jump to navigation

Detik-Detik Lengsernya EsBeYe October 18, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

By Rakyat Tidak Percaya

“Detik-detik lengsernya presiden SBY dimulai dari menghilangkan kepercayaan bahwa esbeye itu presiden, mulai dari ide dalam pikiran kita. Yakinlah bahwa Esbeye bukan presiden kita”

(Propaganda)

“Presiden dan wakil presiden Indonesia tetap Soekarno dan Muhammad Hatta, yang lain-lain hanya penggantinya saja”

(anonim)

Catatan ini hadiah khusus untuk Pak Beye dan para pembela serta perpanjangan lidahnya. Mungkin, judul tulisan ini sedikit banyak terinspirasi oleh buku karya Presiden BJ Habibie, Detik-detik yang menentukan sebagai gambaran gentingnya peristiswa politik yang terjadi masa itu dan masa sekarang yang tidak banyak orang yang menyadari bahwa Indonesia under kapitalist-neolib attack. Bagi kaum yang sudah nyaman, pengusaha, pejabat, dan para pns, tulisan ini tidak menyenangkan. Sebagai kompasianer yang baru beranjak 5 bulan tentu sedikit lumayan keaktifan saya dibanding dengan kerja kabinet Pak Beye yang ala kadernya, menghabiskan banyak biaya dengan hasil ya bolong-bolong, merah disana dan disini, gali lubang tutup lubang gali lubang dalam mencari pinjaman untuk membangun jalan dan internet dan project-project yang tidak ada kaitannya dengan kesejahteraan rakyat. Persis Orde Baru, membangun negara dengan hutang, dengan menggadaikan aset nasional, anggaran rakyat dan sebagainya. Tidak hanya lembaga eksekutif yang kegagalannya nyaris sempurnah mulai dari presiden sampai jongosnya departemen. Beberapa hal diatas yang penulis baca alasan-alasan warga kompasiana menilai Esbeye tidak becus, Pak Beye sibuk mengurus album ketiganya dan melupakan rakyat yang terenggus nyawa dan harta bendanya akibat bencana banjir wasior, gempa, tsunami, kehilangan pekerjaan, lautnya terpolosi, hutannya dijarah, dan sebagainya. Hal ini menguatkan alasan mengapa pak Beye layak dijatuhkan.

Menarik komentar di koran kompas edisi online yang menanggapi perlu tidaknya resaffle kabinet setelah setahun berjalan dengan terseok-seok prestasinya masih kandas pula dinilai 4 alias merah, tidak hanya menteri yang rapotnya merah, termasuk presidennya, termasuk anggota dewan dan staf ahlinya yang dibayar dari uang takyat, dari hutan yang dibabat paksa, dari Lapindo yang makin tidak dapat ditoleransi. Bukan hanya politisi, pengusaha juga rapotnya merah dan diambang batas kemanusiaan. Tidak hanya kapitalis, pebisnis, dan politisi, penguasa lokal juga mengikuti gurunya di tingkat nasional, kerjanya hanya menguras kekayaan daerah untuk sebesar-besar kemakmuran keluarga, golongan, aliran, dan partainya saja.

Tapi bukan itui poin saya menuliskan coretan ini tapi saya mencoba membuat analisis 3 sektor penting kegagalan pemerintah yang juga kegagalan presiden dalam menjalankan pemerintahan ‘demokratis’ selama satu tahun, 365 hari, minggu,hari, jam, menit, dan detik. Tiga sektor yang saya soroti mengakar pada indikator kuat dan lemahnya, gagal dan berhasilnya sebuah pemerintahan yaitu pertama, sektor bagaimana pemerintah menjalankan pemerintahan secara independen dari kepentingan aktor bukan negara. Kedua, Bagaimana pemerintah menjamin ndan mewujudkan kedalutan pangan dalam negeri yang mandiri atau berdikari. Dan terakhir, bagaimana pemerintah melindungi kehormatan rakyat dan bangsa-negara dari ancaman militer asing atau kedaulatan teritorialnya dari jamahan, usaha mengambil kekayaan laut dan bumi Nusantara. Berikut adalah detail penjelasannya yang penulis sebut sebagai kegagalan presiden Beye yang dijadikan bahan kenapa harus dan layak dilengserkan.

Kegagalan pertama, pemerintah atau ‘presiden’ terlihat dengan jelas bahwa tidak independen dari kepentingan politik asing, kelompok korporasi sehingga amanah dari rakyat melalui pemilihan langsung menjadi mentah dan tidak berguna untuk mewjudkan kehendak rakyat untuk berbagi kemamkuran sebagimana konstitusi UUD 1945 menyerukan dalam pasal 33 uUD 1945 baik revisi atau sebelum revisi/amandemn keduanya sama menekankan agar sumber daya alam di bumi di laut dan diudara digunakan untuk kesejahteraan rakyat dan bukan untuk kepentingan krporasi, melayani raja neolib, dan penguasa asing. Hal ini terlihat dari kebijakan sosial, publik policy atau undang-undang (misal PMA, Air, dsb) yang disahkan semua mengarah pada usaha melayani kaum kapitalis, kaum pemodal, dan pasar bebas. Akibatnya, tidak ada sisa kebijakan yang memanusiakan dan memuliakan bangsa sendiri. Pemerintah sekarang juga ‘presiden’  Beye telah mengkhianati amanah pendiri bangsa Soekarno yang betul-betul tidak menghendaki bangsa ini menjadi  bangsa kuli dalam negeri dan kuli bagi bangsa lain. Pak Beye telah sempurnah melakukan hal yang sebaliknya, dan bahkan negara ini sudah menjadi budak bagi kepentingan kelompok neoliberal, kapitalis, dan iblis leberalisasi perdagangan.

Kegagalan kedua, Pemerintah dalam hal ini ‘presiden’ gagal total mewujudkan apa yang disebut kedaulatan pangan dalam negeri sebab pemerintah karena melayani kapitalist sangat gandrung dan mabok barang impor dengan memberikan bea cukai yang sangat murah dan hampir gratis bagi pengimpor dan rakyat yang membeli/konsumen lah yang akan membayar pajak dan biaya kaum kapitalis atas kehendak dan kebodohan negara yang tidak pro-rakyat. Di sinilah penulis yakin bahwa negara ini adalah negara birokratis kapitalis atau demokrasi kapitalistik (Hadis, 2009). Setiap hari kita saksikan puluhan kapal dan pesawat memaskukkan barang ke dalam negeri mulai dari sembako sampai alat penghitung suara pemilu, mulai dari tusuk gigi sampai tusuk bumi, mulai dari jepit rambut sampai jepit pencakar langit semua dibeli dan didatangakn dari manca negara. Apa bangsa ini sedemikian terpuruk sehingga tidak diberi kesempatan membuat dnegan tangan sendiri. Pemerintah menutup kesempatan rakyat berkembang dan kreatif karena dijejali barang impor dengan harga murah. Murah pertama dirasakan dan mahal akhirnya dan kemiskinan yang pahitnya menusuk tulang pun berjatuhan sementara pemerintah hanya bisa bermain statistik dengan menurunkan jumlah penduduk miskin dari 40 juta menjadi 30 juta dan sebagainya sementara kualitas miskin itu semakin parah walau jumlahnya berkurang secara matematik tapi penderitaan orang miskin zaman sekarang berbeda dengan zaman dulu kala.

Kalau dulu orang tidak bisa beli ikan di pasar, bisa pergi memancing atau menjaring ke laut, jika tidak bisa beli beras bertanam tela atau ubi dan sebagainya. Hari ini orang miskin kehilangan segalanya, tidak punya pancing, tidak ada tempat memancing dan menanam. Hanya pemerintah gila yang tidak peduli dengan hal ini dan hanya hoby bermain kalkulasi ekonomi makro, pendapatan perkapita dan bahkan membuat album ketiga. Orang kaya di Indonesia hanya 2 % saja yang pendapatnnya lebih besar berpuluh kali dari 65% jumlah penduduk di Indonesia yang mencapai 238 juta berdasarkan sensus 2010 yang menghabiskan dana sebesar 3,3 trilyun rupiah. Gilanya, nanti menjelang pemilu 2014 masih menghitung lagi DPT artinya hasil sensus 2010 sudah tidak berlaku. Kalau pemerintah cerdas dan pro rakyat hitunglah penduduk menjelang pemilu dan saya yakin bisa lebih murah dari biaya tersebut. Terlalu banyak koruptor di bumi nusantara ini meski sebenarnya tidak lebih banyak dari yang bukan koruptor tapi dampak kerusakannya hampir rakyat miskin merasakannya. Akibat korupsi tidak hanya bencana alam, putus sekolah yang ratusan ribu jumlahnya setiap tahun, tapi anak-cucu kita juga akan menanggung derita dari salah urus negara: negara harusnya mengurus rakyat-nya tapi malah asik bercengkerama melayani raja pemodal dan kapitalis asing yang terus membesar ‘perut’-nya.

Kegegalan ketiga, dari kacamata ilmuwan politik atau pemikir kenegaraan seperti Thomas Hobbes, Jhon Lock, Machievelli, Kant, dan seterusnya hampir mereka sepekat bahwa kekuatan militer adalah sangat menentukan gagal dan berhasilnya sebuah negara sejak zaman sebelum perang dunia pertama atau pasca WW2. Bangsa Indonesia, sering dianggap rendah, lantaran pemerintah tidak tegas, militernya ‘banci’ sehingga menggertak malaysia, singapura, atau australia saja tidak bernyali sehingga dijadikan bulan-bulanan oleh mereka. bagaimana bisa petugas ditangkap, TKI disandera dan dianiaya, ummat Ahamdiyah ditindad dan didzalimi pemerintah yang punya tentara diam saja. Untuk apa polisi dan TNI digaji kalau tidak melindungi rakyatnya. Negara sebagaimana Weber (1864-1990) adalah mempunyai hak menonopoli kekerasan dalam rangkah menegakkan keadilan, kemakmuran dan melindungi rakyatnya tapi ironis di Indonesia, presiden peye seolah mengamini tesis Karl Marx bahwa negara adalah alat kelas kapitalis untuk menindas rakyatnya yang lemah dan miskin papa. sadar atau tidak, kebijakan yang tidak pro rakyat adalah penderitaan berabad-abad yang akan dipanen rakyat Indonesia. Apa yang hendak dicapai oleh kapitalis yang menyetir negara kalau bukan menghisap rakyat sampai ketulang sumsumnya. Militer dan Polisi hadir sebagai alat negara untuk kepentingan rakyatnya, bukan untuk melindungi dan mensupport penguasa melumpuhkan rakyatnya.

Kesimpulannya, ketika saya belum selesai menulis catatan pendek ini, di status facebook saya ganti account jadi turunkan pekbeye dan sedetik kemudian ada yang komentar ‘hati-hati kena cekal’. Dan jika terjadi itu juga menambah deretan kegagalan ‘presiden’ dan semakij jelaslah ketika kita saksikan pelanggaran HAM, penculikan, dan penghilangan paksa masih terus saja terjadi di Indonesia. Kasus pemenjarahan saksi kunci, oposisi terhadap pemerintah juga biasa terjadi di negeri yang mengaku paling demokratis di muka bumi ini. Ikhtiar perlu, tapi niat baik saja tidak cukup, kaum kapitalis sudah diatas daun, menduduki parlemen dan istana negara. Jalan damai sulit ditempuh dan aktifis semakin dihantui ketakutan akan masa depannya dan mulai merapat ke gerbang dan istana. Inilah kesulitan terbesar di negara kapitalis yang tidak ramah bagi kaum kritis, bagi orang miskin dan aktifis. Jika pemerintah tidak berubah, tidak terjadi revolusi yang hebat, tentu bayangan suram masih jelas menyelimuti langit Indonesia. Jadi jika tidak ada keinginan merubah keadaan maka Indonesia adalah surga bagi kaum kapitalis-neolib, dan neraka jahannam bagi kaum miskin papa yang jumlhanya puluhan juta kepala dan dipenghujung tulisan ini hanya dengan lemas dan lunglai sambil berkata,”bahwa kerusakan bangsa ini nyaris sempurna”. Bagaimana ini, ini bagaimana? Mr Beye, the honeymoon is over!

Oct 17,2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: