jump to navigation

Meledakkan Indonesia December 17, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
Tags:
trackback

David Efendi

“Kebenaran [pasti]akan diterima secara diam-diam…”( Buya Syafii Maarif)

Menjadi minoritas kreatif memang perlu, tetapi di Indonesia akan mengalami nasib rugi ketimbang menjadi mayoritas. Misalnya di parlemen kelompok jujur akan ajur dan kelompok yang mau menyikat kanan kiri pendapatan diluar gaji akan lebih lama hidupnya sebagai politisi. Begitu juga di masyarakat, kelompok kritis akan dimaki, kelompok pragmatis akan dicari. Ini memang sudah ditafsirkan sebagai zaman edan sebagaimana ramalan jayabaya, “Zamane zaman edan, sing ora edan ora keduman,…”

Minoritas kreatif vs. Mayoritas Pongah

Sebagaimana sejarah menuturkan bahwa di berbagai penjuruh dunia minoritas keratif yang mengambil peran untuk perubahan menuju arah yang lebih baik tetapi dalam beberapa kasus minoritas dzalim yang menduduki kekuasaan juga mempunyai potensi yang luar biasa untuk meracuni sendi-sendi peradaban bangsa. taruhlah contoh Firun dan Korun pada abad abad yang silam, Suharto Indonesia, Marcos di Filipina, Sby di Indonesia?, Mobuto di Kongo, dan sebagainya. Kelompok elite (terbatas) dengan kekuasaan mutlak sangat mungkin meledakkan Indonesia bahkan dunia. (baca sejarah perang dunia 1,2). Sebab-sebab peperangan ini adalah tirani minoritas, egoisme personal yang melibatkan jutaan nyawa melayang. Karene mereka punya kekuasaan untuk mengorbankan rakyatnya baik dengan senang atau terpaksa.

Di sisi lain, kelompok minoritas kreatif juga mempunyai kesempatan untuk menegakkan peradaban bangsa, memajukan bangsa di atas sendi-sendi ilmu pengetahuan dan tekhnologi atau ide-ide kamanusiaan. Kasus Indonesia, banyak orang percaya bahwa kemerdekaan diraih atas inisiatif kelompok terdidik mulai dari Budi Utomo, sumpah pemuda, kelompok penulis dalam surat kabar sebagaimana yang dikisahkan Pramudya Ananta Toer yang notabene dari hasil pendidikan Barat atau “politik etis”. Tetapi versi lain juga muncul dari Audry Kahin (1999) yang menemukan bahwa semangat nasionalisme kemerdekaan juga dikobarkan melalui surau-surau kecil di perkampungan Sumatra Barat. Para pelopor merupakan hasil didikan ilmu agama dari Timur Tengah kemudian membuka madrasah dan mengajarka agama. Saya menduga para pelopor minoritas ini, baik dari hasil didikan barat atau timur, memasukkan ideology sebagai spirit pembebasan. Dalam al qur-an sendiri contohnya, banyak ayat yang menolak kejahatan, perlakuan diskriminasi dan kedzaliman.

Bagaimana dengan mayoritas pongah? saya sebut ini sebagai tirani mayoritas. Berbagai kasus perang antar etnis, suku, dan agama adalah gejala yang tepat untuk menggambarkan betapa mayoritas menjadi ancaman bagi minoritas lemah. Siituasi ini memburuk ketika agen negara sebagai pemilik alat kekerasan yang sah lemah dan tidak berdaya (weak state).  Bertahun-tahun FPI (Front Pembela ‘Islam’) mendzalimi Ahmadiyah dan manusia lainnya tetapi negara sebagai wakil rakyat tidak bergeming. Diamnya negara adalah malapetaka bagi kelompok minoritas. Negara Indonesia bukan dibentuk atas gagasan mayoritas vs. minoritas tetapi keyakinan besar dengan hidup bersama, “peradaban unggul” akan gampang tercapai.

 

Kekuatan minoritas dalam semangat nasionalisme sudah pernah berhasil meledakkan Indonesia dalam rangka mengusir Belanda dengan harga yang snagat mahal baik meteri atau jiwa raga bangsa Indonesia. Tidak ada keraguan di dalamnya. Kelompok minirotas kreatif dari anak bangsa sering terabaikan seperti kelompok illmuwan sperti Habibie dan profesor di perguruan tinggi karena negara selalu lebih percaya terhadap ahli asing ketimbang anak bangsa sendiri. Hal ini menjadikan tender pengelolaan minyak bumi selalu jatuh ke tangan korporasi asing, Perusahaan pesawat terbang Nusantara pun lenyap.

Sementara kelompok mayoritas pongah ini sangat berbahaya, laten dan kapan saja bisa muncul yaitu kelompok yang merrasa mayoritas memaksakan kehendaknya. Kekejaman FPI dan pendukungnya terhadap Jamaah ahamdiyah adalah menggambarkan tirani mayoritas terhadap minoritas. Walau pun tidak semua orang Islam di indoensia setuju dengan FPI tetapi mereka diam (silent majority) sementara diam sendiri dikonotasikan setuju. Jadi, bagi saya pribadi, menjadi penonton kekerasan adalah bagian dari pelaku kekerasan itu sendiri. Usaha FPI atau kelompok suku mayoritas yang selalu konflik dengan minoritas adalah dua ancaman besar untuk meledaknya Indonesia baik cepat atau lambat.

Kesimpulan

Negara, sebagaimana pemikiran Weber (21 April 1864 – 14 June 1920), sebagai pemilik sah dan legitimate untuk menggunakan kekerasan dalam rangkah menegakkan ketertiban sosial. Negara dilengkapi tentara dan polisi sebagai alat ketertiban seharunya bisa difungsikan secara benar. Perbuatan FPI yang dibiarkan bisa ditafsirkan bahwa negara lemah, polisi dan tentara tidak berdaya. Parlemen dan presiden tidak menjanlankan fungsi sebagai pengambil kebijakan yang tepat. Di negara hukum, semua pasti ada ketentuannya karena negara berdasarkan rule of the law bukan lawless society yang memberikan ‘izin’ slaing memangsa dan melenyapkan sebagimana hukum perang semua melawan semua. Karena negara pemilik kekuasaan atas hukum tentu alat negara bisa menghancurkan FPI dan kelompok penentang hukum sampai akar-akarnya bahkan alat kekuasaan negara bisa meledakkan Indonesia atas nama hukum dan keadllan.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: