jump to navigation

Kuburan Untuk Partai Senayan November 19, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

By David Efendi

Seorang aktifis demokrasi yang sudah bertahun mengabdi mengajari rakyat A sampai Z tentang demokrasi dan segala pilar-pilarnya akhirnya putus asa dan mengatakan: ” Kenyataan sebenarnya rakyat di bawah tidak butuh partai politik, tidak perlu wakil rakyat dan juga presiden.”. Nada frustasi ini punya banyak alasan dan secara praksis bisa mengacu pada Singapura dan Malaysia bahwa sesungguhnya rakyat butuh kesejahteraan dan bukan demokrasi yang harus dibayar mahal. Mahalnya demokrasi tidak hanya berapa trilyun uang yang dihabiskan politisi atau kandidat/partai politik dalam panggung demokrasi pemilu tapi bagaimana mentalitas rakyat yang ikhlas, lugu dan suka menolong itu digusur dengan paradigma keuangan yang maha esa, bagaimana suara rakyat suara tuhan diubah secara dramatis menjadi suara para pemodal yang beruang.

 

Frustasi Berjamaah

Banyak kalangan baik ilmuwan maupun pengamat politik dadakan menilai bahwa frustasi massa yang diakibatkan oleh political distrus sudah mengalami kristalisasi dalam beragam ekspresi kekerasan dan juga bagi beberapa kalangan yang menikmati kebebasan berskpresi malah menggunakan situasi ini untuk memuaskan nafsu menganiaya minoritas yang tidak selaur dan sejalan dengan minoritas islam yang brutal dan preman. Satu pihak menuntut keadilan ekonomi, satu pihak membela tuhan dengan mati-matian bahkan melenyapkan ciptaan tuhan dan ajaran sucinya. Tuhan dibajak dan negara tidak bergeming.

 

Orang marah dan stress tidak cukup dengan pengajian massal, atau doa berjamaah, ada banyak hal yang harus diubah dari struktur kekuasaan, piramida penggunaan anggaran negara yang timpang dan anti kemanusiaan. Suasana ini dipicu juga oleh tidak sensitifnya politisi, elit partai politik di senayan yang selalu membuat kontroversi, menghadiahi publik dengan diskusi palsu dan bahkan di saat bencana menerpa para wakil rakyat atau tepatnya wakil partai politik itu melenggang kangkung belajar etika ke Yunani dan juga naik haji bersama keluarga dengan penuh suka cita. Bagi yang belajar etika, tentu sudah gagal ketika mau berangkat lantaran merendahkan dan menganggap enteng para kurban bencana alam.

 

Soekarno jika masih hidup, tentu akan marah besar dan segera memasukkan mayat-mayat hidup partai politik ini dalam lubang kubur. Kuburan massal untuk partai politik sudah disiapkan oleh Bung Karno tinggal saatnya tiba kita kuburkan mengingat partai senayan yang disfungsi, dan tidka lagi dapat menjalankan amanah jati diri partai politik. Tidak hanya partai politik, lembaga-lembaga tinggi negara mengalami defisit moral yang dramatis hingga nilainya mendekati tiarap di lumpur lantaran tidak ada perubahan yang berarti sementara anggaran negara, tabungan rakyat tersebut habis digerogoti secara berjamaah pula.

 

Jamaah koruptor vs Jamaah Protes

Jika koruptor atau pejahat kerah putih diam-diam memakan uang rakyat tentu rakyat punya cara sendiri untuk protes bahkan alam juga berekpresi ketika dana rehabilitasinya di korup secara membabi buta. Alam punya hak untuk memakan anggaran negara karena alam sudah memberi banyak kepada negara dan ditelikung oleh pelaku kekuasaan. Penguasa bisa berdalih bahwa yang protes di jalan hanya ribuan saja sementara jumlah rakyat 240 juta yang lain tenang dan percaya. Apa diam selalu dianggap setuju? tentu ini salah sebab setiap hari frustasi kecil dan besar muncul di seluruh bagian perut tanah Indonesia lantaran merasa menderita sendiri, merasa tidak ada yang peduli.

 

Mereka memilih partai, memilih wakil rakyat dan presiden tapi tidak mendapatkan insentif secara wajar dan bahkan dilupakan, ditumbalkan atas nama pembangunan, atas nama loyalitas dan nasionalisme sementara yang terjadi hanyalah kepongahan politisi, partai politik dan pejabat tinggi memperbudak rakyat dan menuhankan pemodal dalam korporasi dan multinasional. Ini zaman edan, rakyat edan karena mengikuti penguasa yang edan duluan. Dengan cara inilah protes berjamaah itu muncul baik secara sembunyi-sembunyi atau menelantangkan diri di jalan dan di ril kereta api.

 

Sudah lelah,…kapan partai senayan dikuburkan? juga kursi presiden sekalian

Hawaii, Nov 14, 2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: