jump to navigation

Masa kecil, barter dan bukan Kapitalis October 10, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback

David Efendi Hari Ini Menulis:

Masa kecil, barter dan bukan Kapitalis. Itu kira-kira judulnya untuk mengatakan bahwa kapitalisme itu bukan asli human nature atau naluri manusia sebab tidak semua masyarakat punya tradisi jual beli yang berorientasis profit dan bahkan akumulasi modal membabi buta sedangkan melihat tetangga hampir mati kelaparan tanpa tergerak hatinya. Inilah kapitalisme hari ini yang mirip bukan perilaku manusia melainkan kiriman iblis dan sebangsanya. Wah dari mana kalimat ini muncul? dari membaca Thomas Hobbes, Adam Smith, Hegel, Marx, Hanna Arendt, Kant, dan sebagainya mempengaruhi akal lugu-ku untuk berkoar tanpa arah tapi semoga bermakna dan tidak parah.

 

Sewaktu tinggal di Masjid pada tahun 2002-2004 di Yogyakarta saya menulis kenangan masa kecil yang panjang sayang karena tidak kutemukan file tersebut jadinya ada perasaan ingin kembali mengenang masa-masa berada di situasi yang ‘ndesa’, ‘tidak berbudaya membaca’ dan tentu saja religius dan tidak kapitalis. Banyak hal sederhana dan orang-orang bersahaja tapi bijak di desa saya sehingga saya sangat berhutang budi pada mereka: Ibu saya sendiri, Guru yang tidak dibayar, petani yang sabar menerima gagal panen sebagai akibat kegagalan revolusi hijau (green revolution 1970)yang dikendalikan oleh penguasa dan pengusaha yang bersekongkol membunuh petani secara perlahan tapi pasti (slowly but sure). Ini pun baru saya sadar setelah berada di tempat yang jauh dari kampung bahkan di benua yang tidak sama dengan tanah air ku yang saya banggakan dan diminati bangsa Barat.

 

Karena minat itulah mereka berlama-lama tinggal di Indonesia. Sampai berabad-abar lamanya bangsa Belanda, Portugis, dan beberapa tahun saja Jepang dan Inggris. Kisah itu tentu hal yang pahit bagi kekek moyang dan nenek moyang kami di desa yang tidak tahu arah berputarnya bangsa-bangsa itu tiba-tiba menerobos ke kampung dan tanpa babibu merampas dan merendahkan martabat manusia. Saya tersentak lagi ketika membaca berita dunia yang ditulis oleh jurnalis Asing yang mengatakan bahwa Amerika dibangun dari tambang emas Papua (Lisa Pease, 1996).

 

Bayangkan, tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun. Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setelab 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia!!



Kawan, sewaktu kecil  tidak pernah bermimpi bisa sekolah sampai kota, kota pelajar Yogyakarta, UGM-Universitas terbesar di Indonesia. Semasa kecil tak tahu beda kapitalisme, riba, sosialisme-komunisme sehingga kakek moyang kami pula mungkin banyak korban salah bantai salah bunuh akibat keganasan penguasa orde baru. Pernah konon keadaan kampung kecil saya mencekam sepanjang siang dan malam berbulan bahkan tahun lamanya bukan karena belanda tapi karena ulah penguasa bangsa sendiri. Ada guru rakyat dibunuh ramai-ramai jaman revolusi dituduh PKI tahun 1965-an. Ada pula orang di masjid diseret ke bengawan solo dan dibantai ramai-ramai. Inilah kejahatan manusia yang didalangi konon oleh CIA (Amerika) yang anti komunis-sosialis akibat perang dunia, perang dingin. Ironisnya, yang menjadi pelaku pembantaian adalah sesama sipil yang diadudomba. Para elit jakarta yang panen harta kekayaan. Tapi ini dulu tak terfikirkan. Ini catatan ketika otak sudah penuh racun, hati sudah bercampur debu.

 

Sekali lagi, kawan. Karena tahunya hanya permaianan bentek, gobak sodor (konon dari India), dan ongkle karena tahunya hanya alas, jaten/hutan, kali/sungai, dan semua yang bau kampungan dan sering dianggap kelas rendahan karena nenek moyang hanya petani gurem, kecil, dan tuna kuasa (powerlessness). Jangankan mengerti kejayaan perancis, Inggris, Belanda dan Amerika yang membangun bangsanya dari harta rampasan dan persekongkolan tak berperikemanusiaan, uang pun hanya tahu paling besar 100 rupiah karena sehari-hari hanya mengenal angka rupiah: 5.10.20, dan itu pun tidak pernah banyak. Anak kampung yang kini hidup di awan yang tak menginjak bumi rasanya tak mampu berfikir jernih dan bijak hanya bisa membacai teori-teori ilmuwan yang besar di Barat yang mungkin bisa jadi makan dari sumbangan bangsa ku yang dieksploitasi sepanjang hayat tanpa ampun tanpa maaf.

 

Kawan. Satu hal yang paling saya sukai waktu kecil adalah bulan ramadan. Anak dan remaja memeriahkan masjid dan musholah, mengaji di rumah-rumah, mengumpulkan makanan di siang hari dan memakan sepanjang waktu di malam hari laiknya orang purba food gathering kita pun bisa bertukar makanan sambil glimuan (permainan tradisional dengan sembunyi di balik sarung dan akan ditebak). Di dalam sarung bisa makan apa saja alias kecet dan juga main serem dendem yang saya pernah jatuh ke sungai di musholah karena di tepi sungai dan bentuknya musholah atau langgar panggung. Masa kecil yang tak terlupakan. Belajar ke langgar dengan hati senang dan pulang pun dengan damai bahkan malas kalau pulang rasanya ingin sepanjang masa di musholah. Tadarus bulan ramadan memang gak ada matinya, karena itu adalah satu-satunya bulan dimana kebahagiaan sebelum fajar sampai fajar lagi terus gembira lantaran menikmati serentetan kegiatan yang murni tanpa tendensi bahkan tanpa mengharap imbalan dari siapapun. Food gathering adalaah naluri, tapi karena dasar manusia itu suci maka tak ada kompetisi ala kapitalsme masa kini yang semua harus diukur dengan uang melainkan barter adalah cara-cara yang lebih memanusiakan manusia.

 

Honolulu, USA, Oct 10 2010

Menjadi sosialis di zaman kapitalis!?

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: