jump to navigation

Percuma Sekolah Tinggi-Tinggi? (part 2) December 18, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
trackback

David Efendi

“Education is a social process. Education is growth. Education is, not a preparation for life; education is life itself.”

John Dewey

Saya mencoba merasakan bahwa sekolah adalah kehidupan itu sendiri. Banyak artikel saya baca di milis sekolah kehidupan yang saya sudah bergabung kira-kira dua tahun yang lalu atau lebih. Saya merasakan samangat otodidak itu muncul sebagaimana sosok-sosok hebat anak bangsa yang belajar dari kemandirian dan tidak menggantungkan nasibnya pada institusi formal yang sekarang semakin tidak terjangkau. Masyarakt sendiri cenderung emnerima lembaga formal pendidikan sebagai taruhan nasib masa depan. Semakin tergantung kepada pendidikan formal, semakin lintang pukang bentuk kualitas dan mutu pendidikan. Komersialisasi dan kapitalisasi pendidikan semakin marak dan juga komerasialisasi pendidkan yang membunuh kesempatan bagi keluarga miskin.

Dari mana memulainya mendekontruksi pemikiran agar semua manusia tidak tercurah perhatiannya pada institusi formal pendidikan. Bagaimana caranya agar masyarakat tidak berfikir bahwa sekolah untuk merubah keadaan, untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi, menjadi pegawai yang terhormat dan sebagainya. Bagaimana memulainya? agar anak bangsa tidak terjebak lantaran negara tidak memberikan keadilan dalam kesempatan belajar di bangku formal lalu rakyat semakin bodoh dan terbelakang. Mungkin ini ada benarnya tetapi kita perlu jalan keluar yang mencerahkan bukan menindas, membelenggu alam pikir kita jika tanpa ijazah sekolah. Tengok pemikiran Friere, Dewey, Ki Hajar Dewantoro, Agus Salim, dan seterusnya. Kita juga bisa refleksikan juga kesuksesan orang-orang tanpa ijazah: Andreas harefa, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Einstein, Colombus, dan sebagainya.

Sebagai refleksi ringan, ketika anak-anak di desa saya ketika ada bapak ibu guru bertanya atau menyuruh kita menyebutkan cita-cita kita hanya ada tiga yang muncul yaitu menjadi polisi, tentara dan dokter. Mengapa demikian? menjadi polisi dianggap profesi yang terhormat karena bisa menolong masyarakat dan termasuk pegawai. Menjadi tentara adalah pekerjaan perkasa dan kuat sehingga anak-anak terobsesi dari film bahwa menjadi tentara itu luar biasa hebatnya. Sementara menjadi dokter adalah pekerjaan dengan status sangat terhormat dengan penghasilan yang besar. Saya tidak tahu pasti apa yang mempengaruhi otak teman-teman saya termasuk saya. Ketika besar, kita berganti cita-cita berubah paradigma melihat pekerjaan dan fungsi sekolah.

Di desa saya sekolah tinggi-tinggi memang kebanyakan hanya menjadi umar bakri di desa. Berbeda dengan yang hanya tamatan SMP lalu bekerja ke Malaysia atau membuka laangan usaha lalu bisa membangun rumah, membeli kenadaraan mewah dan tentu saja memberangkatkan orang tua ke Makkah untuk ibadah haji. Jika orietasi harta tentu percuma sekolah tinggi-tinggi. Di beberapa masyarakat, struktur terhormat dan tinggi sering ditumpangtindikan antara ulama, kyai dan orang kaya kampung. Banyak masyarakat yang menggantungkan diri kepada orang kaya dalam kesehariannya, sehingga pilihan kepala desa, bupati, dan presiden pun tergantung pada si Kaya tersebut. Di sinilah superioritas orang kaya yang menduduki kela elite berpengaruh. Keluarga kaya membangun ketergantungan orang miskin dan menjaidkan mereka loyal kepada burjuis kampung.

Namanya orang desa, filsafat pendidikan modern tidak dikenal. Beruntunglah yang membaca hadis, ” tuntutulah ilmu walau sampai ke negeri china”, atau “belajar mulai dari buaian ibu sampai ke liang lahat”. Tetapi ini akan emnjadi hampa jika dihadapkan pada persoalan ekonomi. Di antara kami tidak tahu jika sekolah itu bisa belajar skill sehingga di desa kami jarang yang belajar di STM atau SMK semua maunya SMA sehingga lulus SMA kami tidak punya skill apa pun. Akibatnya tersingkir dari pasar kerja dan berujung menjadi TKI ke Malaysia. SMA mengajarkan banyak teori tanpa praktik, pelajaran memisahkan manusia dari realitas bahkan ilmu-ilmu pasti itu menyibukkan diri anak-anak dan akhirnya menjadi asosial (teralienasi dari pergaulan).

Saya setuju dnegan pemikiran Ki Hajar dewantoro, Dewey, Romomangun, Friere yang mencoba mengubah paradigma pendidikan yang anti realitas menjadi pendidikan yang berbasis realitas. Peserta didik harus menyatu dengan situasi sosial, budaya, politik di mana ia tinggal sejak dini. Pengathuan alam harus dilengkapi dengan praktik, kekayaan teori dan analisis harus membumi dengan skill (keahlian) dan praktik. Tanpa itu, sekolah tidak pernah lebib mulai dari persusahaan sepatu atau kipas angin yang dicetak dan dijual. Jika beruntung ada yang membeli jika tidak menganggurlah barang-barang hasil produksi industri sekolah dan sekolah tinggi.

Plato, seide dengan Friere, mengingatkan kita bahwa pendidika bukanlah mengisi ceret kosong dengan air tetapi pendidikan (tinggi) adalah menyalahkan pelita dalam kegalapan. Begitu juga pesan nabi Muhammad mengenai keharusan manusia menyeimbangkan idealitas dengan realitas dengan mengutip hadisnya, ‎”I’mal lidunyaaka kaannaka ta’iesyu abadan wa’mal liakhiratika kaannaka tamuutu ghadan”(artinya: Bekerjalah untuk dunia mu seolah engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akheratmu seolah engkau mati besok). Karena itu penuh makna memang butuh renungan. Sekali lagi, pendidikan itu tentu harus melibatkan jiwa raga, jasmani dan ruhani, spritual dan material, teori dan praktis, dan juga kebijakan dan kebajikan. Dengan itu manusia berkontribusi terhadap keberlangsungan hidup makluk lain karena saya meyakini bahwa ujung dari pendidikan adalah pengabdian yang sungguh-sungguh kepada kehidupan, menjadi rahmat bagi seluruh alam.  Itu makna pendidikan, jadi bukan persoalan kekayaan dan gemerlap dunia fana.

Reference:

Read more: http://www.brainyquote.com/quotes/authors/j/john_dewey.html#ixzz18Jfjf5SS

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: