jump to navigation

Tips Untuk Mengatasi Dampak Abu Vulkanik October 31, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
add a comment

David Efendi

“Tetap waspada, hati-hati dan berdoa untuk keselamatan semua. Jaga diri, jaga kesehatan, menolong diri sendiri agar bisa menolong orang lain.”

Untuk saudara yang berada di daerah/ zona hujan abu vulkanik. Karena sifat abu vulkanik dapat menyusup semua bangunan paling tertutup rapat dan mesin dan seringkali cukup kecil (kurang dari 10 mikron) yang perlu diwaspadai jangan sampai terhirup dalam paru-paru. Huja abu jatuh di wilayah yang luas dapat menganggu perjalanan selama berhari-hari kadang menjadikan kita frustasi tapi kita harus tetap menjaga kesehatan. Pemadaman listrik dapat terjadi sebelum, selama, dan setelah jatuh abu baik karena kegagalan peralatan atau karena fasilitas untuk sementara dimatikan untuk mencegah kerusakan. Setelah itu, seringkali angin menimbulkan abu untuk terbang bebas dan liar apalagi terbawa oleh kendaraan yang melintas baik yang dibawa oleh kendaraan relawan atau pengguna jalan. Jadi, sebaiknya kita menahan diri dari menggunakan kendaraan bermotor jika tidak perlu dalam rangka mengurangi dampak yang diakibatkannya. Kita, jika tidak memberikan solusi, jadilah minimal bukan bagian dari masalah, jika ini bisa lakukan: to be the no impact man. Jadilah orang yang tidak menambah masalah adalah hal baik untuk dilakukan.

Untuk itu di bawah ini penulis sampaikan beberapa prinsip-prinsip umum akan mengurangi efek abu vulkanik yang sampai sekarang menjadi masalah sekitar Merapi, semoga ini adalah manfaatnya bagi kita semua:

1. Jauhkan abu vulkanis sebisa mungkin dari bangunan, mesin, kendaraan, pasokan air minum dan kamar mandi. Metode yang paling efektif untuk mencegah dampak adalah dengan menutup, menutup atau segel peralatan sampai abu hilang dari lingkungan sekitarnya, namun ini mungkin tidak praktis dalam semua kasus, terutama untuk fasilitas penting.

2. Minimalkan penyebaran abu di udara dan tubuh kita dengan menggunakan masker debu atau filter (atau kain basah, misalnya saputangan) dan mengurangi perjalanan terutama yang menggunakan kendaraan.

3. Mengkoordinasi bersih-bersih kegiatan dengan tetangga dan operasi masyarakat luas (belajar bersih-up pedoman dan instruksi dari masyarakat lokal dan para pemimpin). Setelah jatuh abu, segera memberitahu pemilik bangunan untuk menghilangkan abu dari atap pada waktu yang tepat untuk mencegah masuknya ke tempat seperti air bersih dan melalui pernafan kita-paru-paru.

4. Carilah informasi sebanyak-banyaknya dari aktivitas gunung berapi di wilayah Anda, khususnya selama masa darurat, dan tahu apa yang diharapkan, termasuk jenis letusan yang dapat terjadi dan berapa banyak peringatan mungkin untuk jatuhnya abu di daerah Anda setelah letusanterjadi. Pelajari tentang prosedur evakuasi, jika ada, di wilayah Anda.

5. Siapkan untuk keadaan darurat dengan memiliki perlengkapan kritis dan persediaan yang dibutuhkan untuk mendukung keluarga Anda dan masyarakat untuk setidaknya beberapa hari, misalnya, makanan, air, obat-obatan, dan tempat tinggal, masker debu dan peralatan perlindungan lainnya seperti kendaraan angkut.

6. Memberikan informasi sering dan langsung kepada masyarakat tentang abu vulkanik, termasuk petunjuk untuk berpartisipasi dalam operasi bersihbersih dengan menyiram air ke jalan dan sebagainya.

7. Tetap waspada dan berdoa untuk keselamatan semua. Jaga diri, jaga kesehatan, menolong diri sendiri agar bisa menolong orang lain.

Demikian semoga ada manfaat, silakan di-share- ke teman, keluarga, dan siapa saja yang peduli sesama.

Hi, Oct 30/10/2010

(Dari beberapa sumber)

Bencana dan Tanda-tanda Zaman October 31, 2010

Posted by lapsippipm in Read n Learn.
add a comment

David Efendi

Salah satu tujuan menulis dan mengumpulkan beberapa ciri dan tanda gejala-gejala alam yang sering melanda negeri ‘zamrud bencana’ atau ‘negeri 1001 bencana’ adalah hasrat ingin berbagi lantaran saya sendiri tidak berkuasa atas tanda-tanda alam yang makin sulit diprediksi dan kecanggihan ilmu pengetahuan dan tekhnologi juga belum mampu memberikan gambaran dan kemungkinan yang pasti tentang tanda-tanda berakhirnya zaman dengan diawali berbagai bencana alam seluruh dunia 10 tahun terakhir ini. Ketika gempa mengguncang Yogyakarta pada 26 Mei 2006 yang lalu, saya sendiri tidak mengerti apa yang menjadi pertanda, dan ratusan ribu orang mungkin sama dengan kemampuan saya yang tidak becus membaca alam.

 

Misi kedua, dalam menulis ini adalah ingin mendapatkan kepastian tentang pertanda-pertanda alam yang akan saya cantumkan di catatan ini, apakah masih berlaku, sudah tidak berlaku sama sekali dan bagaimana ilmu pengetahuan baru apakah sudah menemukan gejala pertanda akan datangnya bencana baik gempa, tsunami, gunung meletus, Banjir, dan sebagainya. Berikut ini adalah sekumpulan pengetahuan yang terserak:

Tanda-tanda akan terjadi Gunung Merapi akan meletus:

  1. Terjadinya gempa lokal biasanya disebut gempa vulkanik. Kalau muncul gempa di daerah gunung berapi, warga pun segera waspada
  2. Binatang yang turun dari gunung. Binatang pertama yang akan turun burung, diikuti monyet, harimau dan landak. Jika landak sudah turun gunung segera meletus
  3. Meningkatnya suhu di sekitar daerah gunung berapi. Semakin dekat cairan itu menunju kawah gunung, suhu di sekitarnya pun akan berubah jadi lebih panas.
  4. Mata air di sekitar gunung akan mongering. Lihat tanda gunung akan meletus poin ketiga.
  5. Tumbuh-tumbuhan atau tanaman di wilayah gunung berapi akan layu dan mati kering.
  6. Hujan abu vulkanik (bisa setelah letusan atau antar letusan)

Tanda-tanda akan terjadi Gempa Bumi:

  1. Di langit ada awan yang berbentuk seperti angin tornado/seperti pohon/seperti batang, bentuknya berdiri, itu adalah awan gempa yang biasanya muncul sebelum gempa terjadi.
  2. Lampu neon tetap menyala redup/remang-remang biarpun tak ada aliran arus listrik.
  3. Air tanah tiba-tiba menjadi surut tidak seperti biasanya.
  4. Hewan-hewan seperti “menghilang”, lari atau bertingkah laku aneh/gelisah. Insting hewan biasanya tajam dan hewan bisa merasakan gelombang elektromagnetis.

Tanda-tanda akan terjadi Tsunami:

  1. Jika terdengar suara abnormal setelah terjadinya gempa. Seperti bunyi helikopter, suara drum band, serta desingan roket.
  2. Sesaat sebelum tsunami datang terjadi angin dengan hawa agak dingin bercampur dengan bau garam laut yang cukup kuat, yang kemungkinan besar akibat tolakan air laut di lepas pantai
  3. Air laut yang surut secara tiba-tiba.
  4. Dari kejauhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat keras.
  5. Binatang keluar dari tanah (ular), dan sebagian berlari menuju tempat yang lebih tinggi atau menjauh dari arah laut.
  6. Masuknya air ke saluran sungai secara mendadak dari arah laut.
  7. Ada tinkah laku hewan (Gajah, anjing, burung,…)yang tidak biasa pada umumnya. (kita mesti sensitive)

Sebagai catatan menurut ahli bahwa tsunami terjadi jika : Gempa besar dengan kekuatan gempa > 6.3 SR, lokasi pusat gempa di laut, kedalaman dangkal < 40 Km, terjadi deformasi vertikal dasar laut. Tsunami di Indonesia pada umumnya adalah tsunami lokal, dimana waktu antara terjadinya gempa bumi dan datangnya gelombang tsunami antara 20 s/d 30 menit.

Tanda-tanda akan terjadinya banjir bandang:

  1. Curah hujan di bawah normal dengan pola hujan berintensitas tinggi dan durasi singkat serta kemampuan intersepsi tajuk dan infiltrasi tanah terbatas merupakan tanda-tandanya. Kondisi ini sering tidak disadari karena El Nino sering kali dihubungkan dengan kekeringan, akibatnya antisipasi terjadinya banjir tidak dilakukan secara proporsional.
  2. Lainnya?

Hewan-hewan lebih dekat dengan alam daripada kebanyakan manusia. Alam merupakan tempat tinggal para hewan sejak awal mereka ada di bumi. Bahkan bila hewan dijadikan binatang peliharaan dan tinggal di rumah bersama-sama manusia, insting hewan tak berkurang. Mereka masih memiliki koneksi erat dengan alam.

Seperti yang sudah sering kita saksikan dan hadapi, banyak sekali bencana alam terjadi belakangan ini. Bahkan bisa lebih banyak lagi akibat kerusakan-kerusakan yang dibuat sendiri oleh manusia. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, badai, topan semuanya memakan banyak korban jiwa dan materi. Pengalaman membuktikan bahwa hewan-hewan dapat mendeteksi dini bencana alam dan membuat mereka selamat dari bencana. Kita sebagai manusia dapat memperhatikan hubungan erat antara hewan dengan alam yang nantinyapun akan dapat membantu kita mengurangi resiko dari bencana alam, termasuk kemungkinan menyelamatkan nyawa kita.

Apakah ini pertanda zaman berakhir? bumi sudah tua dan kehidupan sudah saatnya diperbarui dengan cara tuhan? kita belum tahu makanya kita berusaha belajar dan mencari tahu apa kehendak tuhan dan alamnya.

Di atas merupakan usaha penulis mengumpulkan dari berbagai sumber dan penulis tidak tahu pasti apakah pertanda tersebut harus direvisi, jika ya yang mana kira-kira yang sudah tidak menjadi gejala sehingga public mengetahui yang mendekati benar. Jika tidak, maka kita akan kembali mencari ‘tuhan’, atau kembali ke masa lalu dengan menghidupkan kembali kearifan lokal, budaya lokal, dan sebagainya yang ramah dan bersahabat dengan alam sehingga alam pun terkembang untuk kebahagiaan manusia dan bukan bencana.

 

Salam

Oct 2020

Daftar Harga Pelangi Mizan Dian Semesta October 31, 2010

Posted by lapsippipm in Books News.
add a comment

TAFSIR AL MISBAH

Harga 1.976.000,-

diskon 10%

SERI FOR BEGINNER

HARGA RP 540.000,-

Diskon 10% Rp 480.000,-

ENSIKLOPEDIA OXFORD DUNIA ISLAM MODERN

HARGA Rp. 2.140.000

HARGA TUNAI DISKON 30% Rp. 1.500.000

ATLAS BUDAYA ISLAM

HARGA: Rp. 800.000

Harga Tunai, diskon 20

CERITA BINATANG BEERIMA DUA BAHASA

Harga 950.000,-

Harga Tunai diskon 10-20%

I LOVE MY AL-QUR’AN (ILMA)

Harga normal Rp 2.600.000,-

Cash discount 10% jadi Rp 2.340.000,-

Cicilan 2 kali : 2 x Rp 1.230.000,-

Cicilan 3 kali : 3 x Rp 827.000,-

Cicilan 4 kali : 4 x Rp 625.000,-

Cicilan 5 kali : 1 x Rp 650.000,- selanjutnya 4 x 483.000,-

Cicilan 7 kali : 1 x Rp 650.000,- selanjutnya 6 x 356.000,-

Cicilan 13 kali : 1 x Rp 650.000,-selanjutnya 12 x 205.000,-

ENSIKLOPEDI BOCAH MUSLIM (EBM)

Harga normal Rp 2.400.000,-

Cash discount 10% jadi Rp 2.160.000,-

Cicilan 2 kali : 2 x Rp 1.135.000,-

Cicilan 3 kali : 3 x Rp 763.000,-

Cicilan 4 kali : 4 x Rp 577.000,-

Cicilan 5 kali : 1 x Rp 600.000,- selanjutnya 4 x 446.000,-

Cicilan 7 kali : 1 x Rp 600.000,- selanjutnya 6 x 329.000,-

Cicilan 13 kali : 1 x Rp 600.000,-selanjutnya 12 x 189.000,-

NABIKU IDOLAKU (NBI)

Harga normal Rp 1.860.000,-

Cash discount 10% jadi Rp 1.674.000,-

Cicilan 2 kali : 2 x Rp 884.000,-

Cicilan 3 kali : 3 x Rp 594.000,-

Cicilan 4 kali : 4 x Rp 449.000,-

Cicilan 5 kali : 1 x Rp 465.000,- selanjutnya 4 x 347.000,-

Cicilan 7 kali : 1 x Rp 465.000,- selanjutnya 6 x 286.000,-

Cicilan 13 kali: 1 x Rp 465.000,- selanjutnya 12 x 147.000,-


HALO BALITA (HB)

Harga normal Rp 1.340.000,-

Cash discount 10% jadi Rp 1.206.000,-

Cicilan 2 kali : 2 x Rp 636.000,-

Cicilan 3 kali : 3 x Rp 432.000,-

Cicilan 4 kali : 4 x Rp 330.000,-

Cicilan 5 kali : 1 x Rp 335.000,- 4 x Rp 249.000,-

Cicilan 7 kali : 1 x Rp 335.000,- selanjutnya 6 x Rp 235.000,-

Pesan sekarang juga!!
Kami melayani pemesanan secara kredit maupun tunai.
David Efendi & Rifatul Anwiyah, book adviser of Mizan
Hp. 081357180841 (Rifatul Anwiyah)
Email: masdavid_4all@yahoo.com
Fb: David efendi, Derrida hafiz

Aburizal Bakri Is The Real President October 20, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

By David Efendi, TukangKritik.com

“Jika tahun 2004-2009 “JK is the real president”, maka tahun 2009-sampai hari ini The Real President itu adalah Aburizal Bakri. Dia beribu kali lebih hebat dari pak Beye yang bukan presiden sesungguhnya lantaran ABR bisa menembak lebih cepat dari bayangannya”

(Depkpendi, 2010)

“Kapan Indonesia dewasa, kalau kita menjatuhkan pemerintahan di pertengahan jalan”

(The Real President, Aburizal Bakri, antaranews.com)

“Indonesia ini seperti kampung tak bertuan. Ada pemimpin, ada elit, tapi tidak dirasakan kerjanya”

( Buya Syafii Maarif, Detiknews.com, 10/6/2010)

Note: Tulisan ini, murni bukan fitnah, sebagai kegelisahan penulis karena banyaknya orang yang membela pak beye secara membabi buta dan serampangan. Beberapa status facebook penulis dikomentarari dengan nada yang negatif seolah pak Beye itu dewa dan can do no wrong dan bahkan disampingkan dengan nabi atau wali sehingga orang yang penjilat, membela pak beye seperti merasa sedang jihad. Ini konyol tapi ini bukan poin saya menulis di Kompasiana. Ini hanya sekedar catatan bahwa penulis siap dikritik sekeras apa saja karena keyakinan saya mengkritik penguasa adalah bagian dari jihad karena kesalahan penguasa menyangkut hajat hidup orang banyak, mempunyai dampak yang besar bagi kelangsungan hidup anak bangsa. Jika pencuri ayam ditangkap, kenapa penjual aset negara, membuat kaya pengusaha hitam tidak ditangkap. Mana yang lebih bahaya seorang prita? seorang nenek tua yang dipenjarah dan sebagainya. Bagi para pembela pak Beye sadarlah bahwa mengkritik penguasa jauh lebih mulia dari membelanya-wong salah kok dibelah, dikirik tidak mau, dikasih nasehat cuek bebek saja. Ini bukan presiden, pak beye bukan hanya gagal, tapi dia cukup diberi gelar presiden gila album. Any way, selamat membaca!

Dari kompasiana dan kompas cetak yang saya baca online saya melihat banyak kalangan yang obyektif menilai kegagalan Pak Beye atau Pak Susi menjalankan praktek kekuasaan yang memihak pada rakyat miskin dan kesuksesan pak beye mengabdi pada kekuatan invisible hand yang dikendarai oleh kelompok pebisnis hitam, koruptor kelas kakap, kapitalis-neoliberal lintas negara dan tentu saja mengabdi pada kebesaran bapak kapitalisme dunia: Adam Smith (1776) dan kru-nya. Ini obyektif sebab kegagalan dan kesuksesan pak beye ditampilkan bersamaan dan tentu rakyat perlu dididik untuk melek politik yang sebenarnya sebab saya sangat menyayangkan kelompok pembela beye, istana negara, partai demokrat (mengaku demokrat isinya anti-demokrasi), para oprtunis selalu mengklaim bahwa rakyat sudah pintar, rakyat sudah memilih pak beye dan kadang geli mereka menyuruh kita ikut pemilu dan memenangkan pemilu, Orang yang tak begitu mengerti politik kadang ngawur seolah pemilu itu betul-betul legitimate dan relaiable bukankah pemilu hanya salah satu sudut kecil mekanisme demokrasi. Banyak pembodohan dalam pemilu, banyak manipulasi, dan skandal sehingga kita perlu paham bahwa pak beye hanya dipilih pengurus partai demokrat saja, yang lain itu oportunis dan korban kebohongan janji-janji juru kampanye pak Beye yang diboncengi ‘mavia’ pemodal-pembunuh berdarah dingin.

Pak Beye sama sekali bukanlah presiden rakyat. Dalam kekuasaan pertama 2004-2009 presiden sebenarnya adalah Yusuf Kalla (JK), dan jilid dua sebenarnya yang menentukan kebijakan pemerintah adalah Aburizal Bakri(baca: ARB) sehingga ia layak dijuluki the real president hari ini. Pak Beye hanya wayang yang tidak bisa berbuat banyak dan hanya jadi budak kapitalis atau sekedar main nyanyian dan bikin lagu atau mengadu kalau sedang difitnah, siserang dan mengembik seperti kambing terinjak gajah hamil atau analogi yang lebih humanly ibarat wayang dan dalangnya adalah Ki Ical Bakri sebagai the Man behind the Scane. Orang awam juga punya perumpamaan jika pak beye ibarat bulan Ki Bakri adalah mataharinya, jika pak beye ibaratkan paku maka pak Bakri adalah palunya sekaligus tukang pukulnya.

Mengapa ARB sebagai the real president? beberapa alasan dibawah ini barangkali akan menambah senewen para pendukung fun berat album pak beye dan menambah cerdas para tukang kritik pemerintah dan penguasa (two thumbs up for you). Alasan pertama sebagaimana para ‘rakyat kompasiana dan juga beberapa pakar/ ilmuwan yang tentu saja punya nilai ‘obyektifikasi’ lebih dari LIPI seperti Pak Ikrar Nusa B, Pak Haris, dan Ibu Kurniawati yang tetap kritis menyampaikan pemikiran jernihnya bahwa kira-kira ‘kegagalan’ Pak Beye harus dikritik dengan jujur dan besar hati menerima sebagai take and give atau give and take, bukan dilawan dengan teror dan over self-defense yang tidak perlu. Cukup berlindung dibelakang ARB sudah cukup aman, kalau kurang aman sembunyi digunung uhud sambil Haji atau umrah. Semua orang tahu, bahwa ARB adalah pelindung pak Beye paling hebat dan bahkan lebih kuat dibandingkan jendral atau kopasus atau BIN yang sering salah tangkap dan salah memberi resep kepada pak beye (red: Kasus pak Beye merasa akan dibunuh). Padahal sejatinya pak Beye ini powerlessness makanya kadang penulis ragu bahwa mengkritik pak beye bia mengubah keadaan tapi kalau tidak dikritik pak ARB bisa makin berjaya dengan gerbong kapitalis lainnya. Para demonstran boleh saja menaikkan (maximazing) tuntutannya sebab penguasa juga memaksimalkan keuntungannya dengan bergandengan dengan kapitalis sehingga game ini belum selesai dan demonstrasi adalah proses sadar masyarakat yang mutlak harus dihargai sebagaimana bangsa Eropa, Amerika sampai hari ini tetap menggunakannya sebagai sarana protest bahkan protes ke Obama lebih keras dari pada di Indonesia yang baru sebatas membakar foto Pak Beye atau membawa Sapi ke Ibukota.

Alasan kedua, Pak beye berderet-deret kegagalannya mulai dari ketidakmampuan mengamankan teritorial dan rakyat dari berbagai kematian massal baik karena bencana perusahaan atau bencana yang diakibatkan negara lalai atau penghinan dari bangsa lain atas TKI dan TKW/TKW kita. Sekuritas adalah hak asasi manusia yang pelaksanaanya diserahkan kenegara lewat polisi dan tentara dan juga pamongpraja, hansip, sampai preman jalanan (informal instititution, shadow state). Kelompok pemodal besar yang kuat menekan pemerintah juga bagian dari preman atau shadow state (Reno 1993). Pak Beye terkesan membiarkan dan membenarkan tesis bahwa tentara dan polisi dibentuk bukan untuk melindungi warga tapi menakuti dan menteror, menculik, atau menjaga presiden jika ada demonstrasi besar-besaran. Hal ini serupa dengan kata-kata George W. Bush bahwa Tentara diutus ke Irak atau Afghanistan bukan untuk membangun bangsa tapi untuk memenangkan perang (Fukuyama, 2006). Jadi pak Beye menerapkan hukum rimbah, yang lemah hancur yang kuat makmur. Jadi pak Beye gagal menerapkan prinsip dasar: Defense its self. Tirani mayoritas yang menindas minoritas terus bermunculan negara seolah diam sebagai pemadam kebakaran atau penjaga kuburan. Inikah bangsa yang penganut agama yang menjunjung moralitas? Ironis!

Ketiga, Tentu saja kedaulatan pangan tidak terwujud dan penderitaan rakyat makin berat, kemiskinan belum berangsur susut tapi kualitas orang miskin semakin parah tingkat ambang batasnya. Bukan saja dibawah garis kemiskinan tapi satu jengkal menuju kematian alias sekarat. Pemerintah hanya bisa klaim sana-sini, manipulasi data dan sebagainya. Sialnya, bencana bertubi-tubi pak beye hanya menjadi artis datang dan membawa rombongan yang hanya nyengir di depan TV. Tentu saja anggaran negara dipakai untuk seremonial. Hal ini disinggung Pak Ikrar dalam opininya di Kompas yang membandingkan pak Beye dengan Presiden Chile, Sebastian Pinera, yang jauh berbeda lantaran presiden Chile itu hadir disaat genting memberikan empati dan support pada korban pertambangan (Bakti 2010 dalam ‘sebelum prahara’). Dalam hal ini Pak Pak Beye melanggar hukum alam ke dua syarati negara kuat: feed its self!. Jujur saja banyak di negeri kita ini membenarkan ayam mati dilumbung padi (pepatah umum), menjadi gelandangan di negara sendiri dan orang laian (Cak Nun), atau menjadi kuli negara sendiri dan menjadi kuli bangsa lain (Soekarno). Orang lapar, tidak punya rumah mungkin jumlahnya tidak pernah dilaporkan negara. Negara yang imsomnia, lupa daratan dan lupa lautan tapi tidak lupa membuat lirik lagu atau ‘nyanyian’ sumbang di TV di kelilingi para jubir dan jablay. Untuk memahami ini lebih detail silakan baca Ivan Hadar dalam opininya ‘stagnasi angka kemiskinan’ (kompas, 14/7/10). Di bawah pemerintahan pak Beye, bangsa ini tidak hanya kehilangan kedaulatan pangan, tapi hampir semua kedalauatan digadaikan ke penguasa modal baik dalam atau luar negeri. Century gate yang tidak selesai, tumbal mertua dipenjarah adalah rangkaian skandal perlindungan terhadap koruptor dan pengusaha nakal kelas berat (yang ditangkap hanya kelas coro).

Alasan keempat (banyak lagi kalau mau ditulis) dan tidak kalah pentingnya adalah hukum yang sudah dikhianati pak Beye yaitu pemerintah yang kehilangan independensi, presiden yang loyo, lemah, dan powerlessness dibawah ketiak kapitalis, sekelas ABR yang menguasai jagat politik istana negara dan nasib pak Beye seolah dikepalan tangan ABR sehingga kedua orang ini makin mesra untuk saling bermain mata dan dagang babi. Ketika pak beye takut dilengserkan ABR datang membawa asuransi ‘jiwa’ dan ‘kursi’ kepresidenan dan ketika ABR tidak membayar pajak atau menelantarkan koran lapindo dan pencemaran maka pak Beye datang bawa kuitansi pembayaran pajak dan seterusnya mereka bermain game (game theory) dan keduanya adalah model win-win solution atau win-win situation, tapi rakyat kebanyakan-lah yang kalah (the losers) dan merana akibat ulah kedua orang tersebut. Untuk mengilustrasikan kedua orang yang bermain catur di meja Indonesia dan memegang nasib anak-anak bangsa bisa dilihat gambar di sebelah ini yang ada dua orang bermain catur dan hidunya dijepit lantaran kotornya permainan dan baunya persekokongkolan busuk ini. Point disini adalah negara kehilangan kedaulatan cara memerintah secara akal sehat dan bersih dalam rangkah melindungi dan membela hak rakyat. Penyakit kegagalannya adalah tidak mampu govern itself tapi disetir informal state atau driven by shadow state. ABR adalah salah satu senior presiden negara bayangan tersebut.

Dalam konteks ini Pak Beye sudah menjalankan bisnis kotor, menghidupkan bandit politik, sebagai aktor atau memelihara strongman yang sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi monster yang kejam dan kekejaman itu digunakan untuk membunuh rakyat secara perlahan-lahan tapi penuh kepastian (slowly but sure). Lihat saja petani yang kehilangan lahan suburnya, nelayan yang tidak punya pancing, atau tidak tahu dimana harus memancing lantaran kapitalisme dan penguasaan perairan untuk kapal-kapal besar dengan jaring pukat harimau yang mampu menangkap ikan dari dalam kandungan sampai yang besar atau yang hampir mati karena usianya. Petani kecil tidak dapat apa-apa begitu juga nelayan. dari sini apa yang pemerintah sudah kerjakan? jika reshuffle, maka reshuaflle tidak cukup hanya menterinya (jongosnya pak Beye), tapi presidennya harus juga di-reshuffle atau biar jelas penguasanya, KI Dalang Ikal Bakrie duduklah sebagi presiden di Itanah negara agar rakyat tahu siapa yang sebenar-benar berkuasa atas nasib dan hajat hidup orang banyak.

Lebih dari 6 tahun menonton wayang Pak Beye yang dijuluki ‘presiden’ rasanya dah tidak tahan, enam tahun sudah menyaksikan jarak jauh lagu dalam albumnya yang sudah masuk materi ujian CPNS dan bentar lagi akan masuk dalam kurikulum sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Makanya dengar dan hafalkan baik-baik lirik dalam lagunya, sentuhan feminimnya, dan catat dalam otak sebelum pergi ke tempat ujian pegawai negeri atau sertifikasi. Jadi, setahun ini menahan kegelihan dan kesedihan sekaligus. bagaimana tidak? rakyat miskin papa disuruh berharap sama wayang beye smeentara dalangnya bisa berbeda opsi. Ki Ical bakri atau ARB bisa pakai jurus mabok, dewa menyembur lumpur lapindo, dan atau pakai jurus yang pak beye tidak bisa memerankannya: menembak lebih cepat dari bayangan. Sekali lagi, harapan rakyat tinggal harapan diujung langit.

Sebagai tambahan, penulis sadar mengkritik saja tidak cukup dan sementara hanya bisa mengkritik sebagai wujud cinta pada bangsa, empati pada rakyat miskin, dan dibodohi (walau kata pembela pak beye rakyat sudah pintar sehingga memilih pak beye dengan sadar). Yakinlah rakyat belum pintar berpolitik, rakyat hanya kuat menanngung beban dan derita yang pak beye saja tidak akan sanggup menahannya. Jika penderitaan sudah seberat gunung ditambah keluh kesah pak beye di depan layar televisi tidak sedikitpun membuat anak bangsa tersenyum dan bangkit malah lemas dan frustasi sehingga wajar banyak kekerasan di sana-sini lantaran negara tidak hadir sebagai pembela kepentingan rakyat(the have not, powerless) tapi membudak pada kekuasaan modal dan kaum berpunya (the haves).

Pak Beye memang sosok fenomenal, diberikan gelar presiden pilihan rakyat meski hanya 60,80% dari jumlah pemilih atau sekitar 73.874.562 (kurang dari 1/3 jumlah penduduk sejumlah 238 jt), ini termasuk di dalamnya yang salah coblos atau manipulasi kertas suara (kpu.go.id). Kenyataanya, 6 tahun hanya jadi wayang dan bukan the real president. Seorang presiden akan meninggalkan kesan yang berarti bagi rakyat miskin bukan hanya kesan ganteng dan gagah di layar tv. Sebelas tahun bukan waktu yang singkat bagi kaum miskin yang mendesak harus segera ditolong dan negara yang mempunyai kekuasaan untuk menolong dan hanya pemimpin negara yang kuat yang bisa membela rakyat miskin seperti Hugo Chaves, Che, Mahatma Gandhi, Evo Morales, Soekarno, Hatta, atau Ahmadinejad, Fidel castro tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya mereka tampil sebagai pemimpin berkarakter kuat dan bukan menjadi wayang apalagi hanya paku, atau babi buta. Ini dramatis tapi inilah faktanya kemenangan kapitalis yang bersekongkol dengan penguasa yang seolah-oleh menjelma sebagai presiden sebagai konsep negara modern dan demokrasi. Demokrasi prosedural atau pemilihan langsung bukanlah legitimasi untuk melakukan pelemahan terhadap hak asasi rakyat, hak keamanan, dan mendapatkan pekerjaan serta kehidupan yang layak. Jika penguasa sudah jatuh ke tangan kapitalis maka anarki, despotis, kleotokrasi, dan oligarki adalah kenyataan pahit yang mesti diterima rakyat yang lemah tidak berdaya.

Menyerahkan ‘demokrasi’ rakyat ke tangan-tangan yang tidak pro-rakyat yang tercermin dalam menteri-menteri dan pejabat incompetence adalah kesalahan terbesar Pak Beye, dan menyerahkan sistem ekonomi pada golongan neoliberal dan kapitalis/pengusaha hitam adalah kesalahan maha akbar pak Beye yang dampaknya tidak hanya di dunia tapi sampai diakherat (bagi yang yakin). Rakyat menjadi korban sampai anak cucu dan cicitnya tak terperihkan penderitaannya. Banjir Wasior, Lapindo, Prita, kasus Mbah priuk adalah salah satu contohnya. Sekali lagi pilihan pemerintah merapat dan menerapkan sistem perekonomian pada kekuatan invisible hand. market oriented tidak hanya mengkhianati pemikiran cerdas Soekarno dan Hatta dalam konsepnya ‘Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi’ tapi juga bertentangan dengan konstitusi tertinggi negara kesatuan Republik Indonesia (UUD 1945) yang menentang perekonomian liberal dan tarung bebas yang mematikan kelompok yang lemah dan miskin. Jika penguasa sudah melanggar konstitusi, apa ada alasan untuk tidak menggulingkan, menggusur, melengserkan ke prabon? Apa masih ada alasan untuk dipertahankan? Mungkin ada yang membatin biaya politik mahal, tidak ada yang lebih hebat dari pak Beye (ada Pak Ical Bakri!), atau ada juga yang nyeletuk ini omong kosong atau bullshit dan sebagainya.

president Bakrie didampingi wapres Budiono

Sebelum ada yang menanyakan solusi, penulis sampaikan juga ide menyelamatkan bangsa dari korban pencaplokan penguasa yang bersekongkol dengan pengusaha hitam maka yang pertama harus ada perubahan besar, resafle yang radikal yaitu resafle presiden jika tidak mau berubah dan berbalik arah. Penguasa atau presiden harus kuat, tegas, tidak mudah mengeluh, berani mengabil resiko, berani melawan kekuasaan kapitalis dan neoliberal, berani menolak hutang luar negeri, berempati pada penderitaan rakyat, dan menjalankan konstitusi UUD 1945 secara murni dan konsekuen terutama pasal berkaitan fakir miskin, bumi dan air pasal 33 dan yang terpenting tidak mengabdi pada pasar, pada setan pengusaha busuk. Jika tidak, ujungnya-ujungnya Aburizal Bakri is the Real President dan akhirnya saya hanya bisa berceloteh: Pak Susi, selamat ya atas terbit album ketiganya! Terus berkarya, jadilah penyanyi, artis, dapatkan Nobel, dan gelar pahlawan. Untuk para pejuang, Selamat melawan!

Bersambung (tulisan berikutnya: Dari Plato Sampai Peno Minta Pak Beye Mundur!)

HI, Oct 19,2010

Melabeli Indonesia Kita October 18, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

By David Efendi

“Indonesia, Ultimate Diversity!”

(Slogan ‘Marketing’ Indonesia)

Di Indonesia ‘nama’ atau label seringkali mencerminkan perilaku sebagaimana orang awam yang penuh kejujuran mungkin filosofis. Misalnya orang yang tidurnya susah dibangunkan dan mendengkur maka dijuluki atau dinamai/diberi label ‘kebo’ –sebangsa sapi, sehingga sehari-hari orang tersebut dipanggil kebo. Saya menduga di masyarakat Indonesia banyak menolak apa yang dikatakan oleh Shakispere tentang what is a name; atau jika diartikan secara bebas, apalah artinya sebuah nama/label. Bagi banyak komunitas Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh kultur arab dan Islam meyakini betul bahwa nama adalah doa sehingga setiap orang tua berusaha memberikan nama-nama terbaik untuk anak-anak-nya, sesuai harapan dan impian sementara komunitas lain melabeli anaknya berdasarkan isyarat mimpi, atau fenomena alam sekitarnya seperti nama-nama pada zaman majapahit atau beberapa marga di Sumatra Utara. Kebiasaan ini ternyata ada kemiripan ketika negara negara dilabeli bahkan mencari lebel sendiri seperti dalam berbagai slogan negara; Indonesia Ultimate Diversity, Amazing Thailand, Malaysia Truly Asia, Incredible India, Cambodia the Kingdom of Wonderful, dan seterusnya.

Saya ikut menikmati dan menyaksikan obrolan di warung-warung angkringan di sudut-sudut Kota Yogyakarta bahkan di sudut-sudut lain Indonesia yang maha luas ini bagaimana orang berfikir ‘ilmiah’ dengan membuat nama-nama tentang Indonesia, tentang pemimpinn pilihan sadar atau tidaknya. Ini sebenarnya salah satu tradisi ilmiah atau street knowladge, atau intelektual jalanan yang mencoba mengkonsepsikan obrolan ke dalam kata-kata yang muda diingat dan berkarakteristik. Seperti halnya para profesor atau Indonesianis yang melalang buana ke Indonesia untuk gelar doktornya untuk sekedar menanamai Indonesia itu sebagai makhluk apa atau binatang apa.

Nama-nama atau label untuk Indonesia tidak hanya berasal dari bangsa atau masyarakat Indonesia tapi juga berasal dari kelompok Indonesianis, professor dari luar negeri yang menggondol doktornya dari ‘hanya’ sekedar menciptakan nama-nama untuk Indonesia atau gaya kepemimpinan presiden di Indonesia. Beberapa nama, untuk menyebutkan beberapa, indonesia dilabeli dengan berbagai jenis dan nama mulai nama yang bagus sampai nama yang tidak mengundang kebanggan sama sekali seperti Indonesia negara zamrud katulistiwa, negara maritim, negara kepulauan, negara pancasila, negara berketuhanan, negara demokrasi pancasila, negara otoritarian, negara otoritarian-birokratic, negara demokratik-kapitalis, negara gagal, negara lemah, dan sebagainya.

Sedangkan untuk pemimpin atau presiden Indonesia dari obrolan kopi sampai profesor di Amerika berkontribusi membuat nama-nama ‘julukan’–nama-nama yang informal yang diberikan untuk penguasa Indonesia. Jika dari warung angkringan menghasilkan kesimpulan bahwa Soekarno gila wanita, soeharto gila harta, Habibie Gila Technologi, Gus Dur bapak pluralis, Soekarno Bapak revolusi, Soeharto Bapak Pembangunan, sementara SBY gila Album. Dari gaya kepemimpinan memunculkan tipe kepemimpinan solidarity maker dan administrator, gaya sipil dan militer dan mungkin banyak label yang belum tersebut di sini.

Jika street knowledge melabeli Indonesia tanpa peduli karakter-karakter yang harus disistematisasi maka kelompok ilmuwan melabeli dengan diikuti argumentasi, karakteristik, ciri-ciri yang melekat pada nama-nama tersebut sehingga terkesan ilmiah dan mengikuti prosedur penulisan akademik yang tentu saja dijadikan senjata untuk mendapatkan gelar doktor, profesor dan ahli Indonesia atau ahli kawasan A, B, dan seterusnya. Tapi pertanyaanya adalah label-lebel yang sifatnya akademik itu sangat didominasi oleh peneliti asing dari pada peneliti asli Indonesia. Penulis jadi terfikir, seperti analogi bahwa bangsa Indonesia adalah bayi sehingga tidak kuasa menamai dirinya sendiri artinya perlu outsider untuk menamai-nya dan bisa jadi kalau besar bayi itu mengubah nama sendiri sesuai selera tapi sayang dunia terlanjur mengenalnya lantaran akademik knowledge jauh melampau batas strees knowledge (intelektual jalanan) dalam hal marketing gagasan di dunia Internasional.

Sebagai sekedar informasi, nama-nama untuk Indonesia yang dikategorikan hasil kerja akadmik seperti Indonesia negara kolonial, negara demokrasi ‘pancasila’, negara birokratik otoritarian (Red: Orde baru-Orde baru atau orde lama sendiri sebenarnya bukan berasal dari orang Indonesia asli), negara pluralis (pluralism nation-state), Indonesia negara demokrasi kapitalistik, negara gagal (failed atau failing state), negara lemah (weak state). Sedangkan gaya kepemimpinan Indonesia yang dikenal di dunia akademik adalah kepemimpinan solidarity maker dan gaya sipil atau militer. Beberapa penjelasan dibawah ini barangkali sedikit membantu.

Di tempat pertama Indonesia dilabeli sebagai kolonial di Indonesia (1602-1945). Sekitar 350 tahun Belanda memerintah Indonesia (Nusantara) sebagai “Hindia Belanda”. Mereka dieksploitasi dan mempengaruhi kerajaan dan masyarakat, mereka menciptakan kelas menengah baru dari Arab, cina untuk melawan dominasi kekuasaan feodal di Indonesia. Bernama di Indonesia berasal dari etnolog Inggris, George Earl pada tahun 1850. Sebelum waktu itu tanah ini disebut “Nusantara”. Beberapa negara yang dijajah Indonesia adalah Portugal, Belanda, dan Jepang. Portugal (lebih dan kurang 350 tahun) hanya dijajah bagian timur Indonesia. Belanda yang paling kuat antara lain, menjajah Indonesia selama 350 tahun. Sekali lagi, Anda mungkin mengenali beberapa generasi yang telah mewarisi kulit rambut, Eropa, dan beberapa karakteristik fisik. Jepang yang terakhir. Mereka terjajah kita 1942-1945.

Kedua, Indonesia sebagai negara pluralis. Indonesia sebagaimana dinyatakan di atas akar multikultural yang terpengaruh secara signifikan dalam membangun Nation-State. Kita bisa melihat ini dari “Sumpah Pemuda” (Young gerakan, 1928) yang menyatakan kesatuan etnis di Indonesia sebagai Unity bagi bangsa, maka setelah periode independen di Indonesia yang diatur oleh banyak latar belakang politisi di seluruh negeri. Sebagaimana slogan Negara kita sekarang dengan bangga menyebut Indonesia, ultimate diversity meski banyak hal yang meruntuhkan keberagaman termasuk Negara, termasuk tirani mayoritas, masuk juga kelompok ‘fundamentalis’ pembela tuhan yaitu FPI-premen berjubah.

Ketiga, negara otoriter dilabelkan untuk Indonesia sebenarnya tidak hanya di era Soeharto (1965-1998), tetapi juga di era Soekarno (Demokrasi terpimpin, 1959-1966). Namun, Soeharto adalah presiden yang paling otoriter di Indonesia. Sebelum reformasi terjadi di Indonesia pada tahun 1997-8, ia, melalui kekuatan militer, membunuh seribu orang atas nama anti-komunisme dan sebagainya. Pada periode ini, demokrasi seperti untuk legitimasi saja dan ekonomi pemerintah berpikir lebih penting daripada kebebasan dalam demokrasi. Studi berlabel periode ini sebagai negara otoriter. Negara kuat dari masyarakat dan negara mendominasi kekuasaan dan wewenang untuk diawetkan kekuasaan mereka dan keluarga. Sebagai akibatnya, birokrasi sangat kuat dan ketat; korupsi akut dari hubungan patron-klien di pusat pemerintahan. Saya dapat mengatakan bahwa pemilihan umum hanya untuk mengatakan kepada publik bahwa negara ini demokratis dan bersembunyi ‘keadaan teror’ untuk masyarakatnya. Era ini disebut juga sebagai demokrasi semu atau apa yang  Schumpeter, Dahl sebut sebagai ‘demokrasi prosedural’.

Last but not least, Indonesia juga dicap sebagai “negara gagal”. Sebenarnya, negara gagal tidak memiliki definisi yang didirikan karena ada banyak kriteria dan karakteristik yang mendefinisikan sebuah negara gagal atau gagal. Oleh karena itu kriteria yang mana yang memilih akan menentukan atau membedakan negara yang gagal dari negara yang kuat. Namun, menurut literatur, sebuah negara yang gagal dapat digambarkan sebagai pengambilan keputusan pusat pemerintahan yang lumpuh dan tdk berlaku, hukum tidak dibuat, urutan ini tidak dilestarikan dan kohesi sosial tidak akan disempurnakan (Sorensen, 2003). Sebagai suatu wilayah, maka tidak ada lagi keamanan terjamin oleh organisasi berdaulat pusat. Ia telah kehilangan legitimasi sebagai lembaga politik yang otoritatif. Untuk Jackson (1998) negara gagal adalah negara yang tidak bisa menjaga kondisi sipil minim, yaitu, perdamaian, ketertiban dan keamanan. Saya dapat mengatakan bahwa negara gagal adalah kegagalan politik karena mereka secara politik dan kelembagaan yang lemah di sektor penting seperti, keamanan, kebutuhan dasar, dan pendidikan. Argumen ini didukung oleh Susan Rice (2003) yang didefinisikan suatu negara gagal tidak melakukan kontrol yang efektif.

Untuk memahami apa Indonesia saat ini tampak seperti, saya ingin menceritakan sebuah penjelasan singkat di sini. Sejak tahun 1999, di era reformasi, Indonesia mengikuti sistem desentralisasi (‘Otonomi Daerah’). Menurut konstitusi UU No.22 tahun 1999, UU No.25 tahun 1999 setiap daerah / kabupaten memiliki otonomi sendiri untuk mengatasi masalah tersebut yang sudah diatur oleh hukum. negara ini mencoba untuk pemerintah democratizes oleh keterlibatan sipil sebanyak mungkin. Ada banyak dana internasional datang ke Indonesia untuk membantu pemerintah untuk membuat karya demokrasi dengan menerapkan konsep pemerintahan yang bersih yang baik. Sementara itu, Nordholt (2003) sangat berpendapat bahwa ‘pergeseran dari sentralisasi ke desentralisasi pemerintah tidak sama berarti pergeseran dari pemerintahan otoriter ke demokrasi’. Oleh karena itu, negara dan masyarakat harus bekerja lebih keras bersama untuk mengatasi masalah ini untuk menghindari elit kuat lama datang dan melawan kediktatoran dan juga membawa kembali dalam masyarakat demokratis.



Honolulu, Oct 17, 2010