jump to navigation

Percuma Sekolah Tinggi-Tinggi? (Part 1) December 17, 2010

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback

David Efendi, Santri Rakyat

Saya harus membiasakan jujur kepada sejarah hidup sendiri. Saya yakin saya adalah bagian dari planet bumi dan bagian dari keragaman yang diciptakan oleh the divine power (God intention) untuk menjadi warna tersendiri bagi alam raya. Menjadi bagian dari kebaikan (god) atau kejahatan (evil) adalah mutlak adalah pilihan rasional manusia. Hal ini ditegaskan dalam kitab suci yang saya yakini yaitu Al-qur-an. Di sana dijelaskan karena manusia adalah hewan yang berakal maka dengan akan itu manusia membedakan mana yang baik dan buruk, yang halal dan yang haram/subhat. Dengan akal manusia berbeda dari binatang melata atau binatang buas sehingga tidak menjadi bencana bagi sesama.

Keragaman saya, tentu bukan keragaman mutlak bahkan saya hanyalah anak yang dibawah kecerdasan rata-rata. Di TK selama 3 tahun (seharusnya 2 tahun) karena saya tidak bisa membaca dan menulis bahkan tidak suka sehingga guru-guru saya tercinta menyelamatkan saya agar tidak ‘mati’ semangat jika saya dipaksa naik ke sekolah dasar (madrasah). Setahun sudah berlalu saya tidak banyak perkembangan di TK. Saya di rumah hanya dengan seorang Ibu dan Kakek-Nenek plus satu kakak. Ibu saya dan kakek nenek selalu pergi ke sawah semenjak selesai subuh dan pulang di siang hari kadang kembali lagi menuju sawah jika ada yang perlu atau sekedar mengambil daun-daunan untuk disayur atau singkong untuk digoreng (gimbal goreng). Keadaan ini berlangsung sampai saya lulus dari SMP Muhammadiyah 8 Godog Laren Lamongan Jawa Timur.

Sebagai anak yang dianggap ‘bodoh’ saya tidak minder dan saya bisa melampiaskan kejenuhan dan kebosanan belajar di bangku sekolah dengan bermain ke alas atau sawah. Saya lebih memilih ke sawah atau mencari ikan dari pada belajar di sekolah. Saya merasa tidak senang dan belum tahu kegunaan apa belajar di sekolah dengan teman-teman yang pintar, baju baru, tas dan buku lengkap. Sementara saya hanya memakai baju-celana kebesaran, sepatu butut, dan tas tua warisan turunan dari kakak saya. Rasanya saya tidak merdeka menjadi manusia di sekolah. Saya waktu itu selalu menunggu hari jumat karena libur dan saya sering sekali meninggalkan sekolah dan melarikan diri ke sawah baik untuk mencari ikan atau menangkap burung. Saya sering ikut kakek saya ketimbang kakak saya, saya sering berbicara dan makan bersama ibu saya ketimbang dengan siapa pun. Ini berjalan antara 1990-1997.

Waktu reformasi saya kelas 3 SMP menjelang lulus dan peristiwa tawuran antar desa terjadi sangat sengit dan memakan korban setiap saat walau tidak sampai meninggal tetapi korban itu sangat berdarah, rumah hancur, bangunan sekolah rusak parah, dan hari-hari seperti di teror. Waktu itu saya berpengalaman menjadi ketua Osis jadi ada sedikit jiwa kepemimpinan yang ingin menyelesaikan masalah konflik tersebut. Karena saya kecil saya tidak banyak berbuat hanya menyerukan kebaikan secara diam-diam dan membantu siapa saja yang perlu dibantu termasuk saya mengangkat korban pembacokan dari sungai–perbatasan desa.

Mimpi sekolah tinggi sama sekali belum terbayang. Tetapi saya merasa sudah mencintai ilmu pengetahuan. Kebiasaan membaca dan menghafal sejarah mulai tertanam ketika saya kelas 1 smp dan saya meyakinkan diri sendiri bahwa belajar akan mampu merubah keadaan. Saya menyadari realitas kehdiupan saya yang penuh ketimpangan, antara harapan dan kenyataan sehingga saya harus berlari ditengah gelap malam untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita. Saya sangat tergerak dengan teman saya yang bisa belajar ke luar desa, dengan teman yang pandai bahawa inggris dan arab yang kini teman itu menjadi teman hidup.Akhirnya, saya belajar organisasi agar percaya diri, dan saya belajar buku teks sekolah agar saya menjadi diperhitungkan di dunia ‘persilatan’.

Tahun 1998. seusasi lulusan dnegan nilai ujian akhir nasional yang membanggakan guru dan sekolah bahkan Muhammadiyah. Saya bersama Hariyanto menyabet danem tertinggi sebesar 47,30. Untuk sekolah swasta Muhammaidyah di desa ini sangat luar biasa karena sekolah bagus dan negeri saja belum tentu meraihnya. Karena itu bapak ibu guru sangat mendorong saya agar melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Ibu saya tidak punya mimpi sekolah tinggi hanya pernah mimpi membayangkan anaknya jadi orang, menjadi pegawai agar nasib berubah di masa depan. Bapak guru saya pun mendatangi rumah saya dan bicara kepada ibu saya, tapi ibu saya menangis lantaran tidak ada alasan bagaimana caranya menyekolahkan anak ke kota. Tidak ada modal bahkan nol kosong.

Karena projet sudetan bengawan itulah keluarga saya memegang uang jutaan rupiah. Meski dampak jangka panjang kami kehilangan sawah sebagai satu-satunya alat bertahan hidup, kami tetap mensukuri pemberian tuhan dan pemerintah lewat project penggantian rugi pemilik sawah yang dijadikan proyek pelebaran bangawan solo agar tidak banjir. Sampai sekarang saya sendiri tidak yakin project itu bersih dari KKN, saya kira banyak kerugian jangka panjang sebab pemeirntah hanya mengganti secara jangka pendek dengan harga yang dibuat sendiri tanpa memperhitungkan nasib keluarga yang 100% kehilangan sawah dan mata pencahariannya seperti keluarga saya. Tapi, tidak ada perlawanan muncul selain hanya dalam doa. Ini mungkin disebut James Scoot (year) sebagai perlawanan pasif (passive resistance).

Bagaimanapun juga, karena uang itu saya bisa sekolah ke Kota Lamongan. Sekolah SMA negeri 2 yang paling favorite dan bonafit waktu itu(sampai sekarang). Sebagai anak desa yang ‘miskin, bodoh’ saya sangat minder menjadi bagian dari siswa. Saya berperang melawan diri sendiri apakah saya harus bertahan atau mundur dari perjuangan. Ibu saya sudah mantab menyokong dengan apa saja yang beliau bisa, begitu juga kakek saya yang akhirnya meninggal ketika saya sekolah di kota. Kakek meninggal belum lama setelah menjual kambingnya untuk sekolah saya. Sementara waktu itu, Ibu saya juga sedang berada di perjalanan menuju Malaysia yang belum ada kabarnya karena ke malysia untuk mendukung agar saya bisa selesai SMA. Ibu berangkat dengan kapal ikut seorang bos kampung.

Malam itu saya langsung pulang, hujan deras, kilat dan petir menghunjam bumi kami. Sejarah sudah lewat dan sejarah baru sedang kita buat.

Semua berjuang untuk saya dan mengorbankan apa saja yang mereka punya. Karena itulah tidak ada alasan yang masuk akal bagi saya untuk mundur dari perjuangan jihad menuntut ilmu. Karena saya tidak mundur, karena saya tidak ingin ditelan badai zaman gelombang kedua saya sekarang sedang berbenah, mengeja kata demi kata dalam beragam aksara dari jawa, indonesia, inggris, balanda, dan perancis untuk mengerti satu dua hal. Kini saya masih mayakinkan diri saya sekuat tenaga, apakah percuma sekolah tinggi-tinggi?

Hawaii, Dec 16, 2010

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: