jump to navigation

Ringan Syarat Makna dan Inspiratif October 5, 2011

Posted by lapsippipm in Catatan hati.
trackback

Dave Efendi

7. Seperti tahun lalu, tadi malam Islam day diselenggarakan dengan penuh ceria dan kedamaian. Islam Day sebagai kegiatan pengenalan komunitas Islam kepada khalayak ramai di Hawaii sudah ketiga kalinya diadakan. Semua orang bisa datang dan menikmati pertunjukan dan makanan. Temanya tahun ini adalah “Islam Day, Peace celebration.” Tepat diselenggarakan ketika terjadi bom di sebuah gereja di Solo, tepatnya di gereja Kepunton yang melukai banyak orang dan bahkan ada yang meninggal. Inilah tragedi local global yang tidak sinergis. Satu sisi, mempromosikan kedamaian di Hawaii kelompok Islam lain entah dnegan motis dan justifikasi apa justru menghabisi manusia lain. Ini luar biasa antagonis. Islam kita, kapan akan memberikan kedamaian bagi sesama?

8. Sepulang dari acara Islam Day di Japanese Cultral center, saya menyaksikan seorang Pelatih Kendo, namanya Henry Smalls yang merupakan Martial artist. Smalls ini manusia tanpa kedua kaki bahkan hanya badan dan tangan saja dengan lincah dan gesit melatih murid-muridnya. Bisa dilihat di Youtube silakan ketik namanya ‘Henry Smalls’ akan muncul sesuatu yang dahsyat. Buktinya, prestasinya pun luar biasa, tak kalah juga inspiratifnya tayangan Kick Andy semalam yang saya tonton di Mivo.Tv. Ada Aam (Anak muda dengan semangat melawan keterbatasan fisiknya menjadi sesuatu yang syarat makna, anak muda tanpa dua lengan ini dari Gresik), Sofyan Rosidah seorang perempuan fotografer tanpa kedua lengan, dan lain-lain menyampaikan betapa keterbatasan itu hanya persepsi ‘normalitas’ karena mereka bisa melakukan aktifitas yang selayaknya orang lain. Jadi, cacat, tidak normal, sakit itu murni hanyalah pekerjaan otak-otak yang menyimpan ketidakadilan.

9. Tadi siang, Rabu sep 28, seperti biasa saya punya agenda ‘ngaji’ bersama Prof Elice Duwey, seorang profesor jebolan harvard ahli Jawa terutama soal pasar di Jawa. Beliau profesor Antropologi di UH Manoa. Pernah membimbing disertasi Ann Dunham Soetoro (Ibu Obama yang juga jebolan UH Manoa dimana saya belajar). Minggu lalu, beliau menjajikan bacaan untuk mendukung thesis saya dan hari ini lima buku dipinjamkan untuk saya mulai dengan asal-usul sultan/kraton sampai keruntuhan Soeharto. Saya merasa terhormat, karena beliau bukan pembimbing saya tetapi intensitas ketemunya lebih sering. Kalau boleh klaim beliau pembimbing ke empat saya. Antusias dan responnya luar biasa, lebih dari yang aku bayangkan sebelum kenal dengan beliau. Ketika saya berikan souvenir, gelang, wayang, dan logo kraton beliau sangat senang dan gelangnya langsung dipakai dan merasa sangat cocok. Syukurlah, dan I really apreciate that.

10. GOSSIP. Waktu kecil sering aku mendengar kata-kata ‘rasan-rasan’. Yaitu kegiatan mengisi waktu luang untuk ibu-ibu yang biasanya selesai mengerjakan aktifitas rumah, tidak sedang ke sawah, atau suaminya kerja di luar negeri sehingga para ibu-ibu berkumpul sambil mencari kutu atau apa saja dan bicara ngalor ngidul tentang sesuatu yang belum jelas jluntrungnya. Di dunia barat apakah tidak ada ‘tradisi’ rerasan? saya kira ada karena itu tabiat manusia yang ingin bicara apalagi orang barat ‘talk active’ dan kadang over dosis sehingga sering juga mereka menggosip sana-sana. Tidak hanya di masyarakat luas, tetapi di kelas bersama profesor kadang juga menggosip tentang kebijakan pemerintah bahkan mengosip ilmuwan lain yang dianggap punya kelemahan. Ini terlepas baik buruk, sebab gosip kadang ada baiknya. Konon revolusi bisa dimulai dari gossip yang massif sebagai sarana everyday politics yang efektif. Gosip, jika menyangkut negara, tentu akan banyak konribusinya bila dibanding gosip menyangkut privasi tetangga atau individu. So, mari kita gossipkan negara kita, pemimpin kita yang tidak amnaah dengan gosip yang membangun. Gosip tak dibedakan dengan kritik, tak berbeda dengan politik media hanya cara dan jalan yang ditempuh berbeda.

11. Saya menyaksikan mahasiswa yang serius memang banyak, tetapi yang tidak suka ke perpustakaan juga ada. Setahu saya yang sering bekerja, membaca, atau menulis di library pada kenyataanya orang-orang barat (sebagain saya tanya, mereka berobsesi menjadi profesor). Mahasiswa dari Asia, bisa dibilang kurang suka ke perpustakaan termasuk mahasiswa Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Philipina. Saya lihat, teman-teman Jepang ada beberapa yang sangat rajin ke perpustakaan, terutama mereka yang punya teman ‘bule’ yang pekerja keras dalam belajar. Ini kesimpulan sederhana saja, saya hampir tiap malam mengunjungi perpustakaan sampai petugas mencari pengunjung dan bilang “…closed”. Saya sering kaget pas lagi mojok di lorong-lorong rak buku diruangan seluas masjid istiqlal itu. Saya tidak kuat lama membaca, tetapi saya suka membaca dengan menjelajah at least daftar isi sehingga tau petanya dan kapan-kapan bisa diburu lagi.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: