jump to navigation

Aburizal Bakri Is The Real President October 20, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

By David Efendi, TukangKritik.com

“Jika tahun 2004-2009 “JK is the real president”, maka tahun 2009-sampai hari ini The Real President itu adalah Aburizal Bakri. Dia beribu kali lebih hebat dari pak Beye yang bukan presiden sesungguhnya lantaran ABR bisa menembak lebih cepat dari bayangannya”

(Depkpendi, 2010)

“Kapan Indonesia dewasa, kalau kita menjatuhkan pemerintahan di pertengahan jalan”

(The Real President, Aburizal Bakri, antaranews.com)

“Indonesia ini seperti kampung tak bertuan. Ada pemimpin, ada elit, tapi tidak dirasakan kerjanya”

( Buya Syafii Maarif, Detiknews.com, 10/6/2010)

Note: Tulisan ini, murni bukan fitnah, sebagai kegelisahan penulis karena banyaknya orang yang membela pak beye secara membabi buta dan serampangan. Beberapa status facebook penulis dikomentarari dengan nada yang negatif seolah pak Beye itu dewa dan can do no wrong dan bahkan disampingkan dengan nabi atau wali sehingga orang yang penjilat, membela pak beye seperti merasa sedang jihad. Ini konyol tapi ini bukan poin saya menulis di Kompasiana. Ini hanya sekedar catatan bahwa penulis siap dikritik sekeras apa saja karena keyakinan saya mengkritik penguasa adalah bagian dari jihad karena kesalahan penguasa menyangkut hajat hidup orang banyak, mempunyai dampak yang besar bagi kelangsungan hidup anak bangsa. Jika pencuri ayam ditangkap, kenapa penjual aset negara, membuat kaya pengusaha hitam tidak ditangkap. Mana yang lebih bahaya seorang prita? seorang nenek tua yang dipenjarah dan sebagainya. Bagi para pembela pak Beye sadarlah bahwa mengkritik penguasa jauh lebih mulia dari membelanya-wong salah kok dibelah, dikirik tidak mau, dikasih nasehat cuek bebek saja. Ini bukan presiden, pak beye bukan hanya gagal, tapi dia cukup diberi gelar presiden gila album. Any way, selamat membaca!

Dari kompasiana dan kompas cetak yang saya baca online saya melihat banyak kalangan yang obyektif menilai kegagalan Pak Beye atau Pak Susi menjalankan praktek kekuasaan yang memihak pada rakyat miskin dan kesuksesan pak beye mengabdi pada kekuatan invisible hand yang dikendarai oleh kelompok pebisnis hitam, koruptor kelas kakap, kapitalis-neoliberal lintas negara dan tentu saja mengabdi pada kebesaran bapak kapitalisme dunia: Adam Smith (1776) dan kru-nya. Ini obyektif sebab kegagalan dan kesuksesan pak beye ditampilkan bersamaan dan tentu rakyat perlu dididik untuk melek politik yang sebenarnya sebab saya sangat menyayangkan kelompok pembela beye, istana negara, partai demokrat (mengaku demokrat isinya anti-demokrasi), para oprtunis selalu mengklaim bahwa rakyat sudah pintar, rakyat sudah memilih pak beye dan kadang geli mereka menyuruh kita ikut pemilu dan memenangkan pemilu, Orang yang tak begitu mengerti politik kadang ngawur seolah pemilu itu betul-betul legitimate dan relaiable bukankah pemilu hanya salah satu sudut kecil mekanisme demokrasi. Banyak pembodohan dalam pemilu, banyak manipulasi, dan skandal sehingga kita perlu paham bahwa pak beye hanya dipilih pengurus partai demokrat saja, yang lain itu oportunis dan korban kebohongan janji-janji juru kampanye pak Beye yang diboncengi ‘mavia’ pemodal-pembunuh berdarah dingin.

Pak Beye sama sekali bukanlah presiden rakyat. Dalam kekuasaan pertama 2004-2009 presiden sebenarnya adalah Yusuf Kalla (JK), dan jilid dua sebenarnya yang menentukan kebijakan pemerintah adalah Aburizal Bakri(baca: ARB) sehingga ia layak dijuluki the real president hari ini. Pak Beye hanya wayang yang tidak bisa berbuat banyak dan hanya jadi budak kapitalis atau sekedar main nyanyian dan bikin lagu atau mengadu kalau sedang difitnah, siserang dan mengembik seperti kambing terinjak gajah hamil atau analogi yang lebih humanly ibarat wayang dan dalangnya adalah Ki Ical Bakri sebagai the Man behind the Scane. Orang awam juga punya perumpamaan jika pak beye ibarat bulan Ki Bakri adalah mataharinya, jika pak beye ibaratkan paku maka pak Bakri adalah palunya sekaligus tukang pukulnya.

Mengapa ARB sebagai the real president? beberapa alasan dibawah ini barangkali akan menambah senewen para pendukung fun berat album pak beye dan menambah cerdas para tukang kritik pemerintah dan penguasa (two thumbs up for you). Alasan pertama sebagaimana para ‘rakyat kompasiana dan juga beberapa pakar/ ilmuwan yang tentu saja punya nilai ‘obyektifikasi’ lebih dari LIPI seperti Pak Ikrar Nusa B, Pak Haris, dan Ibu Kurniawati yang tetap kritis menyampaikan pemikiran jernihnya bahwa kira-kira ‘kegagalan’ Pak Beye harus dikritik dengan jujur dan besar hati menerima sebagai take and give atau give and take, bukan dilawan dengan teror dan over self-defense yang tidak perlu. Cukup berlindung dibelakang ARB sudah cukup aman, kalau kurang aman sembunyi digunung uhud sambil Haji atau umrah. Semua orang tahu, bahwa ARB adalah pelindung pak Beye paling hebat dan bahkan lebih kuat dibandingkan jendral atau kopasus atau BIN yang sering salah tangkap dan salah memberi resep kepada pak beye (red: Kasus pak Beye merasa akan dibunuh). Padahal sejatinya pak Beye ini powerlessness makanya kadang penulis ragu bahwa mengkritik pak beye bia mengubah keadaan tapi kalau tidak dikritik pak ARB bisa makin berjaya dengan gerbong kapitalis lainnya. Para demonstran boleh saja menaikkan (maximazing) tuntutannya sebab penguasa juga memaksimalkan keuntungannya dengan bergandengan dengan kapitalis sehingga game ini belum selesai dan demonstrasi adalah proses sadar masyarakat yang mutlak harus dihargai sebagaimana bangsa Eropa, Amerika sampai hari ini tetap menggunakannya sebagai sarana protest bahkan protes ke Obama lebih keras dari pada di Indonesia yang baru sebatas membakar foto Pak Beye atau membawa Sapi ke Ibukota.

Alasan kedua, Pak beye berderet-deret kegagalannya mulai dari ketidakmampuan mengamankan teritorial dan rakyat dari berbagai kematian massal baik karena bencana perusahaan atau bencana yang diakibatkan negara lalai atau penghinan dari bangsa lain atas TKI dan TKW/TKW kita. Sekuritas adalah hak asasi manusia yang pelaksanaanya diserahkan kenegara lewat polisi dan tentara dan juga pamongpraja, hansip, sampai preman jalanan (informal instititution, shadow state). Kelompok pemodal besar yang kuat menekan pemerintah juga bagian dari preman atau shadow state (Reno 1993). Pak Beye terkesan membiarkan dan membenarkan tesis bahwa tentara dan polisi dibentuk bukan untuk melindungi warga tapi menakuti dan menteror, menculik, atau menjaga presiden jika ada demonstrasi besar-besaran. Hal ini serupa dengan kata-kata George W. Bush bahwa Tentara diutus ke Irak atau Afghanistan bukan untuk membangun bangsa tapi untuk memenangkan perang (Fukuyama, 2006). Jadi pak Beye menerapkan hukum rimbah, yang lemah hancur yang kuat makmur. Jadi pak Beye gagal menerapkan prinsip dasar: Defense its self. Tirani mayoritas yang menindas minoritas terus bermunculan negara seolah diam sebagai pemadam kebakaran atau penjaga kuburan. Inikah bangsa yang penganut agama yang menjunjung moralitas? Ironis!

Ketiga, Tentu saja kedaulatan pangan tidak terwujud dan penderitaan rakyat makin berat, kemiskinan belum berangsur susut tapi kualitas orang miskin semakin parah tingkat ambang batasnya. Bukan saja dibawah garis kemiskinan tapi satu jengkal menuju kematian alias sekarat. Pemerintah hanya bisa klaim sana-sini, manipulasi data dan sebagainya. Sialnya, bencana bertubi-tubi pak beye hanya menjadi artis datang dan membawa rombongan yang hanya nyengir di depan TV. Tentu saja anggaran negara dipakai untuk seremonial. Hal ini disinggung Pak Ikrar dalam opininya di Kompas yang membandingkan pak Beye dengan Presiden Chile, Sebastian Pinera, yang jauh berbeda lantaran presiden Chile itu hadir disaat genting memberikan empati dan support pada korban pertambangan (Bakti 2010 dalam ‘sebelum prahara’). Dalam hal ini Pak Pak Beye melanggar hukum alam ke dua syarati negara kuat: feed its self!. Jujur saja banyak di negeri kita ini membenarkan ayam mati dilumbung padi (pepatah umum), menjadi gelandangan di negara sendiri dan orang laian (Cak Nun), atau menjadi kuli negara sendiri dan menjadi kuli bangsa lain (Soekarno). Orang lapar, tidak punya rumah mungkin jumlahnya tidak pernah dilaporkan negara. Negara yang imsomnia, lupa daratan dan lupa lautan tapi tidak lupa membuat lirik lagu atau ‘nyanyian’ sumbang di TV di kelilingi para jubir dan jablay. Untuk memahami ini lebih detail silakan baca Ivan Hadar dalam opininya ‘stagnasi angka kemiskinan’ (kompas, 14/7/10). Di bawah pemerintahan pak Beye, bangsa ini tidak hanya kehilangan kedaulatan pangan, tapi hampir semua kedalauatan digadaikan ke penguasa modal baik dalam atau luar negeri. Century gate yang tidak selesai, tumbal mertua dipenjarah adalah rangkaian skandal perlindungan terhadap koruptor dan pengusaha nakal kelas berat (yang ditangkap hanya kelas coro).

Alasan keempat (banyak lagi kalau mau ditulis) dan tidak kalah pentingnya adalah hukum yang sudah dikhianati pak Beye yaitu pemerintah yang kehilangan independensi, presiden yang loyo, lemah, dan powerlessness dibawah ketiak kapitalis, sekelas ABR yang menguasai jagat politik istana negara dan nasib pak Beye seolah dikepalan tangan ABR sehingga kedua orang ini makin mesra untuk saling bermain mata dan dagang babi. Ketika pak beye takut dilengserkan ABR datang membawa asuransi ‘jiwa’ dan ‘kursi’ kepresidenan dan ketika ABR tidak membayar pajak atau menelantarkan koran lapindo dan pencemaran maka pak Beye datang bawa kuitansi pembayaran pajak dan seterusnya mereka bermain game (game theory) dan keduanya adalah model win-win solution atau win-win situation, tapi rakyat kebanyakan-lah yang kalah (the losers) dan merana akibat ulah kedua orang tersebut. Untuk mengilustrasikan kedua orang yang bermain catur di meja Indonesia dan memegang nasib anak-anak bangsa bisa dilihat gambar di sebelah ini yang ada dua orang bermain catur dan hidunya dijepit lantaran kotornya permainan dan baunya persekokongkolan busuk ini. Point disini adalah negara kehilangan kedaulatan cara memerintah secara akal sehat dan bersih dalam rangkah melindungi dan membela hak rakyat. Penyakit kegagalannya adalah tidak mampu govern itself tapi disetir informal state atau driven by shadow state. ABR adalah salah satu senior presiden negara bayangan tersebut.

Dalam konteks ini Pak Beye sudah menjalankan bisnis kotor, menghidupkan bandit politik, sebagai aktor atau memelihara strongman yang sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi monster yang kejam dan kekejaman itu digunakan untuk membunuh rakyat secara perlahan-lahan tapi penuh kepastian (slowly but sure). Lihat saja petani yang kehilangan lahan suburnya, nelayan yang tidak punya pancing, atau tidak tahu dimana harus memancing lantaran kapitalisme dan penguasaan perairan untuk kapal-kapal besar dengan jaring pukat harimau yang mampu menangkap ikan dari dalam kandungan sampai yang besar atau yang hampir mati karena usianya. Petani kecil tidak dapat apa-apa begitu juga nelayan. dari sini apa yang pemerintah sudah kerjakan? jika reshuffle, maka reshuaflle tidak cukup hanya menterinya (jongosnya pak Beye), tapi presidennya harus juga di-reshuffle atau biar jelas penguasanya, KI Dalang Ikal Bakrie duduklah sebagi presiden di Itanah negara agar rakyat tahu siapa yang sebenar-benar berkuasa atas nasib dan hajat hidup orang banyak.

Lebih dari 6 tahun menonton wayang Pak Beye yang dijuluki ‘presiden’ rasanya dah tidak tahan, enam tahun sudah menyaksikan jarak jauh lagu dalam albumnya yang sudah masuk materi ujian CPNS dan bentar lagi akan masuk dalam kurikulum sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Makanya dengar dan hafalkan baik-baik lirik dalam lagunya, sentuhan feminimnya, dan catat dalam otak sebelum pergi ke tempat ujian pegawai negeri atau sertifikasi. Jadi, setahun ini menahan kegelihan dan kesedihan sekaligus. bagaimana tidak? rakyat miskin papa disuruh berharap sama wayang beye smeentara dalangnya bisa berbeda opsi. Ki Ical bakri atau ARB bisa pakai jurus mabok, dewa menyembur lumpur lapindo, dan atau pakai jurus yang pak beye tidak bisa memerankannya: menembak lebih cepat dari bayangan. Sekali lagi, harapan rakyat tinggal harapan diujung langit.

Sebagai tambahan, penulis sadar mengkritik saja tidak cukup dan sementara hanya bisa mengkritik sebagai wujud cinta pada bangsa, empati pada rakyat miskin, dan dibodohi (walau kata pembela pak beye rakyat sudah pintar sehingga memilih pak beye dengan sadar). Yakinlah rakyat belum pintar berpolitik, rakyat hanya kuat menanngung beban dan derita yang pak beye saja tidak akan sanggup menahannya. Jika penderitaan sudah seberat gunung ditambah keluh kesah pak beye di depan layar televisi tidak sedikitpun membuat anak bangsa tersenyum dan bangkit malah lemas dan frustasi sehingga wajar banyak kekerasan di sana-sini lantaran negara tidak hadir sebagai pembela kepentingan rakyat(the have not, powerless) tapi membudak pada kekuasaan modal dan kaum berpunya (the haves).

Pak Beye memang sosok fenomenal, diberikan gelar presiden pilihan rakyat meski hanya 60,80% dari jumlah pemilih atau sekitar 73.874.562 (kurang dari 1/3 jumlah penduduk sejumlah 238 jt), ini termasuk di dalamnya yang salah coblos atau manipulasi kertas suara (kpu.go.id). Kenyataanya, 6 tahun hanya jadi wayang dan bukan the real president. Seorang presiden akan meninggalkan kesan yang berarti bagi rakyat miskin bukan hanya kesan ganteng dan gagah di layar tv. Sebelas tahun bukan waktu yang singkat bagi kaum miskin yang mendesak harus segera ditolong dan negara yang mempunyai kekuasaan untuk menolong dan hanya pemimpin negara yang kuat yang bisa membela rakyat miskin seperti Hugo Chaves, Che, Mahatma Gandhi, Evo Morales, Soekarno, Hatta, atau Ahmadinejad, Fidel castro tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya mereka tampil sebagai pemimpin berkarakter kuat dan bukan menjadi wayang apalagi hanya paku, atau babi buta. Ini dramatis tapi inilah faktanya kemenangan kapitalis yang bersekongkol dengan penguasa yang seolah-oleh menjelma sebagai presiden sebagai konsep negara modern dan demokrasi. Demokrasi prosedural atau pemilihan langsung bukanlah legitimasi untuk melakukan pelemahan terhadap hak asasi rakyat, hak keamanan, dan mendapatkan pekerjaan serta kehidupan yang layak. Jika penguasa sudah jatuh ke tangan kapitalis maka anarki, despotis, kleotokrasi, dan oligarki adalah kenyataan pahit yang mesti diterima rakyat yang lemah tidak berdaya.

Menyerahkan ‘demokrasi’ rakyat ke tangan-tangan yang tidak pro-rakyat yang tercermin dalam menteri-menteri dan pejabat incompetence adalah kesalahan terbesar Pak Beye, dan menyerahkan sistem ekonomi pada golongan neoliberal dan kapitalis/pengusaha hitam adalah kesalahan maha akbar pak Beye yang dampaknya tidak hanya di dunia tapi sampai diakherat (bagi yang yakin). Rakyat menjadi korban sampai anak cucu dan cicitnya tak terperihkan penderitaannya. Banjir Wasior, Lapindo, Prita, kasus Mbah priuk adalah salah satu contohnya. Sekali lagi pilihan pemerintah merapat dan menerapkan sistem perekonomian pada kekuatan invisible hand. market oriented tidak hanya mengkhianati pemikiran cerdas Soekarno dan Hatta dalam konsepnya ‘Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi’ tapi juga bertentangan dengan konstitusi tertinggi negara kesatuan Republik Indonesia (UUD 1945) yang menentang perekonomian liberal dan tarung bebas yang mematikan kelompok yang lemah dan miskin. Jika penguasa sudah melanggar konstitusi, apa ada alasan untuk tidak menggulingkan, menggusur, melengserkan ke prabon? Apa masih ada alasan untuk dipertahankan? Mungkin ada yang membatin biaya politik mahal, tidak ada yang lebih hebat dari pak Beye (ada Pak Ical Bakri!), atau ada juga yang nyeletuk ini omong kosong atau bullshit dan sebagainya.

president Bakrie didampingi wapres Budiono

Sebelum ada yang menanyakan solusi, penulis sampaikan juga ide menyelamatkan bangsa dari korban pencaplokan penguasa yang bersekongkol dengan pengusaha hitam maka yang pertama harus ada perubahan besar, resafle yang radikal yaitu resafle presiden jika tidak mau berubah dan berbalik arah. Penguasa atau presiden harus kuat, tegas, tidak mudah mengeluh, berani mengabil resiko, berani melawan kekuasaan kapitalis dan neoliberal, berani menolak hutang luar negeri, berempati pada penderitaan rakyat, dan menjalankan konstitusi UUD 1945 secara murni dan konsekuen terutama pasal berkaitan fakir miskin, bumi dan air pasal 33 dan yang terpenting tidak mengabdi pada pasar, pada setan pengusaha busuk. Jika tidak, ujungnya-ujungnya Aburizal Bakri is the Real President dan akhirnya saya hanya bisa berceloteh: Pak Susi, selamat ya atas terbit album ketiganya! Terus berkarya, jadilah penyanyi, artis, dapatkan Nobel, dan gelar pahlawan. Untuk para pejuang, Selamat melawan!

Bersambung (tulisan berikutnya: Dari Plato Sampai Peno Minta Pak Beye Mundur!)

HI, Oct 19,2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: