jump to navigation

Matinya [Para] Tukang Kritik December 17, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

David Efendi

“Jika semua rakyat berdaulat atas kata-katanya, tidak akan ada penguasa yang menghanguskan bumi manusia”

(Dekpendi, 2010)

Ketika masih duduk di bangku SMP saya sangat senang mendengar suara-suara pengkritik dari kalangan siswa kepada para guru dan kepala sekolah. Kritik itu memang tidak banyak orang suka tetapi kritik punya kekuatan membangun yang luar biasa terlepas dari kelemahan si pengkritik itu sendiri. Ini keyakinan saya dan sampai sekarang keyakinan itu tetap ada. Tanpa kritik perubahan besar tidak pernah terjadi. Bahkan hubungan antara Gusti Allah dan Nabi sendiri terselip hubungan kritik ketika nabi berbuat kurang ‘tepat’ langit akan menegur. Ketika masyarakat jahiliyah berbuat semena-mena para Nabi dan rasul pun mengkritik. Nabi Ibrahamim mengkritik penyembah berhala, nabi Muhammad melawan perbudakan dan sebagainya.

Ketika duduk di bangku SMA saya sangat bangga dengan tiga empat tukang kritik sekaligus. Keempat orang yang saya sebut sebagai tukang kritik itu antara lain Amin Rais, Gus Dur, Nur Kholis Majid, dan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Ketika reformasi berada di depan gerbang mereka sangat meyakinkan saya bahwa bangsa ini akan membaik dengan mengalami operasi yang sakit. Optimisme itu dibangun dari kritik atas kebobrokan rejim Suharto waktu itu kemudian dipaksa turun dari tahta presiden seumur hidup pada tanggal 21 Mei 1998. Dunia geger, para kapitalis asing takut akan diusir dari bumi Nusantara seperti Freeport dan exxon mobile, dan sebagainya.

Reformasi 1998 mengembalikan konsentrasi bangsa dari zaman yang menuhankan pembangunan ekonomi (ekonomi sebagai panglima) menuju politik sebagai pusat pembangunan bangsa seperti zaman Sukarno dalam politik nasionalismenya (Politik sebagai panglima). Karena bangsa Indonesia terlalu terkonsentrasi dengan reformasi politik akhirnya para kapitalis menyusup dalam dunia politik dan mereka bisa bertahan sampai sekarang sebagai penguasa ekonomi Indonesia. Rakyat pun tetap menderita. Pengangguran dan kemiskinan menyundul sampai 40 juta anak bangsa. Meski kenyataan berbeda dengan angka pemeirntah soal kemiskinan dan kebijakan anti kemiskinan saya yakin keadaan sesungguhnya lebih buruk dari yang digambarkan penguasa saat ini.

Dalam sebuah kuliah malam, Prof. Wilson bercerita banyak mengenai Adam Smith dan Hegel plus Karl Marx. Menurutnya politik lebih layak emnjadi pengalima sebab politik adalah tata kelola pemerintahan sementara ekonomi adalah persoalan kesejahteraan individu. Jika ekonomi menjadi panglima atau menduduki posisi di atas kedaulatan negara maka bisa dipastikan negara akan dijadikan alat individu untuk memaksimalkan kesejahteraannya dari pada orang kebanyakan. Negara akan dibajak dan dieksploitasi sebagaimana zaman Suharto dan sekarang ini. Sedangkan tabiat negara kuat (strong state) dengan menempatkan kedaulatan rakyat (popular sovereignty) tentu akan menjamin orientasinya lebih ke rakyat. Jika rakyat paham hak-haknya maka negara tidak bisa menolaknya.

Kemana tukang kritik besar?

Gus Dur meninggal dalam posisi sebagai tukang kritik besar begitu juga Nur Kholis Majid. Keduanyamenurut saya tukang kritik hebat baik di ranah agama maupun politik dan kebudayaan. Semoga husnul khotimah. Para tukang kritik yang tersisa sekarang tinggal Amin Rais dan Emha Ainun Nadjib. Tetapi lambat laun mereka pensiun dari dunia kritik dan menjadi bagian dari yang dikritik para tukang kritik generasi baru. Amin Rais semenjak menjadi politisi kehilangan taring kritiknya dan seolah menjadi bagian dari penguasa. Ketika pemilu 2009 Amien dianggap terlalu pragmatis dan mendukung penguasa dalam rangka mendapatkan jatah menteri dari partainya (PAN). Koalisi PAN ke partai Demokrat dianggap koalisi yang irrasional atau oportunis. Para pengkritik muda Muhammadiyah menilai Amin sudah tidak lagi memperjuangkan idealisme sehingga buku karyanya, ‘agenda mendesak bangsa’ yang mengkritik freeport dan kebijakan pemeirntah menjadi kehilangan ruh perjuangannya. Agenda mendesak itu menjadi agenda tidak terlaksana. Sementara Cak Nun, dianggap sudah ‘ditaklukkan’ oleh Abu Rizal Bakri terkait bencana Lumpur Lapindo. Cak Nun, sebagai tukang kritik dalam banyak pengajian: maiyahan di Jogja, padang Bulan di Jombang, kenduri cinta di Taman Ismail marzuki sudah pensiun mengkritik dan beralih menjadi pembicaraan yang miskin daya ubah dan daya kritik.

Kini, para tukang kritik kecil menyebut manipulasi angka digunakan untuk dua tujuan yaitu untuk melaporkan kesuksesan kepada rakyat dengan mengurangi angka dan mendapatkan tepuk tangan dari pendukungnya. Sementara di saat yang sama pemerintah menaikkan jumlah keluarga dan penduduk miskin dlaam trangka meyakinkan lembaga peminjaman uang asing untuk memuluskan jalannya peminjaman uang trilyunan rupiah dengan bungah naudzubillah (sangat merugikan). Baca Jhon Perkin, dalam the Economis of Hit Man.

Tukang kritik kecil yang belum mahir menulis hanya muncul di Kompasiana, di balik kerumunan acara seminar di kampus, dan sedikit juga yang mengkritik penguasa melalui media masaa lantaran tulisan tidak layak dimuat. Gerakan ini seperti revolusi semut, pelan tapi pasti sehingga tukang kritik kecil harus dibesarkan, diberikan asupan gizi yang cukup dengan mengenyam banyak pendidikan, membaca, belajar, dan tentu saja merenung untuk mebangun kekuatan besar kelak. Untuk menalkukkan penguasa yang kalap. Mungkin ada baiknya, juga menjadi tukang kritik melalui sastra sebagaimana yang dilakukan oleh Pramudya AT, Taufik Ismail, dan sebagainya.

Tukang kritik besar sudah mati. Itu kesimpulannya. Sementara tukang kritik kecil belum menjadi besar. Ini adalah kesempatan emas para predator negara dari bangsa kapitalis dan politisi oportunis memangsa negara. Jika kita tidak sadar dan tidak segera bangkit melawan tentu rayap-rayap negara, baik Gayus atau Tikus akan segera meluluhlantakkan masa depan bangsa ini. Tanpa kita sadar, sebagaimana kritik Amin Rais tentang buruknya kontrak karya perusahaan asing di Indonesia, mereka akan menghisap setiap detik dan setiap jengkal tanah emas, minyak, dan batu bara di indonesia sampai ke tulang belulangnya. Inilah perlunya tukang kritik dibangkitkan kembali dari alam kuburnya.

Hawaii, Dec 17, 2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: