jump to navigation

“Dia Banyak Memberi dan Tak Banyak Meminta” November 20, 2010

Posted by lapsippipm in Poems.
trackback

David Efendi

Daratan dan luatan negeri kami indah sempurna

Berjajar seperti permadani yang beralas emas dan kaya akan tambang minyak

Mengundang bangsa-bangsa hadir dan bernafsu menjamah

Dan tangan-tangan jahil pun hadir atas legitimasi penguasa republik

Dari sinilah lalu kata-kata bencana akrab di telinga kita

Sejurus kemudian, awan berarak, tanah bergerak

Dari ujung pulau ke ujung lainnya seolah teriak: tolong,tolong, tolong,…

Bersahut-sahutan memanjang dan melebar, ke segala arah penjuruh dunia

Teriak kesakitan dan meraung ketakutan: tolong…………….., tolong,…

Lalu air mata tumpah, yang menyaksikan di TV terharu, menangis, dan jika mampu

Akan segera bangkit dan menolong saudara jauhnya

Tapi, kawan pasti sudah mafhum kiranya,

Pejabat-pejabat itu tetap membatu dan sebagian lainnya melarikan diri ke luar negeri

Study bandinglah, belajar kebijakan, belajar moralitas, etika dan blab la….

Orang-orang kampun itu teriak: ‘Dasar wakil rakyat maling, setan,..” sampai bangsa-bangsa hewan pun keluar dengan sempurna.

Orang bijak bilang, wajar saja

Tanahku Berguncang, Lautku Terbang dan Gunungpun Mengamuk

Tanda perilaku kita buruk

Pertanda lagi bahwa pemimpin kita tidak berhidmat pada alam

Pertanda gizi spiritual sudah lumpuh dimakan kerakusaan

Merenung dan merenung sepanjang kita mampu merenung

Menusia manusia yang ringkih bisa binasa kapan saja,

Tak pperlu menunggu bencana nasional, tak perlu menunggu ledakan atau guncangan bumi dan sapuan ombak bergunung-gunung

Hanya untuk mematikan kerdilnya fisik manusia, tak perlu menunggu lama

Kapan saja bisa terjadi, kapan saja bisa dialami karena sebenarnya, maut selalu mengintai

Itulah ilmu kebijakan, itulah kesadaran religious bangsa di mana kami tinggal,

Orang tidak pernah begitu takut datangnya kematian

Mungkin, sekali lagi mungkin,

Hanya pejabat yang beropsesi memperkaya diri dan memonopoli kesejahteraanlah,

Yang bisa jadi paling takut mati, dan sangat takut pada bencana.

Jika suatu saat engkau diberikan kesempatan untuk bepergian, bertanya

Kepada saudara di pesisir pantai paling ganas ombaknya, di daerah di mana setiap hari ada potensi gempa, dan dilereng-lereng gunung yang apinya tak kunjung padam. Lalu dengan rendah hari mengajukan pertanyaan: Apakah saudara tidak takut tinggal di daerah rawan bencana ?

Kata mereka,

“Saudara tahu,nenek moyang kami berates tahun lalu tinggal disini, bersahabat dengan harmoni alam setiap waktu dan nenek moyang kami mendapatkan kehidupan dari sini, diberikan lebih dan kami begitu menghormati tata kehidupan yang sejati. Alam adalah saudara kami”

Dan akan engkau temukan bahwa tak ada ketakutan berlebih sebab mereka pun tahu alam punya kearifan, member pertanda dan menjaga olah rasa dan jiwanya.

Sekali lagi kawan, bumi dan laut member member dan sedikit meminta.

Karena itulah kehidupan ini akan berlanjut

Jika manusia serakah itu musnah sebelum semuanya berakhir.

Hawaii, Nov 20,2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: