jump to navigation

Beberapa Catatan Ringan October 5, 2011

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback

Dave Efendi, Pencari “Epistemologi”

1. Setahun lalu sempat terpikirkan apa yang ditulis oleh Bill Liddle dan Saiful Mujani terkait Indonesia sebagai Masyarakat islam tetapi demokrasinya sekuler. Hal ini merambah pada keyakinan lainnya bahwa Indonesia ini bukan negara agama tetapi masyarakatnya 100% bisa dikatakan memeluk agama dan kepercayaan tetapi ideologi pasarnya liberal dan kapitalis, masyarakatnya materialis, pejabatnya terjangkiri kleptokratis. Selain itu, kesaksian saya di banyak desa yang merupakan pusat-pusat atau basis agama juga mengalami disorientasi menjadi masyarakat yang haus hiburan. Teman saya menyeletuk, islam agamanya, dangdut tontonannya. Ada yang salah? tidak ada hukum positif yang dilanggar, bagaimana dengan hukum agama? bisa diperdebatkan panjang lebar.

2. Setahu saya, ketika dekat dengan profesor-profesor yang teorinya sudah dijadikan referensi di banyak university ternyata mereka tidak show of force dengan apa yang sudah dicapai, bahkan mereka memberikan rekomendasi untuk membaca karya-karya ilmuwan lainnya. Saya tahu saya membutuhkan teorinya tetapi mereka justru mengarahkan agar mencari perbandingan lainnya. Seorang professor ahli Jawa baik yang saya kenal disini Prof Elice Dewey, Prof Patricia Steinhoff, atau via Email seperti Nancy Hefner justru memberikan rekomendasi membaca bacaan lainnya. Seorang Profesor ternama Ben Kerkvliet, memberikan list 50 buku bacaan untuk memahami apa yang beliau temukan termasuk saya disuruh membaca buku yang berlawanan dengan ide teorinya sendiri.

3. Terkait gaya hidup profesor di sini memang inspiring. Ada profesor John Wilson yang mengajar filsafat politik tahun lalu sudah pensiun, ke kampus selalu naik motor atau naik bus umum, Prof Debbie jalan kaki dari kampus sekitar 20-25 menit hampir setiap hari. Banyak profesor dengan mobil yang kalah keren sama mahasiswanya. Tidak ada gengsi, tidak ada kehormatan yang dirusak gara-gara urusan diluar bidang keilmuawan ini. Jika dibandingkan di Indonesia tentu 180 derajat bedanya???. Malam ini barusaja pulang mengikuti seminar di Bishop Musium masalah Indegeneous Epistimology. Kita mahasiswa yang tidak punya mobil diantar dan dipulangkan oleh profesor sendiri. Ada kebaikan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Tidak ada yang mendebat soal ini, bahwa profesor memang setara dan menjadi sahabat belajar yang sangat helpful. Menarik untuk dicatat, di sini tidak ada tempat parkir yang ditulisin parkir rektor, wadek, atau directur ini itu…semua manusia sama hanya otaknya saja yang berbeda…

4. Bahwa memang ada kebenaran yang muncul dari sudut lain di antara kita, kelompok, dan bagian dari bumi namun ini sebenarnya utuh dalam spirit yang sama yaitu menciptakan better world. Ini cocok sekali dengan keyakinan Imam Syafii bahwa ”Pendapatku, menurutku, adalah benar, tetapi ada kemungkinan salah. Dan pendapat orang lain, menurutku, adalah salah, namun ada kemungkinan benar”. Inilah yang kita diskusikan bersama di Bishop Musium tadi sore-malam. Termasuk mengutip pendapat dan pemikiran dari  Budha, Yoga, Rumi, Aristoteles, Hawkins, sampai Native Hawaiian.

5. Tentara-tentara USA yang haus ilmu, ada yang tertarik dengan konsep keduniaan dan kesejatian hidup. Dia seorang Militer namanya Fabian Cook, angkatan Darat-Army. Dia punya pemikiran dunia yang lebih baik dan memikirkan seandainya masyarakat ini tidak meterialism tentu lebih damai kita hidup. Dia dari Florida kampungnya, konon terlalu banyak konflik di komunitasnya akibat berebut mencari “happiness” tetapi mereka salah mengira bahwa uang itu segalanya.

6. Sebagai seorang pedestrian di Honolulu, salah satu kota yang cukup ramai pengunjungnya. Kita merasa sangat nyaman karena mobil dan sopir bgitu menghargai pejalan kaki. Keselamatan kita benar-benar dihargai dan diutamakan. Kalau berjalan di jalan raya walau sebagai jaywalking kita tetap dihargai nyawa kita. Kecelakaan hampir tidak pernah kutemui, karena antara satu kendaraan dengan lainnya menjaga jarak lebih dari besar kendaraan itu,bahkan lebih sehingga kalau ada ambulan lewat pasti gampang, ada orang lari juga bisa, dan tentu saja kalau macet gampang diselesaikan karena jarak tadi.

7. Hak individu dalam ruang publik, hampir tidak ada yang menyentuh selama punya kartu penduduk. Orang ‘gelandangan’ atau homeless bisa tidur di ruang publik seperti taman kota, bus stop, pantai, dan perpustakaan atau kampus yang notabene milik negara. Tidak akan ada yang menyakiti. Milik negara artinya milik publik. Di negara republik harusnya begitu konsepnya. Sayang, di banyak negara konsep ini dilupakan bahkan milik negara itu artinya pamong praja bisa mengusir seenaknya dengan alasan ketertiban, kenyamanan, kebersihan, dan prosedur lainnya.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: