jump to navigation

Arti Hari Ulang Tahun Anak August 24, 2011

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
add a comment

By David Efendi

 

Hafiz dan umi 2011

Hafiz dan umi 2011

Tidak semua orang ‘mensakralkan’ ulang tahun, begitu juga Nabi Muhammad. Sejatinya, beliau tidak pernah merayakan hari milad kecuali diperingati oleh para ummatnya yang ingin sekedar ritual atau memang benar-benar bersungguh-sungguh merefleksikan jejak perjuangan dan militansi dakwahnya. Saya, istri, dan keluarga tidak ada pernah membuat acara khusus ulang tahun. Sesuai habitus kami, ulang tahun adalah upacara khusus bagi kelompok ‘borjuis’, atau kelas menengah kaya di Kota. Tetapi, lambat laun upacara atau perayaan ulang tahun kini sudah sampai di kampung-kampung udik seperti di kampung saya di bentaran kali Bengawan Solo.

 

Sesekali ketika saya pulang ke desa, saya sempat nanya-nanya tradisi atau ritual ulang tahun anak yang mulai bergaya ‘kebarat-baratan’ dan beraneka jawaban pun saya peroleh termasuk dari lingkungan keluarga sendiri. Salah satu jawaban merayakan ulang tahun anak balita adalah sebagai rasa syukur, juga memperbanyak teman agar pergaulan menjadi lebih terbuka dan diterima masyarakat. Itu terkesan jawaban ideal sekali dan dengan penuh rasionalitas baru yang dibangun, akan tetapi ketika dikejar lebih dalam dan jauh ternyata PRIVILAGE, alias gengsi dan mengikuti trend adalah paling layak menjadi jawaban. Karena rata-rata orang tua anak bekerja di Malaysia, maka suasana saling berlomba-lomba menampakkan kesan luar sebagai orang mampu, dan layak dihargai menjadi satu kebiasaan baru yang mapan. Tidak hanya soal itu, soal lomba membangun rumah, lomba memberi pakaian anak, dan juga kegiatan ‘tasakuran’ lainnya yang sering seperti ajang kompetisi. Ada baiknya, tetapi bagi kelompok yang tidak mampu bersaing akan semakin merasa teralienasi dari pergaulan. Kenyataannnya, dari 10 TKI/W yang ke Malaysia yang bisa sukses dan berhasil hanya satu saja sehingga pasti lambat laun akan mengakibatkan kecemburuan sosial baru. Ini dampaknya buruk dalam jangka panjang.

 

Saya terbiasa memberikan ungkapan kata-kata setiap ulang tahun keluarga, termasuk almarhum Ibu, juga ketika istri milad dan si Hafiz Kecil dengan ungkapan itu rasa cinta dan kebersamaan dimunculkan dan diapresiasi. Saya membuat nasehat kecil untuk Hafiz yang entah berapa puluh halaman. Singkat cerita di status FB Hafiz saya tuliskan dengan rasa cinta dan penuh harapan begini: “Selamat Milad, doa kami engkau akan menjadi pribadi mulia yang bisa terbang mengepakkan sayap-sayapmu melintasi samudra, benua, dan menjadi manusia yang menebar manfaat bagi semesta alam raya. Barang siapa bersungguh-sunggu, bekerja keras maka hak untuk memperoleh keberuntungan dunia-akherat adalah jaminan Allah!”

 

Itu adalah inspirasi dari orang-orang mulia yang terus memberanikan diri menjadi khalifah, bertarung dengan tantangan zaman yang telah usai dan kini para ‘tentara-tentara baru’ harus mulai mengencangkan ikat pinggang, tulang belakang untuk memenangkan peperangan itu. Mengenai peperangan memang kita harus merujuk pada ungkapan bijak para guru dan juga satu hal penting yang pernah Nabi Muhammad setelah memenangkan perang Badar (perang besar) bahwa peperangan yang mahadahsyat adalah perang melawan hawa nafsu. Nafsu ini yang sering membelenggu manusia, juga menjadikan seseorang merasa digdaya ketika diuji Allah mendapatkan sedikit ‘kuasa’ untuk memerintah atau menjadikan orang lain berbuat sesuai hasratnya. Sebagai orang tua, sering juga lupa ketika diberikan amanah berupa anak. Ketika anak kecil memang lemah dan membutuhkan kita 1000%, akan tetapi bukan berarti kita kuasai hidup dan matinya sebab sebagaimana kata Kahlil Gibran:

 

 

Anakmu bukan milikmu

Mereka putra putri yang rindu Pada diri sendiri

Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,

Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan Bentuk pikiranmu,

Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah untuk raganya,

Tapi tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

yang tiada dapat boleh kau kunjungi sekalipun dalam impian.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,

Namun jangan membuat mereka mnyerupaimu

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

Pun tidak tenggelam dimasa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah

Anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.

Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,

Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat

Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.

 

Dari makna itulah kita harus bersandar dan tersadar bahwa kita tidak boleh digdaya terhadap kekuasan tuhan, juga terhadap anak sendiri. Anak kita, mungkin masih membutuhkan orang tua untuk bangkit dari ‘lemahnya’ akibat fisik yang masih tumbuh dan berkembang namun bukanlah hak kita menentukan masa depannya secara absolut. Nasehat bijak yang aku baca semalaman ba’da sahur yang ditulis oleh H. Jackson Brown, Jr, penasehat profesional bunyinya jelas bahwa sebagai orang tua kita selayaknya menjadi guru, sehabat, dan pelatih yang tangguh di mata anak-anak (Life’s Little Instruction, 1993). Dia juga bilang bahwa untuk para pendidik agar ingat bahwa “…a good example is the best sermon ( uswatun khasanah atau keteladanan adalah khutbah yang terbaik).

 

Satu hal yang perlu kita hindarkan adalah kebiasaan memvonis anak ke dalam kategori orang dewasa seperti ‘anak bandel’, ‘nakal’, ‘kurang ajar’, ‘tidak disiplin’ dan seterusnya yang notabene gelar itu untuk orang dewasa yang sudah melek fikiran dan pengetahuannya. Untuk anak usia dini, di bawah 12 tahun persoalan rasionalitas dan empati memang sedang tumbuh dan tidak boleh dipataharangkan terlalu dini. Sebagaimana ungkapan di Barat: “Dont Judge the Books by its cover” atau bisa kita artikan jangan vonis anak terlalu dini sebelum ada observasi, pengamatan, dan informasi yang lebih lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan. Kalau anak-anak sudah siap, bolehlah dimulai untuk “make the rules for your children clear, fair, and consistant” Jadi, aturan pun juga harus berlaku untuk semua anggota keluarga tanpa kecuali dalam arti semua tata kelakuan dan habit harus mendukung untuk tegaknya aturan tersebut. ex. Aturan menonton Tv dan bermain. Semua harus konsisten dan istiqomah.

 

AKhirnya, satu dua patah kata sebagai nasehat untuk Hafiz dan Umi-nya yang terakhir juga berasal dari refleksi selama ini yang ternyata mendapat pembenaran bahwa tradisi membaca adalah sesuatu yang mulia serta televisi adalah monster jahat yang melipat ‘malaikat’ bahkan menyamar menjadi ‘juru selamat’ yang harus kita lawan sekuat tenaga dan pikiran. Maka kita terus perjuangkan untuk read more books and watch less TV! atau bahwa lain; segera matikan TV dan mari membaca!. Kalau demikian, maka insyaAllah berlakulah fatwa Man Jadda Wa Jada dan Man Shabara Zhafira!

 

Hawaii, August 24, 2011

Salam

David Efendi, Trust in God but Lock your Car!

Advertisements