jump to navigation

“Kemenangan Kecil” October 10, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback

David Efendi, The Keeper of Night

“Kalau tak dapat kemenangan besar engkau rengkuh, kumpulkanlah kemenangan kecilmu. Besarkan hatimu dan teruslah merengkuh zaman dan tataplah dunia tepat dijantungnya”

(Depkendi, 2010)

Seperti biasa, sebenarnya badan, mata dan tangan sudah lemas seharian dipekerjakan tapi seperti biasa juga jam satu pagi masih belum mau mata diistirahatkan terus saja menerawang memikirkan banyak hal seolah isi kepala ini paling sibuk sedunia memikirkan banyak hal dan seolah sudah berkarya dan sayangnya. Sekali lagi, sayang seribu sayang bahwa belum ada kata ‘lega’ dari serentetan kelelahan ini semua. Feeling well yang tidak benar-benar sebaik yang nyata terjadi. Berharap kemenangan besar, tapi kemenangan kecil melalui hal-hal yang kecil pun terlewatkan, tertunda dan menjadi korban angan-angan yang tak berkesudahan. Lelah menjadi pihak yang kalah, tapi lelah mengejar mimpi-mimpi yang tak tergapai. Ada perasaan miris, menang jadi binatang buas, kalah jadi pecundang. Kelompok oportunis yang parah yang aku pun secara pribadi tak mau menjadikan rongga dalam hati, dan syaraf dalam otak berfikir ‘aji mumpung.

Ada dua kalimat yang saya ingat sewaktu aktif di IPM. pertama, raih kemenangan kecil dan kedua, belajarlah untuk rakyat. Kalimat pertama mengajarkan bahwa utopia harus rasional, sembari merencanakan kemenangan yang besar, kemenangan kecil-kecil harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya, mulai bangun pagi, disiplin, jujur, dan juga rajin menulis. Sementara belajar untuk rakyat artinya tidak egois dan tidak bermaksud memonopoli kebenaran, pengetahuan dan apalagi kekayaan. Saya pribadi selama ini menikmati aktif di organisasi kampung, kecil, tapi bernilai kesederhanaan, kerelaan, dan ada penghargaan satu sama lain dan merasa kekeluargaan itu kuat dirantai dan digembok. Ada Hismag, IPM, IRM di kampung, kelompok sahur-sahur, takmir masjid, balairung, komap, Parwi, sampai Lapsi yang miskin, dan IPM yang kasnya lebih cepat kosong dari pada ngisinya.

Soal merasa capek sedunia, merasa sibuk sejagat raya ini adalah penyakit orang modern, penyakit birokrasi yang menjadi virus ‘trojan’ kantor-kantor pemerintahan dari Jakarta sampai pelosok desa, dari urusan langit sama urusan pemakaman. Inilah negara kapitalis-birokratis tapi mengaku demokrasi. Ini kesimpulan dari mata pelajaran yang saya ambill waktu kuliah di semester kedua tahun 2006 di Gadjah Mada yang kini juga erubah jadi pasar, jadi PT Gadjah Mada T.bk. Alamak mahalnya sekolah di sana sekarang ini.

Kemenangan kecil yang selalu kita remehkan padahal inilah bekal kemenangan besar. Orang-orang yang beroposisi terhadap pemerintah hanya memikirkan kemenangan besar, terbuai oleh mimpi menumbangan penguasa dalam sekedipan mata. mengkritik agar pemerintah tidak narsis dengan cara yang tidak berbeda dengan penguasa. Ibarat melawan tembok hanya membawa sepotong sendok. Bayangkan jika massa diorganisir dengan baik dari ujung kampung di pedalaman timika atau nias, sampai  ke jantung pusat cafe di Jakarta-raya. Belajar dari Che, belajar dari Castro, Malcom X, King, juga belajar dari Gie, belajar dari siapa saja termasuk alam, termasuk mbah Marijan.

Sebagaimana pepatah Minang,” layar terkembang menjadi guru”. dari local wisdom, yang kita tahu, street knowladge, atau ilmu laduni, dan sebagainya sampai ahli geofisika, dari ahli nuklir sampai tukang gigi, sol sepatu dan tambal ban sekalipun harus dipelajari, meminjam Kyai Dahlan, dengan “akal sehat dan hati suci”. Mereka itu sejatinya telah mengumpulkan kemenangan kecil yang kuat dan bertenaga. Tanpa mengerti itu semua ‘sumpah serapah’ kadangkalah seperti ludah yang lalu terlupa.

Kenapa tulisan ini tiba-tiba lahir adalah gara-gara status FB saya yang dianggap utopis, hanya mengutuk kegelapan, hanya tukang kritik amatiran, hanya seonggok daging marginal yang belum mereguk nikmatnya al kausar dalam singgasana jabatan ala negara.  Saya akui kritik itu benar pada saya, lalu saya mengutuk diri sendiri dengan cara sedemikian rupa dan warna. Kemauan menerima kritik dan melakukan otokritik bagi otak tumpul dan bisu saya merupakan pekerjaan berat dan perlu. Saya hanya berharap ketika tidak ada satu kemenangan saya raih, ada sedikit harapan inilah awal dari kemenangan kecil itu.

Ini mirip perang zaman Nabi Muhammad. Ketika Che dalam film, seusai memenangkan perang di Cuba seorang anak buahnya datang dan minta izin akan pulang menemui keluarga sebab kata dia pikir perang sudah usai dan menang. Lalu sambil tetap tegasdan kuat Che bilang, perang belum selesai, revolusi baru saja mau dimulai”. Kemenangan itu barang langkah yang sering disalahmaknakan, salahartikan. Versi nabi Muhammad, peperangan dan kemenangan yang besar adalah melawan hawa nafsu dan memenangkannya dan menempatkanya dalam mindset yang benar. Kemenangan ini pula bisa disimpulkan, adalah berdamainya antara kata dan laku, hati, pikiran dan perbutan.

Sudah jam 2 pagi rasanya makin melotot mata ini. Jika saya teruskan menulis saya akan puas, saya pikir saya menang sementara kalau lanjut menulis saya besok akan bangun jam 8 pagi dan telat sholat shubuh dan i ni kekalahan telak di akherat. Inilah manusia yang tidak merdeka karena kemerdekaan itu cukup dan cukup sudah hidup ini, nafas ini selain itu kemenangan kekal pasca mati mungkin so far saya masih mempercayai dan meyakininya. raih kemenangan kecil, untuk merebut kemenangan besar.

Salam Kemenangan

October 11, 2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: