jump to navigation

Begal (Kisah dari Kampung Godog) July 5, 2010

Posted by lapsippipm in short story.
add a comment

Oleh David Efendi, Pegiat Lapsi

Waktu kecil anak-anak di desaku termasuk saya seringkali mendapatkan cerita dari orang tua tentang begal yang beraksi diperbatasan desa-jalan yang menuju atau dari pasar Kliwon atau Payaman. Begal itu sebutan untuk orang yang merampas barang /uang orang lain sedangkan perbuatan itu disebut mbegal. Di utara desa saya tepatnya jalan menuju Payaman di daerah Solokuro ada daerah yang disebut mbegal yang jauh dari keramian. Konon disanalah tempat para begal beraksi dengan nyaman sampai berpuluh tahun lamanya. Kawasan ini tidak jauh dari pohon besar yang sangat dianggap angker yaitu pohon Otok karena sangat besar sementara pada umumnya otok hanyallah rumput setinggi lutut orang dewasa saja. Lalu kenapa kisah atau hikayat begal ini perlu kembali dituliskan. Salah satunya adalah untuk mendokumentasikan sejarah lokal, masa kecil kami.

Waktu itu kami sebagai anak-anak sangat takut mendengar cerita itu sekaligus penasaran ingin menemui begal. Orang tua itu bilang kalau seseorang tidak membawa harta kemudian ketemu begal sementara ada padanya seorang anak kecil makananak kecil itu bisa dimintapaksa lalu dimasukkan kedalam karong. Konon para begal ini membawa senjata tajam, terdiri dari beberapa orang dan berwajah garang. Sontak, orang dikampungku yang memang muslim taat dan beriman itu tidak takut pada setan atau sejenis gendruwo, Sundel bolong,rok abang, dan lainnya tapi sangat takut pada begal. Di desaku aktivitas perrdagangan ternak, hasil bumi biasanya dijual keluar desa atau ke pasar Kliwon (karangcangkring), Paing (Laren), Pon (Karang Geneng), dan Wage (Payaman dan Paciran). Sehingga berhadapan dengan begal adalah resiko harian. Ada kisah juga bahwa ada beberapa pedagang yang selalu berdamai dengan begal dengan memberi upeti tertentu lalu barangnya aman dari perampokan secara membabi buta. (kaya salam tempel, atau uang damai kalau ditilang polisi ya)

Dua puluh tahun kemudian kisah itu sudah nyaris punah. Ketika saya belajar ilmu politik di Yogyakarta juga aktif diforum diskusi lintas daerah dan universitas banyak ragam fenomena tentang begal yang saya dapatkan. Di jawa timur begal asalah salah satu jenis preman atau garong atau disebut juga korak. Selain itu di Jawa timur khususnya Madura dikenal dengan Blater. Sedangkan di Banten dikenal dengan Jawara, dan di awal Amerika ada berbagai kelompok yang disebut the Gank of New York yang memberikan kontribusi atas sejarah Amerika. Pada dasarnya mereka adalah orang kuat lokal yang mempunyai kemampuan memaksa, mempunyai ilmu kebal kalau di Indonesia dan keahlian lainnya bahkan sekarang ini semua kelompok itu bisa memainkan kata politik.

Begal sendiri cukup akrab di desaku dikisahkan bahkan ada seorang yang kuat, pendekar di desaku yang dipanggil Jarot alias pak Kasuwi yang mempunyai kemampuan, kesaktian, aji-aji iso mlaku nok Geni ini paling ditakuti begal termasuk anak-anak, termasuk aku juga takut kalau ada beliau sliwer di sekitar rumah. Orang ini memang mempunyai keistimewaan seringkali membawa korak ke rumahnya, biasanya diterapi, dimasukkan ke tong yang diisi air dan es batu. Teriakan para mantan begal atau korak ini sampai terdengar di rumahku. Ada yang teriak ampun, ada yang teriak istighfar dan sebagainya. Pak Kasuwi adalah kebanggan desa kami, maski kami anak-anak takut tapi kami senang karena punya pahlawan. Beberapa tahun kemudian pahlwan nyata ini diganti oleh Satria Baja Hitam, McGiver, Ultra Man, dan sebagainya seiring masuknya televisi di rumah-rumah di desa kami sebagai tuhan-tuhan barru yang paling dipercaya dan jadi referensi. Saya sendiri, merindukan sosok hebat pak Kasuwi yang menjadikan desa kami paling aman di muka bumi waktu itu. Lebih aman dari Amerika atau China yang masih dilanda perang etnis.

Setelah saya membaca beberapa buku karangan orang Belanda yang sudah diterjemahkan bahwa fenomena Begal atau premanisme lokal sudah eksis semenjak zaman kolonial belanda. Mereka, Begal, pada umumnya ingin merampok Belanda sebab menganggap Belanda sebagai Kafir dan penjajah maka boleh dirampok. Para begal ini bukan semata-mata tidak tahu agama bahkan sengat mengerti. Kita juga tahu kisah Sunan kali Jogo, si Pitung, sampai Robin Hood yang mencuri harta orang kaya untuk dibagikan ke orang miskin. Tapi setelah Belanda pergi, nampaknya tukang begal sudah keasikan dengan profesinya sehingga enggan untuk pensiun dini.

Di Godog, usut punya usut juga pernah didiami Belanda yang ditemani orang Godog yang bernama Tawil itu katanya berjalan keliling yang kemudian menemukan burung-burung yang lalu diabadikan menjadi nama-nama jalan di desa Godog. Tapi saya masih bingung dibuat kisah ini apa ada burung garuda (RW2) di Godog? Burung cenderawasih (RW 4) kan di Irian Jaya. Kalau sikatan saya yakin ada di Godog, biasanya di jumbleng dekat bambu-bambu itu. So, percaya atau tidak karena ditinggali belanda maka beberapa begal juga ikut masuk dan tinggal di Godog untuk mengincar si Belanda. Lalu konon terjadilah peperangan di desa Godog, rumah kepala desa dibakar, lalu para pejuang dan pahlawan (begal) lari ke daerah Jajong, ada yang tertembak dan wafat sebagai pahlawan kusuma desa kami. Sejak itu kisah ini belum dikonfirmasi lagi. Ayo buuat kisah dramatis di desa kami. Mari jadikan setiap orang adalah pahlawan bagi dirinya dan komunitasnya. Begal juga manusia, mereka punya iman dan keyakinan. Sayang belanda melarikan diri sementara Begal sudah menjadi profesi yang menjanjikan. Teman saya bilang, begal dari Jawa Timur sudah pindah ke Senayan, tapi yang dibegal adalah rakyatnya sendiri alias para maling bank century. Gubrak!!!

Yogyakarta, 2009

Advertisements

Dunia Maya & Aku Bangga jadi Anak Godog July 5, 2010

Posted by lapsippipm in short story.
2 comments
Oleh David Efendi, Pegiat Hismag dan Lapsi
Untuk menyampaikan rasa cinta dan bangga kepada desa Godog ternyata tidak selalu harus diungkapkan dengan lisan di atas podium atau di dean umum. Banyak cara dilakukan ana muda terpelajar Godog misalnya denga belajar secara sungguh-sungguh atau denan menuliskan ungkapan cinta di sebuah blog jaringan internet. Edisi kali ini Laporan utama sedikit banyak menyingkap tentang realitas Hismag di dunia maya (tidak nyata, internet). Dari belahan dunia mana saja bisa mengetahui siapa hismag sejatinya?

Hismag termasuk generasi yang menimani bahwa, “siapa yang ingin menguasai dunia, maka kuasailah informasi”. Hal ini benar-benar dimanfaatkan oleh teman-teman yang tergabung dalam komunitas Hismag. “Kecanggihan blog yang didesain hismag sampai pada penggunakan google.earth yang bisa memantau dari kota-kota lain atau belahan bumi lain siapa orang meninggal yang baru dimakamkan di kuburan Godog akan bisa dibaca nama yang tercantum di Nisannya.” Ujar Cak David ketika ditemui redaksi.

Tim redaksi majalah Hismag memutuskan untuk memuat laporan utama dengan tema pengembaraan pelajar Godog di Dunia Maya (cyber space) yaitu jaringan Internet yang luar biasa canggihnya, mampu mengirim berita secara cepat tanpa batas ruang dan waktu. Apa yang dialami teman Hismag di Bandung jika ditulis di internet maka teman-teman Hismag di belahan bumi lain seperti di Malang, Jember, Yogyakarta bahkan India pun akan mengetahuinya secara cepat dan akurat karena bisa dikonfirmasi bahwa suatu berita itu benar atau hanya gossip dengan meninggalkan pesan di buku tamu atau coment di bawah materi tulisan.

Hismag sejak lahir adalah sekumpulan manusia yang kreatif (minority creative) hanya dalam perkembangannya akan mengalami lompatan sejarah yang berbeda-beda. Jika generasi “ashabiqunal hismag” (pemula) seringkali menggunakan dakwah bil lisan alias kultum dan ceramah di musholah atau masjid di desa Godog. Akan tetapi generasi berikutnya mengalami pemutakhiran tekhnologi yang jauh lebih massif secara jumlah dan keanekaragaman media. Hismag lalu pesat berkembang dalam media tulis, bulletin, majalah sampai blog di dunia maya yang mampu menjejaringkan diri dengan komponen dunia di luar yang sangat luas.

”Blognya orang Godog yang keliling Dunia”

Di halaman depan blog hismag (hismag.wordpress.com) terdapat tulisan yang sangat unik dan mampu membangkitkan semangat kebersamaan pelajar Godog yang sedang merantau yaitu, ” Hismag: blognya orang Godog yang sedang keliling Dunia”. Dahsyat banget rasanya karena kita merasa senasib dan seperjuangan meski kita berasal dari keluarga yang berbeda, sekolah yang berbeda, akan tetapi kita merasa satu juga, kita merasa diikat oleh perkumpulan Hismag. Akhirnya, luar biasa blog ini kemudian menjadi ajang reunian antar generasi atau lintas generasi. Siapa  dibalik Blog ini? Tentu ada pendekar tekhnologi Cak Andi Pranoto, lalu Cak David yang menggawangi update berita dan wacana di Blog Hismag, serta sempat dikelola oleh teman-teman Hismag Jember.

Blog hismag di dunia maya ini dibuat kira-kira tahun 2004 dengan beberapa kali pindah tangan seiring pergantian pengurus hismag. Menurut penuturan mantan ketua Umum Hismag ada beberapa manfaat yang bisa diambil dari tradisi bertekhnologi tinggi melalui Internet bagi organisasi Hismag. Pertama, sebagai media komunikasi antar anggota/pengurus Hismag tanpa batasan ruang dan waktu. Kedua, sebagai media da’wah hismag di dunia maya. Dengan demikian orang luar juga bisa belajar tentang hismag yang merupakan organisasi paling unik di dunia karena ada empat orang profesor yang mengakui bahwa Hismag itu perkumpulan yang canggih dan modern serta riil karena berbasis pedesaan. Sebagai media syiar Islam dan kemanusiaan misalnya hismag juga memuat persoalan TKI/TKW yang dianaiaya, mahalnya biaya sekolah, sampai persoalan tawuran antar warga, soal pekerjaan nganakno duwek pun mendapat sorotan yang luar biasa di blog internet Hismag ini.

Ketiga, selain itu media ini bisa digunakan untuk curhat atau berbagi pengalaman. Misalnya ada seseorang yang baru pulang kampung ke Godog lalu kembali ke rantauan untuk sekolah lalu menuliskan tentang keadaan mutakhir di desa Godog baik tentang banjir, sekolah yang makin sepi, sampai pilkades yang aneh. Sayang, terkadang masih banyak yang malaui sms. Dan akhir-akhir ini sms pun bisa diketik ulang di Blog agar bisa dibaca secara luas anak-anak Godog yang sedang keliling dunia.

Beberapa cuplikan (sebagian kecil) komentar pengunjung Blog dapat dimuat di media kali ini misalnya kita ambil salah satu upload(materi) yang berjudul Godog adalah sebuah desa….lalu komentar dari pelajar Godog yang singgah di blog hismag, tidak hanya orang Godog bahkan orang luar mengatakan salut kepada Godog dan Hismag misalnya:

Upload:

Sampean bebas mengartikan dan mengilustrasikan tentang arti Godog bagi Sampean. Nanti pendapat yang paling keren Insya Allah akan dimuat di Suara Hismag Idul Fitri mendatang.

“Apakah Godog hanya sekedar menanak makanan buat sampean?”
“Apakah Godog merupakan ‘telaga kautsar’ tempat kita melepaskan segala kepenatan kita selama di perantauan?”
“Apakah Godog menjadi tidak penting ketika kita mengaku sebagai orang Lamongan, Indonesia, atau penduduk dunia?”
“Apakah akhirnya Godog menjadi ‘kota’ yang kita tinggalkan kemudian kita lupakan?”

Monggo, silakan teriakkan suara sampean “tentang Godog”! Siapa tau kesan-kesan kita, harapan-harapan kita kepada Godog tercinta bisa terwujud

Komentar (sebanyak 79 orang):

1 | udin

godog adalah sebuah desa kecil yang sangat keren bagiku………
keren karena orang2nya terkenal “pinter”
keren karena keindahan alamnya
keren karena desanya yang asri
keren karena orangnya ramah-ramah

tapi itu dulu…..kalo sekarang??

2 | Fiqih M. Yusuf

godog itu desa yang unik….

mari kita jaga keunikan ini. . . .

dengan tidak membiarkan karat menempel

KULI MALAYSIA
saya rasa karat yg menempel d desa godog tdk mungkin bisa d hilangkan sbb karat itu adalah kenikmatan & bisa juga d katakan surga desa godog

3 | itmam

yang jelas godog berubah adalah tanggung jawab kita….
tetap semangat apapun yang terjadi.ok

4 | arik

godog adalah desa yang dihimpit antara desa bulu dan krang tawar serta di sebelah bengawan solo dan lapangan kbanggaan kita oro-oro

5 | muhammad ali

kita bangga terhadap desa kita sendiri,dan juga kita harus bisa memajukan godog melalui hismag dan ipm,teman – teman ni alamat email aku amuhammadali23@yahoo.com

6 | muhammad ali

ini aku frengki aku juga bangga terhadap desa aku.

7 | muhammad ali

kepada para teman teman semoga kita bisa lebih maju,dan juga ipm godog

9 | mbv

oh…ya mas Ali ni aku BRIAN HIDAYATULLAH msih inget kan ma saya?gmana IPMnya good luck ya,berdiri tegaklah tampilah dimuka.

Cak David
Godog itu konon seperti pohon beringin….ich serem ya but i love Godog bgt

Agust Andy
Maret 29, 2009 pada 19:58

Alhamdulillah baek.
Iyo lah suwe ra ketemu, lha wong aku blum pulang lagi dari lebaran kmarin :p

15 | andre’s(bukan orang Godog)
wah desa godog sekarang kok tidak gaungnya lagi, kenapa!padahal desa godog adalah desa pelajar, apakah orang yang pandai itu selalu diam dalam tindakan, tolong tanggapannya!

17 | denmas

godog bukan tidak bergaung….
dodog punya karya nyata…
itu mimpi kita
terutama hismag …..

19 | arik lama
kangen rek q ma tanah airkuw…………

Agust Andy

Halah, biasane bali sminggu pisan wae kangen?

22 | wongbulu
Mei 29, 2009 pada 21:49

oh iyo podo-podo…ancene bocah godog pinter-pinter, mendingan ngeblog daripada tawuran iyo ra?……….kenalno Afif ak sak leting karo Umam, panji, ain dll.

wong Godog

he wongbulu mosok awakmu ora ngerti seng tawuran iku sehat.

24 | Fahmy

halooo kawan2 semua yg da di slruh pnjuru tanah air ini,gmn kbrx?

Kuli Malaysia

bagaimana kalau presiden kasdaun pasti goooood

Anak Godog, teruslah mengembara!

Berselancar di dunia maya, membaca berita, mengirim berita, forward informasi atau replikasi wacana adalah aktivitas warga Hismag di luar Godog dan sekarangpun internet sudah menembus jantung desa kita Godog. Tekhnologi adalah baik, tergantung bagaimana kita akan memanfaatkannya. Inilah keyakinan Hismag sebagai perkumpulan intelektual yang berilmu, yang berwawasan luas dengan disipilin ilmu yang sangat beragam maka blog hismag semakin ramai seperti pasar malam, siapa bisa berbicara apa saja tanpa ada batasan, siapa saja bisa menaruh komentar atau opini baik anggota hismag yang masih SMP, SMA sampai perguruan tinggi dan alumni bisa nimbrung dan bicara apa saja sesuka hatinya. Inilah yang disebut pengembaraan du dunia maya yang mampu melipat dunia menjadi lipatan kecil sebentuk monitor 14 inc atau flasdisk sebesar kacang tanah dua biji. Kita saksikan, anak-anak muda Godog terus berpetualang mengembara mencari ilmu atau mencari kitab suci dalam film Monkey King dengan gurunya Tong Sam Cong.

Tapi seringkali kita akan kembali teringat akan desa kita, ketika Ramadhan tiba, rasa kangen dan rasa ingin memeluk tanah air kembali bergelayut dalam jiwa dan raga kita lalu mudik pun menjadi pilihan toh anak-anak hismag sebenarnya tidak pernah melupakan desa tersayang ini. Suatu saat toh mungkin akan menjadi pemimpin di desa yang terus maju dan berkembang ini dengan segala kelemahan dan kekurangannya.

Godog pada tahun 2050 nanti akan dipegang oleh generasi yang sekarang sedang duduk di bangku SLTA yang tersebar dimana-mana di seluruh penjuruh tanah air, mereka memendam rasa cinta tanah air godog yang teramat tulus ikhlas. Jika diberikan kesempatan memimpin dan mengelola desa ini tentu ada optimisme sebab rasa cinta itu akan mendatangkan semangat heroisme akan kampung halaman. Jika mempunyai pemikiran membangun desa tentu akan membangun dengan nurani hati yang tulus suci.(DEF)

Catatan Dari Desa Godog:Pedagang dan kelas Menengah Kampung July 5, 2010

Posted by lapsippipm in short story.
add a comment

Oleh David Efendi

Setelah sekian lama belajar di universitas sebenarnya ada rasa kangen untuk menuliskan banyak fakta di masyarakat, di daerah asal, dan di kampung halaman meski selama ini dalam keterbatasan sudah menuliskan berbagai kritik, keprihatinan kepada masyarakat melalui buletin, majalah, dan karya buku terbatas keluarga. Minat saya yang cukup besar dalam kajian antropologi ternyata baru saya sadari, baik antropologi politik, antropologi ekonomi, antropologi pendidikan, maupun budaya. Ini sangat menyenangkan dalam kepuasan batin sebagai orang yang lahir di desa, sekolah di Kota dan kembali menyapa dan including dalam sebuah realitas global yang mengikis habis batas desa dan kota sebab dunia sudah dilipat.

Salah satu hal yang belum saya tulis secara lebih serius adalah mengenai ethos dagang di desa saya yang sebenarnya cukup menarik. Para pedagang di desa memang bukanlah orang yang sangat kaya bila dibandingkan dengan pedagang dalam arti perkotaan. Pedagang ini meski mendapatkan tempat yang kurang mulia, dibanding sebagai guru atau bidan, atau pamong desa. Akan tetapi nyaris desa ini sangat ditentukan oleh dinamika pedagang ini untuk mensuplai kebutuhan masyarakat, mendsitribusikan barang dari desa ke kota, dari kota ke desa sehingga roda ekonomi berjalan, selama berpuluh tahun bahkan beratus tahun yang sudah berjalan sampai saya sendiri dibesarkan sebenarnya atas jasa pedagang-pedagang itu, terutama pedagang baju sehingga saya bisa memakai baju, pedagang ikan sehingga ada kelebihan kecerdasan sedikit dari yang tidak pernah makan ikan. Sangat penting pedagang itu dalam kehidupan.

Apa yang ditulis oleg Geertz menginspirasi banyak orang, termasuk saya untuk kemudian mencoba menjadi antropolog yang mencatat sisi sosial dalam masyarakat yang selalu berubah baik secara evolutif maupun revolutif. Misalnya di kampung saya, ketika kecil tahun 1980-an masih banyak sistem barter atau ekonomi subsisten atau ekonomi bazar kata Geertz yang mana masyarakat di pasar kampung hanya tukar menukar barang. Ada yang membawa cabe pulang dapat ikan, ada yang membawa beras pulang membawa jagung dan sebagainya dan sebagainya. Lalu ada kekkuatan eksternal yang menginfiltrasi pasar sehingga pasar itu lalu menyediakan kain, baju, sepatu dan sebagainya yang ini sama sekali hal baru yang masuk ke perkampungan. Konsumsi barang mewah ini diperkuat oleh TKI, orang kampung yang bekerja di Malaysia lalu mengimpor banyak tekhnologi mutakhir masuk kampung. Barang elektronik dianggap mewah sehingga siapa yang dirumahnya ada antena TV yang tinggi, dan ada TV maka itu masuk dalam penggolongan kelas menengah baru yang dihasilkan oleh jerih payah TKI.

Pedagang perempuan. Dunia wirausaha di desaku digerakkan oleh para perempuan tangguh yang mempunyai mentalitas ulet, tekun, dan tidak mengenak lelah. Salah satu keahlian perempuan-perempuan ini adalah kemampuan negosiasi, kemampuan menawarkan barang dagangan, dan juga dikenal agak pelit oleh banyak kalangan katanya seperti ”Chino lilit”, julukan yang lazim diberikan kepada para pedagang perempuan ini. Tidak hanya itu, pedagang di desa selalu dikonotasikan negatif, seperti memelihara tuyul, pesugihan dan selalu orang bilang kepada anak-anak kecil, jangan beli makanan disana, jangan mau dikasih uang, jangan mau diberikan jajan dan seterusnya. Apakah ini lazim didaerah lain? Tidak salah. Di beberapa daerah lain pedagang selalu dianggap negatif, ada konstruksi besar oleh para penguasa dan masyarakat bahwa informasi miring selalu dilekatkan kepada pedagang seperti pedagang laweyan di Solo yang sering dibilang punya pesugihan, punya blorong dikemaluannya, dan juga perempuan pedagang komunitas Kalang di Bantul atau Yogyakarta sekarang dikisahkan sebagai perempuan pedagang yang punya ekor.

Pedagang ini dalam struktur ekonomi sebenarnya cukup penting sebagai kelompok kelas menengah kampung, mengakses banyak tekhnologi lebih awal, hanya saja karena kultur masyarakat Islam lebih kental dalam perjalanan sejarhanya sehingga pedagang sebgai kelas menengah ini malah terpinggirkan sementara kelas elit diduduki kelompok kyai, guru yang mempunyai pengetahuan modern dalam ilmu Islam atau Ilmu pemerintahan. Ini yang menjadikan desa saya sangat unik. Ada lagi komunitas pedagang yang memang ditopang oleh Malaysia. Orang menjadi pedagang atau pengusaha sementara suaminya di Malaysia jadi perempuan yang mengurus usaha. Ada juga suami istri yang memang sudah tidak kembali ke Malaysia dengan menekuni dagangan dirumah baik material, kelontong maupun menyerupai swalayan dan minimarket.

Salah satu karakteristik pedagang di desa saya ini adalah jago kandang, sedikit sekali yang mau membuka usaha diluar desa. Kalau tidak salah hanya ada dua keluarga yang membuka bisnis di luar. Pertama, bisnis warung makan atau restoran di WBL dan yang kedua tokoh bangunan di Daerah Sidoarjo. Kalau kantin, restoran sebetulnya banyak dibuat di Malaysia yang berasal dari desa saya. Selain itu, model rumah makan atau warung sebenarnya ada cukup beragam di desa saya. Ada teman yang mengatakan bahwa desa itu dikatakan maju dan berpenghasilan tinggi adalah desa itu terdapat warung sate kambing seperti yang terjadi di daerah Kotagede dan Laweyan sebagai kota pedagang.

Di desaku, saya tidak tahu persis, nampaknya sudah sangat lama sekali ada warung sate yang disebut ”sate waris”. Waris itu nama orang, pendatang sebetulnya di desa saya yang dulu sangat abangan kemudian beberapa tahun terakhir menjadi santri seiring syiar Islam di dekat rumahnya yang didirikan masjid. Desa di sekitar belum mengenal warung sate berdiri di desaku, Godog sudah ada. Kenapa penting mendikusikan soal sate? Sate merupakan simbol, simbol kelas meyarakat tertentu yang menunjukan penghasilan yang cukup tinggi. Orang bisa bilang di desa ini terdapat banyak kelas menengah kampung, baik yang pedagang, kelompok terdidik, atau orang yang pulang dari Malaysia dengan membawa segebok ringgit, atau memang desa ini lebih asik untuk dijadikan tempat mampir para tengkulak yang keluar masuk desaku.

David Efendi

Ingin menjadi Ahli Antropologi Ekonomi-politik

Titip Rindu Buat Ayah July 5, 2010

Posted by lapsippipm in short story.
add a comment


oleh David Efendi

“Ayah…..

Dalam hening sedih kurindu

Untuk….

Menuai padi milik kita

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan

Anakmu sekarang banyak menanggung beban”

Kemarau panjang sedang mengamuk kampungku, nyaris semua cadangan air mengering di dua waduk besar sementara sumur juga sudah kandas. Bagi kehidupan petani air adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa air petani bukanlah apa-apa karena menanam padi hanya bisa mengandalkan sawah tadah hujan. Kemarau panjang menyiutkan harapan petani dan kemarau tidak menjanjikan apa-apa selain rasa haus dan dahaga. Termasuk ibu Hasanah, ibu Didin yang malang melintang menantang kehidupan, hampir setiap hari berlomba dengan nasib yang menimpahnya.

Semenjak kepergian Ayahnya ke Malaysia, beban hidup yang semula iabarat satu gunung ditanggung berdua dengan suaminya kini Ibu itu harus meikulnya dengan segala keterbatasanya. Mungkin karena iman yang tertancap dalam hatinya, ibu itu serasa tegar mengahadapi kemelut jiwanya.

Aku sendiri adalah tetangga baru Didin. Aku lahir di Jakarta dan ayah ibuku masih disana tapi aku minta sekolah dikampung pamanku yang kebetulan sekampung dengan Didin. Aku mengenalnya sejak aku kelas dua madrasah. Sampai sekarang aku merasa dekat dengan Didin. Ia bisa menjadi tempat berbagi yang baik. Ketika saya ada masalah Didin tak pernah tinghgal diam berpangku tangan.

Dengan segala daya upaya Didin berhasil melewati bangku sekolah madrasah tentu ini berkah usaha keras ibunya yang walau sudah usianya sudah makin senja dan tubuhnya kian kurus kering beliau terus berusaha untuk membesarkan hati anak-anaknya agar dapat sejajar dengan anak-anak tetangga atau setidaknya anaknya tak pernah merasa tidak beruntung. Dan alasan yang paling penting adalah betapa ibunya sangat peduli akan masa depan sang anak tercinta, memberikan cahaya atas impian anak-anaknya dikelak kemudian hari. Kata ibunya, “hanya lewat sekolahlah yang akan memperbaiki masa depan hanya dengan ilmulah kita bisa menghhindar dari gilasan roda zaman.

Ibunya juga pernah berpesan : “Hidup di zaman edan kaya begini memang kita kadang serba sulit, tapi sak bejo-bejone wong edan isih bejo wong kang eleng lan waspodo”

Sepanjang hidup Didin belum sempat bertemu dengan ayahnya, belum lagi aku kenal. Ia meninggalkan rumah ketika ia masih bayi dua minggu, ketika belum mahir berkata atau mengeja huruf. “andai saja aku bisa ngomong seperti nabi Isa, tentu aku tidak setuju ayah berangkat”, kenang didin. Ya Didin sangat rindu sosok ayah. Ia melukisnya dalam palung hatinya tentang sebuah wajah seoarng ayah yang tak ia kenal.

Karena desakan ekonomi pada awalnya ayahnya nekat merantau ke negeri Jiran, sekitar tahun 80’an. Sejak saat itulah ibunya menjadi single parent dan Didin punya satu saudara laki-laki yang mengalami keguncangan jiwa.

Didin bercerita panjang tentang keluarganya. Seluk beluk dan tentang rindu pada ayahnya itu. Aku sedih mendengarnya, aku berusaha agar hatinya tetap hidup, tidak terjebak dengan persoalan ini.

“Sayang, aku tak bisa bercerita tentang kakakku yang satu ini”, sesalnya

“kenapa Din?”, tanyaku ingin tahu. “engkau tak percaya sama aku?”

“bukan..bukan maksudku So!”, balasnya. “tapi….”

“karena saya tak bisa menahan betapa luluh lantak hatiku. Punya ayah yang tak aku kenal dan punya kakak yang tak bisa jadi tempat sandaran. Setiap hari aku hanya bisa bersedih menyaksikan betapa berat dan pedih hidup yang dialami ibuku”, kata Didin dengan segenap perasaan yang ia punya.

Karena ibunyalah Didin menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah. Dari benturan ke benturan mampu mengubah karakternya yang semula pendiam menjadi sangat agresif dan pemberani. Aku sangat salut padanya. Bagiku ia adalah guru dikala senang dan sedih. Ibarat muara ia menjadi sumber inspirasi. Banyaknya ujian hidup membentuk jiwanya terus bergemuruh untuk berjuang melawan “takdir”. Seperti air dia adalah penyejuk bagi siapa saja dan mengalirlah ia…

Hari sudah sore. Adzan maghrib segera berkumandang tapi ibunya belum juga pulang. Sehabis shlat shubuh sudah merangkak ke sawah untuk bekerja di ladang orang. Ya ibunya memang tak pernah menolak pekerjaan apa pun. Menjadi buruh, tukang cuci, pembantu rumah tangga dan sebagainya. Bagi ibu Didin yang penting halal.

Pikiran Didin menerawang ke langit. Ia pandangi malam yang sedang menjalar.

“Aku teringat ibuku dan membayangkan sosok ayahku yang tak pernah aku menemuinya selain dari cerita tetangga yang kadang menyayat perasaanku sendiri”

“sudahlah Din, engkau tak bioleh tenggelam dalm kesedihan seperti itu. Tidak baik juga membicarakan aib tetangga. Apa pun yang terjadi tenatngga adalah lebih dekat dari saudara bahkan tenagga adalah orang yang paling pertama menolong bila kita ada musibah, ya Nggak?”, Dididn hanya diam. Didin kesal karena ada rumor tentang ayahnya yang sudah tak bisa pulang kampunglah, menikah lagilah. Semuanya menjadikan Didin kian kalut seprti langit yang berkabut.

“Yuk kita sholat dulu So!”, ajak Didin pada arso. Arso segera bergegas ambil air wudhu untuk sholat berjamaah. Biasa Arso datang ke rumah Didin untuk berbagi duka atau suka, ya semacam curhat, lagi pula di rumah Arso tak ada orang semua sibuk bekerja di kota.

lalu…

“ ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk menjalani hidup yang fana ini. Berikanlah kasih sayangmu pada ibuku yang kasih sayangnya lebih besar dari kasih ibu padaku. Berikanlah kemi keteguhan hati untuk menerima takdirmu ini”

Sehabis sholat aku sebentar belajar, membacai buku Didin yang banyak. Aku tahu ia sering mendapat bantuan buku dari sekolah. Malam itu juga akuminta bantuan sama Didin karena aku ada PR Fisika yang belum dapat aku kerjakan. Lagian Didin pandai berhitung. Asik.

****

Beberapa tahun kemudian Didin dan aku telah lulus dari sekolah dasar. Bagi kamia dunia anak telah berakhir. Terlebih bagi Didin pergolakan hiduonya mungkin lebih keras seiring usia ibunya yang terkikis oleh waktu.

Di suatu senja aku main ke rumah Didin yang tak sebebrapa jauh dari tempatku. Semenjak lulus dari Madrasah, dua bulanan aku ke Jakarta dan menghabiskan liburan sebelum masuk SMP.

“Assalamualaikum”

“Waalaikum salam”, aku masih hafal suara itu adalah suara Didin. Ia terkaget melihatku lalu kami pun berpeluk erat dan Didin seperti biasa orang yang sangat perasa, lembut jiwanya dan mudah mengalirkan air mata. Apalagi denganku….

“gimana kabarmu Din?, aku membuka percakapan. Aku adalah adalah teman setiaku sejak madrasahdan kini rencana mau melanjutkan sekolah di sltp negeri delapan.

“alhamdulillah baik-baik As”, jawabnya lirih

“Ibu kemana?”, tanyaku

“tadi pagi berangkat ke sawah. Membnatu paklek yang mau tanam jagung”

“sampai sore begini?”, tanyaku

“ya. Kadang-kadang.”

“Oh iya As saya ambilkan minum dulu ya, tadi ibu pesan kalau ada teman main ke rumah suruh membuatlkan the hangat. Kebetulan ibu kemarin dikasih sama Bu Kirno. Mumpung ada As, kalau tak ada tak mungkin aku buatkan. Tungguh sebentar Ok!”, bujuk Didin sambil melejit cepat dari tempat duduknya. Lalu aku buru-buru menghalau.

“Ah..nggak usah repotlah. Aku pingin ngobrol sama kamu aja”. Lalu kami melanjutkan omong-omong ngalor ngidul ngetan ngulon.

“Asik banget kalau reuni begini”, celetukku

“Iya. Aku seneng banget hari ini kamu main ke rumah. Beberapa bulan ini aku hanya menemani ibu sesekali saya ikut ke sawah dan ….”

“dan apa Din?”, tanyaku penasaran

“dan sering ingat ayah”, aku menyesal menanyakan hal ini.

“ngomong-ngomong Din, jadikan kita bareng daftar di SLTP Negeri 1?”, tanyaku semangat, sayang Didin merespon dengan dingin sekali.

“Ya saya masih mengumpulkan uang untuk membayar uang pendaftaran As”

“tapi kalau kamu mau duluan ya nggak apa-apa”, kataku

“memangnya kamu masih kurang berapa Din?”,

“Nggak-nggak as nggak ada yang kurang?”, aku beruasaha bohong aku selama ini sudah banayk di tolong sama keluarga Asrom, aku tak inginmerepotkanya. Lagi pula biaya sekolah tidak semakin murah.

“Din kamu harus terus terang kalau ada masalah apa-apa, kamu kan sudah seperti saudaraku sendiri”, kata Asrom. aku tak bisa lagi berkata-kata.

Memang aku ingin terus sekolah tapi terkadang ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku. Yaitu ibuku. Aku tak bisa membeiarkan ibuku bekerja banting tulang peras keringat sendiri untuk aku dan kakaku. Aku tak mau tinggal diam. Aku ingin berkeinginan berhenti sekolah untuk membantu ibuku. Aku tak berani menyampikan pada ibu. Karena yang aku dengar tiap hari adalah bagimana keinginan ibu agar aku tetap bisa sekolah seperti teman-teman.

****

“Kacung!, panggil Bu Hasanah pada Didin

“sudah sholat isyak belum?”

“sudah ibu!”jawabnya

Didin ingin sekali mengutarakan niatnya membantu ibu tapi tak kuasa kalau sudah menatap mata ibunya. Dia takut hal ini akan melukai perasaan ibu yang selama ini berusaha mati-matian membayar biaya sekolahnya. Aku tahu betul keperibadian ibu. Sosok seorang ibu adalah orang yang tak pernah mengeluh, pekerja keras dan tidak suka berhutang. Kalau pun Didin dapat belas kasih orang lain ia tak pernah berani menceritakan pada ibunya. Pernah beberapa kali dapat beasiswa karena juara kelas lalu aku cerita bu Hasanah. Apa yang ibunya bilang.

“kacung, ibu malu kalau dikasih orang. Karena ibu amsih bisa berusaha dengan tenaga sendiri, jangan suka menerima bantuan seperti itu”, aku emndengarnya sendiri waktu aku bermain ke rumah Didin.

“ini bukan bantuan belas kasih tapi hadiah karena juara kelas”, aku berusaha menjelaskan. Tapi ibu sebentar diam. Begitu juga Didin kata-kata membungkamnya. Matanya berkunang-kunang dan aku lihat ada air mata suci yang menetes di pipi ibunya. Didin segera memeluk, mendekap ibu dan menciumnya.

“Biarkan ibu nak yang pikir biaya sekolah, Kacung tinggal sekolah. Jangan mikir yang tidak-tidak”, kata ibu

ibu menasehati Didin hampir tiap malam sehabis ia belajar.

Memang sejak kecil ibu selalu setia menemaninya belajar sambil mengupas jagung ibu di dekat tempat duduk Didin, ia asik membaca buku dan sesekali menengok ibunya bila ingin.

“Ibu masih sanggup bekerja, Nak. Ya mudah-mudahan kacung bisa terus sekolah. Dengan sekolah nanti kacung bisa mempoerbaiki hidup yang carut marut. Penderitaan cukup untuk ibu nak, bukan maksud ibu tidak terima sama takdir. Ibu ikhlas jalani hidup ini. Dengan kehadiranmu seolah derita itu lenyap begitu saja. Semua mengalir….

Dalam malam yang larut, ada rasa kangen pada ayahnya. Didin emmbayangkan bila ibunya bersama lagi dengan ayahnya tentu ia sangat bahagia. Bagaimana derasnya rindu Didin pada sosok ayah dan aku tahu Didin pandai mengelola persaannya, ia segera memadamkan ingatan-ingatan yang menggangunya. Terkadang ia ingin melupakan semua ini.

Tapi rindu pada sosok seorang ayah semakin melekat di dasar hatinya seiring semakin dewasa perasaan Didin. Nyayian lagu titip rindu buat ayah, rindu yang tak pernah terungkapkan. Pada akhirnya ia hanya bisa merawat rindu dalam sedih dan air mata untuk ayah nan jauh yang belum lagi ada kabarnya sejak 15 tahun yang lewat.

****

Tiga tahun yang melelahkan duduk di bangku SMP. Diam-diam Didin ikut bekerja di peternakan ayam punya pak guru Tain. Aku tak pernah bilang pada ibunya Didin yang biasa aku panggil ibu, karena aku bisa dimarahi Didin. Ia ke kandang ayam pagi-pagi setelah ibunya ke sawah dan ke kandang lagi sepulang dari sekolah sebelum ibunya pulang.

“Kalau dapat uang aku masukkan tabungan.”, katanya

“sepakat. Untuk persiapan masuk sekolah nantikan?”. Tebakku dan Didin sama sekali tidak tersinggung justru tersenyum kecil.

“mantap Man,” kataku sambil minum air kendi. Kini senyum Didin kian lebar. Kayak senyum pepsodent gi thu loh!

Karena Didin adalah siswa lulusan terbaik, siswa teladan, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah mendadak datang keerumahnya. Mereka tak ingin prestasi dan bakat Didin terbuang percuma. Tentu ibu seperti disambar petir. Seumur-umur belum pernah dikunjungi orang seterhormat kepala sekolah. Ibu kaget bukan kepalang. Lalu ibu pun mempersilakan duduk di kursi butut dan memulai percakapan.

“begini, Buk”, pak Sholah memulainya. Ibu Hasanah masih meraba-raba apa amksud kedatanganya

“maksud kedatangan kami ingin menyampikan sekaligus meminta pada ibu untuk menyekolahkan Dik Didin karena dia punya prestasi bagus”, jelas pak Sholah

“kalau bisa dia akan sekolah ke kota Jogjakarta”, tambahnya.

“ kalau menyekolahkan Kacung di desa ini insya Allah saya masih sanggup, tapi kalau ke kota saya tidak mampu pak!”, kata Bu Hasanah lirih.

“ Baiklah ibuk. Masalah biaya sekolah dan pondokan ibuk tak perlu pikirkan”, jelas pak Dibyo, wakil kepala sekolah

“terus siapa yang membiayai?”, tanya ibu

“sudahlah ibuk, sekolah SMP yang akan membiayainya sampai lulus SMA nanti.

Sepontan ibu menangis tersedu-sedu dan mengucapkan berkali-kali terimah kasih pada bapak-bapak tamu itu.

Ibu sedih bercampur bahagia. Sedihnya karena akan jauh dari anak kesayangannya dan bahagia karena keinginan selama ini untuk menyekolahkan anak sampai SMA di depan mata. Tinggal ditangan ibunyalah keputusan itu.

Sekarang ibuk pikirkan dengan tenang dulu, jangan terburu-buru. Masih tersedia waktu satu atau dua mingguan. Ntar kalau sudah ada keputusan ibuk, tolong nak Didin suruh main kerumah bapak”

“baik pak. Tapi dengan apa kami bisa balas semua kebaikan bapak dan sekolahan ini?”, tanya ibu sambil terisak-isak

“ibuk jangan berfikir itu, ini demi kebaikan nak Didin. Kami terus terang buk bangga punya murid kayak Didin. Kadang kami tak rela kalau didin lulus dari sekolah SMP ini”, kenang pak Sholah. Dan air mata ibu mengalir makin deras.

“kami minta pamit dulu Buk”

“Maari, Pak, maari. Matur kasuwon”, suara ibu terdengar lirih sambil mengusap air yang membasahi kelopak matanya.

Dan benar. Ibunya merelakan anaknya menuntut ilmu kemana saja dan inilah kebahagiaan sang ibu membuncah. Berkorban untuk masa depan anak adalah cita-cita semua orang tua. Aku merasa senang sekali dengan keputusan itu.

Malam itu juga ibu sujud syukur pada Allah yang menganugerahkan limpahan kebaikan selama ini.

****

Ada suasana yang sangat mengharukan ketika Didin berangkat ke kota. Semua tetangga dan family berkumpul. Temenh-temannya juga bersuka ria dan ibunya bahagia luar biasa. Ada satu yang kurang. Apa itu? Ayahnya Didin teringat olehnya, ia sadar selama ini suka dan duka hanya dirasa oleh dia dan ibunya seorang. Orang lain seperti ayahnya itu tak pernah merasuk dalam sejarah perjalanan hidupnya. Saat yang sangat berarti baginya pun tak kunjung datang seoarang ayah. Ingin rasanya Didin menitip rindu buat ayahnya. Tapi kepada siapa? Mungkinkah pada rumput yang bergoyong? Atau pada ibunya yang kini kurus kering? Ahh…tidak ibunya mungkin terlalu banyak beban untuk dititipi lagi. Lalu? Ya Didin akan menitipkan rindunya pada Tuhan.

****

“Din, semoga sukses ya. Jangan lupa berkirim kabar ke rumah. Kami akan selalu berdoa untuk mu Din”, kata Ardi, temen bermain yang paling setia. Juga hadir Arso beserta keluarganya. Konon kepergian Didin sekolah mengingatkan pada ibunya, tetangganya saat berangkjatnya ayahnya ke negeri perantauan. Yang hadir itu banyak yang membawa jajan untuk dikasih pada Didin bahkan seorang nenek tua rentah, tetangga sebelah yang biasa Didin memanggilnya Mbah Na itu pun sempat datang berkumpul menyaksikan Didin meninggalkan kampung halamannya.

“Ok terimah kasih semuanya”, sambut Didin pada semua yang datang.

“ Didin berangkat dulu, minta doa semuanya moga kita bisa ketemu lagi dan mudah-mudahan tak ada halangan suatu apa”,

sambil berjabat tangan karenan sudah ada mobil yang akan mengantarkan dia menuju Jogjakarta dari sebuah desa di pelosok ujung pulau jawa Timur.[bersambung]deef

Subhanallah