jump to navigation

Puisi Perlawanan Sunyi September 30, 2010

Posted by lapsippipm in Poems.
add a comment

Puisi-Puisi Wiji Thukul

Sajak Suara

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu : pemberontakkan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang merayakan hartamu
ia ingin bicara
mengapa kaukokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ia yang mengajari aku untuk bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan

Peringatan

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Berangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya da satu kata: lawan!

Bunga dan Tembok

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kauhendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kauhendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan : engkau harus hancur

dalam keyakinan kami
di mana pun-tirani harus tumbang!

Solo 87-88

Advertisements

KEISLAMAN SEBAGAI TONGGAK PERUBAHAN September 22, 2010

Posted by lapsippipm in Books News.
add a comment

Resensi

Berulang kali dikatakan Darwisy atau Dahlan dalam seluruh bagian novel ini, bahwa Dahlan menolak dengan keras dan tegas, Islam bukanlah agama ritual belaka, terbelakang, dan menghalangi Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan terbebas dari penindasan, ketidakberdayaan, kebodohan dan kesehatan yang terpuruk (hlm. 48, 246, 250). Ini merupakan novel yang membangkitkan semangat berorganisasi di kalangan aktivis Muhammadiyah. Karena ada kekuatan yang mengancam, meminjam kata-kata Dahlan yang sedikit penulis ubah, ”Bahwa bisa jadi Muhammadiyah lenyap dari Indonesia, tapi Islam tidak akan lenyap dari muka bumi.” Atau, meminjam istilah Buya Syafii Maarif, “Sebuah Muhammadiyah yang tidak mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah Indonesia, bukanlah Muhammadiyah yang sebenar-benarnya”, yang diadopsi oleh Buya dari pendapat, ”Sebuah Islam yang tidak mampu memberikan solusi terhadap masalah-masalah manusia, bukanlah Islam yang sebenarnya.”

Lega dan bahagia rasanya, membaca satu kekayaan dan khazanah baru mengenai KHA. Dahlan yang telah merintis dan mendirikan Muhammadiyah yang sampai kini sudah berusia satu abad atau seratus tahun. Selain puluhan atau ratusan buku yang tertulis mengenai sosok manusia santun dan bijak dari Kauman ini, genre baru dalam bentuk novel pun hadir mengapresisasi, betapa sosok Darwisy itu mampu menginspirasi anak bangsa untuk berbuat lebih banyak untuk bangsanya, untuk kemanusiaan sebagaimana yang diperankan oleh Dahlan dan pengikutnya pada zaman itu. Zaman yang terus bergerak pincang, meminjam istilah Passandre dalam novel ini, Dahlan bisa bergerak dan terus bergerak untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah semangat kemanusiaan dan bukan aliran tradisi yang tersingkir, terbelakang dan tidak modern. Bayangkan, dalam keadaan yang serba terbatas, berhadapan dengan tradisi, kolinialisme, tradisi kraton yang kokoh seperti pohon beringin itu, Dahlan tidak gentar terus melakukan istima’, ijtihad bahwa harus ada jalan keluar, untuk membawa bangsanya keluar dari keterpurukan dalam beraqidah, sosial, ekonomi, dan politik.

Penulisan novel ini diilhami oleh film dokumenter “KH Ahmad Dahlan Sang Pencerah” yang dikeluarkan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi UMY tahun 2006 dan dipersembahkan untuk Sang Pencerah, Pahlawan Kusuma Bangsa, Kiai Haji Ahmad Dahlan, dan Muktamar Seabad Muhamamdiyah 2010. Sebuah kalimat yang sangat tulus, bagaimana penulis yang merupakan alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah ini mempunyai kepekaan hati untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi Dahlan, bagi Muhammadiyah, dan bagi anak bangsa yang seiring dan sejalan dengan pemikiran dan aksi sosial Dahlan. Kita mesti berterima kasih pada penulis yang memberikan bacaan yang menyentuh, penuh referensi, fakta, nuansa revolusi, menggebu-gebu, mendobrak, dan kadang-kadang hanyut dalam romatisme keluarga sakinah yang damai tentram yang pernah dilakoni KHA Dahlan. Panduan Hidup Islami Muhammadiyah mungkin perlu disempurnakan dengan membaca novel ini terutama Penggalan 6-10, yang berisi dialog-dialog singkat dan kaya makna antara Dahlan dengan Walidah, yang cukup menyentuh dan membuat kita meneteskan air mata (baca juga hlm. 247-249).

Passandre menarasikan kisah yang mengandung nilai keutuhan hidup dengan sangat apik. Sosok Dahlan atau Darwisy sebagai sosok yang selalu risau terhadap tradisi yang lebih dimuliakan dari pada ajaran Agama Islam. Sosok yang mendobrak dan anti penjajahan, dalam suasana kehidupan keluarga yang harmonis, yang saling menguatkan dengan landasan Islam yang akan membawa kebahagiaan. Dahlan sama sekali bukan digambarkan –dan memang bukan– sebagai tokoh yang egois, hanya mementingkan orang lain atau perjuangannya, tidak mau tahu dengan urusan keluarga. Pendek kata, Dahlan ingin mengatakan bahwa kehidupan berkeluarga tidak akan pernah menghalangi dakwah, menghalangi peroebahan yang dicita-citakannya, bahkan menawarkan ragam second opinion, atau alternative, manakala kebutuhan dalam perjuangan itu menghentikan langkah kakinya (hlm. 249). Sekali lagi, ayat-ayat cinta dan semesta itu hadir menyelimuti kehidupan rumah tangga Dahlan-Walidah.

“Dari penampilannya saja, sekolah itu memang tampak mengingkari  zamannya, dan seolah hendak membangun zaman baru: zamannya sendiri. Zaman dimana manusia terbebaskan dari belenggu tradisi yang membodohkan.” (hlm. 258). Ya, Dahlan memang memberontak tradisi, memimpikan perubahan. Dan untuk membangun zamannya, dan zaman yang akan datang, Dahlan mengorbankan banyak hal, terutama waktu bercengkerama dengan keluarga, lalu ditinggal ke Makkah untuk naik haji dan belajar agama. Dahlan ingin Islam modern sehingga arah kiblat pun perlu direvisi sebagai konsekuensi dari berkembangnya ilmu pengetahuan, karena Dahlan mengenal dunia, mengenal ilmu geografi. Disamping itu, beliau memahami dan menyaksikan bahwa Islam yang revolusioner sedang bergeliat di tanah Arab, Mesir yang dipromotori oleh Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, dan sebagainya. Dahlan memanfaatkannya sebagai pendorong semangat dalam jiwanya untuk aksi nyata: Peroebahan! Tidak hanya itu, Dahlan juga belajar membangun sekolah yang meski dianggap kafir lantaran meja kelas dan pelajaran musik dan biola (hlm. 262). Beliau juga memikirkan perlunya organisasi setelah berinteraksi dengan Budi Oetomo, Taman Siswa, dan hasil dialog dengan seorang pelajar yang tidak rela sekiranya sekolah Dahlan ambruk dan roboh jika kelak Dahlan meninggal dunia. Maka, ikhtiar itu termanifestasikan dalam langkah nyata mendirikan organisasi modernis yang diberikan nama Muhammadiyah pada 18 November 1912.

Salah satu keunggulan novel ini adalah sosok penulisnya yang memang aktivis Muhammadiyah, semenjak SMA menghabiskan waktunya di Sekolah Muhammadiyah di Yogyakarta dan aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah sampai di tingkat Pimpinan Pusat. Aroma kepekaan sebagai “orang dalam” sangat kental dan sering melihat ‘dinamika Dahlan’ sebagai sesuatu yang harus kembali ditumbuhkan kepada generasi kekinian, anak muda Muhammadiyah yang bisa jadi terlalu dimanjakan dengan fasilitas sehingga tidak peka dan tidak berani mengambil posisi yang beresiko. Inilah yang hendak penulis novel ini bangun, bahwa katakan kebenaran walau rasanya pahit, sebagaimana kisah Dahlan dalam khutbahnya di Semarang saat perjalanan haji menuju Tanah Suci Makkah (hlm. 117). Bangsa ini akan beranjak menjadi baik jika kata-kata Dahlan itu terus dipraktikkan dalam segala situasi. Bangsa ini tentu tidak akan mendapat predikat bangsa dengan indeks korupsi tertinggi di jagat raya.

Novel ini sangat layak untuk dijadikan bacaan wajib dalam sekolah-sekolah Muhammadiyah baik di tingkat sekolah dasar atau sekolah tinggi dan universitas. Buku yang kaya akan literasi dan referensi ini diharapkan akan menggugah semangat untuk ber-uswatun hasanah kepada para pemimpin terdahulu, untuk kembali melejitkan ghirah bermuhamamdiyah, berislam, dan berbuat untuk kemanusiaan. Maka, “saya berharap Muhammadiyah benar-benar bertujuan untuk pencerahan kehidupan umat. Bukan untuk kepentingan pribadi. Maka itu, hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah” (hlm. 279).

Beberapa hal menarik lainnya adalah pesan-pesan yang penuh inspirasi dan makna dari Dahlan kepada muridnya atau santrinya selama berinteraksi pada saat-saat penuh tantangan. Kata-kata berbobot itu layak dijadikan pelajaran untuk anak didik Muhammadiyah (hlm. 220, 221, 231, 260, 264). Dan salah satu usulan yang sederhana mungkin diantara bab atau penggalan itu dilengkapi foto dokumentasi, atau karikatur yang bisa mengundang perhatian pembaca, terutama pembaca muda yang masih ogah-ogahan membaca novel apalagi yang namanya text book.

Terakhir, sebagaimana Nabi Muhammad, dalam dakwahnya Dahlan juga mengalami masa-masa sulit seperti perlawanan dari kelompok Islam-tradisi, langgar atau musholla yang dirobohkan, dituduh kyai kafir, juga peristiwa memilukan saat meninggalnya ibunda tercinta dan ayahnya, namun hasrat perubahan terus dipelihara dalam pikiran dan tindakannya. Lalu, perubahan itu terus bergerak kencang dan bertenaga menerobos zaman, sejarahnya yang terus tumbuh dewasa dan terkadang macet di tengah jalan. Tapi, karya Dahlan terus dipercayai sebagai kebaikan, kesalehan sosial yang dilandasi keislaman yang membebaskan, yang dilandasi akal sucinya untuk menebar rahmat bagi semesta raya. Prestasi baik Darwisy dan Dahlan keduanya itu tak akan musnah dimakan bubuk zaman, tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Mewakili penulis novel itu yang ingin mengatakan: Selamat Milad Muhammadiyah ke-100 tahun, semoga tetap energik, bertenaga dalam bergerak memasuki pusaran gelombang kedua di abad kedua ini. Selamat membaca dan salam dari pengikut Tonggak Sang Pencerah.

Peresensi:

David Effendi, pengikut Tonggak Sang Pencerah

Politik itu, Enteng-enteng sajalah… September 18, 2010

Posted by lapsippipm in Modern Jokes.
add a comment

DALAM sebuah rapat Sarekat Islam, almarhum Haji Agus Salim pernah saling ejek dengan Muso, tokoh SI yang belakangan menjadi orang penting dalam Partai Komunis Indonesia. Ketika Muso berada di podium, ia bertanya kepada hadirin:

“Saudara saudara, orang yang berjanggut itu seperti apa?”

Hadirin menjawab, “Kambing!”

“Lalu, orang yang berkumis itu seperti apa?”

“Kucing!” jawab hadirin.

Setelah Muso turun podium, giliran Agus Salim yang berpidato.

“Saudara-saudara,” kata Agus Salim, yang memang memelihara jenggot dan kumis, “orang yang tidak berkumis dan tidak berjanggut itu seperti apa?”

Hadirin berteriak riuh, “Anjing!” Agus Salim tersenyum dan meneruskan pidatonya.

Cerita nyata itu menggambarkan betapa bagi seorang Haji Agus Salim, politik adalah soal serius yang bisa dihadapi dengan enteng.

Dicomot dari banyak sumber

Komunitas Islam Rayakan Idul Fitri di Hawaii September 11, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
add a comment

David Efendi

Ramadan berakhir bagi beberapa orang memang sangat menyedihkan dimana pada bulan ini mahasiswa Islam sering berkumpul buka sahur bersama dan tarawih. Demikianlah yang dilakukan mahasiswa Islam Indonesia selama bulan ramadan mereka jugaseirng mengadakan potluck sejenis makan bersama dengan membawa makanan lalu dimakan bersama-sama dengan mahasiswa islam lainnya baik untuk berbuka atau sahur. Ramadan memang istimewa dana banyak orang menghormati termasuk di dormitory (asramah mahasiswa Indonesia) yang disedikan fasilitas dapur 24 jam bagi mahasiswa Islam untuk sahur dan sebagainya.

Sehari sebelum idul Fitri ada suasana sedih terlihat di raut muka mahasiswa asal Indonesia. Mereka rata-rata mengaku ingat rumah apalagi di Indonesia sudah mendahului lebaran sebab selesih 17 jam sehingga terasa sekali perasaan ingin dekat keluarga dan ingin mudik. Orang bilang ini namanya homesick mendadak sebab banyak memori dan hal yang menyenangkan di hari kemenangan jika dirayakan di kampung halaman. Ada  8 Mahasiswa baru di University of Hawaii yang memang pertama kali idul fitri jauh dari keluarga dan merasakan sangat berat jauh denga keluarga sehingga mereka saling curhat dan memasak bersama untuk meringankan rasa sedih dan kangen rumah. Pada malam hari menjelang idul fitri 3 mahasiswa Indonesia malakukan sholat isyah berjamaah di dormitory dan membaca takbir bersama-sama layaknya di kampung halaman. Suasana yang hening itu sangat menyentuh hati dan penuh penghayatan diikuti tetesan air mata sesekali.

Di saat memanasnya isu pembakaran Al qur-an di USA oleh kelompok Pendeta fundamentalis di Florida yang direspon ummat islam di berbagai negara disertai kecaman keras atas rencana tersebut, suasana damai damai dan penuh toleransi kita jumpai di Hawaii. Komunitas Islam yang terdiri dari berbagai negara menyelenggarakan sholat idul fitri di Manoa Park, Honolulu pada hari jumat tanggal 10 september 2010. Sekitar 300 jamaah hadir meramaikan idul fitri tahuan ini. Jumlah ini sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah ummat islam di Hawaii yang menurut Mike, warga Hawaii sekitar tiga ribu orang.

Semenjak pukul 8.00 takbir versi timur tengah sudah diihentakkan dan mahasiswa Indonesia agak sulit mengikuti nada-iramanya karena sangat berbeda. Kata Agussalim, Mahasiswa PhD di University of Hawaii at Manoa nada takbiran tetap lebih bagus di Indonesia sayang kita tidak bisa merebut komando takbirnya. Sholat Id dimulai pukul 9.30 oleh Imam Ismail dan penceramah oleh Imam Abdullah dari Australia yang menyampaikan banyak pengetahuan mengenai kontribusi ummat Islam dalam membangun peradaban dan nilai-nilai kemanusiaan yang memang tidak diragukan lagi kebenarannya. Beliau mengutip buku baru dari ilmuwan sejarah bahwa tanpa Islam tidak ada yang namanya Eropa modern seperti hari ini.

Seusai sholat id dan ceramah sebagai bagian tidak terpisahkan, panitia sudah menyiapkan beragam kue dan minuman untuk jamaah sebagai breakfast dan ramah tamah dengan jamaah lain yang berlatar belakang negara,ras dan suku yang berbeda-beda. Barangkali inilah nilai islam yang sebenarnya terlihat dalam unity of diversity mulai dari kulit gelap, hitam, warna,sampai putih ada semua dalam persaudaraan Islam universal yang seharusnya menjadi pembelajaran bagi penghuni bumi di mana pun berada.

David Efendi

Honolulu, Hawaii, USA

Lebaran Para “Pujangga” September 9, 2010

Posted by lapsippipm in Poems.
add a comment

by Dekpendi, David

Sebuah puisi, adalah senjata

sedangkan senjata adalah doa

Buah karya bukan sembarang pujangga

inilah sair nyanyian sunyi di kampoung Manoa

Meski bang Toyip belum pulang juga,

Meski ketupat belum juga kelar di rekayasa Opor,

apalagi masih tahap dibicarakan pula

Dan air mata rasa kangen-rindu mengalir

Begitu derasnya, Rabb

Kami sedang jauh dari para kekasih hati

Meski bedug belum gemuruh ditabuh

tak sabar menunggu lebaran,

tak sabar menunggu syawalan

Apalagi uncle SAM sudah mendahului bermaafan

Rasanya ingin segera melepaskan kata-kata bertenaga

Seperti kata para pujangga dalam tarian bedug-nya

Dimana saja berada,

kuucapkan Selamat hari raya idul fitri Minal Aidzin wal faidzin

Mohon maaf lahir bathin Kembali ke fitrah,

kembali ke yang autentik

keseimbangan hakiki baik yang ilahi atau yang manusiawi

Selamat merayakan kemenangan-kemenangan kecil

Menuju kemenangan-kemenangan besar Suatu saat nanti

Peluk “thanksgiving day”

Rayakan kesucian hatimu

Dimana saja engkau berada

Sept 8,2010 Lebaran di Kampung Melayu Manoa