jump to navigation

Melabeli Indonesia Kita October 18, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

By David Efendi

“Indonesia, Ultimate Diversity!”

(Slogan ‘Marketing’ Indonesia)

Di Indonesia ‘nama’ atau label seringkali mencerminkan perilaku sebagaimana orang awam yang penuh kejujuran mungkin filosofis. Misalnya orang yang tidurnya susah dibangunkan dan mendengkur maka dijuluki atau dinamai/diberi label ‘kebo’ –sebangsa sapi, sehingga sehari-hari orang tersebut dipanggil kebo. Saya menduga di masyarakat Indonesia banyak menolak apa yang dikatakan oleh Shakispere tentang what is a name; atau jika diartikan secara bebas, apalah artinya sebuah nama/label. Bagi banyak komunitas Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh kultur arab dan Islam meyakini betul bahwa nama adalah doa sehingga setiap orang tua berusaha memberikan nama-nama terbaik untuk anak-anak-nya, sesuai harapan dan impian sementara komunitas lain melabeli anaknya berdasarkan isyarat mimpi, atau fenomena alam sekitarnya seperti nama-nama pada zaman majapahit atau beberapa marga di Sumatra Utara. Kebiasaan ini ternyata ada kemiripan ketika negara negara dilabeli bahkan mencari lebel sendiri seperti dalam berbagai slogan negara; Indonesia Ultimate Diversity, Amazing Thailand, Malaysia Truly Asia, Incredible India, Cambodia the Kingdom of Wonderful, dan seterusnya.

Saya ikut menikmati dan menyaksikan obrolan di warung-warung angkringan di sudut-sudut Kota Yogyakarta bahkan di sudut-sudut lain Indonesia yang maha luas ini bagaimana orang berfikir ‘ilmiah’ dengan membuat nama-nama tentang Indonesia, tentang pemimpinn pilihan sadar atau tidaknya. Ini sebenarnya salah satu tradisi ilmiah atau street knowladge, atau intelektual jalanan yang mencoba mengkonsepsikan obrolan ke dalam kata-kata yang muda diingat dan berkarakteristik. Seperti halnya para profesor atau Indonesianis yang melalang buana ke Indonesia untuk gelar doktornya untuk sekedar menanamai Indonesia itu sebagai makhluk apa atau binatang apa.

Nama-nama atau label untuk Indonesia tidak hanya berasal dari bangsa atau masyarakat Indonesia tapi juga berasal dari kelompok Indonesianis, professor dari luar negeri yang menggondol doktornya dari ‘hanya’ sekedar menciptakan nama-nama untuk Indonesia atau gaya kepemimpinan presiden di Indonesia. Beberapa nama, untuk menyebutkan beberapa, indonesia dilabeli dengan berbagai jenis dan nama mulai nama yang bagus sampai nama yang tidak mengundang kebanggan sama sekali seperti Indonesia negara zamrud katulistiwa, negara maritim, negara kepulauan, negara pancasila, negara berketuhanan, negara demokrasi pancasila, negara otoritarian, negara otoritarian-birokratic, negara demokratik-kapitalis, negara gagal, negara lemah, dan sebagainya.

Sedangkan untuk pemimpin atau presiden Indonesia dari obrolan kopi sampai profesor di Amerika berkontribusi membuat nama-nama ‘julukan’–nama-nama yang informal yang diberikan untuk penguasa Indonesia. Jika dari warung angkringan menghasilkan kesimpulan bahwa Soekarno gila wanita, soeharto gila harta, Habibie Gila Technologi, Gus Dur bapak pluralis, Soekarno Bapak revolusi, Soeharto Bapak Pembangunan, sementara SBY gila Album. Dari gaya kepemimpinan memunculkan tipe kepemimpinan solidarity maker dan administrator, gaya sipil dan militer dan mungkin banyak label yang belum tersebut di sini.

Jika street knowledge melabeli Indonesia tanpa peduli karakter-karakter yang harus disistematisasi maka kelompok ilmuwan melabeli dengan diikuti argumentasi, karakteristik, ciri-ciri yang melekat pada nama-nama tersebut sehingga terkesan ilmiah dan mengikuti prosedur penulisan akademik yang tentu saja dijadikan senjata untuk mendapatkan gelar doktor, profesor dan ahli Indonesia atau ahli kawasan A, B, dan seterusnya. Tapi pertanyaanya adalah label-lebel yang sifatnya akademik itu sangat didominasi oleh peneliti asing dari pada peneliti asli Indonesia. Penulis jadi terfikir, seperti analogi bahwa bangsa Indonesia adalah bayi sehingga tidak kuasa menamai dirinya sendiri artinya perlu outsider untuk menamai-nya dan bisa jadi kalau besar bayi itu mengubah nama sendiri sesuai selera tapi sayang dunia terlanjur mengenalnya lantaran akademik knowledge jauh melampau batas strees knowledge (intelektual jalanan) dalam hal marketing gagasan di dunia Internasional.

Sebagai sekedar informasi, nama-nama untuk Indonesia yang dikategorikan hasil kerja akadmik seperti Indonesia negara kolonial, negara demokrasi ‘pancasila’, negara birokratik otoritarian (Red: Orde baru-Orde baru atau orde lama sendiri sebenarnya bukan berasal dari orang Indonesia asli), negara pluralis (pluralism nation-state), Indonesia negara demokrasi kapitalistik, negara gagal (failed atau failing state), negara lemah (weak state). Sedangkan gaya kepemimpinan Indonesia yang dikenal di dunia akademik adalah kepemimpinan solidarity maker dan gaya sipil atau militer. Beberapa penjelasan dibawah ini barangkali sedikit membantu.

Di tempat pertama Indonesia dilabeli sebagai kolonial di Indonesia (1602-1945). Sekitar 350 tahun Belanda memerintah Indonesia (Nusantara) sebagai “Hindia Belanda”. Mereka dieksploitasi dan mempengaruhi kerajaan dan masyarakat, mereka menciptakan kelas menengah baru dari Arab, cina untuk melawan dominasi kekuasaan feodal di Indonesia. Bernama di Indonesia berasal dari etnolog Inggris, George Earl pada tahun 1850. Sebelum waktu itu tanah ini disebut “Nusantara”. Beberapa negara yang dijajah Indonesia adalah Portugal, Belanda, dan Jepang. Portugal (lebih dan kurang 350 tahun) hanya dijajah bagian timur Indonesia. Belanda yang paling kuat antara lain, menjajah Indonesia selama 350 tahun. Sekali lagi, Anda mungkin mengenali beberapa generasi yang telah mewarisi kulit rambut, Eropa, dan beberapa karakteristik fisik. Jepang yang terakhir. Mereka terjajah kita 1942-1945.

Kedua, Indonesia sebagai negara pluralis. Indonesia sebagaimana dinyatakan di atas akar multikultural yang terpengaruh secara signifikan dalam membangun Nation-State. Kita bisa melihat ini dari “Sumpah Pemuda” (Young gerakan, 1928) yang menyatakan kesatuan etnis di Indonesia sebagai Unity bagi bangsa, maka setelah periode independen di Indonesia yang diatur oleh banyak latar belakang politisi di seluruh negeri. Sebagaimana slogan Negara kita sekarang dengan bangga menyebut Indonesia, ultimate diversity meski banyak hal yang meruntuhkan keberagaman termasuk Negara, termasuk tirani mayoritas, masuk juga kelompok ‘fundamentalis’ pembela tuhan yaitu FPI-premen berjubah.

Ketiga, negara otoriter dilabelkan untuk Indonesia sebenarnya tidak hanya di era Soeharto (1965-1998), tetapi juga di era Soekarno (Demokrasi terpimpin, 1959-1966). Namun, Soeharto adalah presiden yang paling otoriter di Indonesia. Sebelum reformasi terjadi di Indonesia pada tahun 1997-8, ia, melalui kekuatan militer, membunuh seribu orang atas nama anti-komunisme dan sebagainya. Pada periode ini, demokrasi seperti untuk legitimasi saja dan ekonomi pemerintah berpikir lebih penting daripada kebebasan dalam demokrasi. Studi berlabel periode ini sebagai negara otoriter. Negara kuat dari masyarakat dan negara mendominasi kekuasaan dan wewenang untuk diawetkan kekuasaan mereka dan keluarga. Sebagai akibatnya, birokrasi sangat kuat dan ketat; korupsi akut dari hubungan patron-klien di pusat pemerintahan. Saya dapat mengatakan bahwa pemilihan umum hanya untuk mengatakan kepada publik bahwa negara ini demokratis dan bersembunyi ‘keadaan teror’ untuk masyarakatnya. Era ini disebut juga sebagai demokrasi semu atau apa yang  Schumpeter, Dahl sebut sebagai ‘demokrasi prosedural’.

Last but not least, Indonesia juga dicap sebagai “negara gagal”. Sebenarnya, negara gagal tidak memiliki definisi yang didirikan karena ada banyak kriteria dan karakteristik yang mendefinisikan sebuah negara gagal atau gagal. Oleh karena itu kriteria yang mana yang memilih akan menentukan atau membedakan negara yang gagal dari negara yang kuat. Namun, menurut literatur, sebuah negara yang gagal dapat digambarkan sebagai pengambilan keputusan pusat pemerintahan yang lumpuh dan tdk berlaku, hukum tidak dibuat, urutan ini tidak dilestarikan dan kohesi sosial tidak akan disempurnakan (Sorensen, 2003). Sebagai suatu wilayah, maka tidak ada lagi keamanan terjamin oleh organisasi berdaulat pusat. Ia telah kehilangan legitimasi sebagai lembaga politik yang otoritatif. Untuk Jackson (1998) negara gagal adalah negara yang tidak bisa menjaga kondisi sipil minim, yaitu, perdamaian, ketertiban dan keamanan. Saya dapat mengatakan bahwa negara gagal adalah kegagalan politik karena mereka secara politik dan kelembagaan yang lemah di sektor penting seperti, keamanan, kebutuhan dasar, dan pendidikan. Argumen ini didukung oleh Susan Rice (2003) yang didefinisikan suatu negara gagal tidak melakukan kontrol yang efektif.

Untuk memahami apa Indonesia saat ini tampak seperti, saya ingin menceritakan sebuah penjelasan singkat di sini. Sejak tahun 1999, di era reformasi, Indonesia mengikuti sistem desentralisasi (‘Otonomi Daerah’). Menurut konstitusi UU No.22 tahun 1999, UU No.25 tahun 1999 setiap daerah / kabupaten memiliki otonomi sendiri untuk mengatasi masalah tersebut yang sudah diatur oleh hukum. negara ini mencoba untuk pemerintah democratizes oleh keterlibatan sipil sebanyak mungkin. Ada banyak dana internasional datang ke Indonesia untuk membantu pemerintah untuk membuat karya demokrasi dengan menerapkan konsep pemerintahan yang bersih yang baik. Sementara itu, Nordholt (2003) sangat berpendapat bahwa ‘pergeseran dari sentralisasi ke desentralisasi pemerintah tidak sama berarti pergeseran dari pemerintahan otoriter ke demokrasi’. Oleh karena itu, negara dan masyarakat harus bekerja lebih keras bersama untuk mengatasi masalah ini untuk menghindari elit kuat lama datang dan melawan kediktatoran dan juga membawa kembali dalam masyarakat demokratis.



Honolulu, Oct 17, 2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: