jump to navigation

Kemenangan Kecil Part 2 October 12, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback


David Efendi

Hari ini hari yang berat sebenarnya  bagi saya. Mungkin sudah ‘takdir’  bahwa semenjak kecil hari senin memang hari yang melelahkan karena harus ada upacara bendera dan setumpuk tugas matematika yang karena matematika punya jam lebih panjang dari pelajaran apa pun. Ini terror tapi untuk menjadi pemenang kecil ini harus didamaikan dengan berbagai cara termasuk perasaan senang walau tidak mengerjakan pr. Senang saja dan jangan takut dimarahi apalagi takut masuk kelas. Ini adalah pelajaran pertama dari masa lalu.  Parahnya, semalam wayangan dan jam 5.30 baru bisa memejamkan mata alias sign out!

Rasanya masuk angin semalam sahur hanya dengan mie rasa Indonesia dan dua butir telur yang diceplok pakai microwave selama tiga menit dan bau amisnya masih menyengat. Untung ada dewa saus pedas dan apa saya lupa namanya yang biasa ditaburkan di makanan itu sejenis bubuk putih. Maklum gak tahu namanya karena gak terlalu suka di dapur umum. Puasa senin kamis adalah pelajaran kedua dari masa lalu yang membuat energy bertambah (jika tidak masuk angin), dan konsentrasi belajar lebih penuh seluruh jiwa raga karena memikirkan makanan adalah penyakit terberat saya dari dulu hingga sekarang belum berubah bahkan semakin parah. Orang awam bilang, di barat orang sudah memikirkan gizi otak (brain) di negeri kami, di kampong saya maksudnya baru sbatas memikirkan isi perut, “ hari ini makan apa?. Sementara ada segelintir orang juga nekad memikirkan, ‘hari ini makan siapa, nipu siapa, dan dapat apa”. Konon ini zaman edan, orang merasa lebih sufi, religious tapi brutal, nasty, solitary, dan lawless sebagaimana yang di singgung Thomas Hobbes sekitar lima abad yang lalu.

Pagi-pagi sudah ada ketok-ketok pintu, rasanya pedes mata mau buka pintu. Kusuekin saja mungkin uncle Sam atau Pak dzul dan sangat tidak mungkin hasymi sebab dia pun bakalan masih terlelap dan menggelepar dalam ranjangnya jika saja mag-nya kambuh. Sejurus kemudian, saya paksa tidur lagi kira-kira baru beberapa menit saja pintu itu kembali di ketok dan mata saya sedikit mendelek karena candela menyalah mataharinya tepat sekali mengenai layar laptopku yang masih online sejak dari kemarin sore. Saya bukalah pintu itu, dan nongolah pak dzul dengan senyumnya yang khas: bolang. Tanpa basa basi dia cerita ada give away buku sangat banyak di kuykendal building maka bangkitlah kesadaranku untuk mengoleksi ratusan buku yang sudah ditimbun dalam kamar dan aksi itupun segera dimulai. Hebatnya pak dzul selalu bangun pagi dan tidur early night. Pelajaran berharga adalah, bangun pagi selalu membawa berkah. Jika dapat bangun pagi selama 40 hari berturut-turut adalah kemenangan kecil yang luar biasa. Dan inilah persoalan terberat saya dimana saya bisa bangun pagi jika jam 4 atau jam 5 baru memulai tidur malam sebagai subsidi silang ala kelelawar atau Hasymi bilang nocturnal, sejenis mahluk yang hidup di malam hari.

Petualangan pun dimulai. Mandi, mencuci, dan lari menuju tempat perburuan hari ini. Ratusan buku bisa diambil gratis, hal ini tidak pernah terjadi di negeri saya apalagi kampong halaman yang kadang ada buku gratis saja (zaman sekarang), tidak ada yang mau membaca. Kemana bangsa ini akan maju? Wong saya sendiri juga baru sebatas mencintai buku, mungkin anak saya atau cucu baru memulai membacanya. Inilah kemenangan kecil yang tertunda. Tapi saran saya menundanya jangan terlalu lama sebab bubuk dan virus bisa menyerang kapan saja.

Sebagai penutup, hari ini adalah discover day, atau Columbus day sebagaimanaya status facebook saya yang update berbunyi: today is discaover day, or Columbus day yang menghargai temuan orang dulu itu dalam mengembangkan pengetahuan semetara bangsa saya, masih saja bergelut dengan bencana day, hari-hari yang terus saja meneteskan air mata tanpa ujung tanpa akhir. Pelajaran dari sini adalah, ketika saya melihat korban berbagai bencana di Indonesia orang begitu sabar dan menerima bahkan masih menyapa dan tersenyum. Korban bencana di Indonesia baik bencana alama atau social adalah orang juara nomor statu di dunia yang mengendalikan kesabaran dan ketabahan. Semoga MURI atau guiness record book mau mencatatnya. Terima kasih

Reading room EWC, Oct 11 2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: