuali ada yang bermain ke luar kampung.

Tahun 1998, ketika kerusahan masih berkecamuk di kota-kota besar di Indonesia speerti demonstrasi di jakarta, Makasar, Medan, Surabaya, Yogyakarta, dan sebagainya pasca keruntuhan Soeharto yang kemudian dialihkan ke Profesor Habibie yang sebetulnya tidak punya banyak pengalaman berpolitik. Saya hijrah ke Lamongan kota untuk melanjutkan sekolah di SMA Negeri 2 Lamongan yang favorite meski pada umumnya SMA favorite pada umumnya sekolah dengan nomor urut 1. Tidak terjadi di Lamongan, di Lamongan nomor urut dua lah yang menjadi nomor satu the most wanted school karena banyak kelebihan.

Di SMA Negeri 2 ini saya mengenal kehidupan bersahabat dengan teman berbeda agama, bertoleransi sesama dan memaklumkan perbedaan tapi disisi lain saya masih terbawa konservatifisme atau fundamentalisme saya sehingga saya bergabung di Kajian Islam atau kerohanian Islam yang terkenal dengan FPI (Forum Kajian Islam) SMADA yang dikenal sangat keras terhadap pacaran, atau khalwat berbeda jenis. Di sini ketika rapat harus memakai hijab batas antara ikhwan dan akhwat. waktu itu kita belum kenal PKS atau PK hanya kelompok Muhamamdiyah, NU, yang paling kuat dan kelompok lainnya LDI atau DDII dan aliran Islam lainnya termasuk anak cucu pengikut tarikat. Setiap jumat seluruh anak kelas satu yang jumlahnya 300-an siswa siswi harus mengikuti kajian Islam di Musholah al Arief namanya yang sekarang jadi masjid terbesar di Jawa timur sekelas masjid SMA Negeri. Antara anak cucu NU dan Muhamamdiyah selalu dinamis dan bisa dibilang kompetitif di forum ini sehingga jumatan pun kadang adzan dua kali kadang adzan sekali begitu juga dengan rakaat tarawih. Selain mengikuti ekstra kurikuler FPI yang cenderung fundementalis dan anti pop culture yang bernama pacaran saya pribadi mengikuti extra lain pada awalnya paskibra gagal, cakranida gagal karena gak berbakat, dan teater citra yang 3 kali tampil di panggung dengan lumayan penting perannya waktu itu di Alun-alun Lamongan jadi Bandung Bondowoso. Di komunitas ini saya belajar multikulturisme yang sering dianggap negatife oleh teman-teman saya di FPI padahal ini semata menyalurkan bakat semenjak saya di SMP yang tergabung di Teater Mapan SMP Muhamamdiyah 8 Godog Laren Lamongan. Di Teater citra, namanya lakon kadang harus berdekatan dengan lawan jenis, kadang bersentuhan dalam adegan di panggung. Saya pun oleh seorang pembina FPI dianggap kurang layak bergabung di Teater. Baiklah saya biarkan tuduhan tersebut mengalir.

Karena saya tinggal di Masjid at taqwa, saya juga sering mengikuti dan mengadakan pengajian. Banyak ustadz yang teriak anti kristenisasi, biadab yahudi dan amerika di dalam masjid. Maklum waktu itu sedang trend kristenisasi di majalah sabili memuat persoalan perang di AMbon, Maluku dan juga masalah sengketa perbatasan Israil-Palestina. Waktu itu saya jualan majalah sabili, membantu seorang agen yang bernama Sujaiyanto yang juga tinggal di sekitar masjid (saya masih berhutang sekitar 150 ribu, belum sempat ketemu). Di komplek pondok pelajar ini saya jadi ketua bidang dakwah dan keislaman. Saya sangat keras kalau ada anak yang tidak bangun subuh, atau minuman keras di asramah. Pernah suatu siang, saya mengambil paksa beberapa botol minuman keras di almari santri dan saya musnahkan. Banyak tantangan yang saya terima dan saya hadapi. Ini adalah masa-masa yang saya tidak bisa toleransi dan di saat yang sama saya bisa menoleransi perbedaan pendapat dalam hal kebaikan di sekolah negeri. Mungkin, ini adalah tanggung jawab saya sebagai siswa dan ketua dakwah di sekolah. Semua diletakkan sesuai proporsi masing-masing. Bagaimana bisa mentolerir santri minum bir di sebuah pesantren? does it make sense?

Menjelang pemilihan langsung ketua Umum Osis saya banyak diminta teman untuk maju bisa jadi salah satunya adalah sebab saya menerima perbedaan, enjoy dalam harmoni multikulturalisme dan bisa bergabung di banyak tempat atau komunitas serta saya orang desa yang sering memberanikan diri berbeda pendapat dalam forum dan bahkan melawan guru PPKN yang terlalu normatif dan tidak membeiarkan kritisisme siswa. AKibatnya, ketika kelas satu saya dapat nilai 6 PPKN padahal saya tidak pernah melanggar lalu lintas, selalu emnjenguk teman sakit dan ikut upacara bendera. Apa yang kurang pikirku. Di akhir tahun kelas satu, saya sempat mendapat kesempatan menggantikan guru PPKN untuk memimpin diskusi di kelas dan mendapatkan nilai 9 di akhir semester atau catur wulan waktu itu.

Saya terpilih jadi ketua Umum Osis sempat dianggap sebagai kemenangan FPI dan di sisi lain saya dianggap wakil dari seksi VIII yang membidangi teater. Dan saya mencoba proporsional dengan memilih wakil dari FPI dan dari seksi Paskibra yang kebetulan secara kebiasaan kelompok ini selalu berbeda pendapat terutama soal batas pergaulan misalnya FPI melarang dan mengharamkan boncengan yang bukan muhrim dan pacaran.

Semua pengalaman itu menjadi sangat bermakna ketika saya hijrah melanjutkan sekolah ke Yogyakarta di UGM. Sebelumnya sempat menjadi asketis di Pare Kediri selama 5 bulan, sambil menyantri di pesantren NU Darul falah,s aya juga belajar sedikit bahasa Inggris sebagai persiapan mengikuti tes di UGM atau untuk sekedar memanfaatkan waktu setelah ditolak UGM dan diterima UNY di Ilmu sejarah yang tidak jadi saya ambil pada tahun 2002 karena alasan finansial, alias tidak bisa membayar uang masuk walau sangat murah waktu itu hanya 700 ribu saja. Di Jogja, suasana multikulturisme luar biasa nampak nyata, antara Islam, Jawa, keraton, dan pendatang berbaur dalam suasana yang tidak pernah saya bayangkan. Harmoni alam yang nirkekerasan menjadikan kota ini layak huni untuk semua kalangan. Di jogja kita tidak perlu KTP atau kipem pun kita diterima oleh masyarakat ketiak mencari kos, atau mau tinggal di Masjid atau dimana saja. Hal yang sangat mempengaruhi saya selain background SMA saya adalah organisasi pelajar Muhammadiyah dan Muhamamdiyah itu sendiri yang mengambil posisi mederat dan washaton dalam pemikiran Islam. Muhammadiyah menolak terrorisme dan kekerasan atas nama agama begitu juga saya pribadi meyakini kebenaran bahwa islam diturunkan sebagai rahmat bagi semesta raya. Inilah ajaran multikulturisme yang tidak akan terlupakan.

Ketika tiba di Hawaii, USA. Negar dimana sewaktu saya kecil dan beranjak remaja sangat saya benci dan mai akhirnya berdamai sebab disini orang Amerika ternyata begitu mengapresisasi Islam, orang yang berbeda kayakinan dan etnis. Jadi, nampaknya saya kehilangan alasan untuk membenci orang yang berbeda pendapat dan keyakinan. Ihwal perang Irak, Afganistan, dan Palestina dna sebagainya itu soal lain sebab bukan itu berarti kehendak semua orang Amerika. Itu persoalan politik, pilihan negara dengan logika politik atau atas nama survival of the fittes di era global. Pemerintah Amerika boleh berkata, lebih baik menyerang dari pada diserang. Itu bukan berarti semua orang Amerika satu kata dengan pemerintah.

Akhirnya, Lakum di nukum waliyadin, bagimu kebudayaanmu dan bagiku kebudayaanku berdasarkan kenayamanan masing-masing dan saling menghargai dan berbagi pengalaman mungkin jalan yang lapang menuju perdamaian dunia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang disusun oleh orang-orang hebat yang luar biasa. meski berbeda pendapat, tiada alasan kita merebut hak orang lain, apalagi memusnakan masa depannya. Peace and Islam is Peace relegion, menurut saya, mungkin anda dan atau kita semua.

Hawaii, Aug 27 2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: