jump to navigation

Puasa dan Gerakan Anti Imperealisme Kerakusan October 16, 2011

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

David Efendi

”I have lost three kgs but I am getting energy from my supporters across the country.The countrymen should not lose this spirit, this is our fight against corruption.”– Anna Hazare

Dari banyak catatan sejarah kita bisa melihat bagaimana ‘puasa’ sebagai ritual keagamaan dijadikan media untuk mengeskpresikan perlawanan terhadap penjajahan. Tradisi puasa sebenarnya tidak hanya monopoli agama tertentu, namun penggalan sejarah membuktikan bahwa puasa dapat meningkatkan dan membangkitkan solidaritas rakyat untuk bangkit melawan berbagai bentuk imperealisme, kolonialisme, termasuk melawan rejim diktator dan juga penguasa korup. Titik sejarah itu paling kuat dapat kita saksikan dalam sejarah Islam, India, dan beberapa bagian ada di Indonesia. Untuk lebih detail mari kita tengok satu persatu.

Ada dua terminologi yang perlu dibuat jelas dalam tulisan ini. Pertama adalah pengertian puasa. Puasa, tidak identik dengan islam atau agama dominan saja karena praktik ritual puasa sejatinya adalah upaya menomorduakan kepentingan duniawi yang identik dengan kerakusan karena tidak akan ada puasnya selagi masih bisa diperbesar. Sehingga makna puasa adalah menghindarkan sikap kerakusan dengan memboykot nafsu lahiriah dan bathiniah–nafsu kebinatangan. Makna lain adalah, puasa sebagai keberpihakan atau rasa solidaritas terhadap kelompok sosial yang miskin atau mustadafin. Kedua, adalah perluasan arti imperalisme dalam era baru peradaban. Arti mperalisme abad sebelum ke 19 dengan stelah berakhirnya perang dunia ke2 (abad 20) sangatlah jauh berbeda. Imperealisme periode awal ditandai dengan penaklukan wilayah kekuasaan tertentu, mengeksploitasi fisik penduduk setempat untuk kepentingan perdagangan dunia (merkantilisme), sementara imperalisme zaman baru adalah akibat surplus of value atau exsploitasi (Marxism) yang ditandai dengan legalitas dalam negara modern. Perbuatan ini tidak dibenarkan dalam agama apa pun sebab menihilkan pentingnya keadilan. Dan ini adalah bagian praktik sehari-hari dari penindasan oleh kelas borjois baik lokal atau internasional, sementara imperalisme kerakusan juga bisa dilakukan oleh badan-badan atau pejabat ototitas negara dengan cara korupsi atau bentuk penyelewengan wewenang (power abuse) lainnya.

Dari Arab Jahiliyah sampai Arab Spring

Pada sejarah Islam tertulis kemenangan perang badar dilakukan pada bulan puasa. Kemenangan ini hampir tidak masuk akal para tentara islam akibat musuh dan perlengkapan yang tidak sebanding dengan yang dimiliki pasukan yang sedang berpuasa. Beberapa buku menuliskan tentara islam hanya sekitar 300 melawan ribuan tentara kafir quraish yang menolak islam, menolak kehidupan yang lebih beradab dan ingin menguasai tanah arab dengan kejahiliyahan dan tradisi nenek moyang yang anti monoteisme.

Puasa selain ritual hablum minaa Allah adalah media untuk meningkatkan militansi, kepercayaan pada sang khalik dan tentu saja secara spiritual masing-masing memberikan konstribusi akan perjuangan yang tidak sia-sia. Dengan puasa, manusia merasa punya tempat kembali, sebaliknya para kafirin semakin takut akan kemusnahan yang sia-sia. Inilah propaganda ideologi yang sangat melekat pada awal-awal sejarah kemenangan Islam. Kalau dalam teori gerakan sosial (social movement), ideologi menjadi subordinate dari kegiatan yang disebut “framing” karena ideologi dianggap tidak mampu melahirkan sikap rela mati tanpa adanya framing (David Snow dalam Ideologi framing and terrorism movement, 2002).

India dan puasa perlawanan

”I have full faith in my country. This government has looted the country, we will now only rest in peace when corruption gets removed from the country.” (Anna Hazare)

Beberapa bulan lalu, India mengejutkan dunia dengan kemunculan sosoak pengikut Mahatma Gandhi (1869-1948) yaitu Anna Zahare yang menjalni ritual puasa untuk menolak atau melawan korupsi di india. Zahare beberapa tahun mendekam di penjarah dan dengan demikian semakin matang secara spiritual. Ritual puasa selama 14 hari itu membangkitkan solidaritas rakyat india untuk bersimpati, mendukung, upaya perlawanan terhadap korupsi. Ini merupakan bentuk perlawanan non violance yang sudah dicontohkan oleh pendahulunya Mahatma Gandhi ketika melawan bangsa imperealist Ingris.

Setelah Gandhi, ada beberapa pengikutnya yang telah menggunakan puasa sebagai alat perlawanan seperti Potti Sriramulu yang meninggal tahun 1952 setelah 82 hari berpuasa untuk kelaiharan negara baru (India sekarang), Irom Sharmila Chanu yang berpuasa pada tahun 2000 demi memprotes kematian rakyat jelata,  ada Swami Nigamananda yang meninggal pada bulan Juni akibat puasa selama 115 hari untuk menolak penambangan illegal (kini banyak mata memperhatikan kerusakan alam akibat penambangan liar), dan terakhir yang juga munumental adalah Anna Zahare, yang dikenal puasa untuk melawan pemerintahan korup. Kini, mereka menyadarkan rakyat India untuk mengetahui kebenaran dan menolak kerakusan dalam segala bentuknya.

Karena itu para pejuang India tersebut layak mendapat gelar pejuang orang lapar. Majalah time pada edisi September 5, 2011 menuliskan “hungry for change” untuk menjuluki para pejuang India semenjak sebelum merdeka sampai India hari ini. Kalau tidak berlebihan saya ingin menambahkan, merekalah yang sudah sukses membuktikan kedahsyatan puasa (bukan sekedar mogok  makan), sebagai ritual yang sudah mengubah peradaban (Fast that changed the world).

Revolusi dan Reformasi di Indonesia

Perang kemerdekaan pada bulan agustus tahun 1945 yang berujung pada proklamasi kemerdekaan republik Indonesia secara kebetulan atau tidak adalah bertepatan dengan bulan ramadan dimana 89% jumlah penduduk sedang melakukan ibadah puasa. Dalam suasana bathin orang berpuasa adalah semangat pembebasan, semangat anti kemusrikan akibat keyakinan bahwa seluruh hidup dan mati, lapar adalah hanya untuk mengabdi kepada Allah. Jika ada penghalang melakukan keyakinan tersebut maka mereka akan rela untuk mati dan melawan semampu sekuat tenaganya. Ini adalah suasana kebathinan karena jihad anti penjajahan adalah kewajiban bagi setiao muslim jika ada penghalangan terhadap syariat yang diyakininya.

Dalam tradisi lokal, Jawa, hindu, pun di Indonesia mempunyai ritual puasa untuk tujuan dan hajat tertentu. Banyak masyarakat kejawen jika menghendaki sesuatu maka dijalani dengan perlawnaan non fisik non kekerasan dengan cara berpuasa. Di Yogyakarta, saya menemui banyak orang yang mengaku berpuasa untuk menurunkan penguasa orde baru Suharto termasuk Sultan (Raja Yogyakarta) melakukan hal yang sama demi terwujudnya suksesi kekuasaan Indonesia yang tanpa diikuti kekarasan dan korban. Jadi, sepengetahuan saya para pengikut “kejawen” atau apa yang disebut Clifford Geertz (1964) sebagai agama jawa berkeyakinan bahwa jika manusia tidak mampu mengubah keadaan maka yang leluhur atau yang berkuasa atas jagat akan membantu jika kita meminta maka ritual tertentu harus dilakukan untuk menggabungkan keinginan manusia, leluhur dan penguasa alam raya. Dalam tradisi islam-kejawen ini disebut “manunggaling kawula lan gusti” dengan ertama harus yakin mengenai ajaran “sangkan paraning dumadi.” Sudjiwo tedjo (2011) menerjemahkan ajaran luhur ini dengan kalimat sederhana bahwa “kita tidak akan mengerti kemana kita akan pergi, kalau kita tidak tahu dari mana kita datang/berasal”. Ini adalah bentuk tauhid kejawen yang tidak bertentangan dengan agama mainstream.

Menjelang tumbang Suharto, banyak mahasiswa sambil demonstrasi melakukan mogok makan (sedikit beda dengan puasa) namun maksudnya adalah mengundang perhatian bahwa perjuangan mereka adalah perjaungan menaruhkan nyawa demi kehidupan lebih baik yang juga mengundang simpati mahasiswa lainnya dan juga para tokoh untuk menyelamatkan nyawa mereka. Mereka menggabungkan ritual dengan bentuk-bentuk radikalisme kaum kiri, sambil mogok makan juga menduduki gedung rakyat. Upaya ini diyakini cukup memberikan dampak psikologis bagi demonstran atau bagi pihak penguasa (people in power).

Sayang, akhir-akhir ini tidak muncul solidaritas anti korupsi akibat pengausa yang terlalu kuat. Ritual puasa semakin melemah, sehabis bulan puasa korupsi merajalela artinya puasa bukan menjadi alat perlawanan tetapi menjadi formalitas saja tanpa makna perubahan keadaban. Di saat KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dihabisi, dirongrong, dan dilemahkan tidak muncul tokoh dengan kekuatan simbol spiritual yang mampu menyatukan kesadaran publik sebagaimana terjadi di India dari sosok Anna Hazare. Koruptor dan sindikatnya melawan kebenaran semakin menguat sebagaimana fenomena the corruptors fight back. Puasa mengalami keterpurukan makna dalam kilasan sejarah Indonesia baru. Jika manusia tidak berdaya melawan kerakusan imperealisme baru, dan relasi dengan leluhur atau pengausa jagat juga memudar, maka perubahan sulit untuk diwujudkan dalam bentuk pembangunan kesadaran secara radikal.

Kesimpulan

Puasa, adalah satu kekuatan spiritual yang dapat ditransformasikan dalam kekuatan fisik para pelakunya. Puasa sudah seharusnya menjadi bagian alat perjuangan atau perlawanan terhadap dominasi yang dimulai dari perlawnaan terhadap hegemoni nafsu kebinatangan. Puasa sudah seharusnya menjadi satu bagian dari startegi dalam teor gerakan sosial untuk disejajarkan dengan bentuk-bentuk perlawanan lainnya seperti boycot, sit-in, demontrasi, pendudukan (occupy), dan sebagainya. Singkatnya, bahwa anusia-manusia rakus dan haus kekuasaan, politisi busuk, pejabat rakus hanya bisa dilawan bahwa kita tidak makan apa yang mereka ingin kuasai, dengan tidak mendewakan keuangan dan harta benda. Dan itulah makna puasa sebagai alat perlawanan!

Advertisements

Surat Pembaca: Tarif Parkir Tak Adil October 5, 2011

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment


KOMPAS Jogja – Rabu, 05 Apr 2006   Halaman: 4   Penulis: Efendi, David   Ukuran: 1251   Pengindex: anto

Surat Pembaca

 

Sebagai mahasiswa yang berasal dari ekonomi kelas gurem, anak petani, saya merasakan ada kejanggalan ketika melihat tarif parkir kendaraan bermotor di Jalan Malioboro dengan di kawasan Taman Pintar.

Kenapa? Memang sebagai anak kampung, saya baru sekali parkir motor di Malioboro hari Sabtu lalu. Saya kaget ketika memberi uang parkir Rp 1.000, petugas itu memberikan uang kembali Rp 500.

Saya melihat kejanggalan pada tarif parkir karena masyarakat yang mau belanja (the haves) di Mal Malioboro hanya dikenai tarif Rp 500, sedangkan mahasiswa atau pelajar yang berkunjung ke kompleks Taman Pelajar harus membayar Rp 1.000. Saya kok tergelitik, bagaimana keberpihakan pemerintah kota terhadap dunia pendidikan di kota pelajar ini. Ini persoalan sepele tetapi menjadi cerminan yang tak bisa dinafikan. Oleh karena itu, political will pemkot perlu dipertanyakan ulang. Saya pribadi berharap, kalau bisa kompleks Taman Pintar itu seperti perpustakaan terbuka, public space, ruang publik, tempat pelajar berdiskusi dan berkreasi, pusat baca-baca. Maka, seharusnya tanpa pungutan parkir. Itu pun kalau bisa.

 

DAVID EFENDI Mahasiswa Fisipol UGM

Halaman D

Dua Benua, Dua Diktator dan Satu “Ethnograper” [Online] October 4, 2011

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

Dave Efendi

Kita adalah 99% dari anak bangsa yang BELUM kehilangan akal waras dan budi mulia. Kita adalah anak bangsa banyaknya 99% yang masih percaya akan keberadaan KPK memusuhi Iblis dan setan koruptor. Kita adalah 99% dari masa depan bangsa. Hanya 1% yang anti KPK itu bukan bangsa putih, itu dragula yang jumlahnya tak seberapa. Hanya 1% yang sedang melawan kebenaran. mahluk 1% itu tidak sulit kita binasakan hanya mereka bertuhan uang dan bernabi koruptor. Partai apakah ini? Mari kita hancurbinasakan dengan jalan yang damai!” (Status FB 3 Okt/11)

Dua benua artinya memposisikan saya yang sedang tinggal dibagian terororial Amerika dan berasal dari salah satu kota di Indonesia di salah satu negara di kawasan benua Asia. Facebooker merupakan penamaan tersendiri pada orang yang suka menggunakan facebook untuk berbagai kepentingan. termasuk untuk meneriakkan komplain, revolusi, atau sekedar menulis untuk menghibur diri sendiri.  Pada kesempatan ini saya mencoba mendiskripsikan dua kejadian penting di belahan dua benua ini. Pertama, gerakan anti wall street di seluruh Amerika dan negara-negara lain yang simpatik. Kedua, adalah gerakan mendukung KPK di Indonesia.

Diktator adalah musuh setiap manusia, musuh zaman kebebasan. Di dunia global diktator itu adalah sektor ekonomi fiktif yang berpusat di Wall Street (kini sedang menuju proses keruntuhan di USA), dan di Indonesia kita tahu diktator yang masih invisible alias sembunyi adalah regim korup yang sedang bersatu padu menyelamatkan diri dan memusuhi KPK. Kedua diktator itu adalah musuh nyata, hanya pandangan kita terbatas dan masih ragu untuk melangkah. Mahasiswa bersatulah?! kaum pekerja seluruh dunia berseruhlah! Para jurnalis, facebooker, penggemar tweeter bersatulah dan turunlah juga ke jalan tembak diktator tepat di jantung dan kepalanya.

“OCCUPY TOGETHER” WALL STREET

Saya mencoba menjadi seorang ethnographer online. Saya merasakan dua gerakan ini terjadi dalam waktu relatif sama kira-kira dua pekan terakhir ini. Kedua kasus, saya tidak langsung berpartisipasi dalam aksi lapangan namun saya benar-benar terlibat dalam suasana kebathinan yang sangat kuat. Saya mengikuti beberapa tweeter tentang gerakan menguasasi Wall street ini dan saya juga tergabung dalam beberapa FB terkait serta memberikan koment-komen dalam tweeter berisi dukungan kepada mereka.

Dalam berbagai blog, web, FB, tweeter, dan life streaming radio dan video terkait gerakan occupy WS nampak sangat militan dan menjalar dilakukan diberbagai negara bagian dan kota. Infrastuktur berupa teknologi internet luar biasa didayagunakan untuk mensupport aksi jalanan dan lapangan. Bahkan, berbegai FB dan blog menginformasikan kontak lawyer agar ketika brhadapan dengan agen negara dapat mengajukan pembelaan. Pasti, semua orang sam dimata hukum, protes adalah hak asasi bagian dari freedom. Walau demikian, nampak polisi federal atau negara bagian mulai kisruh alias kehilangan kesabaran. Seorang teman sekelas saya, orang Amerika Corp namanya memberitahukan saya tadi dikelas. Polisi atau agen rahasis dibayar jutaan dollar untuk mengamankan demonstran. Wajar saja polisi menjadi angkuh dan tidak ramah (tidak sepeerti biasa). Dalam teori rational choice, polisi atau agen keamanan tidak berada dijalan yang keliru. Mereka juga punya masa depan, jika situasi tidak menguntungkan atau penuh ketidakpastian mereka akan mengambil jalan untuk memilih mana yang paling banyak mendapatkan keuntungan. Keuntungan material, kini, adalah paling prioritas.

Diktator yang dikonstrucsikan adlaha analogi dari keruntuhan diktator di Middle east, semantara dikatator di Amerika adalah rejim Wall Street sebagai spekulan raksasa menganai angka-angka ekonomi yang selama ini penuh manipulasi dan ketidakadilan. Dari WS ini negara miskin diperas, kebijakan bobrok dipaksakan di negara-negara kurang maju. Sebenarnya kita semua (negara Indonesia-pen), bisa menolak US Dollar, dan akan kita saksikan keruntuhan negara nenek moyang kapitalis ini.

DUKUNG KPK (dan ANTI KPK)

“Saya harus menyampaikan dengan nada keras “Partai Keadilan Sejahtera, untuk menyebut oknum, sedang menjadi pahlawan bagi koruptor, menyatupadukan gerak melawan KPK, tentu sponsornya banyak untuk bekal pemilu 2014 walau PKS harus menempuh jalan NERAKA yang penting bisa mengamankan surga dunia-nya. Jika demikian, PKS memang layak disebut Partai Koncone Setan”

Indonesia memang negara yang agak sulit untuk melakukan perubahan secara mendasar lantaran kendala geografi, etnis, dan ideology yang terlalu beragam. Selain itu, alphanya pemimpin yang dapat diterima secara luas menjadi ‘solidarity maker’ sebagimanap peran yang pernah dampuh oleh Sukarno atau para pemberontak lainnya seperti Pangeran Diponegoro, Kahar Mudzakkar, Tan Malaka, dan sebagainya. Tokoh karismatik yang sedang berjaya sering lupa dan malah bunuh diri akan kekuatannya sendiri dengan menjadi sektarian atau politisi. Guru bangsa, kini, pun tidak bisa lebih bergerak selain seruan moral dan perdebatan di media. Menjadi rakyat Indonesia memang capek, tenaga dikuras oleh elit penguasa dan pejabatnya.

Taruhlah contoh, berbagai laporan pemberantasan korupsi. Uang 500 juta kayak seribu rupiah, uang 500 miliar kayak seharga lima ribu, dan 6 trilyun bukanlah persoalan besar di Jakarta. Kita tahu, para pedagang asongan, petani kecil itu di desa-desa, untuk mendapatkan 5 ribu saja mereka sudah kering keringatnya. Para penguasa di negeri ini betul-betul menyakiti nurani rakyat. Tidak hanya sehari dua hari, sepanjang hidup mereka.

Ketika belahan dunia Arab terjadi revolusi atau gelombang demokratisasi keempat, semua ingin menjadi lebih baik Indonesia nampak sibuk berwacana soal pemberantasan korupsi dan semua hanya lips service. Tidak presidennya tidak menteri dan angota DPR-nya. Ketika kelompok massa di Amerika, serius mencari biang kerok krisis global dan pemiskiinan global serta memburuknya keadaan planet bumi lalu ketemulah WALL STREET sebagai ‘iblis’-nya, kita tengok di Indonesia, anggota DPR, menteri, dan para koruptor menggalang kekuatan untuk menyerang KPK karena dianggap teroris bagi koruptor. Betul sekali, KPK menjadi teroris tetapi untuk kebaikan bangsa secara jangka panjang. Hanya saja, rakyat tidak tahu apa keuntungan mendukung KPK? apa keuntungan mengutuk koruptor? apa keuntungan demonstrasi atau terlibat aksi jalanan? Mereka punya rasionalitas, berdasarkan alam pikir dan pengetahuan serta pengalaman masing-masing.

Di Amerika ada gerakan boycott WS, ada aksi jalanan, aksi di media online dan seterusnya masif diberbagai negara bagian baik melalui mass protest atau wacana online. Di Indonesia, walau nyata persoalan dan spesifik bahwa korupsi adalah biang kerok dari kebobrokan bangsa tetapi tidak banyak yang menyuarakan lantasan sistematikanya korupsi ini dilakukan. Tidak hanya presiden dan menterinya, anggota DPR/D dan DRPRD dan partainya serta pelaku pengusaha busuk. Mereka berbagai uang jarahan, bahkan ustadz, kyai, dan guru pun dibagi uang subhat alias tidak jelas itu. Bagaimana gerakan sosial bisa berjalan? Kendala bukanlah dari sang diktator musuh tetapi internal juga mengalami pembusukan luar biasa. Kita tengok, Ormas mana yang serius melawan korupsi? serius mendukung KPK? semua yang ada mencari selamat.

Bagus untuk dicatat, liberalisasi politik yang menjalar dengan kencang di Indonesia sudah mampu mengubah kubu-kubu konservatif dalam ideologi menjadi super kapitalis dan oportunis-pragmatis dalam pilihan politiknya. Partai keadilan Sejahtera(PKS) sebagai partai “keluaran surga”, awalnya baunya harum dan mengundang simpati publik kini kita tahu nalar berfikirnya lebih liberal dan anti-agama dibanding partai sekuler. PKS mau mengorbankan diri menjadi bemper gerakan anti KPK atau menolak kewenangan KPK untuk merasuk dalam upaya pembersihan sarang tikus di DPR atau senayan. Petanya jelas, mumpung KPK belum masuk istana maka harus dihadang di senayan dulu. PKS, dan elemen-elemen kecil msayarakat layaknya jongos atau tumbal yang dikorbankan oleh korporatokrasi koruptor yang sudah menggurita. Semakin menggurita semakin sulit ditembus. Hal ini sudah diingatkan oleh George Junus Adicondro dalam bukunya Gurita cikeas (2010) dan cikeas kian menggurita (2011).

Situasi demikian sulit melahirkan pahlawan yang bisa memusuhi diktator uang dan diktator raja (penguasa) semisal gandhi atau Anna Hazare di India yang dengan damai malawan korupsi namun bisa menggerakkan jiwa dan nurani orang India di pelosok sekalipun. Karismanya alamiah, muncul sebagai reflekasi kemanusiaan dan kesatuan budi dengan alam, dan manusia pada umumnya dimana setiap manusia berhak mendapati mimpinya tergapai, nafkah lahir dan bathinnya terpenuhi. Dan dalam hal ini, korupsi adalam proponen atau antagnis dari segala kebaikan budi manusia. Karena itu Anna Hazare puasa selama seminggu untuk menentang koruptor dengan jalan sunyi berbekal pemahaman agama dan kemanusiaan yang tinggi. Di Indonesia, seruan moral tokoh lintas agama tidak membekas, goncongan KPK justru mendapat perlawanan balik dari koruptor dan anteknya (the corruptor fight back). Pasti ada yang salah dalam masyarakat, dalam sistem yang sedang dan telah dirusak penguasa liberal (segala cara halal untuk menaklukkan massa).

Artinya apa? saya harus mengatakan ironisme yang luas biasa pasca reformasi. Banyak orang mengklaim eksponen reformasi 1998 tetapi tingkah pola korupnya melebihi kelompok yang memang profesinya sebagai koruptor. Sebagaimana peringatan Buya Syafii Maarif, ketika politik sudah menjadi mata pencaharian lalu hukum halal haram dan baik buruk cukup menjadi urusan bidang agama dan alim ulama saja. Di arena politik, suara tuhan adalah suara uang (terutama di badan anggaran). KPK adalah satu-satunya harapan. Walau presiden bisu terkait isu mendasar ini, kita masih bsia berharap ke KPK apa pun alasannya termasuk jika benar pak Beye mundur dari urusan pemberantasan korupsi kita akan menjadi saksi sejarah bahwa 99% rakyat kita masih waras (baca petikan status fb diatas). Jika harapan reformasi dan pemberantsan korupsi tidak ada lagi, lalu mau kemana bangsa ini dikuburkan? kalau tanah kuburan saja sudah menjadi target koruptor?!

Jalan Menuju Revolusi Peradaban Sampai di Wall Street, USA October 3, 2011

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

Dave Efendi, Pengikut Tarikat Online

 

“Apa saja yang terjadi akhir-akhir ini adalah tepat dalam skenario-Nya. Hanya kita tidak atau sedikit mengerti. Inilah buah ajaran Cokro Manggilingan” (Tarikat Online, Ki Daud Jogo Samudro)

Menulis catatan kecil ini, telah mengorbankan jam tidur dan santai di hari minggu. Selain itu juga menggagalkan acara makan malam dan minum kopi sambil membaca dan membolak-balik halaman buku yang sudah lebih dari 70 aku pinjam bulan lalu. Ini sudah Oktober. Kalau dihitung ini sudah hampir tiga pekan protes di Wall Street berlangsung (semenjak 17 September-3 October 2011). Suasana ini tidak nyaman tentunya, dan keinginan pulang kampung semakin kuat. Walau ada keinginan untuk ikut bergabung dalam demontrasi di berbagai kota di Amerika nampaknya ini terlalu mahal biayanya sebagai warga negara bukan Amerika. Tetapi saya pasti, juga sangat anti kerakusan kapitalisme. Bulan depan ada ajang Kaum Kapitalisme bersandiwara di APEC, di Hawaii. Termasuk, dari Bangsaku sendiri akan ikut meramaikan pentas kaum kapitalis itu.

 

Sejak minggu lalu, kabar wall street semakin santer diberitakan di berbagai media mulai di TV, Radio, tweeter, FB, dan You Tube. Semakin kuat kesannya sementara korban protester yang ditangkap juga semakin banyak, hingga detik ini mungkin sudah lebih 700 demosntran ditangkap paksa. “Ini adalah gejala protes yang sudah lama terpendam semenjak resesi ekonomi tahun 2002 dan kegagalan Wall Street mengurangi dampak resesi ekonomi global.”, kata salah satu pengamat. Lalu, yang lainnya berpendapat bahwa gerakan protes ini adalah dampak dari Arab Spring atau revolusi di belahan bumi Middle east yang menjalar dan dijadikan inspirasi para demonstran yang tidak dapat diidentifikasi. Seperti di Mesir, gerakan ini tidak terorganisasi, satu sama lain tidak kenal, tenpa pemimpin (Leaderless), tetapi massif di mana-mana. Berbagai blog diupayakan dibuat untuk memberikan informasi, menyampaikan protes dan dukungan. Begitu juga di FB, di Tweeter, dan lain-lainnya. “Revolusi tidak ada yang bisa memperkirakan secara tepat” begitu salah satu bunyi alert di salah satu web terbesar gerakan protest wall street ini (see http://www.occupytogether.org/).

 

terkait revolusi peadaban, atau tepatnya radical evolution. Dalam masyarakat Jawa, banyak pengetahuan yang menuturkan akan adanya siklus peradaban. bahwa pada tahun 2012 konon berdasarkan matematika para leluhur akan terjadi perubahan secara fundamental. Bentuknya bisa beragam, baik secara matematika geologi, geografi, atau sosial politik, budaya secara keseluruhan. Terkait perubahan wajah bumi dan populasi sudah ditunjukkan semenjak tsunami di samudra Hindia, Merapi, Jepang, China, Kelaparan di Afrika, Badai di Amerika. Lalu dibidang sosial politik, revolusi di dunia Arab, kerusuhan di Inggris, Kriminalitas di Oslo, Norwegia, dan sekerang menjalar di Wall street Amerika. Serentetan pertanda ini kemudian menautkan ramalan jawa dengan ramalan suku Maya yang kira-kira akan bertitik tolak pada tahun 2012 nanti. Ada apa? Qiamat? kita masih menunggu kepastian sampai hari H berlangsung.

 

Di Jawa keadaan tidak pasti disebut zaman edan atau zaman kolobendo, dimana kejahatan dan kebenaran tidak jelas batasannya sebagaimana terjadi di negeri Indonesia. Siapa koruptor dan pahlawan sudah melebur, penjahat dan wistle blower tidak jelas akhirnya mana yang akan meringkuk ditahanan dan keluar masuk menikmati kemewahan. Di dunia sekular, keadaan tidak menentu disebut resisi, depresi, atau revolusi dimana mesyarakat mengalami shock, disorder, dan uncertainty sangat besar sehingga mempengaruhi perilaku psikologis. Ada penjarahan, demonstrasi, looting, dan seterusnya. Keadaan ini jika berlangsung lama akan menimbulkan dampak yang luar biasa. Jika Amerika saja kolap maka negara yang menyokongnya akan berlarian karena takut akan keruntuhan. China yang akan meminjamkan uang bisa batal akibat lemahnya struktur ekonomi Amerika yang ternyata dihuni kapitalis rakus yang berumah di Wall Street (pusat finance terbesar dan sangat fragil karena bukan sektor riil hanya statistik).

 

Gerakan protest Wall Street ini mulai dipopularkan dengan nama “Occupay Wall Street” atau menduduki Wall street yang dianggap sebagai sumber mala petaka dunia. Kelompok yang tergabung ini kabanyakan kaum terdidik dan orang kampus yang tahu matematika ekonomi global. Perpolitikan Amerika sedang sangat labil. Obama di goyoang oleh kelompok oposisi baik di parlemen maupun ekstra parlemen. Lapangan pekerjaan baru belum siap diterapkan sudah muncul berbagai protest. Namun, protes ini akan menemukan momentum besar untuk perubahan jika syarat-syarat terpenuhi seperti yang terjadi di Middle east. Para aktifis pun sedang mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi martir. Ini negara yang mengklaim paling demokratis. Jika ada larangan demonstrasi, seluruh jagad akan “meludahi” Amerika. Dan sebagaimana ramalan Jawa, ini adalah masa penelanjangan. Zaman telanjang-menelanjangi kebobrokan sudah dimulai dari runtuhnya rezim diktator, bocornya kawat rahasia diplomasi AS di Wikileaks, tertangkapnya para koruptor di negara “dunia ketiga” dan tersingkapnya rahasia skandal sex para pemimpin di belahan negara sekular. Dan masih banyak lagi.

 

Kepolisian USA semakin anarkis dan kehilangan kesabaran akan semakin memperkuat tingkat eskalasi ledakan demonstran. Walau sebenarnya media sangat menurunkan tensi pemberitaannya mengingat ketakutan akan mengalami dampak yang besar bagi perekonomian Amerika. New york Times yang biasanya paling besar spacenya memberitakan proses demonstrasi anti kemapanan yang sering memunculkan insuragency dan penjarahan (uprising) . Protest event (suasana protes) kini hanya dikembangkan melalui FB, tweeter, dan segala terkait internet. Berbeda sekali, NYT ketika memberitakan demonstrasi di dunia Arab tahun lalu dan sekarang, terkait negeranya sendiri mereka harus hati-hati sebab NYT tahu persis betapa pemberitaan media sangat mempengaruhi konstelasi politik dan eskalasi konflik. Pemberitaan media akan menjadi sarana pertemuan antar kelompok dan mengorganisasi diri. Memang, secara teoritik aksi sporadis dan well organized mempunyai masing-masing kelebihan dan kekurangan. Semakin sporadis akan memunculkan militansi dan daya juang (tetapi akan membutuhkan waktu lama), sementara well organized akan mempercepat proses negoisasi (atau kooptasi). Media juga akan membrikan peluang dna struktur kesempatan akan terbentuknya apa yang disebut McCharty (1984) sebagai SMOs (Social Movement Organization) dan SMI (Social Movement Industry) bahkan SMS (Social Movement Sector). Ketiga stuctur baru ini akan membuat gerakan semakin sistamatis untuk mengalahkan sebuah dominasi atau structur yang tidak adil. Demikian yang saya pelajari dari kelas dengan Prof Patricia Steinoff, Social Movement)

 

Selain gerakan ini melalui media jejaring sosial ditularkan, manariknya gerakan ini muncul diberbagai negara bagian secara serentak, membuat blog secara serentak, dan menyediakan berbagai flyer yang dapat digunakan sebagai profil pics, atau dicetak dan digunakan untuk demonstrasi turun ke jalan. Ratusan atau bahkan ribuan flyer sudah terkopi diberbagai media di website atau video-video singkat. Flayer itu bernada solidaritas yang sangat kuat. Misalnya we are 99% untuk mengatakan bahwa kita ini mayoritas jangan sampai kehidupan kita ditangan kelompok elite yang hanya 1% yang menguasai Wall Street (perdagangan uang). Solidaritas ini akan emnyatukan etnis, agama, gender, profesir apa saja atas nama mayoritas dan demokrasi. Kalkulasinya, akan mampu menumbangkan rejim moneter yang bernama Wall Street Finance. SEMOGA SAJA! Web penyedia flyer itu seperti: http://occupychi.org/fliers/, http://www.occupytogether.org/2011/09/23/downloadable-posters-are-now-available/, dan sebagainya.

 

 

Untuk melengkapi perjalanan perjuangan anti kerakusan kapitalisme ini bisa ditelusuri beberapa link video dan web yang sedikt banyak akan membantu memperjelas bagaimna aksi-aksi dan suara expersikan oleh kaum demonstran yang notabene anak muda ini. Silakan di klik link http://www.youtube.com/watch?v=9LaAEnB9owY, http://www.youtube.com/watch?v=MdMGGBX-cTg&NR=1, http://www.youtube.com/watch?v=IS4DoLvFYYg&NR=1, http://www.occupytogether.org/. Ada kemungkinan speerti saat wikileak bocor beberapa agen Amerika akan melakukan pembajakan terhadap website, dan memasang virus didalamnya. Ini saya alami waktu saya mau mendowload dan copos semua kawat berita yang bocor tahun lalu. Jadi kita tetap waspada dengan virus.

 

Oct 3/4-2011

Percuma Sekolah Tinggi-Tinggi? (part 2) December 18, 2010

Posted by lapsippipm in opinion.
add a comment

David Efendi

“Education is a social process. Education is growth. Education is, not a preparation for life; education is life itself.”

John Dewey

Saya mencoba merasakan bahwa sekolah adalah kehidupan itu sendiri. Banyak artikel saya baca di milis sekolah kehidupan yang saya sudah bergabung kira-kira dua tahun yang lalu atau lebih. Saya merasakan samangat otodidak itu muncul sebagaimana sosok-sosok hebat anak bangsa yang belajar dari kemandirian dan tidak menggantungkan nasibnya pada institusi formal yang sekarang semakin tidak terjangkau. Masyarakt sendiri cenderung emnerima lembaga formal pendidikan sebagai taruhan nasib masa depan. Semakin tergantung kepada pendidikan formal, semakin lintang pukang bentuk kualitas dan mutu pendidikan. Komersialisasi dan kapitalisasi pendidikan semakin marak dan juga komerasialisasi pendidkan yang membunuh kesempatan bagi keluarga miskin.

Dari mana memulainya mendekontruksi pemikiran agar semua manusia tidak tercurah perhatiannya pada institusi formal pendidikan. Bagaimana caranya agar masyarakat tidak berfikir bahwa sekolah untuk merubah keadaan, untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi, menjadi pegawai yang terhormat dan sebagainya. Bagaimana memulainya? agar anak bangsa tidak terjebak lantaran negara tidak memberikan keadilan dalam kesempatan belajar di bangku formal lalu rakyat semakin bodoh dan terbelakang. Mungkin ini ada benarnya tetapi kita perlu jalan keluar yang mencerahkan bukan menindas, membelenggu alam pikir kita jika tanpa ijazah sekolah. Tengok pemikiran Friere, Dewey, Ki Hajar Dewantoro, Agus Salim, dan seterusnya. Kita juga bisa refleksikan juga kesuksesan orang-orang tanpa ijazah: Andreas harefa, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Einstein, Colombus, dan sebagainya.

Sebagai refleksi ringan, ketika anak-anak di desa saya ketika ada bapak ibu guru bertanya atau menyuruh kita menyebutkan cita-cita kita hanya ada tiga yang muncul yaitu menjadi polisi, tentara dan dokter. Mengapa demikian? menjadi polisi dianggap profesi yang terhormat karena bisa menolong masyarakat dan termasuk pegawai. Menjadi tentara adalah pekerjaan perkasa dan kuat sehingga anak-anak terobsesi dari film bahwa menjadi tentara itu luar biasa hebatnya. Sementara menjadi dokter adalah pekerjaan dengan status sangat terhormat dengan penghasilan yang besar. Saya tidak tahu pasti apa yang mempengaruhi otak teman-teman saya termasuk saya. Ketika besar, kita berganti cita-cita berubah paradigma melihat pekerjaan dan fungsi sekolah.

Di desa saya sekolah tinggi-tinggi memang kebanyakan hanya menjadi umar bakri di desa. Berbeda dengan yang hanya tamatan SMP lalu bekerja ke Malaysia atau membuka laangan usaha lalu bisa membangun rumah, membeli kenadaraan mewah dan tentu saja memberangkatkan orang tua ke Makkah untuk ibadah haji. Jika orietasi harta tentu percuma sekolah tinggi-tinggi. Di beberapa masyarakat, struktur terhormat dan tinggi sering ditumpangtindikan antara ulama, kyai dan orang kaya kampung. Banyak masyarakat yang menggantungkan diri kepada orang kaya dalam kesehariannya, sehingga pilihan kepala desa, bupati, dan presiden pun tergantung pada si Kaya tersebut. Di sinilah superioritas orang kaya yang menduduki kela elite berpengaruh. Keluarga kaya membangun ketergantungan orang miskin dan menjaidkan mereka loyal kepada burjuis kampung.

Namanya orang desa, filsafat pendidikan modern tidak dikenal. Beruntunglah yang membaca hadis, ” tuntutulah ilmu walau sampai ke negeri china”, atau “belajar mulai dari buaian ibu sampai ke liang lahat”. Tetapi ini akan emnjadi hampa jika dihadapkan pada persoalan ekonomi. Di antara kami tidak tahu jika sekolah itu bisa belajar skill sehingga di desa kami jarang yang belajar di STM atau SMK semua maunya SMA sehingga lulus SMA kami tidak punya skill apa pun. Akibatnya tersingkir dari pasar kerja dan berujung menjadi TKI ke Malaysia. SMA mengajarkan banyak teori tanpa praktik, pelajaran memisahkan manusia dari realitas bahkan ilmu-ilmu pasti itu menyibukkan diri anak-anak dan akhirnya menjadi asosial (teralienasi dari pergaulan).

Saya setuju dnegan pemikiran Ki Hajar dewantoro, Dewey, Romomangun, Friere yang mencoba mengubah paradigma pendidikan yang anti realitas menjadi pendidikan yang berbasis realitas. Peserta didik harus menyatu dengan situasi sosial, budaya, politik di mana ia tinggal sejak dini. Pengathuan alam harus dilengkapi dengan praktik, kekayaan teori dan analisis harus membumi dengan skill (keahlian) dan praktik. Tanpa itu, sekolah tidak pernah lebib mulai dari persusahaan sepatu atau kipas angin yang dicetak dan dijual. Jika beruntung ada yang membeli jika tidak menganggurlah barang-barang hasil produksi industri sekolah dan sekolah tinggi.

Plato, seide dengan Friere, mengingatkan kita bahwa pendidika bukanlah mengisi ceret kosong dengan air tetapi pendidikan (tinggi) adalah menyalahkan pelita dalam kegalapan. Begitu juga pesan nabi Muhammad mengenai keharusan manusia menyeimbangkan idealitas dengan realitas dengan mengutip hadisnya, ‎”I’mal lidunyaaka kaannaka ta’iesyu abadan wa’mal liakhiratika kaannaka tamuutu ghadan”(artinya: Bekerjalah untuk dunia mu seolah engkau akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akheratmu seolah engkau mati besok). Karena itu penuh makna memang butuh renungan. Sekali lagi, pendidikan itu tentu harus melibatkan jiwa raga, jasmani dan ruhani, spritual dan material, teori dan praktis, dan juga kebijakan dan kebajikan. Dengan itu manusia berkontribusi terhadap keberlangsungan hidup makluk lain karena saya meyakini bahwa ujung dari pendidikan adalah pengabdian yang sungguh-sungguh kepada kehidupan, menjadi rahmat bagi seluruh alam.  Itu makna pendidikan, jadi bukan persoalan kekayaan dan gemerlap dunia fana.

Reference:

Read more: http://www.brainyquote.com/quotes/authors/j/john_dewey.html#ixzz18Jfjf5SS