jump to navigation

Promosi Buku, Promosi Ilmu November 11, 2010

Posted by lapsippipm in Books News.
add a comment

Promosi Buku, Promosi Ilmu

Salam membaca! Salam golden generation untuk masa depan,

Kita percaya bahwa tantangan masa depan lebih berat. karena itulah kita semua bertanggung jawab membekali anak, siswa, kita dengan kemampuan pengetahuan dan skill yang sesuai tantangan zaman. Buku adalah salah satu energi yang harus disuntiikan ke dalam jiwa dan pikiran anak-aak kita untuk menghidupkan kreatifitas, bakat dan kemampuan yang mereka miliki.

Banyak orang tua dan pendidik yang sudah merasakan kedahsyatan dan manfaat buku-buku hebat ini. Jika sahabat memutuskan segera membeli maka keringanan harga semakin besar diperoleh. Dan manfaat pun segera diraih bukankah kita harus segera lakukan jika dalam rangka menuntut ilmu, memperluas cakrawala wawasan kita dan anak-anak kita kelak? YES

Judul Buku dan Harga

NO JUDUL KODE JILID Harga Disc 10% Dis 20%
1 QURANKU SAHABATKU QS 4 428,000 385,200
2 SERI FOR BEGINNERS SFB 12 540,000 486,000
3 ATLAS BUDAYA ISLAM ABI 1 800,000 720,000
4 Kump. CERITA BALITA KCB 14 800,000 720,000
5 CERITA BINATANG CERBIN 12 1,090,000 981,000
6 ENSIK NURCHOLISH MADJID NURMA 4 1,340,000 1,206,000
7 HALLO BALITA HB 26 1,540,000 1,386,000 1,232,000
8 OXFORD DUNIA ISLAM MODERN ODIM 6 1,688,000 1,500,000
9 TAFSIR AL-MISHBAH TAM 15 2,430,000 2,187,000
10 ENSIKLOPEDI MUHAMMAD EnsiM 10 2,450,000 2,205,000 1,960,000
11 ENSIKLOPEDI BOCAH MUSLIM EBM 15 2,760,000 2,484,000 2,208,000
12 I LOVE MY AL QURAN ILMA 15 2,990,000 2,691,000 2,392,000
13 PAKET ILMA + HB 41 3,950,000 3,555,000 3,160,000
14 LEKSIKA LIKA 1 2,550,000 1,800,000
NO JUDUL KODE JILID Harga Disc 10% Dis 20%
1 QURANKU SAHABATKU QS 4 428,000 385,200
2 SERI FOR BEGINNERS SFB 12 540,000 486,000
3 ATLAS BUDAYA ISLAM ABI 1 800,000 720,000
4 Kump. CERITA BALITA KCB 14 800,000 720,000
5 CERITA BINATANG CERBIN 12 1,090,000 981,000
6 ENSIK NURCHOLISH MADJID NURMA 4 1,340,000 1,206,000
7 HALLO BALITA HB 26 1,540,000 1,386,000 1,232,000
8 OXFORD DUNIA ISLAM MODERN ODIM 6 1,688,000 1,500,000
9 TAFSIR AL-MISHBAH TAM 15 2,430,000 2,187,000
10 ENSIKLOPEDI MUHAMMAD EnsiM 10 2,450,000 2,205,000 1,960,000
11 ENSIKLOPEDI BOCAH MUSLIM EBM 15 2,760,000 2,484,000 2,208,000
12 I LOVE MY AL QURAN ILMA 15 2,990,000 2,691,000 2,392,000
13 PAKET ILMA + HB 41 3,950,000 3,555,000 3,160,000
14 LEXICA MIZAN LIKA 1 2,550,000 1,800,000

Pembayaran bisa diangsur sampai tiga kali.

Caranya?
1. Pastikan bahwa buku ini tahan lama dan bermanfaat untuk masa depan generasi kita
2. Pilih buku yang sangat menarik sesuai umur/ silakan di buka di : http://www.pelangi-mizan.com/index.php?page=product_view

3. Jika oke,  tinggal transfer uang ke mizan No rek 0600392221 BCA Cabang Pingit Yogyakarta dan berikan alamat kirim
4. Barang langsung dikirim ke alamat..jika di jogja dalam waktu sehari sampai bahkan dalam waktu 1-2 jam saja.

Kelebihan Melalui Saya sebagai Book advisor?
Bebas biaya kirim di mana saja posisi alamat kirim. Dan tentu ada bonus lainnya speerti boneka dan sebagainya

Catatan: Menegnai harga bisa melalui fb dan email. Segera kontak jika berminat mumpung sedang dalam promosi besar-besaran sampai diskon 20%

salam Iqro

David Efendi, mizan book adviser

081357180841

Masdavid_4all@yahoo.com

Advertisements

Daftar Harga Pelangi Mizan Dian Semesta October 31, 2010

Posted by lapsippipm in Books News.
add a comment

TAFSIR AL MISBAH

Harga 1.976.000,-

diskon 10%

SERI FOR BEGINNER

HARGA RP 540.000,-

Diskon 10% Rp 480.000,-

ENSIKLOPEDIA OXFORD DUNIA ISLAM MODERN

HARGA Rp. 2.140.000

HARGA TUNAI DISKON 30% Rp. 1.500.000

ATLAS BUDAYA ISLAM

HARGA: Rp. 800.000

Harga Tunai, diskon 20

CERITA BINATANG BEERIMA DUA BAHASA

Harga 950.000,-

Harga Tunai diskon 10-20%

I LOVE MY AL-QUR’AN (ILMA)

Harga normal Rp 2.600.000,-

Cash discount 10% jadi Rp 2.340.000,-

Cicilan 2 kali : 2 x Rp 1.230.000,-

Cicilan 3 kali : 3 x Rp 827.000,-

Cicilan 4 kali : 4 x Rp 625.000,-

Cicilan 5 kali : 1 x Rp 650.000,- selanjutnya 4 x 483.000,-

Cicilan 7 kali : 1 x Rp 650.000,- selanjutnya 6 x 356.000,-

Cicilan 13 kali : 1 x Rp 650.000,-selanjutnya 12 x 205.000,-

ENSIKLOPEDI BOCAH MUSLIM (EBM)

Harga normal Rp 2.400.000,-

Cash discount 10% jadi Rp 2.160.000,-

Cicilan 2 kali : 2 x Rp 1.135.000,-

Cicilan 3 kali : 3 x Rp 763.000,-

Cicilan 4 kali : 4 x Rp 577.000,-

Cicilan 5 kali : 1 x Rp 600.000,- selanjutnya 4 x 446.000,-

Cicilan 7 kali : 1 x Rp 600.000,- selanjutnya 6 x 329.000,-

Cicilan 13 kali : 1 x Rp 600.000,-selanjutnya 12 x 189.000,-

NABIKU IDOLAKU (NBI)

Harga normal Rp 1.860.000,-

Cash discount 10% jadi Rp 1.674.000,-

Cicilan 2 kali : 2 x Rp 884.000,-

Cicilan 3 kali : 3 x Rp 594.000,-

Cicilan 4 kali : 4 x Rp 449.000,-

Cicilan 5 kali : 1 x Rp 465.000,- selanjutnya 4 x 347.000,-

Cicilan 7 kali : 1 x Rp 465.000,- selanjutnya 6 x 286.000,-

Cicilan 13 kali: 1 x Rp 465.000,- selanjutnya 12 x 147.000,-


HALO BALITA (HB)

Harga normal Rp 1.340.000,-

Cash discount 10% jadi Rp 1.206.000,-

Cicilan 2 kali : 2 x Rp 636.000,-

Cicilan 3 kali : 3 x Rp 432.000,-

Cicilan 4 kali : 4 x Rp 330.000,-

Cicilan 5 kali : 1 x Rp 335.000,- 4 x Rp 249.000,-

Cicilan 7 kali : 1 x Rp 335.000,- selanjutnya 6 x Rp 235.000,-

Pesan sekarang juga!!
Kami melayani pemesanan secara kredit maupun tunai.
David Efendi & Rifatul Anwiyah, book adviser of Mizan
Hp. 081357180841 (Rifatul Anwiyah)
Email: masdavid_4all@yahoo.com
Fb: David efendi, Derrida hafiz

KEISLAMAN SEBAGAI TONGGAK PERUBAHAN September 22, 2010

Posted by lapsippipm in Books News.
add a comment

Resensi

Berulang kali dikatakan Darwisy atau Dahlan dalam seluruh bagian novel ini, bahwa Dahlan menolak dengan keras dan tegas, Islam bukanlah agama ritual belaka, terbelakang, dan menghalangi Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan terbebas dari penindasan, ketidakberdayaan, kebodohan dan kesehatan yang terpuruk (hlm. 48, 246, 250). Ini merupakan novel yang membangkitkan semangat berorganisasi di kalangan aktivis Muhammadiyah. Karena ada kekuatan yang mengancam, meminjam kata-kata Dahlan yang sedikit penulis ubah, ”Bahwa bisa jadi Muhammadiyah lenyap dari Indonesia, tapi Islam tidak akan lenyap dari muka bumi.” Atau, meminjam istilah Buya Syafii Maarif, “Sebuah Muhammadiyah yang tidak mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah Indonesia, bukanlah Muhammadiyah yang sebenar-benarnya”, yang diadopsi oleh Buya dari pendapat, ”Sebuah Islam yang tidak mampu memberikan solusi terhadap masalah-masalah manusia, bukanlah Islam yang sebenarnya.”

Lega dan bahagia rasanya, membaca satu kekayaan dan khazanah baru mengenai KHA. Dahlan yang telah merintis dan mendirikan Muhammadiyah yang sampai kini sudah berusia satu abad atau seratus tahun. Selain puluhan atau ratusan buku yang tertulis mengenai sosok manusia santun dan bijak dari Kauman ini, genre baru dalam bentuk novel pun hadir mengapresisasi, betapa sosok Darwisy itu mampu menginspirasi anak bangsa untuk berbuat lebih banyak untuk bangsanya, untuk kemanusiaan sebagaimana yang diperankan oleh Dahlan dan pengikutnya pada zaman itu. Zaman yang terus bergerak pincang, meminjam istilah Passandre dalam novel ini, Dahlan bisa bergerak dan terus bergerak untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah semangat kemanusiaan dan bukan aliran tradisi yang tersingkir, terbelakang dan tidak modern. Bayangkan, dalam keadaan yang serba terbatas, berhadapan dengan tradisi, kolinialisme, tradisi kraton yang kokoh seperti pohon beringin itu, Dahlan tidak gentar terus melakukan istima’, ijtihad bahwa harus ada jalan keluar, untuk membawa bangsanya keluar dari keterpurukan dalam beraqidah, sosial, ekonomi, dan politik.

Penulisan novel ini diilhami oleh film dokumenter “KH Ahmad Dahlan Sang Pencerah” yang dikeluarkan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi UMY tahun 2006 dan dipersembahkan untuk Sang Pencerah, Pahlawan Kusuma Bangsa, Kiai Haji Ahmad Dahlan, dan Muktamar Seabad Muhamamdiyah 2010. Sebuah kalimat yang sangat tulus, bagaimana penulis yang merupakan alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah ini mempunyai kepekaan hati untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi Dahlan, bagi Muhammadiyah, dan bagi anak bangsa yang seiring dan sejalan dengan pemikiran dan aksi sosial Dahlan. Kita mesti berterima kasih pada penulis yang memberikan bacaan yang menyentuh, penuh referensi, fakta, nuansa revolusi, menggebu-gebu, mendobrak, dan kadang-kadang hanyut dalam romatisme keluarga sakinah yang damai tentram yang pernah dilakoni KHA Dahlan. Panduan Hidup Islami Muhammadiyah mungkin perlu disempurnakan dengan membaca novel ini terutama Penggalan 6-10, yang berisi dialog-dialog singkat dan kaya makna antara Dahlan dengan Walidah, yang cukup menyentuh dan membuat kita meneteskan air mata (baca juga hlm. 247-249).

Passandre menarasikan kisah yang mengandung nilai keutuhan hidup dengan sangat apik. Sosok Dahlan atau Darwisy sebagai sosok yang selalu risau terhadap tradisi yang lebih dimuliakan dari pada ajaran Agama Islam. Sosok yang mendobrak dan anti penjajahan, dalam suasana kehidupan keluarga yang harmonis, yang saling menguatkan dengan landasan Islam yang akan membawa kebahagiaan. Dahlan sama sekali bukan digambarkan –dan memang bukan– sebagai tokoh yang egois, hanya mementingkan orang lain atau perjuangannya, tidak mau tahu dengan urusan keluarga. Pendek kata, Dahlan ingin mengatakan bahwa kehidupan berkeluarga tidak akan pernah menghalangi dakwah, menghalangi peroebahan yang dicita-citakannya, bahkan menawarkan ragam second opinion, atau alternative, manakala kebutuhan dalam perjuangan itu menghentikan langkah kakinya (hlm. 249). Sekali lagi, ayat-ayat cinta dan semesta itu hadir menyelimuti kehidupan rumah tangga Dahlan-Walidah.

“Dari penampilannya saja, sekolah itu memang tampak mengingkari  zamannya, dan seolah hendak membangun zaman baru: zamannya sendiri. Zaman dimana manusia terbebaskan dari belenggu tradisi yang membodohkan.” (hlm. 258). Ya, Dahlan memang memberontak tradisi, memimpikan perubahan. Dan untuk membangun zamannya, dan zaman yang akan datang, Dahlan mengorbankan banyak hal, terutama waktu bercengkerama dengan keluarga, lalu ditinggal ke Makkah untuk naik haji dan belajar agama. Dahlan ingin Islam modern sehingga arah kiblat pun perlu direvisi sebagai konsekuensi dari berkembangnya ilmu pengetahuan, karena Dahlan mengenal dunia, mengenal ilmu geografi. Disamping itu, beliau memahami dan menyaksikan bahwa Islam yang revolusioner sedang bergeliat di tanah Arab, Mesir yang dipromotori oleh Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, dan sebagainya. Dahlan memanfaatkannya sebagai pendorong semangat dalam jiwanya untuk aksi nyata: Peroebahan! Tidak hanya itu, Dahlan juga belajar membangun sekolah yang meski dianggap kafir lantaran meja kelas dan pelajaran musik dan biola (hlm. 262). Beliau juga memikirkan perlunya organisasi setelah berinteraksi dengan Budi Oetomo, Taman Siswa, dan hasil dialog dengan seorang pelajar yang tidak rela sekiranya sekolah Dahlan ambruk dan roboh jika kelak Dahlan meninggal dunia. Maka, ikhtiar itu termanifestasikan dalam langkah nyata mendirikan organisasi modernis yang diberikan nama Muhammadiyah pada 18 November 1912.

Salah satu keunggulan novel ini adalah sosok penulisnya yang memang aktivis Muhammadiyah, semenjak SMA menghabiskan waktunya di Sekolah Muhammadiyah di Yogyakarta dan aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah sampai di tingkat Pimpinan Pusat. Aroma kepekaan sebagai “orang dalam” sangat kental dan sering melihat ‘dinamika Dahlan’ sebagai sesuatu yang harus kembali ditumbuhkan kepada generasi kekinian, anak muda Muhammadiyah yang bisa jadi terlalu dimanjakan dengan fasilitas sehingga tidak peka dan tidak berani mengambil posisi yang beresiko. Inilah yang hendak penulis novel ini bangun, bahwa katakan kebenaran walau rasanya pahit, sebagaimana kisah Dahlan dalam khutbahnya di Semarang saat perjalanan haji menuju Tanah Suci Makkah (hlm. 117). Bangsa ini akan beranjak menjadi baik jika kata-kata Dahlan itu terus dipraktikkan dalam segala situasi. Bangsa ini tentu tidak akan mendapat predikat bangsa dengan indeks korupsi tertinggi di jagat raya.

Novel ini sangat layak untuk dijadikan bacaan wajib dalam sekolah-sekolah Muhammadiyah baik di tingkat sekolah dasar atau sekolah tinggi dan universitas. Buku yang kaya akan literasi dan referensi ini diharapkan akan menggugah semangat untuk ber-uswatun hasanah kepada para pemimpin terdahulu, untuk kembali melejitkan ghirah bermuhamamdiyah, berislam, dan berbuat untuk kemanusiaan. Maka, “saya berharap Muhammadiyah benar-benar bertujuan untuk pencerahan kehidupan umat. Bukan untuk kepentingan pribadi. Maka itu, hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah” (hlm. 279).

Beberapa hal menarik lainnya adalah pesan-pesan yang penuh inspirasi dan makna dari Dahlan kepada muridnya atau santrinya selama berinteraksi pada saat-saat penuh tantangan. Kata-kata berbobot itu layak dijadikan pelajaran untuk anak didik Muhammadiyah (hlm. 220, 221, 231, 260, 264). Dan salah satu usulan yang sederhana mungkin diantara bab atau penggalan itu dilengkapi foto dokumentasi, atau karikatur yang bisa mengundang perhatian pembaca, terutama pembaca muda yang masih ogah-ogahan membaca novel apalagi yang namanya text book.

Terakhir, sebagaimana Nabi Muhammad, dalam dakwahnya Dahlan juga mengalami masa-masa sulit seperti perlawanan dari kelompok Islam-tradisi, langgar atau musholla yang dirobohkan, dituduh kyai kafir, juga peristiwa memilukan saat meninggalnya ibunda tercinta dan ayahnya, namun hasrat perubahan terus dipelihara dalam pikiran dan tindakannya. Lalu, perubahan itu terus bergerak kencang dan bertenaga menerobos zaman, sejarahnya yang terus tumbuh dewasa dan terkadang macet di tengah jalan. Tapi, karya Dahlan terus dipercayai sebagai kebaikan, kesalehan sosial yang dilandasi keislaman yang membebaskan, yang dilandasi akal sucinya untuk menebar rahmat bagi semesta raya. Prestasi baik Darwisy dan Dahlan keduanya itu tak akan musnah dimakan bubuk zaman, tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Mewakili penulis novel itu yang ingin mengatakan: Selamat Milad Muhammadiyah ke-100 tahun, semoga tetap energik, bertenaga dalam bergerak memasuki pusaran gelombang kedua di abad kedua ini. Selamat membaca dan salam dari pengikut Tonggak Sang Pencerah.

Peresensi:

David Effendi, pengikut Tonggak Sang Pencerah

Resensi Novel Tonggak Sang Pencerah July 19, 2010

Posted by lapsippipm in Books News.
3 comments

Judul Buku    : Tonggak Sang Pencerah, Sebuah Novel Tentang KHA Dahlan
Penerbit        : Suara Muhammadiyah,Yogyakarta
Penulis        : Yazid R.Passandre
Tebal        : 279+

Refleksi dan Aksi Sosial Seorang Dahlan:
Keislaman sebagai Tonggak Peroebahan

Berulang kali dikatakan Darwisy atau Dahlan dalam seluruh bagian novel ini bahwa Dahlan menolak dengan keras dna tegas bahwa Islam Bukanlah agama ritual belaka, terbelakang, dan menghalangi bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan terbebas dari panindasan, ketidakberdayaan, kebodohan dan kesehatan yang terpuruk (hlm 48,246,250,). Ini merupakan novel yang membangkitkan semangat berorganisasi di kalangan aktifis Muhammadiyah. Karena ada kekuatan yang mengancam meminjam kata-kata Dahlan yang sedikit penulis ubah,”bahwa bis jadi Muhammadiyah lenyap dari Indonesia, tapi Islam tidak akin lenyap dari muka bumi.” Atau meminjam istilah Buya Syafii Ma’arif, “Sebuah Muhammadiyah yang tidak mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah Indonesia, Bukanlah Muhammadiyah yang sebenar-benarnya.” yang adopsi buya dari pendapat, ”Sebuah Islam yang tidak mampu memberikan solusi terhadap masalah-masalah manusia, bukanlah Islam yang sebenarnya.”

Lega dan bahagia rasanya, satu kekayaan dan hasanah baru mengenai KHA Dahlan yang telah merintis dan mendirikan Muhammadiyah yang sampai kini sudah berusia satu abad atau seratus tahun. Selain puluhan atau ratusan buku yang tertulis mengenai sosok manusia santun dan bijak dari Kauman ini, genre baru dalam bentuk novel pun hadir mengapresisasi betapa sosok Darwisy itu mampu menginspirasi anak bangsa untuk berbuat lebih banyak untuk bangsanya, untuk kemanusiaan sebagaimana yang diperankan oleh Dahlan dan pengikutnya pada zaman itu. Zaman yang terus bergerak pincang, meminjam istilah Passandre dalam novel ini, Dahlan bias bergerak dan terus bergerak untuk menunjukkan pada dunia bahwa Islam adalah semangat kemanusiaan dan bukan aliran tradisi yang diesinker terbelakang dan tidak modern. Bayangkan? Dalam keadaan yang serba terbatas, berhadapan dengan tradisi, kolinialisme, kraton yang kokoh seperti pohon beringin itu, dahlan tidak gentar terus melakukan istima’, ijtihad bahwa harus ada jalan keluar untuk membawa bangsanya keluar dari keterpurukan dalam beraqidah, sosial, ekonomi, politik.

Novel ini diilhami oleh film “Sang Pencerah” yang dikeluarkan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi UMY 2006 dan dipersembahkan untuk Sang Pencerah, Pahlawan Kusuma Bangsa, Kiai Haji Ahmad Dahlan, dan Muktamar seabad Muhamamdiyah 2010. Sebuah kalimat yang sangat tulus bagaimana Penulis yang merupakan alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah ini mempunyai kepekaan hati untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi dahlan, bagi Muhammadiyah, dan bagi anak bangsa yang seiring dan sejalan dengan pemikiran dan aksi sosial Dahlan. Kita mesti berterima kasih pada penulis yang memberikan bacaan yang menyentuh, penuh referensi, fakta, nuansa revolusi, menggebu-gebu, mendobrak, dan kadang-kadang hanyut dalam romatisme keluarga sakinah yang damai tentram yang pernah dilakoni KHA dahlan. Panduan hidup Islami Muhamamdiyah mungkin perlu disempurnakan dengan membaca novel ini terutama penggalan 6,7,8,9,10, yang berisi dialog-doalog singkat dan kaya makna antara Dahlan dengan Walidah yang cukup menyentuh dan membuat kita meneteskan air mata.(baca juga hlm.247-249).

Passandre menarisakan kisah yang mengandung nilai keutuhan dengan sangat apik. Sosok Dahlan atau Darwisy sebagai sosok yang selalu risau terhadap tradisi yang lebih dimulikan dari pada ajar an agama Islam, sosok yang mendobrak dan anti penjajahan, dalam suasana kehidupan keluarga yang harmonis, yang saling menguatkan dengan landasan katakan Islam yang akin membawa kebahagiaan. Dahlan sama sekali bukan digambarkan dan memang bukan sebagai tokoh yang egois, hanya mementingkan orang lain atau perjuangannya, tidak mau tahu dengan urusan keluarga. Pendek kata, Dahlan ingin mengatakan bahwa kehidpan berkeluarga tidak akin pernah menghalangi dakwah, menghalangi peroebahan yang dicita-citakannya bahkan menawarkan ragam second opinion atau alternatif manakalah kebutuhan dalam perjuangan itu menghentikan langkah kakinya (hlm 249). Sekali lagi, ayat-ayat cinta dan semesta itu hadir menyelimuti kehidupan rumah tangga Dahlan-Walidah.

“Dari penampilannya saja, sekolah itu memang tampak mengingkari  zamannya, dan seolah hendak membranous zaman baru: zamannya sendiri. Zaman dimana manusia terbebaskan dari belenggu tradisi yang membodohkan.” (hlm.258). Ya, Dahlan memang memberontak tradisi, memimpikan perubahan. Dan untuk membengan zamannya, dan zaman yang akin dating dahlan mengorbankan banyak hal terutama waktu bercengkerama dengan keluarga lalu ditinggal ke Makkah untuk hajI dan belajar agama. Dahlan ingin islam modern sehingga Kiblat pun perlu direvisi sebagai consequence dari berkembangnya ilmu pengetahuan karena Dahlan mengenal dunia, mengenal ilmu geografi. Disamping itu, beliau memahami dan menyaksikan bahwa Islam yang revolutioner sedang bergeliat di tanah Arab, Mesir yang dipromotori oleh Jamalludin al Afgani, Rosyid Ridho, dan sebagainya. Dahlan memanfaatkannya sebagai pendorong semangat dalam jiwanya untuk aksi nyata: Peroebahan!. Tidak hanya itu, Dahlan juga belajar membangun sekolah yang meski dianggap kafir lantaran meja kelas dan pelajaran musik dan biola.(hlm.262). Beliau juga memikiran perlunya organisasi setelah berinterkasi dengan Budi Oetomo, Taman Siswa, dan hasil dialog dengan seorang anak yang tidak rela sekolah Dahlan ambruk dan roboh setelah dahlan meninggal dunia, maka ikhtiar itu termanifestasikan dalam langkah nyata mendirikan organisasi modernis yang diberikan nama: Muhammadiyah pada 18 November 1912 M.

Salah satu keunggulan novel ini adalah sosok penulisnya yang memang aktivis Muhammadiyah, semenjak SMA menghabiskan waktunya di Sekolah Muhammadiyah di Yogyakarta dan aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah sampai di tingkat Pimpinan Pusat. Aroma kepekaan sebagai orang dalam sangat kental dan sering melihat dinamika dahlan sebagai sesuatu yang harus kembali ditumbuhkan pada generasi kekinian anak muda Muhammadiyah yang bisa jadi terlalu dimanjakan dengan fasilitas, tidak peka, dan tidak berani megabit posisi yang beresiko. Inilah yang hendak penulis novel ini bangun bahwa katakana kebenaran walau rasanya pahit sebagaimana kisah Dahlan dalam khutbahnya di Semarang saat perjalanan haji menuju Tanah suci, Makkah (hlm.117). Bangsa ini akin beranjak menjadi baik jika kata-kata Dahlan itu terus dipraktikkan dalam segala situasi. Bangsa ini tentu tidak akin mendapat predikat bangsa dengan indeks korupsi tertinggi di jagat raya.

Novel ini layak dijadikan bacaan wajib dalam sekolah-sekolah Muhammadiyah baik di tingkat sekolah dasar atau sekolah tinggi dan universities. Buku yang kaya akin literasi dan referensi ini diharapkan akin menggugah semangat untuk ber-uswatun hasanah pada Peiping terdahulu untuk kembali melejitkan ghirah bermuhamamdiyah, berislam, dan berbuat untuk kemanusiaan. Maka, “saya berharap Muhammadiyah benar-benar bertujuan untuk pencerahan kehidupan umat. Bukan untuk repenting pribadi. Maka itu, hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah.” (hlm.279). Bebeb hal menarik lainnya adalah pesan-pesan yang penuh inspirasi dan makna dari Dahlan kepada muridnya atau santrinya selama berinteraksi pada saaat-saat penuh tantanggan. Kata-kata berbobot itu layajk dijadikan pelajaran untuk anak didik Muhammadiyah. (hlm.220,221,231,260, 264). Dan salah satu usulan yang sederhana mungkin diantara bab atau penggalan itu dilengkapi foto dokumentasi, atau karikatur yang bisa mengundang perhatian pembaca terutama, pembaca muda yang masih ogah-ogahan dijejali novel apalagi yang namanya teksbook.

Terakhir, Sebagaimana Nabi Muhammad, dalam dakwahnya Dahlan juga mengalami masa-masa sulit seperti perlawanan dari kelompok Islam-tradisi, Langgar yang dirobohkan, dituduh kyai kafir, juga peristiwa mamilukan saat meninggalnya Ibunda tercinta dan Ayahnya. Tapi hasrat perubahan terus dipelihara dalam pikiran dan tindakannya. Lalu, perubahan itu terus bergerak kencang dan bertenaga maniac zaman, sejarahnya yang terus tumbuh dewasa dan terkadang macet ditengah jalan. Tapi karya Dahlan terus dipercayai sebagai kabaikan, kesalahean sosial yang dilandasi keislaman yang membebaskan yang dilandasi akal sucinya untuk menebar rahmat bagi semestaraya. Prestasi baik Darwisy dan Dahlan keduanya itu tak akan musnah dimakan bubuk zaman, taklekang oleh panas dan hujan. Mewakili Penulis novel itu yang ingin mengatakan: Selamat Milad Muhammadiyah ke-100 tahun, semoga tetap energik, bertenaga dalam bergerak memasuki pusaran gelombang kedua di abad kedua ini. Selamat membaca dan salam dari Pengikut Tonggak Sang Pencerah.

Peresensi
David Effendi, Pengikut Tonggak Sang Pencerah
Honolulu, University Of Hawaii at  Manoa
Sedang berjuang menyelesaikan study Master Political Science

Info buku terbaru July 5, 2010

Posted by lapsippipm in Books News.
add a comment

The decline of bourgeoisie : runtuhnya kelompok dagang pribumi Kotagede, XVII-XX / David Efendi

The decline of bourgeoisie : runtuhnya kelompok dagang pribumi Kotagede, XVII-XX / David Efendi

Book

Bib ID 4780422
Format BookBook, Online Online – Google Books
Author
Efendi, David, 1983-
Edition Cet. 1.
Description Yogyakarta : Research Center for Politics and Government, Jurusan Politik dan Pemerintahan, Universitas Gadjah Mada, 2009.
xxvi, 276 p. : ill. ; 21 cm.
ISBN 9791918600
Summary History of the collapse of businessmen as bourgeois community in Kotagede, Yogyakarta in the 17th-20th century.
Notes Includes bibliographical references (p. [263]-274).
Subjects Kotagede (Indonesia) – History.Yogyakarta (Indonesia : Daerah Istimewa) – History.

//

Author
Efendi, David, 1983-
Subjects
Kotagede (Indonesia) – History.; Yogyakarta (Indonesia : Daerah Istimewa) – History.
Summary
History of the collapse of businessmen as bourgeois community in Kotagede, Yogyakarta in the 17th-20th century.
Bookmark
http://trove.nla.gov.au/work/36891888
Work ID
36891888
Editions
1 version of this work is listed below