jump to navigation

Catatan Hati ketika Jogja diterpa bencana November 5, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback


David Efendi

Gunung itu yang setiap pagi kita pandangi dari depan rumah, begitu gagah dan menampakkan keramahan dan keagungan ilahi…saya, istri dan hafiz kecil yang baru berumur tiga hari pun sudah memandangnya setiap pagi setiap matahari menyinari punggung merapi. Gunung itu jadi satu kebanggaan, satu keyakinan, bahwa bumi ini indah dan merapi itu kebanggaan kita semua warga Yogyakarta dan yang mencintainya.

Sangat menyedihkan melihat berbagai berita di Internet, televise, dan juga sms dari Indonesia. Bagaimana tidak Yogyakarta yang damai itu diselimuti ketakutan dan kecemasan ribuan penduduknya, bahkan jutaan warga Yogyakarta. Saya yang berada di Hawaii, Amerika merasakan kedukaan yang mendalam setelah  Banjir menyapu Wasior, Gempa Bumi dan tsunami di Mentawai, dan Gunung Api meletus dan diikuti lahar dan awan panas yang merenggut lebih dari seratus nyawa, meregang.

Bukan hanya bathin ini marah pada pejabat yang lambat mesti mempunyai fasilitas Negara dan kekuasaan untuk berbuat lebih baik. Bukan hanya miris menyaksikan pola tinkah wakil bupati yang meninggalkan rakyatnya kesusahan malah plesiran ke Bali, Gubernur yang melawat ke Jermen, Wakil rakyat ke Yunani dan naik haji. Bukan hanya itu, saya pribadi merasa berada di dunia yang nyaman sementara saudara-saudaraku diterror ketakutan, masa depan yang tidak dipahami dan rasa gelisah yang mungkin lebih mematikan akal sehat dari pada awan panas. Semoga iman dan keyakinan spiritualnya menyelamatkan dari rasa frustasi dan keringnya harapan. Siapa yang memikirkan masa depan anak-anak itu?

Saya, mungkin tidak seperti yang diduga teman-teman, yang hanya memikirkan keluarga anak istri saja. Saya sangat cinta dan peduli pada Yogyakarta hingga batas yang tidak terhitung. Ketika gempa Yogyakarta, 26 Mei 2006 saya terlibat berbulan-bulan di kamp pengungsian bersama warga dan saya berpindah-pindah membantu bersama posko Muhammadiyah dan Universitas Gadjah Mada. Wajar, saya merasakan sangat tersiksa ketika tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya sedikit menyisahkan tenaga sekedar mengumpulkan uang seadanya untuk di kirim ke Mentawai dan warga merapi.

Rasanya, korban bencana tidak cukup mendapatkan kiriman doa saja, harus ada tindakan walau ribuan korban yang hampir ratusan ribu itu sudah terimo dengan doa kita. Begitu juga keluarga yang ditinggal meninggal anggota keluarga, tentu bahagia kalau kita doakan. Sambil emnulis ini saya melihat metro tv di pengungsian, mereka diwawancarai, berkali-kali melafalkan hamdalah, dan begitu tegar ibu separuh tua itu. Luar biasa kekuatan spiritual bangsa Indonesia ini. Subahanallah.

Namun, kadang ketabahan dan kesabaran ini sering disalahartikan sehingga petugas pemeirntah sering mengulur bantuan, memperlambat evakuasi dan serba birokratis karena pejabat sudah tahu bahwa rakyat kecil tidak akan mengutuknya, atau memakinya paling hanya aktifis yang akan berteriak. Extrimnya, kalau pun pejabat itu datang seribu jumlahnya, dan rakyat terkapar kehausan dan lapar sementara 1000 pejabat itu datang hanya mengucapkan kata ‘sabar ya bu, pak, demoga segera berakhir bencana ini’ mereka akan mengucapkan terima kasih dan menjawab amin. Inilah kekuatan social dan spiritual yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu modern.

Itulah yang menjadikan mereka bertahan, meski dihantam bencana ribuan kali mereka tidak akan takut menghadapinya. Seolah, mereka yakin bahwa kehidupan diciptakan berhimpit dengan kematian dan kepasrahan, rasa sabar adalah bekal keabadaian, kepuasan bathin yang termahal.

Kawan relawan, dan TNI, dan siapa saja yang membantu korban, saya sangat bangga punya saudara seperti jenengan semua. Saya berniat pulang, saya ingin berbuat sesuatu kepada jogja yang telah memberiku banyak makna kehidupan. Semoga segera ‘malaikat’ datang menghampiriku dan mengirimku ke Yogyakarta. Siang malam berdoa dan terus berdoa: pray for Yogyakarta, pray much more for Indonesia! I love you because of Allah, because we are one.

Waktu adzan magrib di metro tv ketika tulisan ini diujung, masih menangis dan berderai air mata, menerawang jauh merasakan kesedihan saudara-saudara di Yogyakarta. Ya Allah, hayya ala shollah, hayya ala falla…mari kita tolong saudara, kita raih kemenangan bersama dengan mengeluarkan saudara kita dari kesulitan dan kecemasan yang melanda bathin dan fisiknya. Semoga allah mendengar doa-doa kita.

Hawaii, Nov 4,2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: