jump to navigation

Percuma Sekolah Tinggi-Tinggi? (part 2) December 18, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

David Efendi

“Education is a social process. Education is growth. Education is, not a preparation for life; education is life itself.”

John Dewey

Saya mencoba merasakan bahwa sekolah adalah kehidupan itu sendiri. Banyak artikel saya baca di milis sekolah kehidupan yang saya sudah bergabung kira-kira dua tahun yang lalu atau lebih. Saya merasakan samangat otodidak itu muncul sebagaimana sosok-sosok hebat anak bangsa yang belajar dari kemandirian dan tidak menggantungkan nasibnya pada institusi formal yang sekarang semakin tidak terjangkau. Masyarakt sendiri cenderung emnerima lembaga formal pendidikan sebagai taruhan nasib masa depan. Semakin tergantung kepada pendidikan formal, semakin lintang pukang bentuk kualitas dan mutu pendidikan. Komersialisasi dan kapitalisasi pendidikan semakin marak dan juga komerasialisasi pendidkan yang membunuh kesempatan bagi keluarga miskin.

Dari mana memulainya mendekontruksi pemikiran agar semua manusia tidak tercurah perhatiannya pada institusi formal pendidikan. Bagaimana caranya agar masyarakat tidak berfikir bahwa sekolah untuk merubah keadaan, untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi, menjadi pegawai yang terhormat dan sebagainya. Bagaimana memulainya? agar anak bangsa tidak terjebak lantaran negara tidak memberikan keadilan dalam kesempatan belajar di bangku formal lalu rakyat semakin bodoh dan terbelakang. Mungkin ini ada benarnya tetapi kita perlu jalan keluar yang mencerahkan bukan menindas, membelenggu alam pikir kita jika tanpa ijazah sekolah. Tengok pemikiran Friere, Dewey, Ki Hajar Dewantoro, Agus Salim, dan seterusnya. Kita juga bisa refleksikan juga kesuksesan orang-orang tanpa ijazah: Andreas harefa, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Einstein, Colombus, dan sebagainya.

Sebagai refleksi ringan, ketika anak-anak di desa saya ketika ada bapak ibu guru bertanya atau menyuruh kita menyebutkan cita-cita kita hanya ada tiga yang muncul yaitu menjadi polisi, tentara dan dokter. Mengapa demikian? menjadi polisi dianggap profesi yang terhormat karena bisa menolong masyarakat dan termasuk pegawai. Menjadi tentara adalah pekerjaan perkasa dan kuat sehingga anak-anak terobsesi dari film bahwa menjadi tentara itu luar biasa hebatnya. Sementara menjadi dokter adalah pekerjaan dengan status sangat terhormat dengan penghasilan yang besar. Saya tidak tahu pasti apa yang mempengaruhi otak teman-teman saya termasuk saya. Ketika besar, kita berganti cita-cita berubah paradigma melihat pekerjaan dan fungsi sekolah.

Di desa saya sekolah tinggi-tinggi memang kebanyakan hanya menjadi umar bakri di desa. Berbeda dengan yang hanya tamatan SMP lalu bekerja ke Malaysia atau membuka laangan usaha lalu bisa membangun rumah, membeli kenadaraan mewah dan tentu saja memberangkatkan orang tua ke Makkah untuk ibadah haji. Jika orietasi harta tentu percuma sekolah tinggi-tinggi. Di beberapa masyarakat, struktur terhormat dan tinggi sering ditumpangtindikan antara ulama, kyai dan orang kaya kampung. Banyak masyarakat yang menggantungkan diri kepada orang kaya dalam kesehariannya, sehingga pilihan kepala desa, bupati, dan presiden pun tergantung pada si Kaya tersebut. Di sinilah superioritas orang kaya yang menduduki kela elite berpengaruh. Keluarga kaya membangun ketergantungan orang miskin dan menjaidkan mereka loyal kepada burjuis kampung.

Namanya orang desa, filsafat pendidikan modern tidak dikenal. Beruntunglah yang membaca hadis, ” tuntutulah ilmu walau sampai ke negeri china”, atau “belajar mulai dari buaian ibu sampai ke liang lahat”. Tetapi ini akan emnjadi hampa jika dihadapkan pada persoalan ekonomi. Di antara kami tidak tahu jika sekolah itu bisa belajar skill sehingga di desa kami jarang yang belajar di STM atau SMK semua maunya SMA sehingga lulus SMA kami tidak punya skill apa pun. Akibatnya tersingkir dari pasar kerja dan berujung menjadi TKI ke Malaysia. SMA mengajarkan banyak teori tanpa praktik, pelajaran memisahkan manusia dari realitas bahkan ilmu-ilmu pasti itu menyibukkan diri anak-anak dan akhirnya menjadi asosial (teralienasi dari pergaulan).

Saya setuju dnegan pemikiran Ki Hajar dewantoro, Dewey, Romomangun, Friere yang mencoba mengubah paradigma pendidikan yang anti realitas menjadi pendidikan yang berbasis realitas. Peserta didik harus menyatu dengan situasi sosial, budaya, politik di mana ia tinggal sejak dini. Pengathuan alam harus dilengkapi dengan praktik, kekayaan teori dan analisis harus membumi dengan skill (keahlian) dan praktik. Tanpa itu, sekolah tidak pernah lebib mulai dari persusahaan sepatu atau kipas angin yang dicetak dan dijual. Jika beruntung ada yang membeli jika tidak menganggurlah barang-barang hasil produksi industri sekolah dan sekolah tinggi.

Plato, seide dengan Friere, mengingatkan kita bahwa pendidika bukanlah mengisi ceret kosong dengan air tetapi pendidikan (tinggi) adalah menyalahkan pelita dalam kegalapan. Begitu juga pesan nabi Muhammad mengenai keharusan manusia menyeimbangkan idealitas dengan realitas dengan mengutip hadisnya, ‎”I’mal lidunyaaka kaannaka ta’iesyu abadan wa’mal liakhiratika kaannaka tamuutu ghadan”(artinya: Bekerjalah untuk dunia mu seolah engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akheratmu seolah engkau mati besok). Karena itu penuh makna memang butuh renungan. Sekali lagi, pendidikan itu tentu harus melibatkan jiwa raga, jasmani dan ruhani, spritual dan material, teori dan praktis, dan juga kebijakan dan kebajikan. Dengan itu manusia berkontribusi terhadap keberlangsungan hidup makluk lain karena saya meyakini bahwa ujung dari pendidikan adalah pengabdian yang sungguh-sungguh kepada kehidupan, menjadi rahmat bagi seluruh alam.  Itu makna pendidikan, jadi bukan persoalan kekayaan dan gemerlap dunia fana.

Reference:

Read more: http://www.brainyquote.com/quotes/authors/j/john_dewey.html#ixzz18Jfjf5SS

Advertisements

Matinya [Para] Tukang Kritik December 17, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

David Efendi

“Jika semua rakyat berdaulat atas kata-katanya, tidak akan ada penguasa yang menghanguskan bumi manusia”

(Dekpendi, 2010)

Ketika masih duduk di bangku SMP saya sangat senang mendengar suara-suara pengkritik dari kalangan siswa kepada para guru dan kepala sekolah. Kritik itu memang tidak banyak orang suka tetapi kritik punya kekuatan membangun yang luar biasa terlepas dari kelemahan si pengkritik itu sendiri. Ini keyakinan saya dan sampai sekarang keyakinan itu tetap ada. Tanpa kritik perubahan besar tidak pernah terjadi. Bahkan hubungan antara Gusti Allah dan Nabi sendiri terselip hubungan kritik ketika nabi berbuat kurang ‘tepat’ langit akan menegur. Ketika masyarakat jahiliyah berbuat semena-mena para Nabi dan rasul pun mengkritik. Nabi Ibrahamim mengkritik penyembah berhala, nabi Muhammad melawan perbudakan dan sebagainya.

Ketika duduk di bangku SMA saya sangat bangga dengan tiga empat tukang kritik sekaligus. Keempat orang yang saya sebut sebagai tukang kritik itu antara lain Amin Rais, Gus Dur, Nur Kholis Majid, dan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Ketika reformasi berada di depan gerbang mereka sangat meyakinkan saya bahwa bangsa ini akan membaik dengan mengalami operasi yang sakit. Optimisme itu dibangun dari kritik atas kebobrokan rejim Suharto waktu itu kemudian dipaksa turun dari tahta presiden seumur hidup pada tanggal 21 Mei 1998. Dunia geger, para kapitalis asing takut akan diusir dari bumi Nusantara seperti Freeport dan exxon mobile, dan sebagainya.

Reformasi 1998 mengembalikan konsentrasi bangsa dari zaman yang menuhankan pembangunan ekonomi (ekonomi sebagai panglima) menuju politik sebagai pusat pembangunan bangsa seperti zaman Sukarno dalam politik nasionalismenya (Politik sebagai panglima). Karena bangsa Indonesia terlalu terkonsentrasi dengan reformasi politik akhirnya para kapitalis menyusup dalam dunia politik dan mereka bisa bertahan sampai sekarang sebagai penguasa ekonomi Indonesia. Rakyat pun tetap menderita. Pengangguran dan kemiskinan menyundul sampai 40 juta anak bangsa. Meski kenyataan berbeda dengan angka pemeirntah soal kemiskinan dan kebijakan anti kemiskinan saya yakin keadaan sesungguhnya lebih buruk dari yang digambarkan penguasa saat ini.

Dalam sebuah kuliah malam, Prof. Wilson bercerita banyak mengenai Adam Smith dan Hegel plus Karl Marx. Menurutnya politik lebih layak emnjadi pengalima sebab politik adalah tata kelola pemerintahan sementara ekonomi adalah persoalan kesejahteraan individu. Jika ekonomi menjadi panglima atau menduduki posisi di atas kedaulatan negara maka bisa dipastikan negara akan dijadikan alat individu untuk memaksimalkan kesejahteraannya dari pada orang kebanyakan. Negara akan dibajak dan dieksploitasi sebagaimana zaman Suharto dan sekarang ini. Sedangkan tabiat negara kuat (strong state) dengan menempatkan kedaulatan rakyat (popular sovereignty) tentu akan menjamin orientasinya lebih ke rakyat. Jika rakyat paham hak-haknya maka negara tidak bisa menolaknya.

Kemana tukang kritik besar?

Gus Dur meninggal dalam posisi sebagai tukang kritik besar begitu juga Nur Kholis Majid. Keduanyamenurut saya tukang kritik hebat baik di ranah agama maupun politik dan kebudayaan. Semoga husnul khotimah. Para tukang kritik yang tersisa sekarang tinggal Amin Rais dan Emha Ainun Nadjib. Tetapi lambat laun mereka pensiun dari dunia kritik dan menjadi bagian dari yang dikritik para tukang kritik generasi baru. Amin Rais semenjak menjadi politisi kehilangan taring kritiknya dan seolah menjadi bagian dari penguasa. Ketika pemilu 2009 Amien dianggap terlalu pragmatis dan mendukung penguasa dalam rangka mendapatkan jatah menteri dari partainya (PAN). Koalisi PAN ke partai Demokrat dianggap koalisi yang irrasional atau oportunis. Para pengkritik muda Muhammadiyah menilai Amin sudah tidak lagi memperjuangkan idealisme sehingga buku karyanya, ‘agenda mendesak bangsa’ yang mengkritik freeport dan kebijakan pemeirntah menjadi kehilangan ruh perjuangannya. Agenda mendesak itu menjadi agenda tidak terlaksana. Sementara Cak Nun, dianggap sudah ‘ditaklukkan’ oleh Abu Rizal Bakri terkait bencana Lumpur Lapindo. Cak Nun, sebagai tukang kritik dalam banyak pengajian: maiyahan di Jogja, padang Bulan di Jombang, kenduri cinta di Taman Ismail marzuki sudah pensiun mengkritik dan beralih menjadi pembicaraan yang miskin daya ubah dan daya kritik.

Kini, para tukang kritik kecil menyebut manipulasi angka digunakan untuk dua tujuan yaitu untuk melaporkan kesuksesan kepada rakyat dengan mengurangi angka dan mendapatkan tepuk tangan dari pendukungnya. Sementara di saat yang sama pemerintah menaikkan jumlah keluarga dan penduduk miskin dlaam trangka meyakinkan lembaga peminjaman uang asing untuk memuluskan jalannya peminjaman uang trilyunan rupiah dengan bungah naudzubillah (sangat merugikan). Baca Jhon Perkin, dalam the Economis of Hit Man.

Tukang kritik kecil yang belum mahir menulis hanya muncul di Kompasiana, di balik kerumunan acara seminar di kampus, dan sedikit juga yang mengkritik penguasa melalui media masaa lantaran tulisan tidak layak dimuat. Gerakan ini seperti revolusi semut, pelan tapi pasti sehingga tukang kritik kecil harus dibesarkan, diberikan asupan gizi yang cukup dengan mengenyam banyak pendidikan, membaca, belajar, dan tentu saja merenung untuk mebangun kekuatan besar kelak. Untuk menalkukkan penguasa yang kalap. Mungkin ada baiknya, juga menjadi tukang kritik melalui sastra sebagaimana yang dilakukan oleh Pramudya AT, Taufik Ismail, dan sebagainya.

Tukang kritik besar sudah mati. Itu kesimpulannya. Sementara tukang kritik kecil belum menjadi besar. Ini adalah kesempatan emas para predator negara dari bangsa kapitalis dan politisi oportunis memangsa negara. Jika kita tidak sadar dan tidak segera bangkit melawan tentu rayap-rayap negara, baik Gayus atau Tikus akan segera meluluhlantakkan masa depan bangsa ini. Tanpa kita sadar, sebagaimana kritik Amin Rais tentang buruknya kontrak karya perusahaan asing di Indonesia, mereka akan menghisap setiap detik dan setiap jengkal tanah emas, minyak, dan batu bara di indonesia sampai ke tulang belulangnya. Inilah perlunya tukang kritik dibangkitkan kembali dari alam kuburnya.

Hawaii, Dec 17, 2010

Meledakkan Indonesia December 17, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
Tags:
add a comment

David Efendi

“Kebenaran [pasti]akan diterima secara diam-diam…”( Buya Syafii Maarif)

Menjadi minoritas kreatif memang perlu, tetapi di Indonesia akan mengalami nasib rugi ketimbang menjadi mayoritas. Misalnya di parlemen kelompok jujur akan ajur dan kelompok yang mau menyikat kanan kiri pendapatan diluar gaji akan lebih lama hidupnya sebagai politisi. Begitu juga di masyarakat, kelompok kritis akan dimaki, kelompok pragmatis akan dicari. Ini memang sudah ditafsirkan sebagai zaman edan sebagaimana ramalan jayabaya, “Zamane zaman edan, sing ora edan ora keduman,…”

Minoritas kreatif vs. Mayoritas Pongah

Sebagaimana sejarah menuturkan bahwa di berbagai penjuruh dunia minoritas keratif yang mengambil peran untuk perubahan menuju arah yang lebih baik tetapi dalam beberapa kasus minoritas dzalim yang menduduki kekuasaan juga mempunyai potensi yang luar biasa untuk meracuni sendi-sendi peradaban bangsa. taruhlah contoh Firun dan Korun pada abad abad yang silam, Suharto Indonesia, Marcos di Filipina, Sby di Indonesia?, Mobuto di Kongo, dan sebagainya. Kelompok elite (terbatas) dengan kekuasaan mutlak sangat mungkin meledakkan Indonesia bahkan dunia. (baca sejarah perang dunia 1,2). Sebab-sebab peperangan ini adalah tirani minoritas, egoisme personal yang melibatkan jutaan nyawa melayang. Karene mereka punya kekuasaan untuk mengorbankan rakyatnya baik dengan senang atau terpaksa.

Di sisi lain, kelompok minoritas kreatif juga mempunyai kesempatan untuk menegakkan peradaban bangsa, memajukan bangsa di atas sendi-sendi ilmu pengetahuan dan tekhnologi atau ide-ide kamanusiaan. Kasus Indonesia, banyak orang percaya bahwa kemerdekaan diraih atas inisiatif kelompok terdidik mulai dari Budi Utomo, sumpah pemuda, kelompok penulis dalam surat kabar sebagaimana yang dikisahkan Pramudya Ananta Toer yang notabene dari hasil pendidikan Barat atau “politik etis”. Tetapi versi lain juga muncul dari Audry Kahin (1999) yang menemukan bahwa semangat nasionalisme kemerdekaan juga dikobarkan melalui surau-surau kecil di perkampungan Sumatra Barat. Para pelopor merupakan hasil didikan ilmu agama dari Timur Tengah kemudian membuka madrasah dan mengajarka agama. Saya menduga para pelopor minoritas ini, baik dari hasil didikan barat atau timur, memasukkan ideology sebagai spirit pembebasan. Dalam al qur-an sendiri contohnya, banyak ayat yang menolak kejahatan, perlakuan diskriminasi dan kedzaliman.

Bagaimana dengan mayoritas pongah? saya sebut ini sebagai tirani mayoritas. Berbagai kasus perang antar etnis, suku, dan agama adalah gejala yang tepat untuk menggambarkan betapa mayoritas menjadi ancaman bagi minoritas lemah. Siituasi ini memburuk ketika agen negara sebagai pemilik alat kekerasan yang sah lemah dan tidak berdaya (weak state).  Bertahun-tahun FPI (Front Pembela ‘Islam’) mendzalimi Ahmadiyah dan manusia lainnya tetapi negara sebagai wakil rakyat tidak bergeming. Diamnya negara adalah malapetaka bagi kelompok minoritas. Negara Indonesia bukan dibentuk atas gagasan mayoritas vs. minoritas tetapi keyakinan besar dengan hidup bersama, “peradaban unggul” akan gampang tercapai.

 

Kekuatan minoritas dalam semangat nasionalisme sudah pernah berhasil meledakkan Indonesia dalam rangka mengusir Belanda dengan harga yang snagat mahal baik meteri atau jiwa raga bangsa Indonesia. Tidak ada keraguan di dalamnya. Kelompok minirotas kreatif dari anak bangsa sering terabaikan seperti kelompok illmuwan sperti Habibie dan profesor di perguruan tinggi karena negara selalu lebih percaya terhadap ahli asing ketimbang anak bangsa sendiri. Hal ini menjadikan tender pengelolaan minyak bumi selalu jatuh ke tangan korporasi asing, Perusahaan pesawat terbang Nusantara pun lenyap.

Sementara kelompok mayoritas pongah ini sangat berbahaya, laten dan kapan saja bisa muncul yaitu kelompok yang merrasa mayoritas memaksakan kehendaknya. Kekejaman FPI dan pendukungnya terhadap Jamaah ahamdiyah adalah menggambarkan tirani mayoritas terhadap minoritas. Walau pun tidak semua orang Islam di indoensia setuju dengan FPI tetapi mereka diam (silent majority) sementara diam sendiri dikonotasikan setuju. Jadi, bagi saya pribadi, menjadi penonton kekerasan adalah bagian dari pelaku kekerasan itu sendiri. Usaha FPI atau kelompok suku mayoritas yang selalu konflik dengan minoritas adalah dua ancaman besar untuk meledaknya Indonesia baik cepat atau lambat.

Kesimpulan

Negara, sebagaimana pemikiran Weber (21 April 1864 – 14 June 1920), sebagai pemilik sah dan legitimate untuk menggunakan kekerasan dalam rangkah menegakkan ketertiban sosial. Negara dilengkapi tentara dan polisi sebagai alat ketertiban seharunya bisa difungsikan secara benar. Perbuatan FPI yang dibiarkan bisa ditafsirkan bahwa negara lemah, polisi dan tentara tidak berdaya. Parlemen dan presiden tidak menjanlankan fungsi sebagai pengambil kebijakan yang tepat. Di negara hukum, semua pasti ada ketentuannya karena negara berdasarkan rule of the law bukan lawless society yang memberikan ‘izin’ slaing memangsa dan melenyapkan sebagimana hukum perang semua melawan semua. Karena negara pemilik kekuasaan atas hukum tentu alat negara bisa menghancurkan FPI dan kelompok penentang hukum sampai akar-akarnya bahkan alat kekuasaan negara bisa meledakkan Indonesia atas nama hukum dan keadllan.

Percuma Sekolah Tinggi-Tinggi? (Part 1) December 17, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
add a comment

David Efendi, Santri Rakyat

Saya harus membiasakan jujur kepada sejarah hidup sendiri. Saya yakin saya adalah bagian dari planet bumi dan bagian dari keragaman yang diciptakan oleh the divine power (God intention) untuk menjadi warna tersendiri bagi alam raya. Menjadi bagian dari kebaikan (god) atau kejahatan (evil) adalah mutlak adalah pilihan rasional manusia. Hal ini ditegaskan dalam kitab suci yang saya yakini yaitu Al-qur-an. Di sana dijelaskan karena manusia adalah hewan yang berakal maka dengan akan itu manusia membedakan mana yang baik dan buruk, yang halal dan yang haram/subhat. Dengan akal manusia berbeda dari binatang melata atau binatang buas sehingga tidak menjadi bencana bagi sesama.

Keragaman saya, tentu bukan keragaman mutlak bahkan saya hanyalah anak yang dibawah kecerdasan rata-rata. Di TK selama 3 tahun (seharusnya 2 tahun) karena saya tidak bisa membaca dan menulis bahkan tidak suka sehingga guru-guru saya tercinta menyelamatkan saya agar tidak ‘mati’ semangat jika saya dipaksa naik ke sekolah dasar (madrasah). Setahun sudah berlalu saya tidak banyak perkembangan di TK. Saya di rumah hanya dengan seorang Ibu dan Kakek-Nenek plus satu kakak. Ibu saya dan kakek nenek selalu pergi ke sawah semenjak selesai subuh dan pulang di siang hari kadang kembali lagi menuju sawah jika ada yang perlu atau sekedar mengambil daun-daunan untuk disayur atau singkong untuk digoreng (gimbal goreng). Keadaan ini berlangsung sampai saya lulus dari SMP Muhammadiyah 8 Godog Laren Lamongan Jawa Timur.

Sebagai anak yang dianggap ‘bodoh’ saya tidak minder dan saya bisa melampiaskan kejenuhan dan kebosanan belajar di bangku sekolah dengan bermain ke alas atau sawah. Saya lebih memilih ke sawah atau mencari ikan dari pada belajar di sekolah. Saya merasa tidak senang dan belum tahu kegunaan apa belajar di sekolah dengan teman-teman yang pintar, baju baru, tas dan buku lengkap. Sementara saya hanya memakai baju-celana kebesaran, sepatu butut, dan tas tua warisan turunan dari kakak saya. Rasanya saya tidak merdeka menjadi manusia di sekolah. Saya waktu itu selalu menunggu hari jumat karena libur dan saya sering sekali meninggalkan sekolah dan melarikan diri ke sawah baik untuk mencari ikan atau menangkap burung. Saya sering ikut kakek saya ketimbang kakak saya, saya sering berbicara dan makan bersama ibu saya ketimbang dengan siapa pun. Ini berjalan antara 1990-1997.

Waktu reformasi saya kelas 3 SMP menjelang lulus dan peristiwa tawuran antar desa terjadi sangat sengit dan memakan korban setiap saat walau tidak sampai meninggal tetapi korban itu sangat berdarah, rumah hancur, bangunan sekolah rusak parah, dan hari-hari seperti di teror. Waktu itu saya berpengalaman menjadi ketua Osis jadi ada sedikit jiwa kepemimpinan yang ingin menyelesaikan masalah konflik tersebut. Karena saya kecil saya tidak banyak berbuat hanya menyerukan kebaikan secara diam-diam dan membantu siapa saja yang perlu dibantu termasuk saya mengangkat korban pembacokan dari sungai–perbatasan desa.

Mimpi sekolah tinggi sama sekali belum terbayang. Tetapi saya merasa sudah mencintai ilmu pengetahuan. Kebiasaan membaca dan menghafal sejarah mulai tertanam ketika saya kelas 1 smp dan saya meyakinkan diri sendiri bahwa belajar akan mampu merubah keadaan. Saya menyadari realitas kehdiupan saya yang penuh ketimpangan, antara harapan dan kenyataan sehingga saya harus berlari ditengah gelap malam untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita. Saya sangat tergerak dengan teman saya yang bisa belajar ke luar desa, dengan teman yang pandai bahawa inggris dan arab yang kini teman itu menjadi teman hidup.Akhirnya, saya belajar organisasi agar percaya diri, dan saya belajar buku teks sekolah agar saya menjadi diperhitungkan di dunia ‘persilatan’.

Tahun 1998. seusasi lulusan dnegan nilai ujian akhir nasional yang membanggakan guru dan sekolah bahkan Muhammadiyah. Saya bersama Hariyanto menyabet danem tertinggi sebesar 47,30. Untuk sekolah swasta Muhammaidyah di desa ini sangat luar biasa karena sekolah bagus dan negeri saja belum tentu meraihnya. Karena itu bapak ibu guru sangat mendorong saya agar melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Ibu saya tidak punya mimpi sekolah tinggi hanya pernah mimpi membayangkan anaknya jadi orang, menjadi pegawai agar nasib berubah di masa depan. Bapak guru saya pun mendatangi rumah saya dan bicara kepada ibu saya, tapi ibu saya menangis lantaran tidak ada alasan bagaimana caranya menyekolahkan anak ke kota. Tidak ada modal bahkan nol kosong.

Karena projet sudetan bengawan itulah keluarga saya memegang uang jutaan rupiah. Meski dampak jangka panjang kami kehilangan sawah sebagai satu-satunya alat bertahan hidup, kami tetap mensukuri pemberian tuhan dan pemerintah lewat project penggantian rugi pemilik sawah yang dijadikan proyek pelebaran bangawan solo agar tidak banjir. Sampai sekarang saya sendiri tidak yakin project itu bersih dari KKN, saya kira banyak kerugian jangka panjang sebab pemeirntah hanya mengganti secara jangka pendek dengan harga yang dibuat sendiri tanpa memperhitungkan nasib keluarga yang 100% kehilangan sawah dan mata pencahariannya seperti keluarga saya. Tapi, tidak ada perlawanan muncul selain hanya dalam doa. Ini mungkin disebut James Scoot (year) sebagai perlawanan pasif (passive resistance).

Bagaimanapun juga, karena uang itu saya bisa sekolah ke Kota Lamongan. Sekolah SMA negeri 2 yang paling favorite dan bonafit waktu itu(sampai sekarang). Sebagai anak desa yang ‘miskin, bodoh’ saya sangat minder menjadi bagian dari siswa. Saya berperang melawan diri sendiri apakah saya harus bertahan atau mundur dari perjuangan. Ibu saya sudah mantab menyokong dengan apa saja yang beliau bisa, begitu juga kakek saya yang akhirnya meninggal ketika saya sekolah di kota. Kakek meninggal belum lama setelah menjual kambingnya untuk sekolah saya. Sementara waktu itu, Ibu saya juga sedang berada di perjalanan menuju Malaysia yang belum ada kabarnya karena ke malysia untuk mendukung agar saya bisa selesai SMA. Ibu berangkat dengan kapal ikut seorang bos kampung.

Malam itu saya langsung pulang, hujan deras, kilat dan petir menghunjam bumi kami. Sejarah sudah lewat dan sejarah baru sedang kita buat.

Semua berjuang untuk saya dan mengorbankan apa saja yang mereka punya. Karena itulah tidak ada alasan yang masuk akal bagi saya untuk mundur dari perjuangan jihad menuntut ilmu. Karena saya tidak mundur, karena saya tidak ingin ditelan badai zaman gelombang kedua saya sekarang sedang berbenah, mengeja kata demi kata dalam beragam aksara dari jawa, indonesia, inggris, balanda, dan perancis untuk mengerti satu dua hal. Kini saya masih mayakinkan diri saya sekuat tenaga, apakah percuma sekolah tinggi-tinggi?

Hawaii, Dec 16, 2010

Rapuhnya Imajinasi ke-Indonesia-an Kita December 13, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

David Efendi

”Qu’est qu’une nation?” (apakah yang dimaksudkan dengan bangsa?). La nation c’est la volonte d’etre ensemble (bangsa adalah tekad untuk hidup bersama). [Ernest Renan, 1882 dalam Doed Yusuf, Kompas, 12/11/2010]

“Nation is political imagined community” [Bangsa adalah kemunitas bayangan] (Ben Anderson, 1983)

“Indonesia Bangsa yang (terus) membayangkan” (Agung Y. Achmad, wartawan)

“Indonesia unfinished nation-state” (Max Lane, 2008)

“Indonesia weak state, failed state, …collapse state?” (anonim; Dekpendi; Wanandi, 2004)

Banyak diantara kita seharusnya menyadari betapa landasan pembentukan bangsa Indonesia adalah sangat rapuh bahkan sangat imajiner. Rapuh artinya gampang lenyap dan rusak, imajiner artinya hanya ada dalam bayangan setiap kepala kita yang merasa mempunyai bendera, bahasa Indonesia, peta, musium, dan data sensus yang sama. Tetapi zaman terus berubah, upacara saja tidak cukup, angka dalam sensus tidak menjadi persoalan dan musium sudah jarang dikunjungi lalu apa yang kita bisa jadikan landasan untuk tetap mempertahankan nama bersama yang disebut “BANGSA INDONESIA”. Ketika nasib ratusan juta manusia merana dan pejabat berfoya-foya membangun mimpinya sendiri, lalu apa kita tega memaksa rakyat tertindad untuk tetap upacara menghormati bendera dalam keadaan lapar dan dahaga sementara pemimpin upacara berada di bawah payung yang teduh dan ber AC?

Setidaknya ada dua hal yang bisa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa lebih lama. Pertama, harus ada itikad baik atau political will dari pemerintah dan rakyat bahwa kita berbeda dan karena berbeda kita bersatu untuk membangun kekuatan mewujudkan the wealth of nation. Keragaman budaya tidak bisa ditindas atau dipaksakan sebagaimana Suharto memaksa keseragaman agar semua mengarah pada pembangunan meski Suharto membangun istanah dari tumpukan hutang maka runtuhlah akhirnya. Berbeda dengan Sukarno yang menyatukan bangsa dengan karisma dan ide nationalisme, atau nasakom, Suharto ‘menyatukan’ anak bangsa dengan kekuatan militer baik di Aceh dengan DOM, atau di Irian Jaya (Papua), dan Timur Timur. Terbukti Suharto gagal karena melawan kedaulatan alam. Alam terbentuk dari kekuatan berbeda-beda begitu juga bangsa Indonesia. Soekarno bisa dibilang gagal karena terlalu menuhankan nationalism dalam bayangan sementara manusia butuh kesejahteraan butuh kedaulatan ekonomi dan pangan tidak hanya hidup dengan nationalisme.

keragaman budaya harus dihormati sehingga kasus Yogyakarta harus diakhiri dengan ungkapan makna tahta untuk rakyat dan yogykarta tetap setia kepada Indonesia meski jauh lebih tua dari Indonesia. Demokrasi liberal ala Barat tidak bisa menjanjikan apa-apa selain tatanan masyarakat yang anti-keragaman. Ingat pembentukan Amerika sangat berbeda dengan terciptanya Indonesia yang penuh kearifan lokal, nilai luhur bangsa. Amerika nampaknya tidak lebih dari kesepakatan atau kontrak politik dan sosial antara gengster untuk hidup lebih tenang dan berbagi sumber daya alam.

Ikatan kedua adalah kesejahteraan bersama. Era demokrasi dimaksudkan untuk berbagi insentif kekayaan alam, distribusi pendapatan dan kesejahteraan untuk pemilik republik: RAKYAT. Sebagai pemilik republik kedaulatan tertinggi di tangannya. Rakyat bisa membatalkan pemilu jika mau, atau membubarkan negara bangsa jika dirasa perlu. Tapii, rakyat terlalu baik untuk kita kisahkan, rakyat tidak hendak emnentang penguasa yang dipilihnya walau korupsi mereka akan tetap menanggung derita akibat pilihannya. Rakyat menjaga dirinya dan pilihannya bahkan tidak pernah memaki presidennya yang tidak amanah.

Mulai tahun1999, setahun pasca Suharto lengser keprabon dikenalkannya era baru yang saya sebut sebagai the big bang of decentralisasi. Makna tersirat dan tersurat dari desentralisasi adalah mendekatkan negara kepada pemiliknya, mendekatkan kemakmuran dan kesejahteraan kepada pemilik aselinya: RAKYAT. Selama lebih dari 32 tahun negara dihakmiliki oleh sekumpulan genster, preman yang menyedot segalanya untuk perutnya sendiri. Suharto adalah kekuatan kapitalis diktator sejati yang didukung oleh strong man. Indonesia pada saat itu diperintah oleh kelompok shodow state, black kapitalis, dan informal economy. Negera dibajak dan demokrasi dijadikan alat legitimasi memeras kekayaan alam yang mengakibatkan kemiskinan menyundul langit, busung lapar, polio, dan sebagainya.

Apakah fenomena itu sudah berakhir? BELUM. Indonesia masih dibajak oleh mereka. Selama 32 tahun mereka membangun jaringan sampai ke akar rumput. Jadi, desentralisasi juga sudah ditunggangi kepentingan mereka. Jika dulu mereka bermain di pemerintah pusat sekarang mereka menyedot lebih kuat ke tulang sumber kekayaan alam dan rakyat di daerah. Raja-raja baru bermunculan pasca pilkada langsung baik dari golongan borokrat, politisi-pengusaha, atau pengusaha. Desentralisasi kesejehteraan berubah menjadi desentralisasi korupsi dan aristokrasi lama dengan cara dan teknik baru. Jika demikian, kegagalan berbagi sejehtera di depan mata sampai puluhan tahun ke depan.

Akhirnya, jika pemerintah gagal mengapresiasi keragaman daerah, jika tidak menemukan alternatif inovasi untuk menjaga bayangan ide Indonesia tetap bersemayam dalam otak anak bangsa, jika saja desentralsiasi gagal menjadi alat berbagi kemakmuran dan masa depan anak bangsa, maka sekali lagi maka bangsa kita semakin rapuh dan tidak akan lama akan tenggelam terkubur dalam debu sejarah. Ini dramatis tetapi sangat mungkin terjadi. Ini pendapat saya. Mungkin ada manfaatnya.

Hi, Dec 10, 2010