jump to navigation

Kecil, Ringan, dan Reflektif October 5, 2011

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback

Dave Efendi

13. Ini akhir pekan yang melelahkan, syarat beban pikiran, fisik, dan ‘masa depan’. Siapa saja pasti akan jenuh dengan kehidupan yang stagnan, tidak dinamis, involutif, kalau ada revolusi pasti hanya revolusi yang sebenarnya imajinasi. Daya kekuatan kita tidak berbanding dengan keinginan dan hasrat kita berkembang dan melejit. Kungkungan rutinitas menjadi hambatan paling serius dalam hidup kita, terutama mahasiswa yang kehilangan mood untuk belajar. Hal-hal baru tidak begitu memuaskan dan mengobati kegersangan otak dan dinamika intelektual kita. Siapa pun jenuh, dengan keadaan dunia yang tunggang langgang. Tidak hanya kelas bawah, proletariat tetapi para pengambil kebijakan mulai frustasi. Dan frustasi yang membahayakan akal waras kita ini bisa menyebar dan memberikan racun kepada seluruh alam kosmos ini. Karena itu saya mencoba mencari pembelajaran dari hal-hal kecil saja. Beberapa itu diantaranya:

13. a. Ada dua hal menarik ketika saya, selama setahun ini, ketika menunggu di halte bus (bus stop). Pertama, para calon penumpang ini membaca buku sesekali mengajak orang disampingnya bicara apa saja terkait hal-hal yang unik di depan matanya. Misalnya ada sepeda yang dimodifikasi, atau sepatu roda unik, dan sebagainya termasuk berita-berita miring terkait pemerintahan. Kedua, ada saja selalu, orang-orang/calon penumpang itu memungut sampah disekitar halte dan membuangnya ke tempat sampah terdekat. Mereka mengambilnya dengan penuh antusias selayaknya kita sedang diawasi atasan atau sedang berbuat sesuatu yang mulia. Ya, memang mulia. Dan mereka malakukan tanpa pamrih, di saat pagi, siang, petang, dan malam yang sepi dan berangin yang menusuk jantung. Hikmah pertama, Orang Barat atau setengah Barat tidak terlalu menuhankan alat-alat tekhnologi seperti di negara-negara baru mengenal tekhnologi dimana kita di Jakarta ketika menunggu halte trans jakarta saja seolah semua orang sibuk dan sibuk dengan handphone dan blackbarry dan apa saja kalau tidak mereka akan menutup telingah dengan headset agar tidak diajak bicara. Di sini, orang menghargai tekhnologi, tetapi tidak menghilangkan arti ‘silaturhmi’ dan hubungan manusia. Hikmah kedua adalah Mereka malakukan pekerjaan ringan, tetapi siapa pun orangnya secara tidak sadar telah dibuat sejuk matanya akibat sampah-sampah yang diungutinya.

13.b. Terkait cellphone/handphone. Saya kira saya tidak menyaksikan dosen atau profesor yang paling sibuk dengan HP-nya lebih dari apa yang terjadi di Indonesia. Bahkan, pengalaman banyak teman, menguji thesis, skripsi pun dosen kita sempat-sempatnya membuka HP, sms, dan telphone bahkan mengganti status FB atau komentar di FB. Ini kan luar biasa. Tetapi anehnya, beberapa dosen juga melarang mahasiswa telpon, tetapi SMS Only (mau sms susah bahasanya?). Ada juga yang telpon Only (artinya mahasiswa harus banyak pulsa, mau telpon takut menganggu?). Nafas panjang sebentar. Lalu, saya melihat disini kita bisa mampir kapan-kapan ke kantor profesor, bisa janjian (appointment) via email karena tekhnologi website-internet sudah disediakan kampus jadi untuk apa harus juga pakai HP atau cellphone? ini kan pemborosan. Lalu kita reflektif, di negeri kita semua kampus punya internet operator, bahkan setiap jurusan punya speedy sendiri, dosen punya modem masing-masing, juga mahasiswanya. Artinya kehidupan kampus benar-benar high cost, bisa bayar spp tetapi gak bisa hidup dengan standar gaya kampus (sebut saja UGM).  Kalau mahal apa akibatnya? Dosen harus cari tambahan penghasilan, mahasiswa gak sempat baca buku karena harus kerja malam sebagai pekerja paruh waktu, siang ngantuk. Keterlibatan di pergerakan mahasiswa? NO way!. Waktu sudah habis diperas oleh gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat.

13.c. Jujur, saya termasuk yang punya stereotip mengenai gaya hidup orang barat: Gak mau direpotkan urusan keluarga dan mengurus anak. Awalnya, saya tidak mengira pada awalnya bahwa ada profesor mengajar kelas methodologi yang serius dengan mengajak dua anak kecil seumuran 3 tahun laki dan perempuan. Ramainya bukan main, tetapi profesor Hoku itu dengan sabar menenangkan anak-anaknya sambil menerangkan. Seminggu sebelumnya,ada mahasiswi dari Jepang mengaja anaknya di kelas. Anaknya setengah bule. Anak itu layaknya anak besar mengikuti kuliah ibunya. Refleksinya. Ada orang barat juga yang tidak kita perkirakan, mereka sangat menghargai anak, dan tentu saja ini investasi imajinasi anak akan masa depan pendidikan kelak. Mengajak anak adalah juga mendidik dan memberitahukan kesibukan orang tua. Anak senang, orang tua bangga. Waktu di kampung, masjid hanya untuk anak muda dan orang tua, ada yang hanya untuk orang tua karena anak kecil dilarang dibawah karena ramai. Ramai itu mengurangi kekhusukan sholat? Saya masih belum bisa menerima kalau masjid hanya untuk orang ‘gede’ atau dewasa. Lalu apa imajinasi masa depan kelak, kalau mereka MATI? Anak-anak tidak tahu masjid, tidak tahu tauladan?

13.d. Ini hari jumat, awal weekend. Seperti yang sudah saya tulis dan sempat cibaca guru bahasa Inggris disini. Bahwa orang Barat mengidap “penyakit” yaitu “Work Hard, Play Harder”, atau “Study hard, play harder”. Kerja keras menjadi etos penting, sementara menikmati waktu luang atau weekend adalah harga tebusan yang setimpal. Kalau pesta dan dugem ya sampai puas karena ini dianggap juga sebagai hak untuk menikmati kehidupan dan kemerdekaan. Kalau saya, sering merasa plain. Selama 5 hari dari senin-jumat, biasa-biasa saja, dan kalau weekend juga biasa saja. Nothing special. Tetapi, jika kita geser sedikit akan etos perayaan kemenangan kecil dengan hal yang kita anggap positif (tidak melanggar moral dan menyerempet haram) misalnya, kita nongkrong bersama teman seraya makan dan diskusi gosip kesana-kemari pasti juga akan menambah semangat hidup kita. Semangat berbagi, caring and sharing. Ini sudah saya lakukan, terutama dengan tujuan, agar bisa menjaga akal tetap waras. Selain, itu menyambung nyawa karena katanya kumpul-kumpul bisa memperpanjang usia. Dalam kehidupan keluarga, anggota keluarga kita punya hak untuk tersenyum, senang, menikmati kebersamaan, dan kehidupan indah. Inilah keseimbangan yang bisa kita ciptakan tanpa silau dengan tradisi orang lain yang bisa mengancam eksistensi ideologi, keyakinan, dan pranata sosial yang ada dan kita harga. Do You?

14. Kembali ke masa lalu, kira-kira 10 tahun silam. Seringkali pembangunan di kampung merupakan hasil kerja gotong royong masyarakat tanpa memandang status sosial, ekonomi, dan pemerintahan. Mereka nampak bekerja ikhlas walau dengan suasana bathin yang berbeda dimana sebenarnya kelas miskin paling berat menanggung beban gotong royong karena mereka kehilangan penghasilan atau kesempatan bekerja untuk dirinya sementara kelas menengah kampung dan pejabat sudah cukup dengan penghasilan dan tidak kehilangan apa pun dalam jangka pendek. Suatu saat, di RT saya diadakan rencana pembangunan jembatan dna jalan akibat kerusakan yang maha hebat. Lalu diputuskan setiap rumah membayar 150 ribu. Semua dipukul rata karena ini dianggap bentuk keadilan (keadilan purba). Suasana bathin saya meletup waktu itu, banyak sekali yang keluarga mendapatkan uang 10 ribu saja susah dan sementara orang kelas menengah atas yang punya mobil 3, motor 2, dan sebagainya yang melayani banyak pelanggan dan kulaan, yang mendatangkan bahan bangunan untuk membangun rumah, ini yang saya anggap berkontribusi merusak jalan dan jembatan. Tetapi atas nama keadilan semua harus berkonstribusi sama. Ini tidak masuk akal dan ornag kaya yang tidak sadar posisi. Lagi, lagi karena masyarakat ini beragama islam lalu toleran dan menghargai tidak ada protest yang manifest. Tapi gossip itu tidak dapat dibendung arena keadilan model ini menyaikiti dan betentangan dengan nurani semua anak manusia.

15. Contoh yang sama sebenarnya, ketika kita berorganisasi, menyelenggarakan kegiatan sukarela yang berkolaborasi dengan ornag banyak, berbeda kelas secara ekonomi. Mahasiswa miskin dengan pengusaha bekerjasama/bersama dan dua-dua tanpa insentif maka siapa paling sengsara? kelompok pebisnis atau yang pandai memanfaatkan peluang justru akan mendaatkan keuntungan yang tidak terduga di masa dekat atau jangka panjang. Contohnya, si mahasiswa miskin butuh rokok, butuh minum, dan kendaraan kalau sakit maka si pengusaha kaya itulah yang akan berjasa dan akan mendapatkan keuntungan yang lebih dari koloborasi masyarakat ini. Ini simbiosis mutualisme tetapi timpang. Ke depan keadilan progresif dimana proporsional dan appropriate itu perlu ditegakkan dengan nalar rasional yang lebih memperhitungan dampak, akibat, resiko jangka pendek dan panjang. Bekerja sama, minimal tidak ada yang dirugikan, minimal ada keuntungan yang setara sehingga masyarakat yang berkesenjangan dapat diatasi melalui hal-hal kecil seperti contoh tadi.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: