jump to navigation

Senjakala Nasionalisme Kita October 17, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

By David Efendi, Santri UHM

Pendahuluan

“Nationalism is nothing but politics” adalah satu ungkapan penyimpul jika kita pahami konteks munculnya kata nasionalism yang dihubungkan dengan proses persaingan antar bangsa-bangsa di dunia. Munculnya nationalisme tidak terlepas dari kemunculan teori ras yang sudah dikemukakan ratusan atau ribuan tahun silam mengenai ras-ras unggul dan ras-ras yang dianggap layak dimusnahkan. Hitler adalah salah seorang nasionalis tulen yang terpengaruh oleh Darwinisme. Dalam konteks masa revolusi nasionalisme menjadi alat propaganda melawan kolonial belanda dan meski banyak mengorbankan rakyat jelata sebagaimana ketidaksetujuan Bung Hatta terhadap gaya Soekarno yang mengorbankan rakyat jelata dalam berbagai peperangan di tanah air. Walau demikian banyak yang mengakui bahwa nasionalisme itu penting untuk membebaskan manusia dari perbudakan.

Romo Franz Magnis-Suseno SJ, rohaniwan dan cendikiawan sosial, mengatakan jika rasa kebangsaan itu mati, bangsa dan negara Indonesia akan hancur.”Soalnya, yang mempersatukan ratusan etnik, suku dan komunitas, penganut beberapa agama, yang hidup di atas ribuan pulau kita, hanyalah kebangsaan Indonesia. Tak ada yang lain”. (Kompas, Oct 17,2010)

Perihal nasionalismenya sebagaimamana Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 yang menempatkan ’nasionalisme’ di nomor satu dari deretan lima nilai Pancasila. Mungkin Soekarno menyadari dengan sempurna hanya karena kesadaran “kita ini satu bangsa, yakni bangsa Indoensia mampu mengikat masyarakat sedemikian aneka ragam yang hidup di Kepulauan Nusantara, antara Asia dan Australia atau Oseania, bisa menjadi satu Indonesia.

Masih menurut pendiri bangsa,  Bung Karno yang menyimpulkan bahwa nasionalisme adalah cinta sepenuh hati kepada Indonesia, dan rasa bangga bahwa ’kita orang Indonesia”. Inilah suatu rasa persatuan di antara orang-orang yang sedemikian berbeda, yang terbangun dalam sebuah sejarah penderitaan karena penjajahan dan perjuangan pembebasan bersama selama ratusan tahun.

Senjakalah Nasionalisme

Beberapa tahun yang silam sudah ada tulisan bahwa nasionalisme sudah mati atau the nation is dead atau tajuk tulisan di berbagai negara mengenai the end of nationalism seiring juga kematian negara sebagai institusi yang super dominan digantikan dengan peran invisible hand yang jauh lebih diperhitungkan oleh dunia international. Dalam konsep liberal dan anak cucu-nya menghendaki negara minimalis, negara cukup menjadi penjaga malam atau pemadam kebakaran melalui agen-agen yang disiapkan dan digaji dari pajak korporasi asing atau konglomerat gelap.

Hari ini, setelah lebih dari 65 tahun mendeklarsaikan kemerdekaan atau setelah lebih dari 80 tahun mengucapkan sumpah pemuda 28 Oktober 1928, banyak orang bertanya: Apakah kebangsaan Indonesia masih berarti sesuatu bagi bangsa kita? Lebih dari itu, muncul juga pertanyaan, apakah kenyataan bahwa kita ini Orang Indonesia masih dapat menggerakkan sesuatu dalam hati kita? Padahal, bagi Soekarno, kebangsaan merupakan sila paling inti, paling berharga dalam Pancasila. Lalu orang mengklaim bahwa hanya karena rasa kebangsaan inilah, sehingga bangsa Indonesia ada. Tapi ini perlu diuji kebenarannya dalam konteks kekinian, dalam negara pasar yang seolah semua bisa berjalan seperti pasar malam tanpa ikatan yang jelas hanya transaksi dan tanpa saling mengenal sekalipun.

Nasionalisme kini hanya ada dalam kata-kata para penguasa yang meminta rakyat lebih nasionalis sementara kebijakan pemerintah pro kapitalis. Ada banyak kebaikan dari nilai nasionalisme tapi telah dibajak oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaan dan akumulasi kapital golongan, partai, dan keluarganya saja. Nasionalisme digunakan untuk melemahkan kelompok oposisi, nasionalisme kembali menjadi propaganda yang melumpuhkan lawan politik dan rakyat jelata jadi korban sebab semua kebijakan pro kapitalasing, ramah terhadap komprador, bandit kelas kakap semua dilabeli nasionalis, atas, oleh, dan untuk rakyat.

Bahkan parahnya, pemilukada langsung, pilpres langsung dan pileg langsung dimanfaatkan sebasar-besarnya untuk memiskinkan rakyat Indonesia dengan berbagai tipu muslihat dan tipu daya berupa undang-undang, pemekaran, dan prifatisasi BUMN yang sebenaranya tidak perlu dilakukan. Nasionalisme sirnah secara subtansial dari kepala para pejabat dan decision maker di negeri kepulauan yang mana kolam susu begitu luasnya, tambang emas begitu dalam dan bernilai serta dimana tongkat ditancapkan jadi tanaman,

Kebijakan impor produk dengan alasan murah, secara pelan tapi pasti, akan membunuh secara mengenaskan anak bangsa yang hidup di berbagai tingkat kemiskinan, di rural area, atau di pedalaman yang tidak tahu menahu lalu panen gagal dan beras bantuan pemerintah datang sebagai dewa penolong. Beras itu diimpor dari negera tetannga dan lama-lama menghipnotis warga untuk menghentikan bercocok tanam dan bergantung pada pemerintah. Sialnya, ketika harga melambung, mulai BBM dan sembako pemerintah tidak hadir dan rakyatpun bergelimpangan di mana-mana dengan berbagai ekspresi frustasi sosial akibat tidak bisa membayar sekolah, tidak bisa bertani, dan nelayan dan sebagainya.

Jika ingatan massal sebagai bangsa sudah sirnah dari publik, maka amuk massa tak terhindarkan dan negara ini juga bisa punah akibat berbagai frustasi kolektif massa yang menjelma menjadi peperangan dan perpecahan seperti konflik-konflik etnik, agama, yang terjadi beberapa tahun terkahir ini.

Honolulu, Oct 16,2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: