jump to navigation

365 Hari Apa yang Engkau Capai, Pak Beye October 17, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

Oleh David Efendi, Satu dari 238 jt Rakyat Indonesia

“Ruhut takut sama Partai Demokrat, Partai Demokrat takut sama Pak Beye, Pak Beye Takut Sama Bu Ani, Bu Ani dan Pak Beye Takut Sama Ical Bakri…, Ical Bakri takut sama Lapindo dan Pajak…”

(Sejak para Penakut.com)

Jika ribuan orang demosntrasi di Jakarta atau di daerah lain minta pak Beye mundur, itu bukan hal yang saya lakukan. Jika puluhan ahli dan pengamat politik dalam dan luar negeri menyatakan pak Beye gagal dalam satu tahun menjalankan politik kekuasaannya, itu mungkin saya akan menambah ‘mabok’ pembaca lantaran tak ada optimisme. Bagaimana bisa optimis melihat pak Beye yang bermesraan dengan ketua Golkar Aburizal “lapindo-pajak” Bakri, dan edannya, meneruskan membuat album. Sola Hallmark, jika Soekarno Bapak Revolusi, Soeharto Bapak Pembangunan yang juga gila harta, maka Pak Beye bisakah dikata sebagai Presiden Gila Album?. Wallahu alam.

Jujur saja jemari ini rasanya lemas mendadak kalau menuliskan soal pemerintah Indonesia dan negara-bangsa yang dulu disegani da dihargai oleh bangsa lain baik di Asia maupun di Eropa dan Amerika. Bagaimana tidak, Soekarno yang bisa menggemparkan dunia persilatan dengan gaya ’solidarity maker’ yang sekelas marthin Luther King, satu atap dengan Thomas Jefferson, atau benyamin Franklin dan sebagainya. Saya tidak lebay silakan dibaca sejarah perjalanan bangsa ini dengan se-obyektif mungkin dan kentekstual. Selain Soekarno, ada Bung-bung yang brilian dengan konsepsinya seperti Bung Hatta (’administrator”) dengan ekonomi kerakyatan dan ‘demokrasi kita’ yang secara demokratis mengekspresikan perbedaan pendapat secara demokrat, tidak seperti Presiden sekarang semua persoalan diselesaikan dibalik meja, membuat sekretariat gabungan, membuat komisi, membuat undang-undang yang politis dan ujung-ujungnya tidak dilaksanakan dengan seksama dan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Meski tentara atau Jendral, Pak Beye belum menguasasi betul jurus ‘menembak lebih cepat dari bayangan-nya’. Masih gaya jurus lama, memancing ikan dalam air keruh atau bahkan extrim-nya ‘jurus dewa mabuk.’

Jika pendahulu menulis buku-buku yang bertenaga, pak Beye cukup mengeluarkan album melankolis-nya. Itu adalah mundur 350 tahun yang lalu dimana sekolah belum didirikan, peradaban masih dibawah tempurung katak yang tertimbun dasar laut. Maaf kalau ini memang didramatisir. Tapi, inilah bahan refleksi kita bagaimana tradisi berfikir pemimpin bangsa nyaris runtuh dengan sempurna, bagaimana konsep pemikiran negara berganti jadi lirik lagu. So far, saya tidak percaya bahwa pak Beye diberi gelar ‘ intelektual uniform”, atau intelektual militer yang pernah saya dengar sayup-sayup dan tenggelam seiring dengan prestasi sebagai hukum alam atau sunnah kehidupan.

Jurus mabuk itu terekspresikan sebagai irono seorang yang menyatakan sebagai demokrat (luarnya, casing-nya) tapi dalamnya atau softwarenya otoriter berbintang 5,atau 7. Taruhlah contoh, apa yang dilakukan ketika kasus century mengemuka, apa yang dilakukan pak Beye ketika TKI menggelepar di Malaysia, apa yang dilakukan ketika bencana di wasior (nonton bola, yang kalah 7-1). Lagi, apa yang dilakukan pak Beye ketika Prita teraniaya oleh hukum yang menindas, apa yang dilakukan pak Beye ketika KPK diperlemah, ketika cicak diinjak-injak buaya?. Sangat cerdik, pak Beye hanya cukup menngandeng Ical Bakri, ketua Golkar yang ilmunya sudah mendekati sidratul Muntaha dalam urusan tilap menilap, politik mem-politiki dan tentu saja Ican sudah bisa jurus menembak lebih kencang dari bayangannya. Apalagi bayangan pak Beye yang lambat, lamban, dan peragu.

Malam ini, saya membaca tulisan seorang yang saya kira cerdad, Ridwan Max Sijabat, dalam Thejakartapost.com yang bertajuk ‘golkar unhappy with government performance’. Golkar sering unhappy diluar tapi elitnya seiring sejalan dengan kebobrokan pemerintah seperti dulu-dulu Golkar juga unhappy dengan Sri Mulyani, ujungnya untuk menghibur si Ical dibuanglah Mbak Sri ke Luar Negeri sekalian menghibur demonstran yang kelewatan ngajak sapi demo dan dikasih nama si Beye atau se Buya. Sijabat menuliskan tiga hal yangdinilai gagal dilakukan pemerintahan pak Beye yang meliputi political stability (stabilitas politik), security (keamanan), dan food shortages (kedaulatan pangan).Kadang geli, pemerintah merasa paling nasionalist sedangkan kebijakannya yang anti nasionalisme dengan berbagai prifatisasi, hutang luar negeri, dan korporasi yang subur di negeri ‘tongkat jadi tanaman’ ini.

Secara serampangan akan saya coba komentari. Secara teoritis sebagaimana kesimpulan yang saya pelajari dari  teori negara modern yang dianggap banyak bersumber dari Thomas Hobbes dalam negara ‘leviathan’-nya yang ditulis pada tahun 1561 yang juga jadi buku wajib dalam mempelajari political science di banyak negara. Dari sana, terungkap bahwa syarat negara kuat ada tiga macam yang snagat mirip dengan tersbeut diatas yaitu pertama, govern yourself artinya negara harus dijalankan oleh pemerintah yang bisa mengurus rumah tangga sendiri tanpa pengaruh agen asing atau korporasi. Kedua, feed yourself artinya kedaulatan pangan harus menjadi kebutuhan mendasar sehingga pemerintah harus memberdayakan produk lokal, pebisnis lokal dan sektor riil lainnya dan bukan mabok dan membabi buta mengimpor berbagai barang yang bisa diproduksi dalam negari sendiri. Terakhir, defense yourself. Dalam hal ini militer harus kuat dan bukan malah perang sesama militer atau perang kecil dengan polisi dan menembaki orang yang belum jelas teroris apa bukan, buktinya banyak catatan orang hilang tanpa kabar. Di zaman yang katanya demokratis ini banyak masih orang dihilangkan. Ini tentu menyedihkan bagi Munir (alm) dan kawan-kawan kontras, dan pejuang kemanusiaan lainnya. Selain itu, yang memalukan adalah militer malaysia atau Australian bisa main-main diperbatasan sampai menangkap nelayan Indonesia bahkan oknum pemerintah ditangkap. Ini penghinaan terhadap kedaulatan yang dalam teori negara menunjukkan lemahnya negara Indonesia karena tidak mampu menjaga kedaulatan teritorialnya. Mungkin nasionalisme sudah mati dan atas nama bisnis TKI semua dianggap enteng. Pak Beye cukup mengrim surat ke pemerintah Malaysia. Surat? hari gini? apa kata dunia, Bung!

Jadi, benar juga kata Prof. Pratikno ketika saya mengambil kuliahnya pada tahun 2008, negara Indonesia bukan negara lemah, hanya tidak kuat. Ini adalah sindiran tahun 2008 yang masih berlaku sampai hari ini dan detik ini. Sayang, karena pak beye dan antek-anteknya, guritanya terlalu percaya diri bahwa karena dipilih secara langsung maka kritikan hanya dianggap kerikil kecil dan terus dilawan dengan membalas mencari kelemahan si tukang kritik dan memobilisasi anggota dewan untuk membalas kritikan. Lihat saja berapa ribu jubir SBY untuk melawan kritik dan tidak mau mengevaluasi kinerja dan praktik KKN yang masih diatas daun. Ini tidak sehat dan tidak demokratis lantaran semua kritik dimentahkan dan dikebiri. Benar juga puisi “negeri para bedabah’. Orang bisa menyatakan bahwa bedebah yang berwujud koruptor sarangnya belum pindah, masih di pusat istana negara. Ini bukan fitnah, ini kata demonstran.

Dipenghujung kata-kata tulisan tak bertajuk ini, saya masih yakin bahwa selama Indonesia masih dibayangi neoliberal, masih disetir oleh korporasi dan busnisman gelap, maka tak perlulah bermimpi demokrasi terjadi dalam akal bathin dan kenyataan sebab sejatinya korporasi dan segala bentuk agen dan proyek neo-liberal pasti anti terhadap demokrasi. Apalagi demokrasi kita sebagaimana yang dikatakan Bung Hatta adalah demokrasi yang membela hak-hak rakyat tanpa pandang buluh sedangkan neoloberal dan krunya berpikir hanya untuk mendapatkan keutnungan sebesar-besarnya untuk korporasi dan golongan atau kelas-nya saja. Jika Marx diundang seminar di Indonesia tentu akan batal datang sebab tahu bahwa dia hanya dipakek melegitimasi bahwa Indonesia demokrasi dengan mengundangnya mewakili kelompok sosialis.

Pak Beye, begitu saya suka menuliskan namanya atau kadang pak Susi, atau si beye. Maaf Pak presiden. Sangat disayangkan bahwa eforia desenttralisasi dan pemilihan langsung kepala daerah tidak disoroti serius pemerintah bahkan diikuti perlombaan membuka kabupaten dan propinsi baru, serta berebut kemenangan partai menduduki jabatan bupati, wali kota dan gubernur. Dalam waktu yang sama terjadi praktik anti demokrasi, pemiskinan di daerah-daerah yang makin mengental dan menyebar. Desentralisasi is nothing but politik, begitu juga pemilukada langsung hanya memuaskan dahaga para elit naisonal dan lokal untuk mengakumulasi kapital dengan berbagai topeng-nya. Rakyat makin miskin dan terpuruk meski PAD (Pendapatan Asli Daerah) naik dan prestasi bupati segudang. Pemerintah tidak tahu bahwa “kemiskinan itu pahit sampai  ke tulang” (Frangky Sahilatua) dan bahwa kemiskinan itu, saya sangat setuju, Poverty is not only “having no fish;” it is also “not knowing where to fish. Artinya begitu buntunya jalan itu bagi orang miskin dan hanya pemrintah yang baik dan memihak rakyatnyalah yang bisa membuka jalan. Jika Weber mengatakan negara adalah alat monopoli kekerasan maka sebaiknya kekuatan negara itu digunakan untuk menyelamatkan rakyatnya yang sesenggukan, diambang kematian dalam keadaan frustasi dan mengenaskan. Apa masih ditunda-tunda lagi Mr.President? Apa menunggu tragedi kemanusiaan yang lebih dahsyat?

In addition, mungkin karena suara sumbang ini hanya satu dari ratusan juta maka anggaplah ini angin lalu, saya juga ikhlas bahwa saya menulis ini untuk tembok. Semoga doa wiji tukul dalam bungah dan tembok itu terwujud. Saya masih yakin dan percaya bahwa tembok sekuat apa pun akan runtuh dengan revolusi, segala bentuk revolusi yang pernah terjadi di bumi manusia, seperti tembok berlin, atau tembok orde baru. Tembok cikeas belum? dan riak-riak itu muncul jika pak beye batal dalam 365 hari memimpin ditengah badai bencana dan negara tidak hadir menolong rakyatnya secara sungguh-sungguh. Pak Beye terakhir juga mengecewakan aktifis lingkungan hidup dengan mengatakan banjir di Wasior bukan sebab pembalakan liar. Karena saya agak geram melihat komentar pembela Pak Beye yang mengatakan agar pak Beye tak diganggu selama bekarja, tidak dikritik, tidak digulingkan (apa mau guling-guling sendiri?), dan sebagainya maka saya tuliskan status facebook saya beberapa jam yang lalu yang agak nyleneh: “

‎”… lawong abu rizal bakri saja santai bagi saya aburizal lah yang terbaik dan dialah sebenarnya yang memimpin negeri ini. Sadar atau tidak kira-kira begitulah yang terjadi. Persoalannya bukan terbaik atau terburuk, hanya mau atau tidak merubah keadaan bangsa ini. SBY nampaknya tidak suka perubahan ke arah yang baik., jika ingin tenang dan tak diganggu harusnya bertapa di kuburan”.

Kawans, so far saya masih membathin dan yakin bahwa Pak Beye bukanlah presiden Indonesia yang sebenarnya. Jika 2004-2009 the real president adalah Yusuf Kalla, babak kedua pemerintahan Indonesia ini juga bukan Pak Beye Presidennya melaikan Aburizal bakri-lah sang the real president itu. Jika ada yang keberatan silakan wong ini cuman satu dari 238 juta rakyat Indonesia (Data dari BPS dari sensus yang menghabiskan uang 3,3 trilyun). Ruhut si Tumpul saja tahu. Apalagi Gus Dur (alm), pasti lebih tahu dan gitu aja kok repot. Lanjutkan ke bencana berikutnya! Lanjutkan Ke jilid kebobrokan yang lebih parah lagi, Mr Beye.

The Secret Chambers, Oct 16,2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: