jump to navigation

Konflik, Status Istimewa dan Rezim Kapitalis November 30, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
1 comment so far

By David Efendi

“Ketika ketuhanan Yang Maha Esa berubah Menjadi Keuangan Yang Maha Kuasa. Tidak ada artinya status istimewa dan khusus karena dengan demikian sempurnalah keruskaan sebuah bangsa” (Dekpendi, 2010)

Kesimpulan yang dikemukakan oleh banyak ilmuwan sosial dan politik lima tahun terakhir ini berhenti pada kesimpulan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan perlawanan lokal, perang antar suku, kekerasan terhadap Ahmadiyah, tawuran antar desa, geger china, dan sebagainya  beserta dampak konflik ikutannya semata-mata karena sebab buruknya distribusi sumber daya alam dan ekonomi yang dikuasai negara. Indonesia, sebagai negara yang pernah dijajah asing (belanda, Jepang, Inggris), menurut Schimitter & Karl (1991:)253, mempunyai kecenderungan pemusatan kekuasaan pada seorang diktatorship. Artinya menempatkan Soekarno dan Soeharto sebagai diktator pasca revolusi kemerdekaan Indonesia. Orientasi dua diktator berpengaruh ini jelas sangat berbeda jika Seokarno berorientrasi ‘wealt of nation’ dalam arti nasioanlisme yang tercermin dalam sistem perekonomian dan konstitusi UU 1945 pasal 33.

Sementara diktator Soeharto lebih beroerintasi semangat kapitalisme yang membesarkan kroni dan kapitalisme asing yang berujung pada kontrak freeport yang mengkianati nurani dan konstitusi negara. Jika, keadilan distribusi kekayaan bumi Indonesia yang berada di papua di kelola dengan baik tentu republik ini sudah berada jauh lebih baik dari sekarang, pasca reformasi dan di era desentralisasi. Dalam konteks ini saya melihat diktator Seokarno memiliki kontribusi yang kecil atas kerusakan bangsa bila dibandingkan dengan Soehato dan penggantinya. Nasionalis, meski politik yang berdarah, tetap mempunyai arti penting bagi masa depan bangsa. Artinya jika semua dikelola kapitalis asing, tentu generasi masa depan tinggal mendapat tulang belulang yang tidak bisa diharapkan akan membawa kebaikan umum.

Di era Soekarno muncul banyak pemberontakan daerah tapi saya menyangsikan jika semuanya diakibatkan oleh distribusi ekonomi yang timpang antara jawa dan luar jawa. Jika alasannya karena revivalisme antara kelompok islam dan nasionalis saya kira masuk akal mengingat ketegangan ideology dalam waktu bersamaan terjadi di banyak negara yaitu antara komunisme dengan nasionalisme, antara socialisme dengan kapitalisme dan antara diktator melawan massa , antara pemerintah monarki dengan democrasi, dan sebagainya. Dalam banyak argumen di buku sejarah disebutkan alasan ideology pada era pasca kemerdekaan sangat melimpah dan ini banyak berbeda ketika regime kapitalime orde baru yang menggunakan sistem ekonomi liberal yang kemudian mendapatkan perlawanan keras dari kelompok sosial dan agama baik di daerah atau di level nasional. Semua kemudian berujung pada tumbangnya Orde Baru. Kebetulan runtuhnya Orde baru sama persis diakibatkan oleh korupsi sebagaimana runtuhnya ‘mafia’ dagang VOC yang membawa keruntuhan belanda di Asia tenggara.

Otonomi Khusus Papua

Pemberian status istimewa ini terbukti hampa. Setelah 10 tahun reformasi, setelah 7 tahun menikmati status khusus di papua tidak banyak perubahan yang dialami rakyat papua hanya mereka sekarang punya banyak pusat pemerintahan tapi tetap miskin akses terhadap kekayaan alam. Sebagai contoh, kicauan Amein Rais dalam bukunya agenda mendesak bangsa tidak banyak dihiraukan oleh anggota DPR, MPR, dan eksekutif untuk melakukan perubahan kontrak karya dengan PT Freeport Mcmoran di Timika tersebut. Trilyunan dollar tetap mengalir ke pemilik perusahaan tambang raksasa yang mendapat hak mengelola total 50 tahun. Di waktu yang sama, rakyat papua hanya mendapatkan cipratan Dana Alokasi Khusus dan sejenis CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan yang konon kabarnya ditilep para penguasa lokal.

Jadi kalau banjir di Jakarta menenggelamkan ibu kota negara, mungkin rakyat papua akan sukur alhamdulillah karena berbagai sengsara dan pertanyaanya apakah ibu kota negara akan dipindahkan ke Papua dan rakyat papua dipindah ke Jakarta? Ini yang agak sulit di jawab. Negara ini berkantor di jakarta dan memompa sumber daya alam di daerah untuk diberikan ke negara lain dan hanya menyisahkan sedikit untuk rakyatnya yang lain tumpah ke saku penguasa.

Soal status ‘istimewa’ yang sedang panas diperdebatkan terutama status Yogyakarta. Pemerintah melalui SBY memberi signal agar gubernur Yogyakarta dipilih secara langsung mendapatkan kecaman luar biasa dari masyarakat Yogyakarta yang sedang ditimpah bencana alam. Di sisi lain, dukungan kepada sby mengalir dari berbagai partai yang memang menghendaki ‘demokrtaisasi’ secara membabi buta dan tanpa pandang bulu.

Ke depan, jika regime ‘gila’ ini terus berkuasa, maka semua daerah akan sama, tidak pandang nilai lokal, budaya, kekayaan dan sebagainya, tidak perlu lagi DAK semua DAU atau dimerdekakan sekalian dari subsidi pusat. Artinya ‘demokrasi’ versi negara ini akan melululantakkan nilai lokal dan tradisi yang berbeda di daerah. Akibatnya, perpecahan akan kembali lahir baik yang konflik berkepanjangan atau yang mengikuti kakak tertua Timur leste yang sudah merdeka. Jika Timur leste bisa, kenapa Jogyakarta dan Papua tidak? Ini kan demokrasi bung! Hak membentuk negara merdeka dilindungi oleh hukum alam dan juga hukum internasional.

Hi, Nov 29, 2010

Pelangi itu menempel di jendelaku… November 28, 2010

Posted by lapsippipm in Poems.
add a comment

By David Efendi

Pagi yang seperti biasa, dengan perasaan kangen tumpah.
Pagi ini, penuh dengan suasana ceria ketika kubuka jendela di lantai 9 yang menghadap ke gunung. Burung-burung dengan riangnya, pohon dan bungah-bungah yang berseri di lereng-lereng bukit yang tergiring dari kampusku. Ohh…indah betul pemberianNya.

Setiap pagi semangat harus dibangun. Jika kita bisa, banyaklah memberi makna pada kehidupan, banyaklah memberi damai pada kehidupan. Jika tidak bisa, tentu kita akan tetap berusaha sekecil-kecilnya. Senyum adalah wujud bahwa kta cinta kehidupan, menyayangi sesama dan mensukuri segala anugerahnya.

Dikala sedih orang tidak boleh lupa bahwa banyak kebahagiaan yang kita punya, banyak rizki yang sudah kita terima. Kesedihan hanya bagian kecil dari kehidupan dan sisasnya adalah keriangan seperti burung-burung yang ceria di sini. Mereka tidak takut ‘kelaparan’ atau kemiskinan lantaran mereka sadar alam ciptaan tuhan memberikan segala yang dibutuhkan setiap hari seumur hidup burung-burung itu.

Manusia sedikit berbeda, punya akal dan nafsu yang besar sehingga segunung emas pun tidak akan menghentikkan langkahnya mencari 2,3,4…gunung emas lainnya. Kadang dengan segala cara, they look for it with all of ways. Kadang menyerempet bahaya haram, kadang berada dalam lumpur haram tidak peduli sebab mata gampang dibutakan oleh nafsu kerakusan dunia.

Jika kita berdamai dengan diri sendiri, maka kita akan berdamai dengan alam, dengan kebencian dan ketakutan. Jika kita bisa mensukuri apa yang ada tentu kita tidak akan pernah gelisah dengan apa yang tidak kita punya. Orang enggan membunuh iri hati dengki dalam dirinya dan senantiasa melestarikannya sebagai bagian kehidupannya. Orang merasa tidak ‘berdosa’ jika hatinya sedih melihat orang bahagia dan senang. Inilah tipu daya setan yang sudah ada di hati manusia semenjak cerita manusia pertama: Adam dan anak cucunya kita semua.

Bumi akan menjadi panas lantaran hati yang bergejolak, nafsu yang mengangaksa menjadikan perlombaab membangun senjata pemusna massal, nuklir, kimia dan senjata bilologi untuk memuaskan penguasa yang mengorbankan rakyat dan bumi manusia. Bumi serasa hanya miliknya dan penduduk biasa adalah pasir yang bisa ditempel dalam tembok sejarah atau ditenggelamkan dalam perut bumi kapan saja.

Manusia iri dan penguasa rakus sama buruknya. Manusia pendengki memperburuk kehidupan keluarga dan pribadinya serta sekelilingnya sementara penguasa rakus dengan nafsu jahanam akan membahayakan semua mahkluk di antara bumi dan langit, emngancam segalanya. Mereka senang mengutuk kegelapan dengan memadamkan cahaya, mereka lebih suka bumi tanpa pelangi.

Sementara aku di sini, setiap pagi, hampir setiap hari dihadiahi pelangi. Seringkali, seperti pagi ini, ia menempel tepat di jendelaku. Pertanda baik, bahwa kehidupan akan terus berputar dan walau berbeda pelangi akan menampakkan keinddahan luar biasa. mejikuhibingu.

Hawaii, bumi Barack Obama, Nov,27 2010

_______________________________________________________
David Efendi,

Political Science University of Hawai’i at Manoa, USA
1711 East-West Road.,# 628 Honolulu, HI 96848
Phone: (808) 944-7960/9051-944-7015

http://www.kompasiana.com/www.youthrevolt.wordpress.com
http://www.youthrevolt.wordpress.com
http://www.lapsippipm.wordpress.com
http://www.hismag.wordpress.com

File, Folder, dan ‘Obesitas’ Birokrasi November 28, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

David Efendi, UH Student

Salah satu dari wajah atau karakteristik penting birokrasi negara yang disinggung oleh Max Weber adalah ‘file and folder’ (Gerth & Mills,1958:197) di mana dokumen negara dirahasikan, dibagi, dan dijadikan alat control bagi Negara kepada society (masyarakat). Dokumen ini dalam batas tertentu merupakan nyawa kuasa-negara, nyawa birokrasi yang membedakan karakter dengan masyarakat yang terbuka, egaliter dan menampakkan humanism tinggi. Sementara birokrasi dalam file dan folder itu menyimpan rasa curiga, mawas, rahasia, unequal/hierarchy, diskriminasti, tertutup, dan dalam banyak hal tidak humanis. Itulah gambaran Negara kita, Negara post-kolonial yang hampir sempurna meniru dan menjiplak perilaku birokrasi ‘bapak’ kolinial Belanda.

Pembagian file dan folder sama logisnya dengan pembagian kekuasaan bagi elit dalam trias politika dalam konsep John Locke (1632 – 1704) yang disempurnakan Montesque (1689-1755) yang membagi kekuasaan dalam folder eskektif, legislative, dan yudikatif dalam rangkah selain mencegah tirani, pemusatan kekuaasaan dan ‘obesitas’ otoritas juga dimaksudkan untuk ‘check and balance’. Dalam system negara modern sekarang , ide itu diimprovisasi untuk kemudian membagi lagi kekuasaan tersebut dalam file-file yang tersebar dalam system desentralisasi/otonomi, atau lembaga non otonomi seperti auilory body yang dibentuk dalam berbagai macam badan, lembaga, yang merupakan pembantu memperkuat keberadaan folder. Namun, dalam banyak hal karena individu punya kepentingan, dan mempunyai self autonomy meski terbatas maka seringkali folder dan file tidak menjadi satu kesatuan dalam praktis bahkan bisa saling bertentangan dan menjadi tidak efektif apa yang diharapkan penguasa yang menghendaki unity of power tapi praktinya adalah penyebaran kekuatan kekuasaan (spread of power).

Birokrasi yang rumit atas nama rasionalitas dan legal formal sebagai karakter birokrasi lainnya sebagai takdir taken for granted yang tidak bisa ditawar, tidak bisa dinaik-turunkan sesuai keadaan masyarakat. Semua seolah baik jika tidak ada diskriminasi bagi kepentingan publik. Saying, Weber terlalu percaya pada sikap manusia bijak yang seolah tidak terpengaruh oleh vested interest pribadi dan kelompok. Banyak kenyataan menunjukkan, dibalik secret dan gagahnya birokrasi, mengidap penyakit kangker stadium 4 di mana birokrasi bisa dijualbelikan dengan konsesi ekonomi, social politik yang luar biasa. Praktik regim military-birokratik di Indonesia dipentaskan secara apik dan cantik semasa orde baru hampir 32 tahun lamanya dan sisa-sisa atau model tersebut masih berlanjut lantaran mengakar dan menyatu dalam semangat mekanisme dan logika pemerintahan.

Kerumitan atau komplikasi ‘file and folder’ itu terbukti secara nyata mamakan korban pada zamannya terutama masyarakat kelas bawah yang tetap memandang birokrasi sebagai praktik penjajahan lama yang tetap eksis dalam hasanah konon zaman pencerahan yang mengedepankan atak dari pada otot, pikiran dari pada emosional, dan hati ketimbang gengsi serta terbukanya ruang publik, diskusi, dan ruang komunikasi dalam berbagai bentuknya. Maka tidak heran, tuntutan kebebasan pers, berserikat menyeruak pasca reformasi 1998 dengan berbagai euphoria sementara ‘negara’ sebagai pusat kuasa mencoba memberikan angin segar kemerdekaan bagi warganya sekaligus member batasan dalam regulasi. Misalnya, undang-undang informasi dan komunikasi, undang-undang pers, dan sebagainya. Jadi, meski ada reformasi kebebasan sipil tapi folder dan file tetap dijadikan alat control efektif atas kebebasan warga dan di satu sisi tetap melestarikan budaya transaksi birokrasi di bawah meja dalam praktik KKN.

Dalam Negara ‘folder dan file’ pelaksana birokrasi di ujung tombak seringkali menjadi korban keganasan massa dalam berbagai praktik street level bureaucracy tapi pengambil kebijakan dan pembuat isi file dan folder tidak mersakan dampak dari buruknya system tata birokrasi selama ini. Pengambil keputusan meminta birokraqsi harus professional tapi apa yanbg diputuskan oleh decision maker justru menghasilkan konflik di bawah seperti kasus BLT, SLT, dan bantuan recovery bencana di Yogyakarta dan Aceh. Pelaksana birokrasi yang kroco, yang berhadapan langsung dengan publik mempertahankan amanah sebagai abdi Negara secara mati-matian mempertaruhkan segalanya melayani masyarakat sementara pembuat folder dan penentu isi file serta di mana harus disimpan dalam dokumen ‘komputer’ kekuasaan seringkali menjual belikan  folder dan file secara lebih murah dan korup.

Lambat laun (slowly but sure), Negara ini dibunuh oleh obesitas birokrasi yang melingkupinya. Karena birokrasi tidak netral dari poltiik maka kecenderungan distruksi sangat besar apalagi di zaman di mana liberalisasi politik sudah dilegalkan, pemilu langsung sudah dipraktikkan sebagai isyarat pertarungan siapa punya apa dan bagaimana berbagi kelicikan untuk merebut kursi kuasa yang menentukan jenis folder, nama, isi file, dan juga kewenangan untuk mendelete folder atau merevisi file—keputusan egara penting, kebijakan, uu, pp, dan sebagainya. Semua dilakukan dalam rankah akumulasi capital dan upaya mensejahterakan diri, partai, dan golongannya. Karena demokrasi, pemilu tidak gratis, maka kekuasaan harus memberikan kontribusi balik kepada pemodal, demikianlah logika rasional kekuasaan masyarakat kapitalis.

Negara yang mengalami ‘obesitas’ (kegemukan) birokrasi akan mengalami kelambanan luar biasa dalam melayani masyarakat secara umum. Keberpihakan semu, retorika, dan janji pengentasan kemiskinan hanya menjadi project temporal dan bukan jangka panjang maka yang dilakukan distribusi ‘ikan’ untuk masyarakat miskin dari pada memberikan pendidikan dan training keahlian. Kegemukan, memang disadari, tidak secara langsung membunuh Negara, tapi jutaan rakyat akan terkena dampaknya baik material maupun social-spiritual. Dampak birokratisasi dalam pembagian raskin, blt, pnpm, dan bantuan bencana sudah meluluhlanttakkan kohesi dan perekatan social selama ini—belum local wisdom yang dibantai habis oleh rasionalitas Negara yang tidak mengenal nilai kearifan di tengah masyarakat.

Terhitung, orang meninggal karena antri blt, berkelahi karena tidak dianggap miskin, dan seterusnya terjadi ketika Negara ini mempunyai sub folder 92 macam dalam bentuk badan non structural baik komisi nasional, badan, lembaga, dan sebagainya. Di era demokrasi electoral yang berkuasa tidak lebih hanya sekedar memilih dan berbagai file untuk di masukkan ke dalam masing-masing folder untuk kepentingan kaum ‘aristocrat’, kleptocrat, birokrat dan pejabat’ tanpa memandang golongan dan eselon semua akan terkena ‘laknat’.

Paling laris dalam semua panggung ‘demokrasi electoral’ Paling laris dalam semua panggung ‘demokrasi electoral’, atau ‘demokrasi prosedural’ ( Schumpeter, 1947) dan ‘poliarchy’ (Dahl,1971) di Indonesia adalah persekutuan, koalisi, atau komplotan kandidat yang berisi politisi, birokrat dan pengusaha serta berbagai tumpang tindih profesi/backround . seseorang bisa merangkap pengusaha sambil emnjadi pejabat politik (elected body), atau pengusaha bisa menjadi politisi yang duduk di kepengurusan partai atau parlemen. Mereka elit lama, cicit penguasa Orde baru yang mengalami konsolidasi dan proliferasi seiring desentralisasi diterapkan—memunculkan raja kecil atau neo-feudalisme baru. Kisah ini banyak ditulis oleh Robison (1990) dan Hadiz (2007,2010) dan proses pembajakan birokrasi substansial ini terus saja terjadi tanpa rintingan. Dua actor, menurut Niskanen (1975) , yang paling berperan dalam kontek Amerika adlaah politisi dan birokrat sementara di Indonesia antara politisi, birokrat dan pengusaha berbagi kue kekuasaan dan project ekonomi kapitalis. Walau perdebatan tentang apakah birokrat menyetir politisi dan seballiknya karena masing-masing punya keunggulan komparasi—birokrat punya atoritas dalam bentuk ‘file dan folder’ dan experts, sementara politisi punya power. Namun, keduanya ketemu dalam masing-masing kepentingan yang tidak kontras yaitu birokrat butuh penambahan pendapatan di luar gaji, dan politisi perlu untuk terpilih lagi (Niskanen, 1975.p.617-43). Tapi, kasus di Indonesia menunjukkan, birokrat punya jalan tol menjadi politisi ‘paripurna’.

Akhirnya, jika ada yang bertanya apakah ada gagasan penghadang obesitas? Saya kira kita masih relevan untuk mencoba belajar dari Ted Gabler dan David Osborn (1992) dalam reinventing government yaitu mengolahragakan pemerintah agar sehat dengan badan yang ramping gesit dan irit inilah yang kemudian kita kenal sebagai gagasan cemerlang ‘entrepreneur birokrasi’. Ide ini menyaratakan selain keahlian actor birokrat, professional, kemampuan menyetir, punya misi yang jelas,  dan bebas dari kepentingan politik tapi bekerja untuk meringankan beban birokrakrasi dan menggeser pola birokrat yang minta dilayani menjadi melayani dengan penuh dedikasi, inofasi, dan kerja nyata bukan kerja di balik meja. Saatnya membunuh ‘obesitas’, jangan di tundah sebab ini penyakit di Amerika paling bebahaya abad ini.

HI, Nov 26,2010

Carrefour, Untuk Hidup Yang Lebih Baik? November 26, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

By David Efendi

“The giant body kills a well-proportioned body” (anonim)

Carrefour yang dikenal sebagai supermarket asal prancis itu punya impian dalam trademarknya: Carrefour, untuk hidup yang lebih baik. Branding Carrefour Indonesia tentu luar biasa bahkan lebih terkenal dari branding Indonesia: ulimate diversity yang sangat awam bagi kebanyakan orang termasuk saya jikalau tidak menulis paper kuliah tidak bakalan mengenal branding atau slogan negeri sendiri.mUngkin ada baiknya menyimak sekilas sejarah carrefour di note pendek ini.

Carrefour, bahasa perancis, yang artinya persimpangan jalan merupakan kelompok supermarket internasional, berkantor pusat di Perancis. Carrefour adalah kelompok ritel terbesar di eropa dan kedua terbesar setelah Wal-Mart. Sampai saat ini mayoritas sahamnya masih dikendalikan oleh Jose luis duran sekeluarga. Gerai Carrefour pertama dibuka pada 3 Juni, 1957, di Annecy di dekat sebuah persimpangan (carrefour, dalam Bahasa Perancis). Kelompok ini didirikan oleh Marcel Fournier dan Louis Deforey. Hingga kini, gerai pertama ini adalah gerai Carrefour terkecil di dunia. tidak seperti carrefour lainnya yang karyawannya menggunakan sepatu roda untuk menjelajahi luasnya tuh gerai. Kelompok Carrefour memperkenalkan konsep hipermarket untuk pertama kalinya, sebuah supermarket besar yang mengombinasikan department store (“toko serba ada”). Mereka membuka hipermarket pertamanya pada 1962 di Sainte-Geneviève-des-Bois, dekat Paris, Perancis. dan sekarang total gerainya sekitar 15.000 dengan karyawan sekitar 700.000 di seluruh dunia.

Karena carrefour ini bukan milik bangsa sendiri tentu banyak kelemahan ekonomi nasional dan lokal lantaran miliaran uang mengalir ke dompet orang di negeri jauh. Pemerintah yang ‘bodoh’ tidak berfikir dampak panjang dan lebar dari model pasar kapitalisme modern ini. Asal dapat pajak dan investor asing sudah senang. Bahkan kesenangan itu dilegitimasi dengan disahkan undang-undang PMA baru (UU 25/2007) yang jelas sangat pro-neoliberal, pasar bebas, leissez-faire. Sesuai dengan ari kata carrefour, bahwa kehidupan lebih baik itu ada dipersimpangan jalan di Perancis, sementara rakyat miskin tetap bergerak menuju kemiskinan absolut. Bangsa ini hanya mendapat uang parkir, uang bayar pipis dan BAB plus BAB dan kotoran lainnya. Sementara yang labanya trilyunan rupiah bergelimpangan kesenangan di negeri entah di mana.

Gerai Carrefour di Indonesia dibuka pada bulan Oktober 1998 dengan membuka unit pertama di Cempaka Putih, Jakarta. Di Indonesia, Carrefour memiliki 41 gerai di sepuluh kota, yaitu Bandung, Bekasi, Bogor, Denpasar, Jakarta, Makassar, Medan, Palembang, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Terhitung setidaknya terdapat 52 cabang carrefour. Belum matahari, hero, wallmart, makro, ramayana dan sebagainya. Ini merupakan porter negara yang berbentuk republik, ekonomi pancasila kerakyatan tapi praktiknya pasar bebas dan pro kapitalisme.

Mungkin sekarang supermarket ini di Indonesia menjadi sarang kapitalis yang paling diandrungi di Indonesia karena harganya konon terbukti murah. Dengan harga murah dapat barang besar yang ujung-ujungnya tidak terlalu bermanfaat sesampai di rumah. Model penjualan barang seperti ini sama persis dengan supermarket atau giant market di Amerika seperti Costco, Wall Mart. McDonald dan sebagainya. Dalam kasus McDonal, kita hanya mengeluarkansekian dollar dari saku kita mendapatkan paha atau dada ayam dnegan pelayanan fast food tapi survey membuktikan bahwa kandungan dalam makanan ini sama sekali tidak berguna untuk kebaikan organ tubuh (bahkan diduga sebagai biang keledai penyakit obesity di Amrika). Hal serupa terjadi manakalah anak kos-kosan belanja meja ke carrefour, sudah tahu kamar kos kecil nekad beli meja besar produk luar di carrefour dll, ujungnya gak bermanfaat di dalam kamar sempitnya.

Beberapa hari yang lalu, kita di kelas bersama mahasiswa dari China, korea Selatan, dan Amerika diskusi bagaimana dampak supermarket terhadap pengusaha kecil dan menengah di daerah urban dan semi-urban di banyak negara. Ternyata kasusnya mirip dengan Indonesia yaitu menjamurnya berbagai anak cucu supermarket atau hipermarket di seluruh pelosok kampung, perempatan jalan antar kecamatan atau antar kelurahan dan sebagainya.

Jika pemerintah diam, pura-pura tidak tahu tentu banyak anak bangsa ini akan terperosok dalam jurang kemiskinan lantaran sudah kehilangan kail, tidak cukup tersedia ikan untuk sehari pun tidak ada. Walau tersedia kail tapi tidak ada tempat memancing, karena tempat memancing sudah direbut oleh model indomart, alfamart, dan sebagainya. Taruhlah contoh, seorang anak kecil mau beli permen harus ke indomart, seorang remaja beli rokok ke alfamart, dan nenek-nenek cari teh ke indomart, sementara di sana kanan kiri jalan depan rumah banyak toko kelontong kecil, kios dan sebagainya tidak menjadi pilihan hanya bisa jadi persoalan gengsi dan sebagainya. Kehadiran gengster kapitalism dalam berbagai bentuk super atau hiper market tersebut akan membunuh ekonomi kerakyatan sebagai tubuh proporsional dari ekonomi nasional ini atau meminjam istilah yang saya dapatkan dari Prof. John Wilson,”The giant body kills a well-proportioned body”

Untuk memproteksi rakyat lemah dari terjangan badai kapitalisme yang tidak mengenal peri kemanusiaan dan kehewanan tersebut, bagaimana kalau tugas negara kita kepada orang miskin itu memberikan Ikan, kail, dan juga ajari bagaimana cara memancing, di mana harus memancing dan cara memasarkan dan bersaing dengan para kapitalis plus berikan jaminan jika kalah akan mendapatkan safety net. Sempurna tugas negara dan setelah itu pensiunkan negara ditempat yang aman.

Honolulu, Nov 24,2010

Doa Untuk Anakku Hafiz November 24, 2010

Posted by lapsippipm in Poems.
add a comment

Doa Untuk Anakku Hafiz, dan Istriku Rifatul Anwiyah

By David Efendi


Sujud sukurku sepanjang hayatku,
sejauh kisah perjalananku yang sudah tertoreh dan yang akan
Kepada Allah kami pasrah, menyerah atas segala keterbatasan dan keringkihan hamba
Menghadapi cobaan, tantangan, dan ketetapanMu Rabb,
Doa bagiku adalah senjata, begitu juga bagi anak-cucu kelak dan istriku
Tanpa doa, betapa malang hamba tiada tertolong

Sujud panjangku sebagai ungkapan sukur,
Karena aku diberikan hidaya mengimani tuhan yang tidak berbatas ruang dan waktu
Bisa mengadu kapan dan dimana saja
Tidak peduli di darat, di laut, dan di tengah-tengah samudra beriak
sedangkan pulau, muka daratan bumi hanyalah sekecil atom dibelah seribu bagi kekuasaan Allah yang terkecil sekalipun. Tak ada banding, tiada tandingNya.

Di antara jarak ribuan mil, 18 jam perjalanan waktu dunia
Karena Allah lah memperemukan doa dan harapan kita semua
Tak ada yang tidak mungkin bagiNya, sebab
Allah sendirilah pemilik waktu, pemberi batas demarkasi siang, malam, panas-dingin, kemarau panjang dan banjir bandang…

Dialah yang maha meliputi segala, cahayanya diatas cahaya
yang mempertemukan dan memisahkan, yang memuliakan dan menjeremuskan,
yang memberi pilihan dan akal waras bagi yang dikehendakiNya.
Tidak tersisa pertanyaan soal kuasanya, smapai hari ini dimana nyawaku masih tersemat dalam tubuhku yang tidak aku tahu di mana pasti letaknya.

Karena pemilik waktu mengizinkan kita,
bersua dalam doa, dalam setiap nadi ibadah kita
Selalu dan selalu tersambung silaturahmi karenaNYa
Bukankah kita hidup dan saling berbagi atas ridhoNya
Tanpa kehendaknya, kita bukanlah apa-apa, we are nothing and meaningless.

Karena Allah kita menyatu, karena Dia kita ada
itulah keyakinan yang kita punya
akhirnya selamat menempuh perjalanan panjang dari kampung Halaman menuju kampung perjuangan,
Ke jogja akhirnya, Hafiz dan Umi kembali. Semoga selamat sampai tujuan, sehat selalu! Insyallah.

Salam cinta dan sayang
Cinta dan sayang yang terbaik dan tulus yang pernah abi Punya.
Untuk kalian berdua, my beloved son and wife.

Honolulu, Nov 24,2010
at the library in the middle night.